NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Bukan keluarga baik- baik

Umi Fatimah tentu saja kaget mendengar apa yang dikatakan oleh bu Yeni.

"Yang benar jeng Yeni..." ucap umi Fatimah.

"Beneran umi, mana mungkin saya bohong soal begituan. Semua tetangga bu Yuyun juga tahu kalau bu Yuyun itu pekerja s*ks komersial di tempat hiburan malam..." jawab bu Yeni.

"Dan sampai sekarang sepertinya dia masih melakukan pekerjaan itu..." sambung bu Yeni.

"Masa sih jeng, kan dia sudah tua..." sahut umi Fatimah.

"Ya tapi kan dia masih terlihat cantik dan badannya juga bagus. Pasti masih laku lah..." jawab bu Yeni.

"Astagfirulloh..." umi Fatimah memijit keningnya.

"Memangnya waktu Aldy mau menikahi Intan, umi tidak cari tahu dulu seperti apa keluarganya Intan...?'' tanya bu Yeni.

Umi Fatimah menggelengkan kepalanya. Iya, umi Fatimah memang tidak tahu apa- apa tentang Intan dan keluarganya. Yang umi tahu Intan anak seorang janda, dan bekerja di tempat hiburan malam. Selebihnya umi tidak tahu apa- apa karena umi Fatimah menang tidak ingin tahu.

"Ya ampun umi, jadi umi tidak tahu siapa bapak kandungnya Intan...?'' tanya bu Yeni.

"Ya saya tidak tahulah, bapaknya Intan kan sudah meninggal, kemarin waktu menikah sama Aldy dia pakai wali hakim, karena sudah tidak punya keluarga lagi..." jawab umi Fatimah.

"Jadi Intan bilang ke umi kalau bapaknya sudah meninggal...?'' tanya bu Yeni.

"Kenapa...? Memangnya bapaknya intan masih hidup...?'' umi Fatimah balik bertanya.

"Yang sudah jelas meninggal sih bapak tirinya, eh bapa tiri atau bapa angkat ya...? Aduh saya juga bingung ngomongnya..." jawab bu Yeni.

"Maksud jeng Yeni apa sih...?" tanya umi Fatimah tidak paham dengan ucapan bu Yeni.

Bu Yeni lalu memberitahu umi Fatimah kalau sebenarnya Intan bukanlah anak kandung dari suami bu Yuyun yang bernama Wito. Dan Intan adalah anak hasil selingkuhan bu Yuyun dengan laki- laki lain. Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu ayah biologis Intan masih hidup atau sudah meninggal karena sejak dia diusir warga akibat selingkuh dengan bu Yuyun hingga dia hamil, laki- laki itu sudah tidak pernah kelihatan lagi batang hidungnya.

Mendengar cerita bu Yeni tentu saja Umi Fatimah kembali dibuat kaget bukan main.

"Apa...? Jadi Intan itu anak hasil selingkuhan...? Anak haram...?'' tanya umi Fatimah begitu syok mendengar berita tersebut.

Iya, bagaimana tidak syok, umi Fatimah saja belum bisa sepenuhnya menerima Intan sebagai menantu karena pekerjaannya. Dan sekarang umi Fatimah harus mendengar bahwa Intan lahir dari rahim seorang pel*cur. Ditambah lagi Intan adalah anak hasil selingkuhan.

Tentu saja umi Fatimah bertambah jijik punya menantu seperti Intan. Umi Fatimah merasa dibohongi oleh Intan. Karena selama ini Intan tidak pernah cerita padanya tentang asal usulnya. Kalau saja umi Fatimah tahu, bagaimana pun caranya dia akan tetap menentang Aldy menikahi Intan.

Umi Fatimah merasa tertipu. Bagaimana mungkin keluarga terhormat dan terpandang bisa mempunyai menantu yang bekerja di tempat hiburan malam, dan mempunyai besan seorang pelacur. Ditambah lagi menantunya adalah anak haram hasil selingkuhan. Lengkap sekali kerugian yang umi rasakan.

"Keterlaluan sekali Intan. Bisa- bisanya dia menipu Aldy. Anak sama ibu sama - sama bobroknya. Sama- sama pelacur menjijikan..." ucap umi Fatimah dalam hati.

Umi Fatimah merasa dadanya sesak karena saking emosinya mendengar tentang keluarga Intan.

"Umi...umi nggak papa...?'' bu Yeni panik melihat umi Fatimah yang seperti orang sakit.

"Tidak... Tidak papa..." jawab umi Fatimah sambil memegang dadanya yang terasa sedikit sesak.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Sementara itu Wulan masuk ke dapur untuk mengambil makanan. Namun dia kaget melihat Intan memakai baju gamis dan kerudung miliknya.

"Intan...!'' seru Wulan.

Intan yang sedang fokus mencuci piring pun kaget mendengar seruan adik iparnya. Untung saja piring yang sedang dia pegang tidak jatuh.

"Mbak Wulan..." ucap Intan langsung menoleh ke arah adik iparnya yang terlihat marah padanya.

Iya, walaupun Wulan adik ipar Intan, namun Intan tidak berani memanggil nama. Apa lagi umur Wulan lebih tua empat tahun dari Intan. Ditambah lagi sikap Wulan tidak pernah ramah terhadap Intan. Dia selalu memperlihatkan rasa ketidaksukaannya terhadap Intan.

"Kenapa kamu pakai baju saya...!'' tanya Wulan merasa tidak bisa terima.

Iya, gamis yang Intan pakai adalah pemberian dari suami Wulan saat Wukan ulang tahun. Harganya tentu saja cukup mahal. Memang Wulan sengaja menyimpan banyak baju di salah satu kamar di rumah umi termasuk gamis itu. Hal itu bertujuan agar ketika Wulan menginap di rumah Umi dia tidak perlu membawa pakaian ganti.

Namun Wulan tidak pernah menduga jika baju mahalnya itu dipakai oleh Intan.

"Itu mbak, tadi umi yang nyuruh Intan supaya pinjam baju mbak Wulan. Karena baju yang saya pakai kurang cocok dipakai di acara pengajian..." jawab Intan.

"Kalau pinjam kenapa kamu tidak minta ijin sama aku...! Apa kamu tahu... baju ini pemberian suamiku...! Harganya mahal...! Dan baju ini baru dua kali aku pakai...! Tapi kamu dengan lancangnya memakai baju hadiah itu tanpa seizinku. Benar- benar keterlaluan kamu Intan...! '' Wulan nampak kesal.

"Maaf mbak... Intan tidak tahu...Intan tadi asal saja mengambil bajunya..." jawab Intan merasa tidak enak hati pada Wulan.

"Tapi mbak Wulan jangan khawatir, nanti bajunya Intan cuci dan Intan akan segera mengembalikannya pada mbak Intan. Sekali lagi Intan minta maaf ya mbak..." Intan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

"Apa...? Jadi aku harus memakai pakaian bekas kamu...! Nggak sudi ya aku pakai pakain bekas pel*cur sepertimu...! Jijik tahu nggak..." sahut Wulan sambil begidik merasakan jijik pada Intan.

Mendengar perkataan sang adik ipar tentu saja Intan merasa sakit hati. Namun Intan berusaha untuk sabar dan tidak mau ikut marah. Apa lagi ini adalah rumah mertuanya. Tentu saja Intan tidak mau terjadi keributan.

"Ada apa Wulan...? Baru datang kok ribut- ribut...?'' abi Abdul datang ke dapur bersama Arkan karena Arkan minta minum.

"Lihat tuh bi, baju Wulan dipakai sama Intan..." jawab Intan terlihat kesal.

"Cuma dipinjam saja, nanti juga dikembalikan..." sahut abi Abdul.

Wulan berdecak kesal.

"Mama... Arkan haus..." ucap Arkan menghampiri sang mama.

"Iya sayang..." Intan lalu mengambilkan minum untuk Arkan.

Sedangkan Wulan segera keluar dari dapur.

"Arkan, kita pulang yuk..." ucap Intan sambil mengusap kepala Arkan. Arkan pun mengangguk.

Intan menuntun Arkan menghampiri abi Abdul yang masih berdiri di pintu dapur.

"Abi, Intan pamit pulang dulu ya..." ucap Intan mencium punggung tangan abi Abdul.

"Lho bukannya nanti Aldy akan jemput...?'' tanya abi Abdul.

"Intan pulang sekarang aja Abi... Assalamualaikum..." Intan dan Arkan segera keluar dari dapur menuju ruang tengah mengambil tasnya kemudian lanjut menuju pintu keluar.

Dan di teras rumah masih ada umi Fatimah dan juga Wulan. Sedangkan bu Yeni sudah pulang.

"Umi gimana sih, masa Intan dibolehin pakai baju Wulan..." Wulan nampak kesal pada umi Fatimah.

"Dia cuma pinjam, nanti dikembalikan, tadi dia bikin malu umi, masa datang ke pengajian pakai baju ketat. Umi kan malu di depan ibu- ibu pengajian..." sahut umi Fatimah.

"Tapi mi... Baju itu masih baru, itu juga baju mahal yang dibelikan oleh mas Haris..." jawab Intan ngambek.

"Baju mahal dan bagus kayak gitu kok malah dipakai sama pel*cur. Nanti Wulan jadi ikut terkena najisnya..." sambung Wulan dengan ketus.

Intan yang hendak keluar dari dalam rumah tentu saja mendengar apa yang diucapkan oleh adik iparnya tersebut. Tentu saja Intan sakit hati mendengarnya. Menurut Intan perkataan Wulan sungguh sangat keterlaluan sekali. Tega sekali Wulan mengatakan baju yang dipakai Intan jadi kena najis seolah- olah Intan adalah binatang haram.

"Sudahlah Wulan...tidak usah ngambek seperti itu. Kalau kamu tidak mau memakai baju yang sudah pernah dipakai sama Intan, buang saja bajunya dan kamu minta dibelikan lagi sama suamimu. Umi juga sedang pusing..." sahut umi Fatimah yang masih emosi karena cerita dari bu Yeni.

"Umi... Intan pamit..." ucap Intan menghampiri umi Fatimah dan Wulan.

"Arkan, ayo salim pada nenek dan tante Wulan..." ucap Intan pada anaknya.

Arkan pun salim pada keduanya.

"Maafkan aku mbak Wulan, nanti bajunya saya cuci, pakai tanah, biar najis yang menempel di baju bisa hilang..." ucap Intan dengan mata berkaca - kaca karena sedih sekali dengan hinaan adik iparnya.

Wulan melirik pada Intan kemudian dia membuang muka.

"Sudah sana Intan... Kalau kamu mau pulang ya pulang saja sana, umi juga sudah muak lihat muka kamu..." ucap umi Fatimah dengan nada ketus.

Intan pun segera menuntun Arkan dan segera pergi dari rumah mertuanya. Sedangkan umi Fatimah dan Wulan menatap kepergian Intan dan Arkan dengan tetapan benci.

"Mama... Nenek sama tante Ulan kok malah- malah sama mama...? Alkan tatut..." ucap Arkan dengan suara cadelnya.

"Nggak papa Arkan, Arkan jangan takut ya, kan ada mama..." sahut Intan sambil mengusap air matanya yang tiba- tiba menetes.

Intan lalu menyetop angkot yang menuju ke arah kawasan perumahan tempat dia tinggal.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Sedangkan umi dan Wulan masih berada di teras rumah. Umi masih menyimpan kekesalannya terhadap Intan. Dan tiba- tiba abi Abdul menghampiri keduanya.

"Kalian berdua kenapa sih, kalau bicara sama Intan kok tidak ada baiknya sama sekali. Kasihan Intan diperlakukan tidak baik sama kalian..." ucap abi Abdul.

Wulan mendengus kesal, sedangkan umi Fatimah menghela nafas.

"Abi... Umi mau bicara sama abi tentang Intan dan keluarganya. Kita semua sudah ditipu oleh Intan, abi..." ucap umi Fatimah.

"Ditipu bagaimana...?'' tanya abi Abdul tidak mengerti apa kata sang istri.

Mereka bertiga masuk ke ruang tamu dan duduk di sana . Kemudian umi Fatimah menceritakan kepada suami dan anaknya apa yang telah diceritakan oleh bu Yeni padanya.

"Apa...? Ibunya Intan pel*cur...?" Wulan kaget.

"Gila... Berarti Intan jadi pel*cur karena mengikuti ibunya...? Benar- benar gila..." sambung Wulan. Sedangkan abi Abdul hanya menghela nafas.

"Bukan itu saja, ternyata Intan itu anak hasil selingkuhan bu Yuyun dengan laki- laki lain. Dia itu anak haram..." sahut umi Fatimah.

"Ya Alloh... Beneran begitu umi...?'' Wulan lagi- lagi dibuat kaget.

"Umi harus kasih tahu mas Aldy. Suruh dia menceraikan Intan, mi. Jijik banget tahu nggak sih... Ya ampun... Kok bisa sih keluarga seperti itu punya hubungan dengan keluarga kita. Malu- maluin itu mi..." sambung Intan begitu jijik mendengar kabar tersebut.

"Kalau teman- teman Wulan tahu bahwa keluarga kita punya besan dan menantu pela*ur, mau ditaruh di mana muka Wulan, umi..." lanjut Wulan.

"Memangnya kamu saja yang malu...? Umi juga malu Wulan..." sahut umi Fatimah dengan ketus.

Abi Abdul menghela nafas kemudian menggeleng- gelengkan kepalanya.

"Sudah...sudah... Kalian ini kenapa sih kok malah bergibah. Jangan lah kita menceritakan keburukan orang lain. Itu semua belum tentu benar. Dosa Mi...Wulan..." ucap Abi Abdul.

"Belum tentu benar bagaimana... Memang kenyataannya seperti itu kok. Jeng Yeni itu dulu pernah tetanggaan dengan ibunya Intan. Semua tetangganya tahu tentang kelakuan keluarga Intan..." sahut umi Fatimah.

"Biarkan saja mi... Kalaupun cerita itu benar, itu urusan keluarganya bu Yuyun, bukan urusan kita. Kita tidak perlu ikut campur..." jawab abi Abdul.

"Bukan urusan kita bagaimana sih bi, memangnya abi tidak malu punya besan dan menantu pel*cur...?'' umi Fatimah nampak kesal pada sang suami yang sepertinya tidak berada di pihaknya.

"Iya nih abi... Kalau semua orang tahu, keluarga kita bi yang malu..." sahut Wulan.

Abi Abdul menghela nafas. Dan bersamaan dengan itu Aldy pun datang baru pulang dari kantor.

"Assalamualaikum..." ucap.Aldy.

"Waalaikumsalam..."

"Ini lagi pada ngobrolin apaan sih...? Kelihatannya serius banget...?"tanya Aldy.

"Kebetulan kamu datang Aldy... Sini duduk dekat umi..." ucap umi Fatimah.

"Ada apa sih mi...? Intan sama Arkan mana...?'' tanya Aldy.

"Sudah pulang..." jawab Wulan.

"Lho kok pulang sih, kenapa nggak nunggu Aldy...?'' tanya Aldy menoleh pada Wulan dan umi Fatimah secara bergantian.

"Sudah lah Aldy... Nggak penting. Ada hal yang lebih penting lagi yang harus umi sampaikan sama kamu..." jawab umi Fatimah.

"Ada apa sih umi...?'' tanya Aldy.

Tanpa menunggu lama lagi umi Fatimah menceritakan pada Aldy tentang bu Yuyun dan juga asal usul Intan yang ternyata anak hasil selingkuhan. Mendengar cerita umi Fatimah, Aldy terdiam. Iya, Aldy juga baru mengetahui hal itu.

" Kenapa kamu diam saja Aldy...? Apa kamu sudah tahu cerita itu...?'' tanya umi Fatimah.

Aldy menggelengkan kepala.

"Tuh kan... Umi bilang juga apa... Keluarga Intan itu bukan keluarga baik- baik. Dia sama ibunya itu sama saja. Sama- sama perempuan nggak benar..." ucap umi Fatimah.

"Iya mas Aldy ini gimana sih... Mau- maunya menikahi pel*cur. Malu- maluin keluarga tahu nggak..." sahut Wulan.

Aldy masih diam dan hanya melirik sekilas ke arah Wulan kemudian dia kembali menghela nafas.

"Apa mas Aldy nggak malu kalau teman kantor mas Aldy tahu, istri dan mertua mas Aldy itu perempuan nggak bener...?" sambung Wulan.

"Sudahlah... Tidak usah dibahas lagi... Saya pusing dengarnya... Saya pamit pulang... Assalamualaikum..." Aldy langsung keluar dari rumah kedua orang tuanya.

"Mi, kok mas Aldy malah kesel sama kita sih..?'' tanya Wulan.

"Tau tuh... Aldy memang begitu... Kalau membahas Intan ujung- ujungnya dia kesal..." jawab umi Fatimah.

"Lagian kalian ini gimana sih, Aldy kan capek pulang kerja, bukannya disediakan makan, malah disuguhi cerita seperti itu. Ya jelas Aldy kesal lah..." sahut abi Abdul.

Umi Fatimah dan Wulan hanya diam karena disalahkan oleh abi Abdul.

Bersambung...

1
Asmara
Wah curiga siapa yg umroh ya ?
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!