Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Drama Queen Of The Year
Bianca mematung, lalu air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Ia menutup mulutnya dengan tangan, bahunya terguncang hebat. Sesuai skenario.
"Jadi... ini akhirnya? Aku tahu aku tidak sebanding dengan Aurèlie di matamu. Aku hanya wanita biasa yang terlalu mencintaimu teramat sangat."
Ia mendekati Hernan, meraih tangannya dengan gemetar. "Ambil kembali apartemen yang baru kubeli tadi jika itu bisa mengurangi rasa bersalahmu karena membuangku demi dia, Hernan. Aku tidak butuh kemewahan jika kau tidak ada di dalamnya."
Hernan menatapnya dengan rasa iba yang luar biasa. Kalimat Bianca membuatnya merasa seperti penjahat paling keji di Paris.
"Tidak, Bianca. Apartemen itu tetap milikmu," ujar Hernan cepat, tidak ingin terlihat picik di depan ibunya.
"Kalau begitu..." Bianca menatap mata Hernan dengan pandangan hampa yang memilukan. "Berikan aku kunci Lykan Hypersport-mu. Bukan sebagai harta, tapi biarkan aku membawanya pergi jauh malam ini juga. Aku ingin lari dari kenyataan ini dengan satu-satunya benda yang membuatku merasa kuat saat bersamamu. Biarkan aku mengingat aroma parfummu di jok mobil itu saat aku menangis sendirian di jalanan."
Hernan terdiam. Mobil itu adalah koleksi kesayangannya, namun di bawah tatapan tajam Béatrice yang seolah menghakiminya sebagai pria tak bertanggung jawab, dan tangisan histeris Bianca yang terlihat begitu "tulus", ia menyerah.
"Baiklah, bawalah pergilah. Maafkan aku." Lora tersenyum puas, dia mempengaruhi hati kecil Hernan paling dalam untuk menyerahkan mobil mewah itu.
Bianca merosot di kaki Béatrice, mencengkeram ujung rok wanita tua itu seolah sedang mencari perlindungan terakhir. Isakannya kini terdengar pilu, bukannya pergi meninggalkan arena karena perannya sudah berakhir malah diteruskan lebih menjadi-jadi.
"Kau lihat sendiri, Nyonya... betapa keras kepalanya dia mempertahankan mantan kekasihnya," rintih Bianca tangisnya yang sangat dramatis.
"Sekarang aku semakin sadar, ternyata selama ini Hernan bukan tidak suka didesak untuk menikah... dia hanya menungguku pergi agar bisa kembali pada Aurèlie." ucap Bianca memanipulasi keadaan agar tak terlihat sebagai perampok.
Béatrice menatap putranya dengan kilat amarah yang menyala. Baginya, Aurèlie adalah parasit masa lalu yang akan mencoreng nama De Valois. Namun, di sudut ruangan, sosok Lora yang tak kasat mata mulai bekerja. Ia merayap di belakang Hernan, membisikkan frekuensi rendah yang hanya bisa ditangkap oleh alam bawah sadar pria itu, suara itu bergema dihatinya seperti suaranya.
"Jangan biarkan ibumu menang, Hernan... Aurèlie adalah satu-satunya kebebasanmu. Bianca hanyalah boneka ibumu. Pilih Aurèlie, atau kau akan menjadi budak Maman Béatrice selamanya," bisik Lora.
Bisikan itu bekerja seperti racun. Hernan yang tadinya merasa bersalah, mendadak merasa muak melihat pemandangan Bianca yang bersimpuh di kaki ibunya. Baginya, mereka berdua adalah simbol pengekangan.
"Cukup, Bianca! Hentikan sandiwara ini di depan ibuku!" bentak Hernan, "Ambil mobil itu. Ambil apartemennya. Ambil apa saja yang kau mau, tapi jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku memilih Aurèlie, dan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa mengubahnya!"
Hernan berbalik dan melangkah pergi, membanting pintu depan dengan keras hingga guncangannya terasa ke seluruh ruangan.
Béatrice gemetar karena geram, tangannya terkepal kuat. "Dia benar-benar sudah gila karena wanita itu..." gumamnya.
Bianca, yang masih tertelungkup, menyembunyikan senyum kemenangannya di balik telapak tangan. lalu mendongak dengan wajah yang tampak hancur namun tetap tegar di depan Béatrice.
"Aku akan pergi, Nyonya. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini," ucap Bianca lirih.
...****************...
Bianca melangkah masuk ke penthouse barunya dengan perasaan ringan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia melemparkan tas mahalnya ke sofa beludru, lalu berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap Menara Eiffel.
"Aku ingin istirahat dulu, Lora. Bukankah kau menjanjikan jeda?" ucap Bianca sambil mulai melepas pakaiannya satu per satu, bersiap untuk ritual mandi mewah. "Aku ingin berendam di bathtub dan menikmati Paris dari kamarku, sembari belanja daring dengan kartu Lukas. Kita akan menyusun rute keliling dunia, menikmati pria-pria tampan di setiap negara."
Lora muncul dari kepulan asap hitam cermin ruang tengah sosoknya kini terlihat lebih santai, ikut menikmati kemewahan hasil manipulasi mereka. "Pilihan yang cerdas, Bianca. Kau butuh memulihkan energi sebelum kekacauan antara Hernan, Aurèlie, dan Béatrice meledak sepenuhnya."
Bianca masuk ke dalam air hangat yang dipenuhi busa beraroma mawar. Sambil menyandarkan kepalanya, ia meraih tablet dan mulai membuka situs belanja barang-barang mewah. Kartu kredit Lukas, pria lain yang ada dalam daftar "koleksinya"—kini menjadi sasaran empuk berikutnya.
"Bagaimana kalau kita mulai dari Italia?Pria-pria di sana tahu cara memuja wanita sepertimu. Atau mungkin Skandinavia? Kau bilang kau suka yang bertubuh perkasa, bukan?"
Bianca tersenyum puas. Sambil menggulir layar tabletnya, ia membayangkan dirinya berada di sebuah yacht di Mediterania, dikelilingi oleh pria-pria tampan yang siap melayaninya, jauh dari drama membosankan keluarga De Valois.
****
Tiga hari berlalu dalam ketenangan yang mewah. Bianca menghabiskan waktunya berpindah dari bathtub ke tempat tidur sutranya, memesan puluhan gaun desainer terbaru, dan merancang peta perjalanan yang akan membuat iri siapapun.
Namun, ketenangan itu terusik saat pesan dari Béatrice de Valois masuk: "Temui aku di kafe biasa sore ini. Hernan sudah kehilangan akal sehatnya, dan hanya kau yang bisa kuboncengi untuk menghancurkan wanita parasit itu. Aku punya penawaran yang tidak akan bisa kau tolak."
Bianca menoleh ke arah cermin rias besarnya, tempat Lora sedang mengamati dengan senyum tipis.
"Nyonya besar itu sepertinya ingin menjadikanmu senjata utama. Haruskah kita bermain dalam drama penghancuran Aurèlie, atau kau ingin tetap pada rencana keliling duniamu dan membiarkan mereka saling membunuh?"
"Abaikan saja, Lora. Energiku akan habis tak berguna untuk ambisi Béatrice itu. Biarkan dia pakai cara lain. Bagiku, apartemen dan Lykan yang kurampok dari mereka sudah lebih dari cukup," gumam Bianca sambil memeriksa daftar bawaannya.
"Pilihan yang tepat, Bianca," suara Lora bergema pelan dari arah cermin. "Béatrice akan murka karena kau tak bisa dikendalikan lagi, tapi kau benar. Mengapa harus menjadi pion saat kau sudah bisa menjadi ratu di papan caturmu sendiri?"
"Besok pagi, kita berangkat. Aku sudah memesan tiket kelas utama ke Roma. Aku ingin melihat apakah pria-pria Italia itu benar-benar seindah reputasinya."
...****************...
Tiga hari kemudian, Bianca tiba di Roma. Saat ia sedang menyesap espresso di sebuah kafe terbuka di depan Piazza Navona, ia melihat seorang pria yang sangat tampan, sedang memperhatikannya dari kejauhan. Pria itu tampak familiar, seperti salah satu pengusaha muda yang pernah muncul di majalah bisnis.
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?