NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angin Dingin Malam

Malam itu, jalanan kota terasa lebih bersahabat. Suara deru motor sport Zayden membelah angin, membawa dua manusia yang selama ini terkunci dalam kedinginan masing-masing.

​Zayden sengaja memacu motornya dengan kecepatan rendah, sebuah rekor baru bagi seorang Zayden Abbey yang biasanya hobi balapan.

Di balik helmnya, senyum pemuda itu tak kunjung luntur. Sementara di belakang, Amy duduk dengan posisi tegak, menjaga jarak sekitar lima sentimeter agar tidak bersentuhan dengan punggung Zayden.

​Zayden melirik dari spion. "Amy! Anginnya kenceng ya? Lo nggak kedinginan?" teriaknya di balik helm.

​"Saya biasa saja, Zayden!" balas Amy sedikit berteriak agar terdengar.

​"Yah, padahal gue udah berharap lo bakal bilang dingin, terus meluk gue kayak di film-film yang ditonton Dio," celetuk Zayden.

Ia lalu mulai melancarkan aksi konyolnya. Zayden sengaja melewati jalan yang sedikit tidak rata. Setiap kali ada guncangan, ia berpura-pura hampir kehilangan keseimbangan.

​"Aduh! Jalannya licin banget ya, kayak janji manis politikus!" Zayden tiba-tiba melepaskan tangan kirinya dari stang motor dan meraba ke belakang, mencoba meraih tangan Amy. "Pegang jaket gue deh, Amy. Gue nggak mau lo mental ke aspal, ntar aspalnya malah jatuh cinta sama lo karena lo terlalu cantik."

​Amy melihat tangan Zayden yang menggapai-gapai di samping pinggangnya. Ia tahu itu hanya akal-akalan Zayden, tapi entah mengapa, Amy tidak merasa risih. Di balik punggung Zayden, Amy tersenyum sangat lebar, senyum yang tidak akan pernah ia perlihatkan pada siapa pun di mansion nya.

​Amy akhirnya meraih ujung jaket kulit Zayden, tapi Zayden tidak puas. Ia justru menangkap telapak tangan Amy yang dingin dan menariknya masuk ke dalam saku jaketnya yang hangat.

​"Di sini aja tangannya. Biar suhu Satu Derajat lo ketularan angetnya mesin motor gue," bisik Zayden, yang kali ini suaranya terdengar lebih dalam melalui intercom helm yang terhubung.

​Amy tertegun. Jantungnya berdebar kencang, menabrak tembok aturan yang selama ini dibangun orang tuanya. Ia membiarkan tangannya di sana, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan.

​Saat komplek rumah Amy sudah mulai terlihat di kejauhan, Zayden mendadak melambatkan motornya hingga hampir berhenti. Suasana menjadi lebih sunyi, hanya ada suara jangkrik dan lampu jalan yang kuning temaram.

​"Amy," panggil Zayden. Kali ini nadanya serius, hilang sudah nada konyolnya.

​"Ya?"

​Zayden menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang bahkan lebih besar daripada saat ia harus menghadapi keroyokan geng lawan.

"Gue tahu siapa gue. Gue urakan, gue sampah jalanan di mata orang tua lo, dan gue punya sejuta kekurangan. Sedangkan lo... lo itu sempurna, meskipun lo nutup diri dalam es."

​Amy terdiam, mendengarkan dengan seksama.

​"Gue nggak mau cuma jadi cowok polusi yang lewat sebentar di hidup lo," lanjut Zayden. "Gue beneran sayang sama lo, Amy. Sampai-sampai gue rela jadi orang yang berbeda tiap kali bareng lo. Jadi... menurut lo, hubungan kita kedepannya gimana? Apa gue masih punya tiket buat masuk ke dunia lo yang tertutup rapat itu?"

​Amy merasakan remasan kecil pada tangannya di dalam saku jaket Zayden. Pertanyaan itu menghantam realita Amy. Ia tahu risikonya. Jika orang tuanya tahu, Zayden bisa dalam bahaya besar.

​Amy menyandarkan kepalanya sejenak di punggung jaket Zayden, hanya satu detik, sebelum menjauh lagi. "Zayden, kamu tahu kan rumah saya itu penjara?"

​"Gue tahu. Dan gue punya kunci duplikatnya, kalau perlu gue dobrak gerbangnya pake motor ini," jawab Zayden mantap.

​Amy tersenyum tipis. "Jangan didobrak, nanti papa saya panggil polisi. Cukup jangan pergi saja. Untuk kedepannya... biarkan suhu ini mengalir pelan-pelan. Jangan dipaksa jadi seratus derajat, karena saya takut kita sama-sama terbakar."

​Zayden tertawa lega, tawanya pecah memecah kesunyian malam.

"Diterima nih ceritanya? Oke! Besok gue bawain buku pelajaran lagi, tapi covernya gue ganti gambar motor ya, biar gue nggak pusing liatnya!"

​"Terserah kamu, Zayden," balas Amy lembut.

​Tepat saat motor Zayden berhenti di tikungan sebelum gerbang mansion, sebuah mobil hitam besar meluncur pelan dari arah berlawanan. Lampu jauh mobil itu menyorot tajam ke arah motor Zayden, membuat mereka berdua silau.

​Itu adalah mobil ayah Amy.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰🥰😍🥰

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!