NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. The Lion in the Den of Lies

Lantai rumah sakit itu terasa begitu dingin dan steril, sangat kontras dengan gejolak emosi yang membakar dada Julian. Dengan langkah yang mantap namun tetap tenang—sebuah ketenangan yang hanya bisa didapat setelah berserah diri—Julian berjalan menyusuri lorong VVIP. Di belakangnya, Samuel Vane berjalan dengan tas kerja kulitnya, memancarkan aura otoritas hukum yang tak tergoyahkan.

​"Ingat, Julian," bisik Samuel saat mereka sampai di depan pintu kamar 402. "Jangan biarkan emosimu terpancing. Dia akan mencoba memanipulasimu dengan air mata, dan Sean akan ada di sana untuk merekam setiap kesalahan kecilmu."

​"Aku tahu, Pa. Aku tidak ke sini untuk bertengkar. Aku ke sini untuk membebaskan jiwa yang terpenjara," jawab Julian mantap.

​Saat pintu terbuka, bau obat-obatan menyengat indra penciuman mereka. Di atas ranjang, Ellena tampak begitu rapuh, tubuhnya hampir tenggelam di balik selimut putih. Namun, di sudut ruangan, sosok yang paling mereka hindari sudah berdiri dengan tangan terlipat di dada.

​"Berani sekali kau menginjakkan kaki di sini, Reed," desis Sean Miller. Matanya berkilat penuh kebencian. "Setelah kau membongkar aibmu sendiri dan membuat Ellena semakin tertekan? Kau adalah racun."

​"Keluar dari sini, Sean," ujar Samuel Vane dengan suara rendah yang mengancam. "Kami punya surat perintah untuk berbicara secara pribadi dengan Nona Breeze terkait penyelidikan eksploitasi agensi. Jika kau menghalangi, aku akan memastikan kau bermalam di sel hari ini juga."

​Sean tertawa sinis, namun melihat dua petugas keamanan di belakang Samuel, ia akhirnya melangkah keluar sambil membisikkan sesuatu di telinga Ellena yang membuat wanita itu gemetar hebat.

​Setelah pintu tertutup, Julian mendekat ke arah ranjang. Ia duduk di kursi kecil di samping Ellena. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, hanya terdengar suara monitor jantung yang berdetak konstan.

​"Kau terlihat sangat menderita, Ellena," buka Julian lembut.

​Ellena memalingkan wajahnya ke jendela, air mata mulai mengalir di pipinya yang tirus. "Kau sudah menang, Julian. Kau sudah menikah, kau sudah menjadi 'pria suci' di depan kamera. Kenapa kau tidak membiarkanku mati dengan tenang?"

​"Karena aku tahu kau tidak ingin mati, El," sahut Julian. "Kau hanya ingin berhenti merasa takut. Sama seperti aku dulu."

​Ellena menoleh dengan tajam, matanya merah karena tangis. "Apa maksudmu?"

​"Aku sudah menceritakan semuanya ke publik. Tentang kontrak darah, tentang zat-zat itu, tentang bagaimana agensi menghancurkan kita," Julian menggenggam tangan Ellena yang dingin, meski wanita itu sempat mencoba menariknya. "Aku tahu Sean mengancammu, El. Aku tahu dia memegang rekaman keluargamu, atau mungkin adikmu? Apa yang dia gunakan untuk menekanmu?"

​Ellena tertegun. Bahunya mulai berguncang hebat. "Dia... dia bilang jika aku tidak mengikuti skenario percobaan bunuh diri ini, dia akan merilis bukti keterlibatan ayahku dalam kasus penggelapan dana agensi sepuluh tahun lalu. Ayahku bisa membusuk di penjara, Julian! Aku tidak punya pilihan!"

​"Kau selalu punya pilihan," sela Samuel Vane yang berdiri di ujung ranjang. "Nona Breeze, aku adalah Samuel Vane. Aku bisa memberikan perlindungan hukum penuh untuk ayahmu jika kau bersedia menjadi saksi kunci untuk membongkar kejahatan Sean dan agensi. Kita bisa menghancurkan sistem ini bersama-sama."

​"Kenapa kau membantuku, Julian?" isak Ellena. "Aku mencoba menghancurkan pernikahanmu. Aku mencoba merebutmu kembali dengan cara yang kotor."

​Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh pengampunan. "Karena dulu aku juga sepertimu. Aku pernah berpikir bahwa kebohongan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Tapi Alice... dia mengajariku bahwa kebenaran memang menyakitkan di awal, tapi itulah satu-satunya jalan menuju kemerdekaan."

​Julian mengeluarkan sebuah Alkitab kecil dari sakunya, meletakkannya di meja samping tempat tidur Ellena. "Aku tidak memintamu menjadi religius sepertiku dalam semalam. Aku hanya memintamu untuk jujur pada dirimu sendiri. Jangan biarkan Sean Miller menjadi Tuhan atas hidupmu."

​"Dia punya video itu, Julian..." bisik Ellena ketakutan. "Video saat kita... saat kita kehilangan kendali di pesta itu."

​"Biarkan dia merilisnya," jawab Julian tenang. "Dunia sudah tahu aku seorang pendosa. Aku tidak takut lagi pada bayang-bayang. Kekuatan Sean ada pada rahasiamu. Jika kau membukanya, dia tidak punya apa-apa lagi untuk menyakitimu."

​Ellena menatap Julian lama, mencari kebohongan di mata pria itu, namun ia hanya menemukan kedamaian yang asing. "Alice... dia wanita yang sangat beruntung."

​"Akulah yang beruntung memilikinya," jawab Julian bangga.

​Tiba-tiba, pintu terbuka kasar. Sean Miller masuk dengan wajah merah padam. "Waktu habis! Keluar sekarang juga!"

​Namun, Julian tidak bangkit dengan terburu-buru. Ia berdiri perlahan, menatap Sean dengan pandangan yang sangat jernih. "Permainanmu sudah usai, Sean. Kau bisa mencoba menghancurkan reputasiku, tapi kau tidak bisa menyentuh jiwaku lagi."

​Julian menoleh ke arah Ellena sekali lagi. "Kami menunggumu di pihak kebenaran, El. Jangan terlambat."

​Saat Julian dan Samuel keluar dari kamar, mereka mendapati Alice sudah menunggu di ruang tunggu dengan wajah cemas. Begitu melihat Julian, Alice langsung menghambur ke pelukan suaminya.

​"Bagaimana keadaannya?" tanya Alice pelan.

​Julian mencium puncak kepala istrinya, mendekapnya erat seolah tidak mau lepas. "Dia sedang berperang dengan ketakutannya sendiri, Sayang. Tapi setidaknya, benih kebenaran sudah ditanam. Sekarang, kita hanya perlu berdoa agar dia memilih untuk hidup."

​Samuel menatap mereka berdua dengan bangga. "Kita harus bersiap. Setelah ini, Sean akan melakukan serangan terakhirnya. Dan itu akan melibatkan pihak elit yang lebih besar dari sekadar agensi musik."

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!