NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Pertarungan di Whiskey Peak

Mr. 5 mengangkat tangannya, jarinya mengarah ke kami seperti pistol. "Kalian akan menyesal melawan Baroque Works. Nose Fancy CANNON!"

Dia menjentikkan hidungnya—dan sebuah bola booger terbang ke arah kami dengan kecepatan tinggi!

"MENGHINDAR!" teriakku.

Spider Sense berdering keras. Aku menembakkan jaring ke atap bangunan di samping dan mengayunkan tubuhku ke atas, menghindari proyektil.

BOOM!

Ledakan menghancurkan tanah tempat aku berdiri barusan, menciptakan kawah sedalam dua meter!

"Sial, kekuatan ledakannya tidak main-main!" gumamku sambil mendarat di atap.

Zoro dan Robin juga berhasil menghindar—Zoro melompat ke samping dengan reflek cepat, sementara Robin menggunakan tangannya untuk mendorong dirinya menjauh.

"Miss Valentine!" Mr. 5 memanggil partnernya. "Handle yang di atap!"

"Oke, darling~!" Miss Valentine membuka payungnya dan melayang ke udara, menuju ke arahku. "10.000 Kilo Press!"

Tubuhnya menjadi sangat berat dan menukik ke arahku seperti meteor!

Spider Sense berdering! Aku melompat dari atap tepat sebelum Miss Valentine menghantam—atap itu hancur total, reruntuhan berjatuhan ke bawah!

Saat melayang di udara, aku menembakkan jaring ganda ke Miss Valentine—satu ke payungnya, satu ke kakinya.

"Gotcha!" aku menarik keras!

Tapi Miss Valentine tersenyum. "1 Kilo!"

Tubuhnya tiba-tiba menjadi sangat ringan—tarikan jaringku malah membuat dia terpental lebih tinggi ke udara, lepas dari jaringku!

"Sial! Dia bisa mengubah beratnya sesukanya!" pikirku sambil mendarat di tanah.

Miss Valentine melayang di atas ku dengan senyum jahil. "Kau lucu, bocah laba-laba. Tapi seranganmu tidak akan berhasil kalau aku bisa mengontrol beratku! 5.000 Kilo Press!"

Dia menukik lagi, kali ini dengan berat 5.000 kilogram!

Aku tidak bisa menghindar ke samping—dia terlalu cepat. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.

Aku menembakkan jaring ke tanah di sekitarku, menciptakan jaring trampolin berlapis!

Miss Valentine menghantam jaring—dan memantul ke atas!

"KYAAAA?!" dia berteriak terkejut saat tubuhnya terpental kembali ke udara.

"Jaring elastis!" teriakku sambil tersenyum. "Semakin kuat tekanannya, semakin kuat pantulannya!"

Saat Miss Valentine masih di udara, aku menembakkan jaring ke kakinya dan menariknya ke bawah dengan keras—membanting dia ke tanah!

WHAM!

"ITTAIII!" Miss Valentine berteriak kesakitan.

Aku langsung menembakkan lebih banyak jaring, membungkus tubuhnya seperti kepompong. "Jangan bergerak. Aku tidak ingin melukai wanita, tapi kalau kau terus melawan, aku tidak punya pilihan."

"MISS VALENTINE!" Mr. 5 berteriak marah. Dia mengambil napas dalam dan meniup ke arah ku. "Breeze Breath BOMB!"

Napasnya yang bisa meledak terbang ke arahku seperti angin!

Spider Sense! Aku tidak bisa menghindar—ledakan ini area-nya terlalu luas!

Tapi tiba-tiba, Zoro muncul di depanku. "Santoryu..." Dia menyilangkan ketiga pedangnya. "Tora Gari!"

SLASH!

Zoro memotong napas Mr. 5 sebelum meledak, menciptakan dua ledakan kecil di kanan dan kiri yang tidak mengenai kami!

"Zoro!" terkejut melihat dia menyelamatkanku.

"Fokus pada musuhmu," kata Zoro sambil menatap Mr. 5 dengan tajam. "Biarkan aku handle yang ini."

Mr. 5 menyeringai. "Roronoa Zoro. Bounty 60 juta Berry. Pemburu bajak laut yang jadi bajak laut. Menarik." Dia mengeluarkan pistol dan mengisinya dengan... booger-nya sendiri. "Tapi bisakah kau memotong peluru yang meledak?"

Dia menembak!

BANG! BANG! BANG!

Tiga peluru booger terbang ke arah Zoro!

Zoro tidak menghindar. Dia justru berlari maju, pedangnya bergerak dengan kecepatan cahaya!

SLASH! SLASH! SLASH!

Ketiga peluru terpotong di udara—dan meledak jauh di atas, tidak mengenai siapa pun!

"Apa?!" Mr. 5 terkejut. "Dia memotong ledakan?!"

Zoro sudah di depannya. "Oni... Giri!"

SLASH!

Pedang Zoro memotong dada Mr. 5 dengan dalam—darah menyembur!

"GUAHHH!" Mr. 5 terpental ke belakang, menghantam dinding dengan keras.

Tapi dia masih sadar. Dengan wajah berdarah, dia tersenyum. "Kau... kira itu cukup untuk... mengalahkanku?" Dia mengambil sesuatu dari sakunya—sebuah bola baseball. "Ini... bom terakhirku... Major League HOME RUN!"

Dia melempar bola baseball itu ke udara—dan bola itu mulai membesar! Semakin besar! Sampai sebesar rumah!

"ITU BOM RAKSASA!" teriakku. "KALAU ITU MELEDAK, SELURUH KOTA AKAN HANCUR!"

"Exactly," Mr. 5 batuk darah. "Kalau aku mati... kalian semua mati bersamaku..."

Zoro mengertakkan gigi. "Sial! Aku tidak bisa memotong yang sebesar itu!"

Spider Sense ku berdering sangat keras—ini bahaya level maksimal! Kalau bom itu meledak, semua akan mati—termasuk Luffy dan kru yang masih tertidur!

Aku harus melakukan sesuatu!

"Zoro!" teriakku. "Beri aku waktu 10 detik!"

"Untuk apa?!"

"PERCAYA AKU!"

Zoro menatapku sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah! 10 detik!"

Aku langsung berlari menuju bom raksasa yang mengapung di udara. Tanganku bergerak dengan cepat, menembakkan jaring ke segala arah—ke bangunan, ke tanah, ke langit.

Jaring menyebar, menciptakan jaringan kompleks yang mengelilingi bom raksasa.

"Kenji! Apa yang kau lakukan?!" Vivi berteriak dari bawah.

"MEMBUAT KURUNGAN!" teriakku sambil terus menembakkan jaring.

5 detik...

Aku menciptakan lapisan pertama—jaring yang mengelilingi bom dari semua sisi.

6 detik...

Lapisan kedua—jaring yang lebih tebal, berlapis-lapis.

7 detik...

Lapisan ketiga—jaring yang diperkuat dengan pola geometris yang kompleks.

8 detik...

Lapisan keempat—jaring yang saling terkait, membentuk struktur seperti sarang laba-laba raksasa.

9 detik...

Lapisan kelima—jaring final, yang paling kuat, yang akan menahan ledakan!

10 detik!

"SELESAI!" teriakku. "SPIDER COCOON: MAXIMUM CONTAINMENT!"

Tepat saat itu, bom meledak!

BOOOOOMMM!!!

Ledakan dahsyat terjadi di dalam kurungan jaring! Api dan asap mengisi interior kurungan, tekanan luar biasa mendorong jaring dari dalam!

Jaring-jaringku meregang—beberapa lapisan robek—tapi mereka menahan!

Lapisan pertama hancur!

Lapisan kedua robek!

Lapisan ketiga retak!

Tapi lapisan keempat dan kelima... MENAHAN!

Asap dan api terkurung di dalam jaring, tidak menyebar ke luar!

Setelah beberapa detik, ledakan mereda. Asap menghilang perlahan. Dan kurungan jaring ku... masih utuh—meskipun rusak parah.

Aku jatuh berlutut, napas terengah-engah. "Hah... hah... berhasil..."

Seluruh Whiskey Peak terdiam.

Para bounty hunter yang tadinya menyerang Zoro berhenti dan menatap ku dengan mata terbelalak.

"Dia... menahan ledakan sebesar itu..." gumam salah satu dari mereka.

"Dengan jaring... dia menahan ledakan dengan jaring..."

"Siapa bocah ini?!"

Zoro berjalan mendekatiku dan mengulurkan tangan. "Kerja bagus, Kenji."

Aku menerima tangannya dan berdiri dengan susah payah. "Terima kasih, Zoro. Tapi aku... hampir tidak kuat..."

"Kau menyelamatkan semua orang di kota ini," kata Zoro sambil tersenyum tipis. "Itu sudah lebih dari cukup."

Robin mendekat dengan Vivi. "Kenji-kun, kemampuanmu luar biasa. Aku belum pernah melihat pengguna Buah Iblis menggunakan kekuatannya sekreatif itu."

"Aku hanya... melakukan apa yang harus dilakukan," jawabku sambil tersenyum lelah.

Vivi menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih... terima kasih banyak... kalian semua..."

Tiba-tiba, Mr. 8—atau Igaram—muncul dari balik reruntuhan, tubuhnya penuh luka. Di sampingnya ada bebek raksasa dengan bintik-bintik—Karoo, hewan peliharaan Vivi.

"Princess Vivi!" Igaram berteriak sambil berlari mendekat. "Anda selamat!"

"Igaram!" Vivi berlari memeluk pengawalnya. "Kau juga selamat!"

Igaram menatap kami—Zoro, Robin, dan aku—lalu membungkuk dalam. "Terima kasih. Terima kasih telah melindungi Princess."

"Tidak masalah," jawab Zoro sambil menyarungkan pedangnya. "Kami cuma melakukan apa yang benar."

"Igaram," kata Vivi dengan serius. "Mereka tahu. Mereka tahu aku adalah princess. Dan mereka tahu tentang Baroque Works."

Igaram menatap kami dengan waspada. "Berapa banyak yang kalian tahu?"

"Cukup banyak," jawab Robin dengan tenang. "Baroque Works adalah organisasi bounty hunter yang dipimpin oleh seseorang yang misterius. Organisasi ini punya rencana besar—rencana yang melibatkan Kerajaan Alabasta."

Vivi terkejut. "Kau... bagaimana kau tahu?!"

Robin tersenyum tipis. "Aku punya cara untuk mendapatkan informasi."

Aku menatap Vivi dengan serius. "Vivi-san, apa yang sebenarnya terjadi di Alabasta? Kenapa Baroque Works ingin menghancurkan kerajaanmu?"

Vivi menggigit bibirnya, air mata mulai mengalir. "Alabasta... kerajaanku... sedang dalam krisis. Sudah tiga tahun tidak turun hujan. Rakyat menderita. Kekeringan di mana-mana. Dan kemudian, pemberontakan dimulai. Rakyat menuduh Raja—ayahku—menyebabkan kekeringan dengan menggunakan Dance Powder untuk membuat hujan di kota kerajaan."

"Dance Powder?" tanyaku.

"Bubuk yang bisa membuat hujan," jelas Igaram. "Tapi penggunaannya dilarang karena dia mengambil kelembaban dari daerah lain, menyebabkan kekeringan di tempat lain."

"Dan rakyat percaya raja menggunakannya," lanjut Vivi sambil menangis. "Tapi itu tidak benar! Ayahku tidak akan pernah melakukan itu! Ini semua... ini semua rencana boss Baroque Works! Dia yang menciptakan krisis ini! Dia yang menyebarkan rumor! Dia yang menghasut rakyat untuk memberontak! Dan dia... dia adalah..."

"Crocodile," kata Robin dengan tenang.

Semuanya terdiam.

Vivi dan Igaram menatap Robin dengan wajah pucat. "Kau... kau tahu?"

"Crocodile," ulang Robin. "Salah satu dari Shichibukai. Bajak laut yang bekerja sama dengan World Government. Dia adalah boss Baroque Works. Dan dia merencanakan untuk mengambil alih Alabasta dengan menciptakan perang sipil."

Aku merasakan dingin di punggungku. Crocodile. Salah satu villain paling berbahaya di One Piece. Pengguna Suna Suna no Mi—Buah Iblis Logia tipe pasir. Dia hampir tidak terkalahkan.

"Kenapa..." Vivi bergumam dengan putus asa. "Kenapa Shichibukai menginginkan kerajaan kami? Kami hanya kerajaan kecil di gurun..."

"Karena Alabasta menyimpan sesuatu," jawab Robin. "Sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang dicari banyak orang di dunia ini."

"Apa?" tanya Vivi.

Robin menatapnya dalam-dalam. "Poneglyph."

Vivi dan Igaram terkejut. "Poneglyph?! Tapi itu—"

"Batu kuno yang menyimpan sejarah yang hilang," lanjut Robin. "Dan Crocodile mencari salah satu Poneglyph khusus—Poneglyph yang mencatat lokasi Ancient Weapon: Pluton."

"Ancient Weapon..." gumam Zoro. "Senjata kuno yang bisa menghancurkan dunia."

Aku menelan ludah. Ini sudah masuk ke wilayah yang sangat berbahaya. Ancient Weapon, Poneglyph, Void Century—ini adalah misteri terbesar di dunia One Piece.

"Jadi Crocodile ingin Ancient Weapon itu," gumamku. "Dan dia menggunakan perang sipil di Alabasta sebagai kamuflase untuk mencarinya."

"Exactly," Robin mengangguk. "Dan kalau dia berhasil, tidak hanya Alabasta yang akan hancur—tapi mungkin seluruh dunia."

Vivi jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu. "Aku... aku harus menghentikannya... tapi bagaimana? Dia Shichibukai! Dia terlalu kuat! Bahkan Marine tidak bisa menyentuhnya karena dia bekerja sama dengan World Government!"

Igaram memeluk Vivi, mencoba menenangkannya.

Aku menatap Zoro dan Robin. "Apa yang harus kita lakukan?"

Zoro diam sejenak, lalu tersenyum. "Kau tahu apa yang akan dikatakan Luffy."

Aku tersenyum balik. "Ya. Aku tahu."

Aku berjalan ke depan Vivi dan berlutut agar sejajar dengannya. "Vivi-san. Kami akan membantumu."

Vivi mengangkat kepalanya, menatapku dengan mata merah karena menangis. "Apa...?"

"Kru Topi Jerami akan membantumu menghentikan Crocodile dan menyelamatkan Alabasta," kataku dengan mantap. "Itu yang akan dikatakan Luffy. Dan sebagai nakama-nya, aku setuju."

"Aku juga setuju," kata Zoro.

"Aku juga," Robin tersenyum.

Vivi menatap kami dengan tidak percaya. "Tapi... tapi kenapa? Kalian baru saja bertemu denganku! Kenapa kalian mau mempertaruhkan nyawa kalian untuk kerajaan yang bahkan bukan tanah air kalian?!"

"Karena kau adalah teman kami," jawabku sambil tersenyum. "Dan teman membantu teman."

Air mata mengalir deras dari mata Vivi. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan—ini air mata lega dan kebahagiaan.

"Terima kasih..." bisiknya. "Terima kasih banyak..."

Tiba-tiba, suara teriakan keras terdengar dari gedung yang hancur.

"OI! APA YANG TERJADI DI SINI?!"

Kami semua menoleh dan melihat Luffy—akhirnya bangun—berdiri di atas reruntuhan dengan wajah bingung.

"LUFFY!" kami semua berteriak bersamaan.

"Eh? Kenapa kalian semua di luar?" tanya Luffy sambil menggaruk kepala. "Dan kenapa gedungnya hancur? Dan kenapa ada orang terikat jaring? Dan—UWAH! MAKANANNYA HABIS?!"

Kami semua sweatdrop.

"Luffy, kau idiot," gumam Zoro sambil menghela napas.

Tapi aku tersenyum. Ini adalah Luffy yang kukenal—bodoh, polos, tapi punya hati yang paling tulus di dunia.

Dan sekarang, kami akan memulai petualangan baru.

Petualangan untuk menyelamatkan kerajaan Alabasta dari tirani Crocodile.

Di Mulai.

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!