Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Misi Pertama di Gala Dinner
Rencana awal untuk langsung menuju gudang arsip harus ditunda. Sebuah informasi krusial masuk lewat jalur belakang Dino: Bramasta memang sudah ditahan, namun Dewan Konsorsium kelompok bayangan yang menyokong dana pengkhianatan itu mengadakan Gala Dinner tahunan malam ini.
Jika Ryuga tidak muncul, mereka akan menganggap Ryuga sudah "dihabisi" dan akan segera melikuidasi seluruh aset Dewangga.
"Ini bukan sekadar makan malam," Ryuga berdiri di depan cermin besar di sebuah safe house, merapikan tuksedo hitamnya yang elegan. "Ini adalah medan perang tanpa peluru."
Pintu kamar terbuka, dan Kiara melangkah keluar. Ryuga terpaku sejenak. Kiara mengenakan gaun malam berwarna biru safir dengan punggung terbuka, hasil pilihan Dino yang entah bagaimana sangat pas di tubuh atletisnya. Rambutnya yang biasa diikat asal, kini disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya.
"Saya merasa seperti orang asing dengan pakaian ini," gumam Kiara, mencoba menyesuaikan diri dengan sepatu hak tingginya.
Ryuga berjalan mendekat. "Kau terlihat... sempurna, Kiara. Tapi jangan lupa, di balik gaun itu, kau tetap asisten strategi ku."
Ryuga mengeluarkan sebuah kalung mutiara, namun saat ia hendak memakaikannya ke leher Kiara, tangannya berhenti. Ia harus menyentuh kulit leher Kiara yang halus. Dengan perlahan, ia melingkarkan kalung itu. Ujung jarinya tak sengaja menyentuh tengkuk Kiara, membuat Kiara sedikit bergidik.
"Tenanglah," bisik Ryuga tepat di telinganya. "Jantungmu berdetak terlalu kencang, itu bisa terbaca oleh sensor mereka."
"Bukan karena takut, Pak," sahut Kiara pelan. "Tapi karena kalungnya dingin." Padahal ia tahu, alasannya bukan itu.
Sementara itu, Dino sudah berada di lokasi acara, menyamar sebagai pelayan wine dengan kumis palsu yang terus-menerus gatal.
"Kiara, Pak Bos, tes suara," suara Dino berderak di earpiece mikro mereka. "Aku sudah menanam alat penyadap di bawah meja utama. Tapi tolong, jangan buat aku tertawa lewat radio. Barusan aku hampir menumpahkan Chardonnay ke jas seorang Jenderal karena melihat kalian lewat kamera CCTV lobi. Kalian terlihat seperti pasangan yang baru pulang bulan madu!"
"Fokus, Dino," tegur Ryuga sambil menggandeng tangan Kiara memasuki aula besar.
Tugas mereka adalah menyalin data dari ponsel Victor, pimpinan Konsorsium, yang memiliki akses ke kode enkripsi gudang arsip. Saat musik waltz mulai mengalun, Ryuga menarik Kiara ke lantai dansa.
"Ikuti gerakanku," bisik Ryuga.
Ini adalah bagian dari rencana.
Sambil berdansa, mereka harus mendekati meja Victor. Tangan Ryuga berada di pinggang Kiara, menariknya rapat. Setiap putaran membuat tubuh mereka bersentuhan erat. Kiara bisa merasakan kekuatan di lengan Ryuga, sementara Ryuga bisa mencium aroma parfum melati yang lembut dari leher Kiara.
"Tiga meter lagi," Kiara memberi kode, matanya tetap menatap Ryuga seolah mereka sedang jatuh cinta, padahal otaknya sedang menghitung jarak.
Saat mereka berputar tepat di belakang kursi Victor, Kiara dengan gerakan tangan yang sangat cepat teknik yang biasa digunakan untuk mengambil komponen jam yang jatuh menyentuhkan alat cloning data ke saku jas Victor yang tergantung di kursi.
Pip. "Data terunduh 50%," bisik Kiara di dada Ryuga.
Namun, Victor tiba-tiba menoleh. "Tuan Dewangga? Saya pikir Anda sedang sibuk mengurus... pemakaman karir Anda."
Ryuga berhenti berdansa, namun ia tidak melepaskan Kiara. Ia justru menarik Kiara lebih dekat, seolah melindunginya.
"Karir saya baru saja dimulai kembali, Victor. Dan saya membawa asisten terbaik saya untuk memastikan tidak ada lagi 'sampah' yang tertinggal di perusahaan saya," jawab Ryuga dengan senyum dingin yang mematikan.
Tangan Ryuga yang berada di punggung Kiara memberikan remasan lembut, seolah memberi kekuatan. Di tengah tatapan tajam para elit yang korup, Kiara merasa aman di dalam dekapan Ryuga.
Pip. "Selesai," bisik Kiara.
"Mari kita pergi, Kiara. Makanan di sini tiba-tiba terasa basi," ucap Ryuga. Mereka berjalan keluar dengan kepala tegak, meninggalkan aula sebelum Victor menyadari datanya telah dicuri.
Victor menyipitkan mata, tangannya hampir meraih saku jasnya yang baru saja "disentuh" oleh Kiara.
Suasana di sekitar meja VVIP itu mendadak membeku, kontras dengan musik klasik yang masih mengalun riang.
"Asisten, ya?" Victor tertawa sinis, matanya menatap Kiara dari atas ke bawah. "Seorang ahli jam tangan yang kini menjadi pajangan CEO. Sayang sekali bakat tangan halusnya hanya digunakan untuk memegang gelas champagne."
Ryuga mengeratkan genggamannya pada pinggang Kiara. "Tangan halusnya baru saja melakukan sesuatu yang tidak akan bisa dipahami oleh otak kotor sepertimu, Victor."
Ryuga memberikan isyarat mata pada Kiara. Tanpa perlu bicara, Kiara segera berbalik, sengaja menjatuhkan syal sutranya ke lantai dekat kaki Victor sebagai distraksi.
Saat Victor menunduk secara refleks, Ryuga dan Kiara berbaur kembali ke kerumunan tamu.
"Dino, sekarang!" desis Ryuga ke mikrofon tersembunyi.
"Diterima! Meluncurkan 'Parfum Malapetaka' dalam tiga... dua... satu!"
Tiba-tiba, sistem ventilasi di aula besar mengeluarkan asap putih tipis beraroma jeruk purut yang sangat menyengat, memicu alarm detektor udara. Para tamu mulai panik dan bergerak menuju pintu keluar.
"Lewat dapur, Kiara!" Ryuga menarik tangan Kiara, mengabaikan protokol keamanan.
✨✨✨
Di area dapur, Dino sedang berjuang melepaskan kumis palsunya yang tersangkut di nampan perak.
"Aduh, sakit! Kenapa lemnya kuat sekali?!" Dino mengeluh sambil melihat Ryuga dan Kiara berlari ke arahnya. "Pak Bos! Kiara! Lewat pintu keluar karyawan di sebelah dispenser es! Mobil sudah siap di gang belakang!"
Tiba-tiba, dua pengawal Victor muncul dari pintu samping. Dino yang panik langsung menyambar botol-botol wine kosong dan melemparkannya ke arah lantai marmer yang licin.
"Rasakan ini! Vintage 1945... versi pecah!" seru Dino. Para pengawal itu terpeleset hebat karena lantai yang penuh cairan dan pecahan kaca, memberi celah bagi ketiganya untuk melompat keluar ke udara malam yang dingin.
Mereka bersandar di dinding gang sempit di belakang hotel, mencoba mengatur napas. Kiara terengah-engah, gaun safirnya sedikit robek di bagian bawah, dan salah satu sepatu hak tingginya sudah hilang entah ke mana.
Ryuga menatap Kiara, lalu tanpa kata, ia berlutut di depan wanita itu.
"Apa yang Anda lakukan, Pak?" tanya Kiara terkejut.
Ryuga melepaskan sepatu Kiara yang tersisa, lalu ia menyobek bagian bawah celana kainnya sendiri untuk membalut kaki Kiara yang telanjang agar tidak terluka oleh kerikil jalanan.
"Jangan bergerak," ucap Ryuga lembut. Tangannya yang hangat menyentuh pergelangan kaki Kiara saat melilitkan kain tersebut. Sentuhan itu sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menangani karya seni paling berharga di dunianya.
Kiara menatap puncak kepala Ryuga, merasakan dadanya bergemuruh lebih hebat daripada saat berdansa tadi. Perasaan ini terasa nyata bukan lagi tentang misi, tapi tentang bagaimana Ryuga memperlakukannya saat tidak ada kamera yang melihat.
Dino muncul dari balik tong sampah sambil memegang tabletnya. "O-oke, sesi romantisnya ditunda dulu! Data dari ponsel Victor sudah terbuka."
Layar tablet itu menampilkan sebuah peta digital. Sebuah titik merah berkedip di area Kota Tua, tepat di sebuah bangunan bekas bank peninggalan Belanda.
"Gudang arsipnya bukan di luar kota, Ryuga," bisik Kiara sambil melihat layar. "Itu ada di bawah tanah Kota Tua. Di dalam brankas yang hanya bisa dibuka dengan mekanisme jam mekanik raksasa."
Ryuga berdiri, menatap Kiara dengan intens. "Dan hanya satu orang di dunia ini yang bisa merestorasi jam itu dalam waktu singkat."
Kiara mengangguk mantap. "Mari kita selesaikan ini."
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?