NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

teriakan pilu semalaman

Hujan yang tadinya hanya gerimis kecil, kini menderas seolah langit ikut merasakan robeknya jantung Ratih. Wanita itu berjalan menembus malam dengan baju yang melekat basah di tubuhnya yang semakin ringkih. Ia tidak kembali ke warung Cak Man. Ia tidak peduli lagi dengan upah malam ini. Pikirannya telah mati, menyisakan raga yang bergerak otomatis menuju kontrakan kumuhnya.

Sesampainya di kontrakan berukuran tiga kali tiga meter itu, Ratih menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia jatuh tersungkur di atas lantai semen yang dingin. Di sanalah, dalam kesunyian yang mencekam, tangis yang sedari tadi tertahan pecah menjadi raungan yang menyayat hati.

"Aaaaaakhhh! Kenapa, ya Allah?! Kenapa?!"

Ratih memukul-mukul lantai dengan tangan yang kasar dan pecah-pecah. Suara teriakannya diredam oleh suara hujan yang menghantam atap seng, namun pilunya tetap menembus dinding. Ia mengingat kembali setiap tetes keringatnya yang jatuh ke bak cuci, setiap perih di matanya karena asap pecel lele, dan setiap kali ia menahan lapar hingga lambungnya melilit. Semua itu ia lakukan demi pria yang saat ini mungkin sedang tertawa di atas ranjang hotel dengan wanita pemuas nafsu.

Malam itu, kontrakan kecil itu menjadi saksi bisu kehancuran seorang manusia. Ratih bergulingan di lantai, meremas bantalnya hingga robek, dan menjambak rambutnya sendiri. Luka itu bukan lagi sekadar sakit hati; itu adalah penghinaan terhadap seluruh martabat hidupnya. Ia merasa seperti sampah yang diperas sarinya, lalu dibuang ke selokan. Hingga fajar menyingsing, mata Ratih tidak terpejam. Matanya memerah, sembab, dan kini memancarkan kilat yang berbeda—bukan lagi cinta, melainkan kerak amarah yang membatu.

Keesokan harinya, Ratih tetap datang ke rumah Bu Sofia. Langkahnya gontai, wajahnya pucat pasi seperti mayat, dengan lingkaran hitam yang sangat kontras di bawah matanya. Bu Sofia dan Lastri yang sedang memilah sayuran di dapur langsung terhenti saat melihat kehadiran Ratih.

“Ratih? Astaga, kamu kenapa, Nduk?” Bu Sofia menghampiri dengan wajah cemas.

Ratih tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri mematung, lalu perlahan air matanya jatuh tanpa suara. Lastri yang sudah memiliki firasat buruk segera menarik Ratih untuk duduk.

“Mbak Lastri benar...” suara Ratih parau, nyaris habis. “Semalam aku ke sana. Aku lihat sendiri. Mas Bimo... dia keluar dari bar itu boncengan sama perempuan. Mesra sekali. Mereka pergi ke hotel.”

BRAK!

Lastri menggebrak meja dapur hingga gelas plastik meloncat. “Bajingan! Benar kan kataku! Kurang ajar itu si Bimo, benar-benar nggak punya otak! Dia pikir uang itu jatuh dari langit? Itu uang perasan keringatmu, Ratih!”

Bu Sofia menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran Ratih. “Sabar, Ratih... sabar. Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur).”

“Sabar sudah habis, Bu,” potong Lastri dengan mata menyalang. “Ratih, kamu nggak boleh diam saja. Kamu harus minta semua uang itu kembali malam ini juga! Jangan tunggu besok!”

“Tapi, Mbak... dia pasti punya seribu alasan. Dia pasti bilang uangnya sudah dipakai DP atau investasi,” bisik Ratih dengan nada putus asa.

Lastri menggeleng kuat, tangannya menggenggam bahu Ratih dengan kencang. “Dengar, pakai alasan ibumu! Bilang ibumu di desa sakit parah, butuh operasi segera. Minta semua uang tabungan itu. Kalau dia memang laki-laki jujur, dia akan kasih. Tapi kalau dia berkelit, berarti fiks, uangmu sudah dia pakai foya-foya sama perempuan gatel itu!”

Bu Sofia mengangguk setuju. “Mbak Lastri benar, Ratih. Itu uangmu. Kamu punya hak penuh. Minta malam ini, temui dia. Jangan takut. Kalau dia macam-macam, kamu lapor saya.”

Ratih terdiam lama. Amarah yang semalam membakar jiwanya kini mulai mengkristal menjadi sebuah rencana. Ia mengingat setiap ucapan manis Bimo yang ternyata hanyalah racun. Ia mengingat bagaimana ia mengabaikan ibunya sendiri demi menabung untuk pria itu.

“Ya,” jawab Ratih singkat. Matanya yang sembab mendadak menjadi tajam. “Malam ini. Aku akan minta semua uangku kembali.”

Sisa hari itu dilalui Ratih dengan kegelisahan yang luar biasa. Ia bekerja seperti mesin, menggosok lantai dan mencuci baju dengan tenaga yang seolah meledak-ledak. Setiap gerakan tangannya adalah pelampiasan amarah. Ia membayangkan wajah Bimo di setiap noda yang ia gosok.

Sore hari, Ratih mengirim pesan singkat kepada Bimo: "Mas, malam ini ke kontrakanku ya. Penting sekali. Ibu di desa telepon, ada kabar buruk."

Bimo membalas dengan malas: "Iya, nanti agak maleman. Aku lagi sibuk kerja lembur."

Ratih tersenyum sinis membaca kata "lembur". Ia tahu betul lembur macam apa yang dimaksud pria itu.

Pukul tujuh malam, Ratih sudah duduk di kursi plastik di dalam kontrakannya. Lampu ruangan sengaja ia matikan, hanya cahaya dari lampu jalan yang menerobos masuk melalui celah jendela. Ia menunggu dengan detak jantung yang berpacu kencang. Di dalam tasnya, ia sudah menyiapkan buku catatan kecil tempat ia mencatat setiap rupiah yang pernah ia serahkan kepada Bimo. Totalnya hampir lima belas juta rupiah angka yang fantastis bagi seorang buruh cuci, angka yang merupakan taruhan nyawanya selama dua tahun.

Pukul sembilan malam, suara motor matic itu terdengar berhenti di depan pintu. Ratih menarik napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya.

Tok! Tok! Tok!

“Ratih? Kok gelap-gelapan? Aku masuk ya,” Bimo membuka pintu yang memang tidak dikunci.

Bimo masuk dengan gaya sok sibuknya, masih memakai kemeja kantor dan menenteng helm. “Ada apa sih? Tumben banget pakai acara mendesak begini. Aku capek lho, habis meeting sama klien.”

Ratih menyalakan lampu. Cahaya kuning yang remang langsung menyinari wajah Bimo yang tampak segar, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang kelelahan kerja. Harum parfum mahalnya memenuhi ruangan kecil itu, membuat perut Ratih mual.

“Mas, aku butuh uang tabungan kita sekarang juga,” Ratih berkata tanpa basa-basi, suaranya datar dan dingin.

Bimo mengernyitkan dahi, tertawa kecil seolah mendengar lelucon. “Maksudmu apa? Kan sudah aku bilang, uangnya di bank, diputar buat investasi masa depan. Nggak bisa diambil seenaknya.”

“Ibu sakit parah, Mas. Butuh operasi segera di rumah sakit kabupaten. Mbakku di desa sudah nangis-nangis. Aku butuh semua uangku yang ada di kamu. Malam ini aku harus kirim,” Ratih memasang wajah sedih yang dibuat-buat, mengikuti saran Lastri.

Raut wajah Bimo mendadak berubah. Ia tidak menunjukkan rasa simpati atau panik. Sebaliknya, ia terlihat kesal. “Aduh, kok bisa sih? Tiba-tiba banget? Lagipula Ratih, kamu harus mengerti sistem perbankan. Uang itu kalau ditarik sekarang, bunganya hangus. Rugi kita. Pakai uang lain dulu saja, pinjam Bu Sofia atau siapa.”

“Pinjam siapa lagi, Mas? Itu uang hasil kerjaku sendiri! Aku nggak mau pinjam orang lain kalau aku punya uang sendiri. Berapa saldo kita sekarang? Katamu sudah hampir lima puluh juta, kan? Aku minta empat puluh juta saja dulu buat operasi Ibu,” desak Ratih, suaranya mulai meninggi.

Bimo mulai tampak gelisah. Ia mondar-mendir di ruangan sempit itu, tangannya berkeringat. “Enggak bisa, Ratih! Uangnya... uangnya lagi nggak cair! Aku masukkan ke deposito jangka pendek. Baru bisa diambil tiga bulan lagi. Kamu sabar ya, nanti aku coba cari pinjaman ke kantorku.”

Mendengar kata "deposito", Ratih merasa darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Kebohongan itu terlalu kasar.

“Deposito? Di bank mana? Sini, kasih tahu aku bukunya. Kita ke bank sekarang, kita minta penutupan awal. Aku nggak peduli soal bunga!” Ratih berdiri, mendekati Bimo dengan tatapan yang menghujam.

“Kamu kenapa sih? Kok jadi galak begini? Kamu nggak percaya sama aku?!” Bimo balik membentak, mencoba menggunakan taktik intimidasi lamanya. “Aku ini tunanganmu! Aku yang atur semuanya! Kamu cuma perlu kerja dan diam!”

“Aku diam karena aku cinta, Bimo! Tapi semalam aku lihat kamu!” teriak Ratih akhirnya. Emosinya meledak tak terbendung. “Aku lihat kamu di depan Glow Disco! Aku lihat kamu boncengan sama perempuan murahan itu! Aku lihat kamu masuk hotel! Uang siapa yang kamu pakai buat bayar perempuan itu?! Uang hasil nyuciku?! Uang dari asap pecel lele yang bikin dadaku sesak?!”

Bimo tertegun. Wajahnya pucat pasi, namun hanya sekejap. Sifat aslinya yang arogan segera mengambil alih. Ia tertawa, sebuah tawa yang sangat menghina.

“Oh... jadi si babu ini sudah mulai menjadi mata-mata ya?” Bimo melempar helmnya ke lantai dengan kasar. “Ya sudah! Kalau kamu sudah tahu, mau apa?! Memang uangmu sudah habis! Sudah habis aku pakai senang-senang! Kamu pikir aku mau beneran nikah sama perempuan bau sabun colek kayak kamu? Hah?! Aku butuh hiburan, Ratih! Aku butuh perempuan yang wangi, yang kulitnya mulus, bukan yang tangannya kasar kayak ampelas!”

Ratih terpaku. Meskipun ia sudah menduga, mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Bimo terasa seperti ribuan silet mengiris jiwanya sekaligus.

“Kamu... kamu binatang, Bimo...” bisik Ratih di tengah isaknya yang kini pecah kembali.

“Terserah mau panggil apa! Uangnya nggak akan balik! Pergi saja kamu ke desa, urus ibumu yang mau mati itu! Aku sudah bosan sama kamu!” Bimo melangkah menuju pintu, namun ia berbalik dan meludahi lantai di depan kaki Ratih. “Jangan pernah cari aku lagi. Anggap saja itu upah karena aku sudah mau menemanimu selama ini.”

BRAK!

Bimo keluar dan membanting pintu dengan sangat keras. Suara motornya menderu menjauh, meninggalkan Ratih yang kini bersimpuh di tengah ruangan, menangis sejadi-jadinya dalam kehancuran yang mutlak.

Malam itu, di dalam kegelapan kontrakannya, Ratih tidak lagi berdoa untuk keadilan. Ia merangkak menuju kotak kayu di bawah tempat tidur,mengambil sebuah alamat yang pernah diberikan oleh seorang teman lamanya di warung tenda. Alamat seorang dukun sakti di lereng gunung.

“Kamu sudah memakan hidupku, Bimo,” suara Ratih kini berubah menjadi desisan yang mengerikan di tengah kegelapan. “Mulai besok, kamu akan memohon agar nyawamu dicabut. Aku tidak butuh uang itu kembali... aku hanya butuh melihatmu membusuk.”

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!