Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAWA ISAP DAN RAHASIA SEKARWANGI
Hutan Larangan seolah tidak pernah kehabisan cara untuk menyiksa raga dan jiwa mereka yang berani melintas. Setelah pertarungan melelahkan melawan Banaspati, Sekar Wangi membawa Tirta dan Dimas menyusuri jalan setapak yang nyaris tak terlihat, tertutup oleh sulur-sulur tanaman berduri yang nampak seperti urat nadi raksasa.
Udara di sekitar mereka perlahan berubah. Jika sebelumnya hawa hutan terasa kering dan panas karena keberadaan Banaspati, kini atmosfer menjadi lembap dan berbau amis yang menusuk. Suara air yang tenang namun menghanyutkan mulai terdengar di kejauhan.
"Hati-hati dengan setiap langkah kalian," Sekar Wangi memperingatkan tanpa menoleh. Gerakannya sangat ringan, seolah kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah. "Tanah di depan kita bukan lagi tanah padat. Ini adalah Rawa Bayang. Sekali kakimu tenggelam, bukan hanya tubuhmu yang dihisap, tapi juga tenaga dalammu."
Dimas Rakyan mendengus, mencoba menutupi rasa ngerinya. "Kau bicara seolah rawa ini punya mulut dan perut, Gadis Hutan."
Sekar Wangi berhenti mendadak, membuat Dimas nyaris menabraknya. Wanita itu menunjuk ke sebuah batang pohon tumbang yang nampak kokoh di tengah hamparan air tenang. Tiba-tiba, seekor kancil hutan melompat ke atas batang itu. Dalam hitungan detik, batang pohon itu membuka "mulutnya"—ternyata itu adalah punggung buaya rawa raksasa yang kulitnya bermutasi menjadi seperti kayu—dan menelan sang kancil tanpa sisa.
Dimas menelan ludah dengan susah payah. "Baiklah, aku akan diam dan mengikuti langkahmu."
Tirta tetap waspada, tangannya tak pernah jauh dari hulu Sasmita Dwipa. Matanya mengamati Sekar Wangi. Ada sesuatu yang janggal dari cara wanita itu bergerak. Setiap kali Sekar melangkah, ada aura hijau tipis yang terpancar dari kakinya, menetralisir hawa beracun dari rawa.
"Mengapa kau membantu kami?" tanya Tirta memecah keheningan yang menyesakkan. "Di tempat seperti ini, menolong orang asing biasanya berarti mengundang maut."
Sekar Wangi terdiam sejenak. Ia terus berjalan, melompati akar-akar pohon dengan lincah. "Karena aku benci melihat lambang singa emas itu tetap berkibar. Enam bulan lalu, desaku di pinggiran hutan ini diratakan dengan tanah. Ayahku, yang merupakan penjaga hutan ini, dibunuh karena menolak memberikan lokasi Bunga Wijayakusama Hitam kepada mereka."
Tirta merasakan dadanya berdenyut. Cerita itu terlalu mirip dengan apa yang menimpanya. "Mereka mengambil segalanya dari kita."
"Bukan segalanya," Sekar Wangi menoleh sedikit, matanya berkilat tajam. "Mereka tidak bisa mengambil dendamku. Dan aku tahu, pemuda di belakangmu membawa beban yang sama. Pedangmu... aku bisa merasakan tangisannya. Itu bukan pedang biasa."
Sebelum Tirta bisa membalas, tanah di bawah kaki Dimas tiba-tiba amblas.
"Aakh!"
Dimas terperosok hingga sepinggang ke dalam lumpur hitam yang pekat. Ia mencoba meronta, namun semakin ia bergerak, semakin cepat tubuhnya tersedot ke bawah. Yang lebih mengerikan, cahaya biru samar mulai keluar dari tubuh Dimas dan terserap ke dalam lumpur.
"Jangan bergerak, Dimas! Rawa ini memakan tenaga dalammu!" teriak Tirta.
Tirta hendak melompat untuk menolong, namun Sekar Wangi menahan lengannya. "Jangan! Jika kau masuk ke sana, kalian berdua akan mati. Rawa ini bereaksi terhadap energi Sinar Gadhing-mu yang kuat. Biarkan aku."
Sekar Wangi melepaskan busur tulang di punggungnya. Ia tidak menggunakan anak panah, melainkan sebuah tali sutra panjang yang ujungnya terdapat pengait perak. Dengan akurasi yang luar biasa, ia melemparkan pengait itu ke arah galah kayu Dimas.
"Tarik, Dimas! Fokuskan pikiranmu, jangan biarkan rasa takutmu mengalirkan energi ke kaki!" perintah Sekar.
Tirta tidak bisa hanya diam melihat sahabatnya dalam bahaya. Ia memejamkan mata, mencoba memanggil energi rembulan yang murni. Ia tidak mengarahkannya ke rawa, melainkan ia menyentuh tanah di tepian rawa.
"Sinar Gadhing: Pembeku Sukma!"
Tirta mengalirkan hawa dingin yang luar biasa dari telapak tangannya. Perlahan, permukaan rawa di sekitar Dimas mulai membeku, membentuk lapisan es tipis yang menahan laju isapan lumpur tersebut. Itu memberika waktu bagi Sekar Wangi untuk menarik Dimas keluar dengan sentakan kuat.
PLOP!
Dimas terlempar ke tanah padat, tubuhnya penuh dengan lumpur hitam yang berbau busuk. Ia terengah-engah, wajahnya pucat pasi. "Terima... terima kasih. Aku bersumpah, setelah ini aku tidak mau melihat air rawa lagi seumur hidupku."
Sekar Wangi menatap Tirta dengan terkejut. "Kau membekukan Rawa Bayang? Tidak ada manusia yang pernah bisa melakukan itu sebelumnya. Energi dinginmu... itu bukan energi manusia biasa."
Tirta berdiri, napasnya sedikit berat. Menggunakan teknik pembeku di lingkungan yang sangat lembap seperti rawa menguras banyak staminanya. "Itu warisan kakekku. Dan aku akan menggunakannya untuk menghancurkan siapa pun yang menyakiti teman-temanku."
Sekar Wangi menatap Tirta lama, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. Akhirnya, ia menghela napas. "Mungkin kau memang orang yang dicari oleh ramalan kuno hutan ini. Ikutlah. Kita hampir sampai di perbatasan timur. Tapi kalian harus tahu, di balik rawa ini adalah Lembah Kabut Penyesalan. Di sana, Tujuh Bayangan telah menempatkan salah satu dari petinggi mereka."
"Siapa?" tanya Tirta.
" Pangeran Kelana, si Tangan Beracun," jawab Sekar Wangi dengan suara yang sedikit bergetar. "Dia adalah orang yang membantai keluargaku. Dan dia adalah orang yang ditugaskan untuk memastikan tidak ada satu pun pendekar yang bisa mendekati tebing ratapan tempat gadis itu berada."
Mendengar nama Pangeran Kelana, Tirta mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Rasa sakit di tubuhnya berganti menjadi amarah yang terkendali. Ia menatap ke arah timur, di mana langit mulai berubah menjadi ungu gelap menandakan malam segera tiba.
"Biarkan dia menunggu," ucap Tirta dingin. "Karena aku membawa hadiah kematian untuknya."
Malam itu, mereka berkemah di sebuah dahan pohon raksasa untuk menghindari predator rawa. Di bawah sinar bulan yang tertutup kabut, Sekar Wangi menceritakan lebih banyak tentang peta kekuatan Tujuh Bayangan. Tirta mendengarkan dengan seksama, menyadari bahwa perjalanan ini baru saja memasuki tahap yang jauh lebih mematikan.
Di kegelapan hutan, suara tawa Pangeran Kelana seolah terngiang dibawa angin, menantang Tirta untuk segera melangkah menuju ajalnya.