NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RISA

Akhirnya aku kembali duduk di kursi teras rumahku. Kembali menikmati suasana malam ini. Begitu tenang. Begitu sejuk di hatiku.

Beberapa saat kemudian aku rasanya ingin membuat segelas teh manis hangat. Sambil menunggu bapakku pulang dari acara syukuran di salah satu rumah warga desa sebelah. Rasanya seperti akan semakin syahdu suasana malam ini ditemani teh manis hangat.

Aku segera menuju ke dapur. Menyiapkan gelas. Menuangkan satu sendok gula, dan segera kutuangkan teh panas tawar ke dalamnya. Segera kuaduk perlahan.

Aku kembali hendak menuju teras rumah. Namun, baru saja sampai di depan pintu, aku melihat ada seseorang yang datang. Orang itu datang menggunakan sepeda motor. Sendirian.

Aku sama sekali tak mengenali saat masih di atas motor dan masih menggunakan helm. Namun ketika dia memarkirkan motornya di halaman rumahku, turun dari motornya, dan membuka helmnya. Aku langsung kenal dan terkejut sedikit.

"Itu kan... Mbak Risa ya?" gumamku dalam hati sambil berdiri di teras memegang segelas teh manis hangat yang baru saja kubuat.

Dia berjalan menuju rumahku.

"Assalamu'alaikum... Mbak Nisa..." ucapnya sambil tersenyum manis padaku.

"Wa'alaikumsalam... Eh... Ya Alloh..." jawabku kemudian sambil menaruh gelas di atas meja. Dan segera kusambut kedatangannya itu.

"Tumben Mbak Risa datang ke sini..." kataku sambil mulai bersalaman dengannya.

"Hehehe... Iya Mbak. Lagi mau main aja nih saya ke rumahmu." jawabnya.

"Masyaa Alloh, Alhamdulillah, akhirnya bisa main juga ke sini ya Mbak Risa. Baru pertama kali juga loh. Ayok, duduk-duduk..."

Dia duduk di salah satu kursi terasku.

"Sebentar ya, aku buatin teh manis anget dulu. Biar sama kayak saya. Hehehe..."

Aku segera membuatkan lagi segelas teh manis hangat untuknya. Selama di dapur, aku sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati. Mbak Risa, saudara dari Bude Uti dan Pakde Yono penjual sayur langgananku di pasar. Dari mana dia tahu alamat rumahku? Dan tumben sekali dia datang main, sendirian, di waktu malam hari pula...

"Ini Mbak Risa tehnya..." ucapku sambil menaruh gelas teh di atas meja teras saat aku kembali.

"Aduh Mbak, saya jadi ngerepotin."

"Ah, gak apa-apa kok. Udah biasa kalo ada tamu kan harus dijamu. Hehehe..."

Aku duduk di kursi sambil mempersilahkan dia minum.

"Wah, enak banget tehnya Mbak Nisa. Terasa banget aroma melatinya."

"Hehehe... Iya Mbak Risa, teh kesukaan saya juga itu."

"Oh... Iya kah? Saya juga suka banget teh yang kayak begini loh."

"Wah, berarti selera kita sama ya Mbak soal teh."

Sejenak ada jeda antara kami berdua. Rasanya seperti masih sedikit canggung. Karena baru pertama kali, dirinya datang ke rumahku ini. Di waktu malam hari pula.

"Eh iya, Mbak Risa, kamu ke sini sendirian? Kok berani sih?" tanyaku mencoba basa-basi. Menghilangkan kecanggungan yang terasa.

"Aduh, jangan panggil saya pakek sebutan Mbak ya... Panggil aja Risa. Soalnya kan saya lebih muda dari kamu Mbak." jawabnya.

"Loh, apa iya? Emang usiamu berapa sekarang?"

"Saya baru dua puluh tahun Mbak. Kalau Mbak nisa kan udah dua puluh lima tahun usianya sekarang. Jadi yang harus manggil dengan sebutan Mbak itu, saya ke Mbak Nisa." jelasnya sedikit panjang lebar.

Aku sedikit terkejut sekaligus merasa heran. Dari mana dia tahu kalau usiaku sekarang sudah dua puluh lima tahun?

"Loh, tau dari mana kalau usia saya segitu Risa?" tanyaku yang merasa heran.

"Hehehe... Gak dari mana-mana sih Mbak. Ya saya cuma tau aja." jawabnya dengan tersenyum sampai kelihatan gigi putihnya itu.

Aku jadi sedikit memiringkan kepala. Berekspresi mencoba senyum namun sedikit tertahan. Merasa semakin aneh aku padanya.

"Terus, tau alamat rumah saya di sini, dari siapa Ris?" tanyaku lagi.

"Ya kalau alamat rumah kan bisa dari siapa aja Mbak Nisa. Lagian juga orang-orang di pasar udah banyak kenal sama Mbak. Jadi gampang buat saya cari tau kan. Hehehe..."

"Em... Iya juga... Ya..." responku dengan jawaban yang agak tertahan sedikit.

"Oh ya Mbak, sendirian aja malam ini?" tanyanya kemudian.

"Iya, lagi sendirian aja. Soalnya Bapak---" belum selesai aku menjawab, dia sudah menyela terlebih dahulu...

"Bapaknya Mbak belum pulang dari acara syukuran ya... Jadinya Mbak Nisa sendirian aja sekarang di rumah."

Lagi-lagi aku semakin heran dibuatnya. Tadi dia tahu usiaku, sekarang dia bisa tahu kalau bapakku sedang ikut acara syukuran. Aku menatapnya dengan ekspresi heran namun tetap mencoba biasa saja.

"Em... Iya... Bener..." akhirnya responku hanya begitu. Kedua tanganku mulai sambil menggenggam pelan.

"Oh iya, tumben malam-malam begini dateng. Ada apa Risa?" akhirnya keluar pertanyaan itu dari mulutku. Karena sudah didorong dengan rasa heran dalam hatiku.

"Gak ada apa-apa kok Mbak. Cuma mau main aja saya ke sini. Gak boleh emangnya ya kalo saya main?" jawabnya sambil menatap kedua mataku.

"Eh, enggak, gak apa-apa kok... Justru Alhamdulillah ada yang main ke rumah saya."

Aku malah merasa semakin canggung, heran, bercampur dengan rasa tak enak hati karena sudah bertanya seperti tadi.

"Maaf ya Risa, saya tadi tanya begitu bukan maksud apa-apa kok..." aku mencoba membuat suasana kembali ringan.

"Hehehe... Gak apa-apa kok Mbak. Wajar juga kok, kalau orang yang udah punya kemampuan lebih, akan merasa terganggu dengan orang lain."

Responnya kali ini semakin membuatku heran. Dan juga hadir perasaan tak nyaman dengan ucapannya itu.

"Loh? Maksudnya gimana Risa?" aku bertanya lagi sambil sedikit mengerutkan dahiku. Menatapnya sedikit serius. Ingin tahu apa sebenarnya maksud di balik ucapannya itu barusan.

"Hahahaha... Bukan maksud apa-apa kok Mbak Nisa. Santai aja..." dia menjawab malah dengan tertawa lepas.

"O-oh... Begitu..." jawabku.

"Maaf ya Mbak Nisa. Saya main tiba-tiba tanpa bilang. Soalnya ya emang pengen main aja. Lagian kan kalo di pasar kita ngobrol cuma sebentar. Gak bisa ngobrol panjang lebar."

"Iya juga sih Ris. Hehehe..." tawaku pelan sambil mencoba mengikuti alur pembicaraannya.

"Oh iya, Bude Uti gak dagang lagi di pasar? Kayaknya kamu terus deh yang jaga lapaknya sekarang. Udah lebih dari lima bulan juga kan?" tanyaku saat teringat dengan Bude Uti yang biasa melayaniku belanja di lapak sayurnya.

"Oh iya, saya belum kasih tau Mbak Nisa ya..."

"Apa tuh Ris?"

"Bude Uti sama Pakde Yono udah pindah rumah Mbak."

"Oh... Begitu... Pindah kemana?"

"Ke daerah Cirebon Mbak. Di sana kan kumpul semua keluarga besar."

"Oh... Cirebon ya..."

"Iya Mbak..."

"Jadi, yang masih di daerah sini tinggal keluargamu aja?"

"Iya Mbak, tinggal keluargaku aja di daerah sini. Nah, karena bapakku itu kakak dari Pakde Yono, jadi lapak sayurnya diserahkan ke keluarga saya Mbak. Tapi karena Ibuku kerja di pabrik, bapakku juga kerja di kota, jadinya saya yang jaga lapaknya setiap hari."

"Oh... Jadi begitu... Baru paham saya Ris."

"Hehehe... Iya Mbak. Begitu ceritanya."

"Iya Ris... Eh iya, diminum lagi tehnya."

Aku dan Risa kembali menikmati teh manis hangat itu. Meskipun suasan sudah lebih cair dan ringan, tapi tak bisa kupungkiri, hatiku masih ada sedikit rasa heran dan tak nyaman dengan dirinya itu.

Dan benar saja... Rasa heranku semakin menjadi-jadi. Ditambah rasa terkejut yang semakin besar.

Saat Risa bertanya padaku lagi, setelah meminum teh yang kusuguhkan itu...

"Dayang Putri kemana Mbak? Kok gak muncul?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!