NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Bayangan dibalik kota.

Lian berdiri di depan cermin kamar mandi.

Lampu putih memantul di permukaan kaca, menyorot sosoknya yang kini terasa asing sekaligus begitu dekat. Kaus longgar yang ia kenakan jatuh lembut di tubuhnya—namun bagian perut itu… tidak lagi rata seperti dulu.

Pelan, Lian menarik ujung kausnya ke atas.

Perutnya mulai berbentuk.

Belum besar, belum benar-benar menonjol—tapi cukup nyata untuk membuat dadanya sesak.

Matanya menatap pantulan itu lama.

“Jadi… kamu beneran di situ, ya,” gumamnya lirih.

Tangannya terangkat tanpa sadar, jemarinya menyentuh kulit perutnya yang hangat. Ada rasa asing, ada rasa takut, tapi juga ada cinta yang datang tanpa permisi. Lian tersenyum kecil—senyum yang rapuh.

Humairah Liandra—gadis barbar, senggol bacok, kepala tawuran teknik mesin—berdiri menatap dirinya sendiri dengan perut yang menyimpan kehidupan lain.

Ironis.

Indah.

Menyakitkan.

Debaran di dadanya kembali terasa. Kali ini lebih kuat. Lian memejamkan mata sejenak, menempelkan dahi ke cermin, napasnya sedikit bergetar. Ia sudah sangat mengenali ritme ini—detak yang tak beraturan, nyeri yang datang seperti gelombang.

Tenang…

Bentar lagi reda…

Ia membuka mata kembali dan menatap bayangan dirinya.

“Maaf ya,” bisiknya pada pantulan itu—entah pada dirinya sendiri, entah pada bayi yang ia kandung.

“Aku bukan ibu yang sempurna.”

Jarinya mengusap perut itu pelan, penuh kehati-hatian, seolah takut menyakiti sesuatu yang tak terlihat.

“Tapi aku janji,” lanjutnya, suaranya lebih tegas meski mata mulai berkaca-kaca,

“aku bakal jaga kamu sekuat yang aku bisa.”

Air mata jatuh satu. Lian cepat mengusapnya, menarik napas dalam, lalu tersenyum lagi—senyum Lian yang selalu ia gunakan untuk menipu dunia.

Ia menurunkan kembali kausnya, menegakkan bahu.

Di luar kamar mandi, suara langkah Haikal terdengar.

Lian melirik cermin sekali lagi.

Seorang istri.

Seorang calon ibu.

Dan seorang wanita yang menyimpan rahasia tentang tubuhnya sendiri.

Ia membuka pintu dan melangkah keluar—

membawa perut yang mulai berbentuk,

dan keberanian yang jauh lebih besar daripada ketakutannya.

 

Lian berbaring membelakangi Haikal.

Posisi itu terasa anehnya nyaman—seolah tubuhnya akhirnya menemukan tempat pulang. Punggungnya menempel pada dada Haikal yang hangat dan kokoh, napas pria itu terasa teratur di tengkuknya, pelan namun nyata. Tidak ada suara selain detak jam dinding yang samar dan hembusan napas mereka yang saling bersahutan.

Ia menyukai posisi ini.

Tidak harus menatap.

Tidak harus berpura-pura kuat.

Di balik punggung Haikal, Lian bisa menutup mata tanpa takut tatapannya dibaca.

Perutnya terasa sedikit mengencang. Bukan sakit—lebih seperti kehadiran yang menuntut untuk disadari. Secara refleks, jemarinya bergerak, menyentuh perut yang mulai menunjukkan bentuk halus. Ia tersenyum kecil, nyaris tak terlihat.

Haikal membuka matanya.

Ia terjaga sejak tadi, sejak Lian berbalik membelakanginya. Pria itu menatap punggung istrinya dalam gelap, siluet rambut panjang Lian terurai di bantal. Rambut yang dulu pendek, liar, sekarang jatuh lembut—perubahan yang selalu membuat dadanya terasa sesak tanpa alasan jelas.

Pelan, Haikal menggeser tubuhnya mendekat.

Sangat pelan.

Lengannya terulur dari belakang, ragu sepersekian detik sebelum akhirnya melingkar di pinggang Lian. Pelukan itu tidak longgar, tapi juga tidak menekan—sebuah pelukan yang berkata aku ada tanpa perlu suara.

Telapak tangannya berhenti di perut Lian.

Ia tidak mengusap, tidak menekan. Hanya meletakkan tangannya di sana, seolah memastikan sesuatu benar-benar nyata.

Lian menarik napas pelan.

Tidak terkejut.

Tidak menolak.

Justru tubuhnya melemas, bersandar penuh pada Haikal. Ada kelegaan kecil yang menyelinap ke dadanya—kelegaan yang tak pantas ia rasakan, karena ia tahu ada rahasia besar yang ia sembunyikan.

“Mas…” bisiknya lirih.

Haikal menunduk, dagunya menyentuh bahu Lian. Suaranya rendah, serak oleh kantuk dan emosi yang tak ia pahami sepenuhnya.

“Tidur. Jangan mikir apa-apa. Aku di sini.”

Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk menenangkan semua ketakutan Lian—namun cukup untuk membuat matanya terasa panas.

Jemarinya bergerak, menggenggam tangan Haikal yang melingkar di tubuhnya. Genggaman kecil, seolah meminta jangan dilepas.

Haikal membalas dengan menariknya sedikit lebih erat.

Tidak ada ciuman.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada pengakuan.

Hanya dua orang yang memilih diam, karena kata-kata terasa terlalu rapuh untuk memuat semuanya.

Lian menutup matanya.

Di balik kelopak itu, pikirannya berisik—tentang dokter, tentang jantungnya, tentang kemungkinan terburuk yang sengaja ia kubur sendiri. Tapi untuk malam ini, ia mengizinkan dirinya berpura-pura.

Berpura-pura bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Berpura-pura bahwa waktu akan memihaknya.

Ia tertidur dalam pelukan Haikal, dengan satu tangan suaminya melindungi perutnya—tanpa tahu bahwa pelukan itu mungkin adalah yang paling aman yang akan ia miliki.

Di luar, malam terus berjalan.

Dan di kamar itu, dua jiwa terlelap dalam posisi yang sama—

satu menyimpan harapan,

satu menyimpan ketakutan,

namun keduanya terikat oleh cinta yang akhirnya tumbuh… terlambat, namun nyata.

Jauh di sisi lain kota.

Malam menggantung berat di langit, namun di balik kaca besar sebuah gedung pencakar langit, lampu-lampu kota menyala terang, berkilau seperti ribuan mata yang tak pernah tidur. Gedung-gedung menjulang tinggi, saling berdiri angkuh, seolah berlomba menyentuh langit—dingin, bisu, dan tanpa belas kasihan.

Seorang pria berdiri membelakangi ruangan.

Tubuhnya tegap, dibalut jas hitam rapi tanpa satu pun lipatan. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, sikapnya santai namun menekan—seperti predator yang tak perlu berlari untuk membuat mangsanya gemetar.

Ia tidak berbalik.

Di belakangnya, seorang pria lain berdiri dengan kepala menunduk. Nafasnya tertahan, keringat dingin mengalir di pelipis. Ruangan itu sunyi, terlalu sunyi, sampai suara pendingin udara terdengar nyaring.

Pria di depan kaca akhirnya bersuara.

Nada suaranya rendah. Tenang. Datar.

Namun justru itu yang membuatnya mengerikan.

“Jadi…”

Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata.

“Operasi itu gagal.”

Pria di belakang menelan ludah.

“Iya, Tuan.”

Hening.

Lampu-lampu kota memantul di kaca, menciptakan bayangan wajah pria misterius itu—setengah terang, setengah gelap.

“Dan anak buahku mati.”

Nada suaranya tetap sama. Tidak naik. Tidak turun.

“Iya, Tuan.” Suara itu hampir bergetar. “Ditembak… di tempat.”

Pria di depan kaca akhirnya sedikit memiringkan kepalanya.

Bukan menoleh.

Hanya cukup untuk menunjukkan ketertarikan tipis.

“Siapa pelakunya?”

Ada jeda. Terlalu lama.

Lalu suara itu menjawab, pelan namun jelas.

“Seorang perempuan.”

Keheningan itu berubah berat.

Pria misterius itu terkekeh kecil. Bukan tawa keras—hanya hembusan napas yang nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.

“Perempuan?” ulangnya pelan.

“Iya, Tuan. Istri… seorang tentara.”

Kali ini, pria itu benar-benar tertawa.

Pendek. Dingin. Tanpa humor.

“Menarik,” gumamnya.

“Anak buahku yang terlatih, bersenjata, kalah oleh seorang istri tentara.”

Ia akhirnya berbalik.

Wajahnya terlihat jelas kini—tajam, dewasa, dengan mata yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan orang-orangnya. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada duka. Hanya perhitungan.

“Namanya?” tanyanya.

Pria di belakang segera menyerahkan sebuah berkas. Tangannya gemetar saat berkas itu berpindah tangan.

Pria misterius itu membuka map tersebut perlahan. Foto pertama membuat alisnya terangkat tipis.

Seorang wanita.

Wajah tegas, mata tajam, rambut panjang terikat.

Tidak terlihat seperti korban.

Tidak terlihat seperti wanita rapuh.

“Humairah Liandra,” bacanya pelan.

“Istri dari Haikal.”

Ia tersenyum kecil.

“Oh…”

“Jadi ini istrinya.”

Jarinya mengetuk pelan map itu. Sekali. Dua kali. Ritmis.

“Dan kau bilang dia yang menarik pelatuk?” tanyanya, tanpa menatap bawahannya.

“Iya, Tuan. Satu tembakan. Tepat. Tidak ragu.”

Senyum di wajah pria itu melebar—bukan senyum senang, melainkan senyum seseorang yang baru menemukan variabel tak terduga dalam permainannya.

“Perempuan itu bukan kelemahan,” katanya pelan.

“Dia justru masalah.”

Ia menutup map dengan lembut, seolah sedang menutup buku cerita yang baru memasuki bab paling menarik.

“Kalau begitu,” lanjutnya, suaranya kembali datar,

“kita ubah rencana.”

Pria di belakang mengangkat kepala sedikit.

“Apa perintah Anda, Tuan?”

Pria misterius itu melangkah mendekat ke meja, menyalakan lampu kecil di sudut ruangan. Cahaya kuning menyorot wajahnya—dingin, penuh kendali.

“Kita tidak sentuh tentara itu dulu,” katanya.

“Prajurit seperti Haikal hidup untuk perintah. Dia mudah diprediksi.”

Ia berhenti, menatap foto Lian sekali lagi.

“Tapi istrinya…”

Nada suaranya merendah.

“Dia bertindak karena cinta. Karena emosi.”

Ia tersenyum tipis.

“Dan orang seperti itu,” lanjutnya,

“akan melakukan apa pun untuk melindungi apa yang ia sayangi.”

Ia mengembalikan map itu ke meja.

“Awasi mereka,” perintahnya.

“Diam-diam. Rapi. Tanpa jejak.”

Pria di belakang segera mengangguk.

“Siap, Tuan.”

Pria misterius itu kembali menghadap kaca besar, menatap kota yang terus menyala—tak tahu bahwa sebuah permainan berbahaya baru saja dimulai.

Di tempat lain, seorang wanita tertidur dalam pelukan suaminya, tangannya melindungi perutnya.

Dan di balik cahaya kota, seseorang telah menjadikan mereka target berikutnya.

Permainan belum selesai.

1
panjul man09
ibu berpikiran apa itu, menikahkan anaknya hanya 2 orang saksi tidak undang tetangga adakan syukuran kek, ibu pelit emang lian hamil? sampe nikah sembunyi2 ,haikal jg mau aja dia ikutim maunya bu maya.
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 semangat lian
dyah EkaPratiwi
semoga keduanya selamat
munaroh
nanti tak cobane, rujak bertabur keju. wes kemecer dhisik 🤤
munaroh
good job Lian👏
munaroh
🤣🤣🤣. begitulah pas nikah di hari-hari pertama, banyak kejutan😭
Nyai Nung: sifat yang berlawanan 🤣🤭
total 1 replies
munaroh
🤣🤣🤣 ada ada aja dah😆
munaroh
cie cie, pesonanya abang ga bisa ditolak ya lian🤣
Nyai Nung: banget beb, rasanya jantungku mau copot 🤭🤣
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
pecemburu sekali pak haikal
Nyai Nung: Sejuta sekali🤭
total 1 replies
muna aprilia
lanjut
Nyai Nung: Siap bos, ditunggu ya👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!