NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 8: RUMAH YANG RETAK

Minggu pagi, rumah Rafa seperti museum yang sunyi.

Setiap suara detik jam dinding, desiran AC, langkah Laras di lantai atas terdengar menggema dalam keheningan yang tegang. Nadia, yang biasanya riang di hari libur, duduk di depan TV dengan wajah murung, sesekali melirik ayahnya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.

Rafa mencoba mendekati. "Nadia, mau pancake kesukaan?"

Nadia menggeleng, tidak menatapnya. "Ayah hari ini pergi lagi?"

"Sebentar saja, sayang. Ayah perlu ke rumah sakit."

"Temui kakak laki-laki itu?"

Kata-kata itu diucapkan dengan polos, tapi menusuk. Kakak laki-laki. Laras sudah menjelaskan pada Nadia dengan versi yang disederhanakan, tentu saja bahwa Ayah punya anak lain yang sedang sakit. Reaksi Nadia bukan marah, tapi kebingungan yang menyakitkan. Mengapa Ayah punya anak lain? Mengapa dia tidak tahu? Apakah Ayah tidak mencintainya dan Mama lagi?

"Nadia..." Rafa berlutut di depan putrinya. "Kakak Arka itu... dia anak Ayah juga. Seperti kamu. Dan sekarang dia sangat sakit. Ayah harus membantunya."

"Tapi kata Mama, membantu bisa pakai uang. Kenapa harus ginjal Ayah?"

Pertanyaan logis dari anak lima tahun yang tidak mengerti kompleksitas hidup dewasa. Rafa mencari kata-kata. "Karena... kadang ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kadang kita harus memberi bagian dari diri kita sendiri."

"Kalau ginjal Ayah dikasih, Ayah masih bisa gendong Nadia?"

"Tentu saja, sayang. Ayah tetap kuat."

Nadia memandanginya lama, lalu tiba-tiba berpeluk erat. "Nadia takut Ayah sakit. Takut Ayah pergi dan tidak pulang."

Rafa menahan isakan. Ketakutan yang sama yang dirasakan Laras. Ketakutan yang ia sebabkan. "Ayah janji akan pulang. Selalu."

Tapi janji itu, belakangan ini, terasa seperti benang tipis yang mudah putus.

---

Laras turun ke ruang tamu, sudah berpakaian rapi dengan mata sembap. Dia tidak melihat Rafa, langsung menuju ke tasnya. "Aku antar Nadia ke rumah nenek. Kami akan menginap sampai besok."

"Laras, kita perlu bicara."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Pengacara sudah siapkan perjanjian. Kamu tanda tangan, kita lanjut. Kamu tidak tanda tangan..." Laras berhenti, akhirnya menatapnya. "Maka aku dan Nadia akan tinggal di rumah nenek lebih lama."

"Kamu mengancamku?"

"AKU MELINDUNGI KELUARGAKU!" Laras membentak, suaranya pecah. "Kamu yang memilih jalan ini, Rafa! Kamu yang memutuskan untuk mengorbankan kesehatanmu, masa depan kita, untuk... untuk masa lalu!"

"Itu bukan masa lalu! Itu anak kita! Anak KITA, Laras! Darah dagingku!"

"TAPI BUKAN DARAH DAGINGKU! DAN BUKAN KELUARGAKU!" Laras menangis sekarang, marah yang berubah jadi kepedihan. "Aku tidak tidur tiga malam, Rafa! Aku hitung-hitung risiko! Aku baca pengalaman donor! Dan yang paling menyakitkan... aku tahu, kalau sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku karena mendukung keputusan ini!"

"Jadi kamu minta aku membiarkan anakku mati?"

"AKU MINTA KAMU MEMIKIRKAN ANAKMU YANG LAIN! DAN IStrimu!"

Mereka saling tatap, nafas berat, terluka. Nadia yang melihat mereka, mulai menangis ketakutan.

"Stop! STOP!" teriak gadis kecil itu. "Nadia benci kalian bertengkar! Benci!"

Laras cepat mendekat, menggendong Nadia. "Maaf sayang, maaf. Mama tidak akan bertengkar lagi." Dia menatap Rafa terakhir kali, dengan mata yang mengatakan segalanya: "Pilihlah."

Dan dia pergi. Pintu depan tertutup dengan bunyi yang final.

Rafa terduduk di tangga, kepalanya di antara kedua tangan. Rumahnya retak. Dan ia yang memecahkannya.

---

Rumah sakit siang itu terasa seperti pelarian.

Di ruangan 307, setidaknya ada Arka yang menyambutnya dengan senyum lemah. Dan Aisha yang meski juga membawa beban tidak menuntutnya untuk memilih.

"Hasil tes pra-operasi pertama keluar," sapa Aisha begitu Rafa masuk. "Jantung dan paru-parumu sehat. Tinggal tes ginjal dan psikologi."

Rafa mengangguk, mencoba tersenyum pada Arka. "Dengar itu? Ayah sehat. Siap jadi donor."

Tapi Arka memperhatikan wajahnya. "Ayah kenapa? Mata Ayah merah."

"Ah, cuma kurang tidur."

"Bohong," kata Arka polos. "Ayah habis nangis. Kayak Bunda waktu ingat masa lalu."

Kepercayaan anak-anak. Mereka bisa melihat melalui topeng orang dewasa. Rafa tidak bisa berbohong lagi. "Iya. Ayah... bersedih. Karena istri Ayah marah."

"Karena Arka?"

"Bukan karena Arka. Karena pilihan Ayah."

Arka diam sejenak. Lalu dia meraih tangan Rafa. "Kalau susah, Arka tidak usah ginjal Ayah. Arka sudah biasa sakit. Tapi Ayah jangan sampai keluarga Ayah berantakan."

Kata-kata itu dari mulut anak delapan tahun yang hidupnya di ujung tanduk membuat Rafa menangis lagi. Anak ini, yang harusnya mementingkan dirinya sendiri, justru memikirkan orang lain. Anak yang lebih dewasa dari kebanyakan orang dewasa.

"Ayah janji keluarga Ayah tidak akan berantakan," kata Rafa, memeluk Arka. "Dan Arka akan mendapatkan ginjal baru. Keduanya harus terjadi."

Tapi apakah mungkin? Bisakah ia menyelamatkan Arka tanpa kehilangan Laras dan Nadia? Atau ini adalah pilihan semua-atau-tidak-sama-sekali?

---

Pukul 14.00, seorang psikolog datang untuk evaluasi pra-operasi pada Rafa. Sesi itu dilakukan di ruang konsultasi kecil.

"Bapak tampak tegang," buka psikolog, wanita paruh baya dengan suara lembut.

"Banyak yang dipikirkan," jawab Rafa singkat.

"Kami perlu memastikan Bapak memahami sepenuhnya konsekuensi donor ginjal hidup. Bukan hanya fisik, tapi juga psikologis. Hubungan dengan keluarga, dengan penerima donor, dengan diri sendiri."

"Sudah saya pertimbangkan."

"Baik. Mari kita mulai dengan motivasi. Mengapa Bapak ingin mendonorkan ginjal?"

Rafa menarik napas. "Karena... dia anak saya. Dan dia sekarat."

"Apakah ada rasa bersalah? Karena baru mengetahui keberadaannya?"

"Ya. Sangat."

"Apakah keputusan ini juga sebagai cara menebus rasa bersalah itu?"

Pertanyaan itu jitu. Rafa terdiam. Apakah ia melakukannya untuk Arka? Atau untuk menenangkan hati nuraninya sendiri yang merasa bersalah telah meninggalkan mereka delapan tahun?

"Saya... tidak tahu," akhirnya ia mengakui. "Mungkin keduanya."

Psikolog mencatat. "Bagaimana dengan dukungan keluarga? Apakah istri dan anak Bapak mendukung?"

"Ini... rumit."

"Artinya tidak mendukung?"

"Tidak sepenuhnya."

"Dan itu tidak mengganggu keputusan Bapak?"

"Tentu mengganggu. Tapi... saya harus melakukan ini."

Psikolog memandangnya lama. "Bapak tahu, kami tidak bisa menyetujui donor jika kondisi psikologis Bapak tidak stabil. Jika ada konflik keluarga yang belum terselesaikan, itu bisa mempengaruhi pemulihan Bapak pasca operasi."

Rafa merasa panik. Apa mereka bisa membatalkan persetujuan donor karena ini? "Saya bisa menanganinya. Saya akan selesaikan konflik itu."

"Bagaimana?"

"Bicara. Memahami. Mencari jalan tengah."

Psikolog mengangguk, tapi matanya masih ragu. "Baik. Sesi kita lanjutkan besok. Saya ingin Bapak mempertimbangkan sekali lagi. Dan berbicara jujur pada keluarga."

---

Setelah sesi psikolog, Rafa kembali ke ruangan dengan pikiran kacau. Aisha sedang membantu perawat mengganti perban di catheter Arka. Prosedur itu membuat Arka mengerang kesakitan, tapi anak itu menggigit bibirnya, berusaha tidak menangis.

"Selesai, Nak. Hebat ya, Arka kuat sekali," puji perawat sebelum pergi.

Arka tersenyum tipis, wajahnya pucat. "Arka mau tunjukkin ke Ayah kalau Arka kuat. Jadi Ayah ga perlu khawatir."

Kembali, kekuatan anak ini menghancurkan hati Rafa. Bagaimana mungkin dunia begitu kejam pada anak sekuat ini?

"Aisha," kata Rafa setelah Arka tertidur. "Kita perlu bicara."

Mereka keluar lagi ke taman. Kali ini, langit mendung, seperti suasana hati mereka.

"Psikolog bertanya tentang dukungan keluarga. Dan... Laras tidak mendukung."

Aisha menunduk. "Aku tahu. Surat cek itu... aku yakin dari ibumu, Rafa. Atau mungkin dari keluarga Laras. Mereka mencoba membantu tanpa harus terlibat langsung."

Rafa terkejut. "Cek? Apa maksudmu?"

Aisha menceritakan surat misterius dan cek besar itu. "Aku tidak menerimanya, tentu saja. Kembalikan ke meja perawat untuk disimpan."

"Kenapa tidak terima? Itu untuk Arka!"

"Karena kita sudah membuat masalah cukup besar dalam keluargamu. Aku tidak ingin ada uang yang membuat segalanya lebih rumit."

"Tapi Arka butuh itu! Biaya operasi, obat anti penolakan seumur hidup, itu mahal!"

"Aku akan cari cara. Cari kerja lagi. Pinjam."

"JANGAN BEGO, AISHA!" Rafa tak tahan lagi. "Ini bukan waktunya untuk gengsi! Ini tentang hidup Arka! Terima bantuan itu! TERIMA!"

Aisha terkejut dengan bentakannya. Tapi kemudian dia melihat rasa frustasi, ketakutan, dan kelelahan di mata Rafa. Pria yang terjepit dari segala sisi.

"Baik," bisik Aisha akhirnya. "Aku akan terima. Tapi dengan catatan ini pinjaman. Aku akan kembalikan suatu hari nanti."

"Tidak perlu dikembalikan. Itu hak Arka."

Mereka diam lagi. Hujan mulai rintik-rintik.

"Rafa," kata Aisha pelan. "Kalau... kalau ini terlalu berat untukmu. Untuk keluargamu. Kamu bisa mundur. Aku tidak akan menyalahkanmu."

Rafa menatapnya. "Apa kau serius?"

"Serius. Aku sudah merusak hidupmu sekali. Aku tidak ingin merusaknya lagi. Arka... mungkin sudah jalannya."

"JANGAN BICARA BEGITU!" Rafa berteriak lagi, tapi kali ini suaranya pecah. "Arka akan hidup! Dia harus hidup! Dan aku akan membuat itu terjadi, meski harus kehilangan segalanya!"

"Tapi kau tidak boleh kehilangan segalanya! Kau punya Laras! Punya Nadia! Mereka juga butuh kau!"

"JADI APA YANG HARUS KULAKUKAN?!" Rafa menjerit ke langit, hujan mulai membasahi wajahnya. "MEMILIH SATU DAN MENINGGALKAN YANG LAIN? SEMUANYA ADALAH TANGGUNG JAWABKU! SEMUANYA!"

Aisha mendekatinya, menaruh tangan di lengannya. "Kau tidak harus memilih. Kau hanya harus... jujur. Pada Laras. Pada dirimu sendiri. Dan jika akhirnya kau memilih mereka... aku akan paham. Arka juga akan paham."

Rafa menatapnya, air mata bercampur air hujan. Pengorbanan demi pengorbanan. Dan kali ini, Aisha yang berkorban untuknya.

"Kau berubah," bisik Rafa.

"Delapan tahun menyakitkan mengubah siapa pun," jawab Aisha dengan senyum getir. "Sekarang, pulanglah. Temui Laras. Bicaralah. Jangan biarkan retakan itu menjadi pecahan."

---

Rafa pulang lebih awal.

Rumah masih kosong. Laras dan Nadia belum kembali. Ia duduk di ruang tamu yang gelap, memandangi foto-foto keluarga di dinding: pernikahan mereka, Nadia bayi, liburan ke Bali tahun lalu. Kehidupan yang ia bangun dengan susah payah. Dan yang sekarang goyah.

Pukul 18.00, mobil Laras masuk ke garasi. Rafa menunggu di pintu depan.

Laras terkejut melihatnya, tapi wajahnya tetap dingin. Nadia sudah tertidur di pelukannya.

"Aku bawa dia ke kamar," bisik Laras, melewati Rafa.

Setelah Nadia terbaring di tempat tidurnya, Laras turun lagi. "Kau masih di sini."

"Aku tidak akan ke mana-mana," kata Rafa. "Ini rumahku. Keluargaku."

Laras tertawa sinis. "Sekarang kau ingat?"

"Laras... aku minta maaf. Untuk semua."

"Maaf tidak menyelesaikan masalah. Maaf tidak mengurangi risiko operasi. Maaf tidak membuat Nadia berhenti bertanya kapan Ayahnya akan sehat lagi."

"Aku tahu. Tapi kita harus menemukan jalan. Bersama."

"JALAN APA? Kau sudah pilih jalanmu! Jalan yang egois!"

"EGOIS?" Rafa bangkit, tidak tahan lagi. "Menyelamatkan nyawa anak itu egois? Lalu apa yang tidak egois? Membiarkannya mati?"

"KITA BISA CARI CARA LAIN!"

"TIDAK ADA WAKTU!" Rafa berteriak, tapi lalu menurunkan suaranya, berusaha tenang. "Dengarkan aku, Laras. Aku mencintaimu. Aku mencintai Nadia. Tapi Arka... dia juga darah dagingku. Dan jika aku membiarkannya mati padahal aku bisa mencegahnya... aku tidak akan bisa hidup dengan diriku sendiri. Kau mau menikah dengan pria yang seperti itu? Pria yang bisa membiarkan anaknya mati?"

Laras terdiam. Air matanya mengalir diam-diam. "Aku tidak mau kehilanganmu," bisiknya, akhirnya mengakui ketakutannya yang paling dalam.

"Kau tidak akan kehilanganku. Aku janji. Aku akan berjuang untuk pulih. Untuk kembali padamu dan Nadia. Tapi beri aku kesempatan ini. Untuk menjadi ayah yang seharusnya untuk Arka."

Laras memandangnya lama, lalu duduk di sofa, tubuhnya seperti kehabisan tenaga. "Aku takut, Raf. Sangat takut."

"Aku juga takut," Rafa duduk di sampingnya, tidak menyentuh, tapi dekat. "Tapi kita harus melakukannya. Dan kita butuh satu sama lain."

"Perjanjian itu..."

"Buang perjanjian itu. Aku tidak butuh kertas untuk menjanjikan kesetiaanku padamu. Aku hanya butuh kepercayaanmu."

Laras menangis dalam diam. "Aku tidak bisa janji akan mendampingimu di rumah sakit. Aku tidak bisa melihatmu memilih dia."

"Itu tidak apa. Tapi jangan tinggalkan aku. Jangan bawa Nadia pergi selamanya."

Laras tidak menjawab. Tapi dia juga tidak menolak. Itu sudah cukup untuk saat ini.

---

Malam itu, Rafa tidur di kamar tamu. Tapi sebelum tidur, ia mendapat pesan dari Aisha:

"Arka malam ini bilang: 'Bunda, doakan ya biar keluarga Ayah rukun lagi. Arka mau Ayah bahagia, meski nanti tanpa Arka.' Aku tidak bisa berhenti menangis. Anak kita... luar biasa."

Rafa membaca pesan itu berulang kali. Lalu ia menangis lagi untuk Arka, untuk Aisha, untuk Laras, untuk Nadia, untuk dirinya sendiri yang terjepit di tengah.

Tapi dalam tangis itu, ada tekad yang mengeras.

Ia akan menyelamatkan Arka.

Dan ia akan menyelamatkan keluarganya.

Keduanya.

Tidak ada pilihan lain.

---

(Di lantai atas, Laras terbaring terjaga, memandangi langit-langit. Di mejanya, draf perjanjian yang sudah siap tanda tangan. Di hatinya, pertarungan antara rasa takut dan cinta.)

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!