Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan
Pasukan Sekte Langit Teratai berhenti di tepi hutan terakhir sebelum Danau Teratai Kuno. Kabut malam semakin tebal, bercampur aroma air tawar dan bunga teratai yang mulai membusuk—tanda energi teratai di danau sudah tercemar es hitam. Bulan purnama penuh tergantung tinggi, cahayanya memantul di permukaan danau yang kini setengah membeku, membentuk pola retak-retak seperti jaring laba-laba es.
Shen Yi turun dari kuda, tangannya masih memegang genggaman Lian'er. Darah emas dari luka lengannya sudah berhenti menetes, tapi bekas luka itu bercahaya samar—seolah meridian teratai murninya bereaksi terhadap kedekatan dengan danau.
Shi Jun melompat turun, pedang teratai birunya sudah menyala. “Formasi es hitam Xue Han sudah aktif. Lihat itu—danau membeku dari tengah. Ritualnya hampir selesai.”
Shi Tian, ayahnya, mengangguk gelap. “Kita harus hancurkan lingkaran ritual sebelum bulan purnama mencapai puncak. Kalau tidak, es hitam akan menyebar ke seluruh daratan utama.”
Elder Mei Ling, dari tandunya, mengangkat tongkat kayu. “Shen Yi, Lian'er… kalian adalah kunci. Darah teratai murni Shen Yi bisa mencairkan es hitam. Kekuatan teratai Lian'er bisa membersihkan energi tercemar. Tapi kalian harus masuk ke pusat danau—ke lingkaran ritual utama.”
Lian'er memandang Shen Yi. “Kita masuk bersama?”
Shen Yi mengangguk. “Bersama. Tak ada lagi pisah.”
Shi Tian maju. “Pasukan sekte akan buka jalan. Shi Jun, kau pimpin serangan flank kiri. Aku flank kanan. Shen Yi dan Lian'er… langsung ke pusat.”
Pasukan bergerak. Pedang teratai menyala seperti bintang biru di malam gelap. Mereka menyerbu ke tepi danau, menghadapi ratusan pemburu berjubah hitam yang sudah menunggu.
Pertarungan meledak hebat.
Kelopak teratai Lian'er berputar seperti badai putih, menyapu barisan pemburu. Shen Yi bergerak di belakangnya, jarum akupunktur di tangan—dia tak membunuh, tapi melumpuhkan titik vital dengan presisi tabib, membuat musuh jatuh tanpa nyawa hilang sia-sia.
Shi Jun menebas seperti angin, pedangnya berpadu dengan murid-murid sekte lainnya. Shi Tian memimpin dengan kekuatan penuh—pedang teratai emasnya menyala terang, menebas es hitam seperti memotong kain.
Tapi Xue Han berdiri di tengah danau, di atas platform es hitam raksasa. Di sekitarnya, puluhan murid sekte yang diculik terikat di tiang es, darah mereka mengalir ke lingkaran ritual, membuat es hitam semakin gelap dan kuat.
Xue Han tertawa dingin. “Terlambat. Ritual sudah 90% selesai. Darah kalian hanya akan mempercepat proses!”
Dia mengangkat tangan. Es hitam naik membentuk teratai hitam raksasa di atas danau—kelopaknya menutupi bulan, membuat malam semakin gelap.
Shen Yi dan Lian'er berlari ke tepi danau. Air di depan mereka sudah membeku, tapi saat kaki Shen Yi menyentuh es, darah emasnya bereaksi—es mencair di sekitar kakinya, membentuk jalan kecil menuju pusat.
“Masuk sekarang!” teriak Shi Jun dari kejauhan, sambil menahan serangan pemburu.
Shen Yi dan Lian'er berlari di atas es yang mencair. Semakin dekat ke pusat, semakin kuat dinginnya. Lian'er mulai gemetar—bukan karena kutukan lama, tapi karena energi es hitam menyerang meridian teratai yang baru pulih.
“Shen Yi… aku takut aku tak tahan,” bisiknya.
Shen Yi memeluk pinggangnya, hangat tubuhnya mengalir. “Pegang aku. Kita lakukan bareng.”
Mereka sampai di platform es hitam tempat Xue Han berdiri.
Xue Han tersenyum lebar. “Akhirnya… reinkarnasi teratai dan dewi teratai. Darah kalian akan jadi pengikat sempurna.”
Shen Yi maju. “Ritualmu berhenti di sini.”
Xue Han mengangkat tangan. Es hitam membentuk dinding di sekitar mereka. “Kau pikir darahmu bisa lawan aku? Aku sudah serap esensi dari ratusan korban. Aku hampir abadi!”
Pertarungan satu lawan satu dimulai.
Lian'er melepaskan badai kelopak teratai terbesar—seperti bunga raksasa yang mekar di tengah kegelapan, menyerang Xue Han dari segala arah.
Shen Yi bergerak cepat, jarum akupunktur di tangan. Dia tak menyerang langsung, tapi menusuk titik meridian Xue Han yang terbuka karena energi es hitam terlalu kuat—membuat aliran energi Xue Han terganggu.
Xue Han berteriak marah. “Apa kau lakukan?!”
Darah emas dari luka Shen Yi menetes lagi—setiap tetes mencairkan es hitam di tubuh Xue Han. Tubuh Xue Han mulai retak, es hitam di kulitnya mengelupas.
Tapi Xue Han tak menyerah. Dia melemparkan cakar es hitam terakhir—langsung ke dada Lian'er.
Shen Yi melompat menghalangi. Cakar itu menembus bahunya dalam-dalam. Darah emas menyembur, tapi bukan darah biasa—cahaya emas meledak dari luka itu, menyelimuti seluruh danau.
Es hitam di danau retak besar-besaran. Teratai hitam raksasa di atas runtuh, kelopaknya jatuh seperti salju hitam yang mencair jadi air.
Xue Han berlutut, tubuhnya membeku dari dalam.
“Ini… mustahil… aku sudah abadi…”
Shen Yi jatuh berlutut di depannya, napas tersengal. “Kau itu tak abadi. Kau cuma… takut mati.”
Cahaya emas dari darah Shen Yi menyebar ke seluruh danau. Es hitam hilang sepenuhnya. Air danau kembali jernih, teratai putih muncul di permukaan—mekar indah di bawah bulan purnama.
Murid-murid yang terikat di tiang es bebas, tubuh mereka hangat lagi.
Pasukan sekte berteriak kemenangan.
Lian'er berlari ke Shen Yi, memeluknya erat sambil menangis. “Shen Yi… kau terluka parah.”
Shen Yi tersenyum lemah. “Aku baik-baik saja. Lihat… danau sudah bersih.”
Shi Jun dan Shi Tian berlari mendekat. Shi Tian berlutut di depan Shen Yi. “Anakku… kau selamatkan kita semua.”
Tapi tiba-tiba, tubuh Xue Han yang seharusnya membeku… bergerak lagi.
Es hitam kecil muncul dari dadanya—seperti inti hitam kecil yang masih hidup. Xue Han tersenyum tipis, suaranya lemah tapi penuh dendam.
“Kalian pikir ini akhir? Inti es hitamku sudah pindah… ke dalam darah kalian.”
Shen Yi tersentak. Di luka bahunya, ada bintik hitam kecil—seperti noda es hitam yang meresap pelan ke dalam darah emasnya.
Lian'er memegang bahu Shen Yi, wajahnya pucat. “Shen Yi apa ini?”
Xue Han tertawa pelan sebelum tubuhnya benar-benar membeku dan pecah jadi debu es. “Inti es hitam akan tumbuh… di dalam reinkarnasi teratai. Suatu hari… aku akan kembali. Lebih kuat. Dari dalam dirimu.”
Cahaya emas dari darah Shen Yi mencoba melawan noda hitam itu, tapi noda itu tetap ada—kecil, tapi hidup.
Elder Mei Ling mendekat, tongkatnya bergetar. “Ini… plot twist terakhir. Xue Han tak mati sepenuhnya. Inti es hitamnya pindah ke tubuh Shen Yi. Kalau tak dibersihkan, suatu hari es hitam akan mengambil alih tubuh reinkarnasi teratai… dan hancurkan dunia dari dalam.”
Shi Tian wajahnya pucat. “Bagaimana membersihkannya?”
Elder Mei Ling menggeleng. “Hanya ada satu cara: kembali ke Pulau Teratai Mistis. Di sana ada sumber teratai asli—Air Teratai Murni yang lebih kuat dari yang pernah kalian ambil. Tapi pulau itu sekarang tertutup kabut lebih tebal setelah ritual ini. Dan… untuk masuk lagi, butuh pengorbanan hati yang lebih besar.”
Shen Yi memandang Lian'er. “Aku… akan bersihkan ini. Tapi aku tak mau kau ikut lagi. Kau sudah bebas.”
Lian'er menggeleng tegas. “Tidak. Kalau kau pergi, aku ikut. Kita janji pulang bersama.”
Shi Jun memegang bahu Shen Yi. “Aku juga ikut. Kau saudaraku.”
Shi Tian mengangguk. “Sekte akan dukung kalian. Tapi waktu kita sempit. Noda hitam itu akan tumbuh… mungkin dalam beberapa bulan.”
Shen Yi memandang danau yang kini tenang, teratai putih mekar indah. Lalu dia memandang Lian'er.
“Pulang dulu ke gubuk. Istirahat. Rawat luka. Kumpul kekuatan. Lalu… kita ke pulau lagi.”
Lian'er mengangguk, air mata jatuh. “Bersama. Sampai akhir.”
Pasukan sekte mulai membersihkan danau. Murid-murid yang selamat dibawa pulang. Tapi di hati Shen Yi, ada bayangan baru: noda hitam kecil di dalam darahnya, yang perlahan tumbuh seperti benih es.
Di gubuk kecil di Gunung Qingyun, teratai masih mekar. Tapi sekarang, ada ancaman baru yang tak terlihat. Menunggu saat yang tepat untuk mekar menjadi kegelapan.