NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan Keluarga

Junia berlari kecil menuruni anak tangga. Wajahnya tampak sangat cerita. Entah hal baik apa yang baru saja diterimanya.

“Pagi, Bunda!” Junia mendaratkan ciuman di pipi ibunya.

“Pagi sayang…”

“Pagi, Ayah!” Kecupan kedua mendarat di pipi Pram.

“Selamat pagi juga princessnya Ayah!”

“Selamat pagi kakek!” Terakhir, kecupan mendarat di pipi sang kakek.

“Selamat pagi cucu cantiknya kakek. Ceria sekali pagi ini.” Raja menatap Junia dengan tatapan penuh kasih sayang.

“Junia seneng karena hari ini penyanyi favorite Jun ngisi acara sekolah!”seru Junia antusias.

“Oh yang kata kamu lebih ganteng dari ayah itu, ya?” Pram mendengus sebal.

Junia nyengir. “Enggak kok,Yah. Tetep ayah yang paling ganteng sedunia!” puji Junia.

“Wah! Karena ayah dipuji ganteng sama cewek cantik… jadi ayah punya hadiah untuk cewek cantik itu!” seru Pram.

Pram menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Junia. Gadis itu menatap kotak itu dengan mata berbinar.

“Hadiah?” Junia membulatkan matanya. “Buat Jun?” tanyanya memastikan.

“Iyaa sayang…”

“Hadiah apatuh? Kakek juga mau dong.” celetuk Raja.

“Ihh kakekk! Itu punya Junn!” sahut Junia.

“Cepet dicek hadiahnya, nanti diambil kakek tuh!” ucap Mahira.

Junia bergegas membuka kotak itu dengan penuh semangat. Dahinya mengernyit saat melihat kertas yang ada di dalam kotak itu.

“To—tokyo?” ucap Junia terbata. “Tiket liburan ke Tokyo?” serunya tak percaya. Ia menatap ayahnya yang mengangguk cepat.

“Karena besok udah mulai libur panjang, jadi kita akan liburan ke Jepang,” jelas Pram.

Junia ternganga. “Serius?! JEPANG, YAH? BENERAN JEPANG?”

Mahira tertawa kecil melihat reaksi putrinya. “Ayah tiba-tiba beli tiket tanpa bilang-bilang.”

Raja terbatuk kecil. “Sepertinya kakek di rumah saja, ya…”

“Jangan dong, Pak. Pram udah belikan tiket untuk bapak juga. Lagian bapak belum pernah ke jepang, kan?” ucap Pram.

“Tapi bapak takut hanya akan merepotkan kalian di sana dan mengganggu masa liburan kalian,” ucap Raja.

“Bapak tenang aja. Pram udah bayar asisten khusus untuk bantu-bantu bapak biar bapak nggak kesusahan,” jelas Pram.

“Lho, jangan gitu… pasti mahal kan bayarnya?” ucap Raja.

“Murah kok, Pak. Tenang aja!” jawab Pram.

“Kakek jangan bawel ih! Jun lagi seneng banget sekarang!!” seru Junia heboh. “Makasih kadonya Ayah ganteng!” ia mengecup pipi Pram berkali-kali.

“Giliran dikasih hadiah baru mau muji papanya, huh!” gerutu Pram.

Reaksi Junia sudah seperti anak kecil bertemu kue ulang tahun. Sudah lama sekali Junia ingin mengunjungi disneyland. Namun ayahnya selalu sibuk dan tidak pernah punya waktu. Dan sekarang ia sangat senang karena akhirnya bisa berlibur ke negara impiannya itu.

Tokyo menyambut mereka dengan udara dingin di awal musim semi. Mata Junia tampak berbinar saat melewati gerbang utama disneyland. Musik ceria mengalun, balon-balon pastel bergoyang mengikuti angin, dan aroma caramel popcorn memenuhi udara. Junia sama sekali tidak berkedip, seolah takut melewatkan sesuatu.

“Ayah fotoin Jun dongg! Jun mau foto di depan kastil itu!” serunya sambil menunjuk Castle yang berdiri megah di hadapannya.

Pram segera memotret putri kecilnya itu menggunakan kamera yang baru dibelinya sebelum berangkat. “Senyum! Tapi jangan keliatan gigi kelicinya!”

Junia mendengus. “Ayahh! Gigi kelinci Jun ini cantik lho!”

“Ayah… jangan gitu dong. Nanti Junia badmood, lho.” Mahira menggelengkan kepalanya.

“Jangan ngejek cucu cantik saya!” Raja memukul pundak Pram.

Pram meringis. Ternyata pukulan ayahnya masih terasa menyakitkan. “Duh iya-iya. Bapak tega banget mukulin anak sendiri demi anak orang lain.” Pram menggerutu.

Junia tertawa puas lalu menjulurkan lidahnya, pertanda ia pemenangnya kali ini.

Setelah puas berfoto dengan latar belakang Kastil Cinderella yang megah, Junia menarik tangan ayah dan ibunya dengan antusias. Raja berjalan santai di samping mereka, tersenyum melihat cucu kesayangannya begitu bahagia. Mereka melangkah menuju wahana pertama hari itu—Pirates of the Caribbean.

Begitu perahu mulai masuk ke dalam gua yang gelap, suasana berubah mencekam namun seru. Junia duduk di antara ayah dan kakeknya, terpana melihat sosok Captain Jack Sparrow yang muncul di antara tumpukan emas. "Lihat, Kek! Mirip sekali dengan yang di film!" bisik Junia kagum. Raja hanya terkekeh, ikut menikmati detail setiap animatronik bajak laut yang terasa begitu nyata.

Petualangan berlanjut ke berbagai sudut taman. Junia mencoba bermacam wahana bersama keluarganya. Mereka tertawa bersama saat menaiki Pooh’s Hunny Hunt, di mana pot madu mereka berputar-putar tak terduga. Pram dan Mahira menemani Junia berpetualang di Western River Railroad, menikmati pemandangan kereta uap yang klasik.

Bahkan Kakek pun ikut tersenyum lebar saat mereka masuk ke It’s a Small World, menikmati nyanyian damai dari berbagai budaya dunia.

Bagi Junia, ini bukan sekadar tentang wahana yang seru. Melihat ayahnya yang biasanya sibuk bekerja kini tertawa lepas, ibunya yang sibuk memotret setiap momen, dan kakeknya yang dengan sabar mengikuti langkah mereka, menjadikan hari itu sebagai hari yang paling berharga bagi Junia.

Malam pun tiba, menutup hari dengan sempurna. Udara malam Tokyo yang dingin tak terasa karena mereka berdiri berdekatan untuk menyaksikan Electrical Parade. Lampu-lampu hias raksasa yang berkelap-kelip, musik yang ceria, dan lambaian tangan dari karakter Disney favorit mereka membuat mata Junia berbinar. Di bawah langit malam yang penuh cahaya, Junia menggenggam tangan kedua orang tuanya dan kakeknya, merasa sangat beruntung bisa memiliki momen indah ini bersama keluarga tercinta.

Setelah parade berakhir, suasana di Tokyo Disneyland tidak lantas meredup. Cahaya lampu dari toko-toko di World Bazaar justru semakin berkilau keemasan. Junia, yang masih mengenakan bando telinga Mickey Mouse-nya, berjalan perlahan sambil menggandeng tangan kakeknya yang mulai tampak lelah.

"Jun lapar nggak?" tanya Pram sambil merangkul bahu istrinya.

“Jun pengen jajan, Yah!” jawabnya

Mereka akhirnya memutuskan untuk mampir sejenak membeli waffle hangat berbentuk wajah Mickey yang aromanya memenuhi udara malam itu. Sambil duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke kastil, mereka menikmati camilan terakhir tersebut. Kakek bercerita tentang betapa berbedanya taman bermain zaman dulu dengan kemegahan yang mereka lihat sekarang, sementara Junia mendengarkan dengan saksama, sesekali menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.

Tepat sebelum mereka melangkah menuju gerbang keluar, langit malam tiba-tiba pecah oleh dentuman kembang api. Pertunjukan Sky Full of Colors dimulai. Cahaya merah, biru, dan emas meledak di atas menara kastil, menciptakan siluet indah keluarga kecil itu yang berdiri terpaku.

Pram segera merogoh ponsel dari dalam sakunya. “Ayo foto selfie dulu!” serunya. Mereka berempat pun berfoto dengan latar belakang kembang api.

Junia menatap foto itu di layar ponsel Ayahnya. Di sana, mereka semua tersenyum lebar tanpa beban. “Tuhan… terima kasih atas kebahagiaan yang Engkau berikan hari ini.”

***

Bersambung…

1
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
@Resh@: sepertinya dia yg fitnah dara dia nyamar klo pake cadar dan jadi pelakor tapi dara yg dituduh awal mula kehancuran dara ini
total 1 replies
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!