NovelToon NovelToon
Taubatnya Si Kupu-Kupu Malam

Taubatnya Si Kupu-Kupu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / Cinta Seiring Waktu / Romansa / PSK / Konflik etika / Mengubah Takdir
Popularitas:39.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.

Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.

Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.

Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Tinnnnnnnn!

Suara klakson itu menjerit panjang, melengking, memecah kesunyian malam yang pekat. Getarannya terasa memekakkan telinga, menggema di sepanjang jalan sepi yang hanya diterangi lampu-lampu jalan yang berpendar temaram.

Brak!

Seketika, bunyi tabrakan menggelegar seperti petir yang menyambar tepat di depan wajah. Ban mobil berdecit keras di atas aspal yang licin oleh embun malam. Mobil kuning itu oleng, melenceng tajam ke kanan saat pengemudinya banting setir dengan refleks yang nyaris putus asa. Lampu depan bergetar liar, membelah gelap malam dengan sorot cahaya yang menyilaukan.

Dalam sepersekian detik, bayangan sebuah motor muncul tiba-tiba dari jalan kecil di sisi kiri tanpa peringatan, tanpa lampu yang memadai. Benturan tak terelakkan.

Bagian depan mobil menghantam batang pohon tua dengan kekuatan penuh. Kayu besar itu bergetar, daun-daunnya berguguran seperti hujan.

Kaca depan pecah berhamburan. Pecahan-pecahan tajam berkilau diterpa cahaya lampu jalan sebelum jatuh bertebaran ke aspal. Kap mobil ringsek, terlipat seperti kertas. Asap tipis mengepul dari mesin yang menderu tak beraturan sebelum perlahan mati. Bau bensin bercampur bau besi terbakar memenuhi udara.

Di dalam mobil, tubuh Kayla terkulai ke depan. Kepalanya membentur setir dengan keras. Darah mengalir dari pelipisnya, menetes perlahan ke pipinya yang pucat, mengalir ke leher, membasahi kerah kemeja yang sudah kusut. Untuk beberapa detik, hanya ada keheningan mencekam.

Lalu—

“Ya Allah, astaghfirullah!” teriak seorang pria paruh baya yang kebetulan melintas, suaranya bergetar ketakutan.

Suara-suara lain mulai bermunculan. Orang-orang berlari dari arah trotoar, rumah-rumah sekitar, dan warung kecil yang masih buka. Mereka mengerubungi mobil yang ringsek itu dengan wajah cemas.

Senter ponsel dinyalakan satu per satu, cahaya putih menyapu wajah Kayla yang terbaring tak sadarkan diri. Seorang pria mendekat, menempelkan jarinya di bawah hidung Kayla.

“Dia … dia masih hidup!” teriak Ashabi.

Tangan Ashabi gemetar saat ia menariknya kembali, napasnya tercekat ketika ia merasakan embusan napas Kayla yang lemah, nyaris tak terasa. Dialah pengendara motor yang muncul dari jalan kecil tadi. Motor hitamnya tergeletak beberapa meter dari tempat kejadian, kaca spion patah, lampu depan retak.

Wajah Ashabi pucat pasi. Jantungnya berdetak tak karuan, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Cepat buka pintunya! Jangan biarkan dia di dalam terlalu lama!” seru seorang pria bertubuh besar sambil menarik gagang pintu mobil yang macet. Logam berderit. Pintu tak bergeming.

“Dorong bareng-bareng!” teriak yang lain.

Beberapa orang menarik pintu dengan sekuat tenaga. Terdengar bunyi berderak keras sebelum akhirnya pintu terbuka dengan paksa.

Dengan hati-hati, mereka mengangkat tubuh Kayla. Kepalanya terkulai, rambutnya berantakan, darah masih mengalir dari lukanya. Mereka membaringkannya di trotoar.

“Panggil ambulans! Sekarang!” teriak seseorang lagi.

Ashabi berdiri terpaku di samping mobil. Kakinya terasa lemas, hampir tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Matanya tak lepas dari Kayla, wanita itu tampak begitu rapuh, begitu tak berdaya.

Sirene ambulans terdengar tak lama kemudian, semakin mendekat, memecah malam yang kelam.

Lampu merah dan biru berputar cepat, memantul di dinding-dinding bangunan sekitar.

Para paramedis bergerak sigap. Mereka memeriksa nadi Kayla, memasang oksigen, lalu dengan cepat menaikkannya ke tandu dan memasukkannya ke dalam ambulans.

Ashabi tanpa sadar ikut naik, meski tak ada yang memintanya.

Di rumah sakit, suasana terasa dingin dan menekan. Bau antiseptik menyengat hidung. Lampu-lampu putih menyala terang, terlalu terang, membuat kepala terasa pening.

Ashabi mondar-mandir di depan ruang UGD. Jari-jarinya saling meremas, rahangnya mengeras, napasnya tersengal tak teratur. Setiap detik terasa seperti berjam-jam.

Ketika dokter akhirnya keluar dengan ekspresi serius, Ashabi hampir berlari menghampirinya. “Dokter, bagaimana keadaannya?” tanyanya cemas, suaranya nyaris tak terdengar.

Dokter itu melepas kacamatanya sejenak, menghela napas berat.

“Pasien mengalami benturan keras di bagian kepala. Ada penggumpalan darah di otaknya. Jika tidak segera dioperasi, nyawanya terancam.”

Dunia Ashabi seolah berhenti berputar. Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu kuat hingga ia merasa sulit bernapas.

Sambil menunggu proses administrasi, Ashabi mencari identitas Kayla. Ia menemukan ponselnya di dalam tas, tetapi layarnya terkunci. Tangannya bergetar saat membuka dompet kecil yang ditemukan di mobil.

Sebuah KTP terjatuh ke telapak tangan Ashabi. “Kayla ...,” gumamnya lirih saat membaca nama itu.

Alamatnya menunjukkan bahwa ia tinggal di kota sebelah. Dengan bantuan temannya yang bekerja sebagai polisi, Ashabi berhasil menghubungi keluarga Kayla.

Tak lama kemudian, tiga anak kecil datang terburu-buru bersama seorang tetangga yang menemani mereka. Wajah mereka pucat, napas terengah-engah, mata sembab karena menangis sepanjang perjalanan.

Dua anak laki-laki kembar—Fattan dan Fattah—menggenggam tangan satu sama lain erat-erat, seolah takut kehilangan satu sama lain. Di belakang mereka, Nayla berjalan terhuyung sambil memeluk boneka lusuhnya yang sudah pudar warnanya.

Fattan menatap pintu ruang operasi dengan mata berkaca-kaca. “Apa Kak Kayla akan mati?” tanyanya terisak, suaranya kecil dan rapuh.

“Hus! Jangan ngomong begitu!” Fattah membentak pelan, meski suaranya sendiri bergetar hebat. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan tangis yang hampir pecah.

Nayla tiba-tiba menangis tersedu-sedu, tubuh kecilnya bergetar. “Kalau Kak Kayla meninggal, nanti kita sama siapa?” isaknya pilu.

Kalimat polos itu menusuk jantung siapa pun yang mendengarnya.

Ashabi menatap ketiga anak itu dengan dada sesak. Matanya memanas. Baru saat itulah ia tahu Kayla adalah segalanya bagi ketiga anak itu. Orang tua mereka sudah meninggal dan Kayla mengurus mereka seorang diri.

Di dalam ruang operasi, mesin monitor berbunyi monoton: bip… bip… bip…

Namun di sisi lain—di tempat yang tak terlihat oleh siapa pun—Kayla terjebak dalam dunia yang mengerikan.

Gelap.

Panas.

Mencekam.

Udara terasa tebal, berat, seolah menekan paru-parunya. Bau asap dan terbakar menyengat, membuat tenggorokannya perih. Api menjulang tinggi di kejauhan, lidah-lidahnya menari liar, berwarna merah menyala bercampur hitam pekat. Jeritan menggema dari segala arah, suara orang-orang yang tersiksa, menjerit, menangis, memohon ampun.

Kayla melangkah dengan kaki gemetar. Tanah di bawahnya terasa panas, hampir membakar telapak kakinya.

“A-ku … di mana?” batin Kayla ketakutan.

Mata wanita itu berputar liar. Di sekelilingnya, ia melihat banyak orang dengan tubuh terbakar, kulit mereka melepuh, wajah mereka penuh penderitaan yang tak terbayangkan. Beberapa dari mereka menoleh padanya, mengulurkan tangan.

“Tolong kami!” jerit mereka.

Kayla menutup telinga, air mata mengalir deras. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tak sanggup melihat pemandangan mengerikan itu.

“Kayla ....”

Suara itu membuatnya membeku. Perlahan, dengan napas tertahan, ia menoleh ke belakang. Di sana berdiri ayah kandungnya—Pak Zaki. Tubuhnya penuh luka. Darah mengalir dari banyak bagian, membasahi bajunya. Wajahnya yang dulu lembut kini tampak hancur oleh rasa sakit dan kekecewaan.

“Pa ... Papa ...?” Kayla tergagap, hampir tak percaya.

“Apa yang sudah kamu lakukan, Nak?” suara Pak Zaki bergetar, penuh pedih. “Kenapa kamu tega membuat papamu menderita di alam baka?”

Kayla terhuyung, hampir jatuh. Kata-kata itu seperti jutaan volt listrik yang menyetrum seluruh tubuhnya.

“Papa, aku rindu ....” Kayla menangis, melangkah hendak memeluk ayahnya.

Namun, Pak Zaki menghindar.

“Jangan sentuh Papa,” ucapnya lirih, air mata darah mengalir di pipinya. “Sekarang kamu kotor, Kayla.”

Kalimat itu menghantam jiwanya lebih keras daripada apa pun. Kayla terjatuh berlutut. Ia tahu persis apa maksud ayahnya.

Demi menghidupi adik-adiknya, Kayla menjual tubuhnya. Dia mengorbankan dirinya sendiri, harga dirinya, kehormatannya, bahkan masa depannya.

“Kayla.”

Suara lain memanggil. Kayla menoleh ke samping, dan jantungnya seolah berhenti.

Di sana berdiri ibunya, Bu Maryam, dan ayah tirinya, Pak Amran. Wajah mereka yang dulu hangat kini berubah murka. Tubuh mereka juga penuh luka berdarah-darah.

“Mama … Papa Amran,” isak Kayla suaranya hancur.

“Kami menitipkan anak-anak padamu,” ujar Bu Maryam dengan suara bergetar, antara marah dan kecewa. “Tapi kenapa kamu malah membuat adik-adikmu celaka?”

Pak Amran menggeleng pelan, matanya penuh kepedihan.

“Ke mana Kayla kebanggaan kami dulu?” tanyanya lirih. “Kenapa sekarang yang ada hanya Kayla sang pendosa?”

Kayla ingin menjelaskan. Ingin berteriak bahwa ia tak punya pilihan. Ingin mengatakan bahwa ia melakukan semuanya demi adik-adiknya.

Tapi suaranya tercekat. Tenggorokannya terasa tercekik.

Tiba-tiba—

“Kakak…! Kakak…!”

Suara itu menghantam hatinya seperti belati. Kayla menoleh, dan tubuhnya semakin hancur. Fattan, Fattah, dan Nayla berdiri tak jauh darinya dengan tubuh penuh luka, darah mengalir dari sekujur tubuh mereka.

Wajah mereka pucat, mata mereka menatapnya dengan campuran sakit, bingung, dan kecewa. Kayla berteriak histeris, jatuh tersungkur di tanah yang membara.

“Kenapa? Kenapa kalian jadi seperti ini?!” jerit Kayla penuh putus asa. Tangisnya menggema, menyatu dengan jeritan orang-orang yang tersiksa di sekelilingnya.

Api berkobar semakin tinggi. Bayangan keluarganya perlahan memudar, meninggalkan Kayla sendirian dalam kegelapan yang mencekam.

Dan di dunia nyata, di ruang operasi. Detak jantung Kayla melemah.

Bip… bip… bip…

***

Assalamu'alaikum, semua. Aku kembali lagi dengan karya baru. Semoga kalian suka. Ambil sisi baiknya dari cerita ini dan jangan tiru sisi buruknya.

Semoga retensi karya ini bagus, biar bisa buat sampai akhir. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak like, komentar, atau vote.

1
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
tak apa lah kay itu wajar tp fomuslah dgn kerja saja
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
tp apakah betul itu dalfa atau siapa ya

dan ahh masih bikin bgg
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ayok lah kay ceritalah jgn kau pe dam biar tahu
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
hahhhh jadi ada alasan nya knp kayla bisa terjerumus ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ehh asabi orang kaya juga ya

trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
sabar lah kay

nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ohh jd dulu kay org kaya juga ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
llha lah

kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
aduh itulah klo org punya harta

trus se enak nya ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
yo harus kuat too kay
ini baru permulaan ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
wow kumkira akan lebih dr 100 jt aq dag deg2an klo menyebut nominal dgn depan nya pake M
Naufal Affiq
kenapa di gantung ceritanya,
nuraeinieni
orang itu pintar koreksi kesalahan orang,tapi tdk sadar utk inropeksi mulutnya utk berbicara yg sopan.
nuraeinieni
semoga saja sdh ada calon baby,,,biar aby dan kayla,merasakan juga jadi orang tua.
martiana. tya
bikin penasaran ihhhh.... 😄
Nar Sih
semoga usaha dan ihtiar mu kali ini sgra membuah kan hasil ya kayla sgra hadir buah cinta kalian
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
ken darsihk
Dengan kesabaran dan tawakal pasti semua nya akan indah pada waktu nya
Sugiharti Rusli
bahkan karena itu bu Aisyah tidak ragu tuk membela sang menantu yang sudah dipilih oleh Ashabi karena hatinya yang memilih dan bukan nafsunya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata ucapan Ashabi saat dulu mau meniatkan Kayla sebagai calon istri kepada kedua ortunya yang pada akhirnya meluluh kan pak Ramlan dan bu Aisyah tentang niat sang putra yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!