Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Zahrin tiada henti
"Mbak." Alma bingung mengapa Zahrin bersikap demikian.
"Zahrin menggelandang sedikit kasar pergelangan tangan Alma untuk tidak buru-buru masuk ke dalam ruangan. "Semua gara-gara kamu, Al. Regi mengidap penyakit kanker hati semua gara-gara tindakan kamu yang seperti anak kecil." Marahnya Zahrin sudah tidak bisa dia bendung. Tidak peduli lagi posisi Alma dalam keluarga nya.
"Kanker hati?" Tanya lirih Alma yang terkejut setelahnya. "Aku mau masuk, lihat kak Regi." Alma yang segera pergi dari hadapan Zahrin namun Zahrin menarik pergelangan tangan Alma untuk kedua kalinya.
"Masih ada mama." Ketus Zahrin. "Ini kan yang kamu mau?!" Imbuh Zahrin bertambah ketus.
"Mbak, maksud mbak apa sih? Ya mana mungkin aku menginginkan ini semua." Alma berusaha membela diri. "Aku saja tidak tahu lho mbak, kalau kak Regi mengidap penyakit seserius ini. Kok mbak tiba-tiba salah-salahin aku yang tidak tahu apa-apa."
"Tidak tahu apa-apa katamu?! Kamu amnesia Alma?!" Zahrin menekankan pernyataannya lagi. "Siapa yang kecintaan sama Regi lalu minum alkohol hampir setiap hari bertahun-tahun lalu badan kamu kurus tinggal tulang, perut kamu besar dan organ hatimu sebagian rusak tidak berfungsi lagi lalu siapa yang mendonorkan separuh hatinya untuk kamu. Siapa Alma?!" Zahrin memperjelas ucapannya bersamaan menatap dua bola mata Alma yang sepertinya baru diingatnya kembali.
Setelahnya tenggorokan Alma tercekat. Mengingat apa yang dikatakan oleh Zahrin. Kedua kaki nya terasa lemas. Alma pun memegangi dadanya yang sedikit sakit setelah ucapan Zahrin yang mengungkit masa lalu dimana itu titik terendah dalam hidupnya. Setelahnya, tubuhnya terduduk di bangku rumah sakit yang tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri. Zahrin masih dengan emosi tidak stabilnya. Sedang Alma dengan rasa bersalahnya. Beberapa detik terdiam, Alma pun akhirnya bicara. "Maafkan aku, mbak." Sembari meraih jemari Zahrin yang berdiri tidak jauh darinya, namun Zahrin enggan dan melepaskan pelan tangan Alma.
"Sudah terlambat, Al. Keadaan Regi sudah parah. Dokter bahkan memvonis umurnya sudah tidak panjang lagi." Zahrin tidak kuat dan buliran-buliran jernih pun jatuh basah di kedua pipi. "Aku hanya tidak bisa membayangkan saja, hidupku, hidup Arsyad, hidup Arsyla tanpa Regi." Tangis Zahrin semakin menggema. Isak tangisnya membuat Alma tidak kuat juga dan akhirnya memeluk Zahrin berikut dengan buliran jernih yang tidak bisa dia tahan lebih lama akhirnya pun jatuh.
Tidak lama ibu Olivia pun keluar dari ruangan dan ikut memeluk keduanya. Ketiganya menangis bersama. Isak sengguk ketiganya beradu menambah kepiluan ketiganya.
"Mommy, oma." Panggil agak keras Arsyad dan Arsyla bersamaan yang kemudian memeluk Zahrin dan ibu Olivia secara bergantian.
"Maaf bu, Arsyad dan Arsyla memaksa menyuruh saya mengantar ke ibu Zahrin." Kata supir ibu Olivia.
Ibu Olivia mengangguk lalu menyuruhnya pergi.
"Katanya Daddy sakit ya, oma?" Tanya Arsyad dengan wajah kasihannya.
Zahrin memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan kesedihannya di depan anak-anaknya. Namun sialnya, Arsyad dan Arsyla mengetahui kalau Zahrin usai menangis.
Jari-jemari Arsyla yang berusaha menyeka jejak basah di pipi Zahrin membuat Zahrin semakin tidak kuat jika harus menatap anak-anaknya lebih lama. Zahrin kemudian merengkuh keduanya. Lagi-lagi dengan hati rapuh beserta buliran-buliran jernih yang semakin deras keluarnya.
Tidak lama setelahnya, dokter meminta Zahrin dan anak-anak masuk ke ruangan intensif karena Regi sudah sadar.
"Daddy." Celoteh manja Arsyad dan Arsyla yang kemudian memeluk Regi.
Regi tersenyum sakit. Melihat Zahrin yang berdiri dihadapannya menutupi kesedihan. Regi bisa merasakan itu. Cukup lama Arsyad dan Arsyla melepas rindu ke daddynya. Setelahnya Regi menyuruh mereka ikut ke oma nya.
"Ternyata aku sudah lama ya, tidak melakukan ini." Ucapnya sembari menyuapi Regi dengan bubur rumah sakit.
Regi manggut-manggut lalu tersenyum.
Zahrin yang sudah sedikit tenang dan tidak larut dalam kesedihan membuat suasana ruangan itu berbeda. Perlakuannya yang lebih hangat mengingat suaminya sedang sakit. Perhatiannya juga bertambah ekstra mengingat penyakit yang di derita suaminya sangatlah serius membuat Zahrin lebih berhati-hati dalam merawat Regi berikut tidak lupa dengan obat-obatan yang harus diminumkan dijam-jam tertentu membuat hatinya teriris.
Setelahnya dokter memangil Zahrin dan banyak sekali menyampaikan terkait penyakit suaminya. Dokter menjelaskan untuk menjaga suasana hati pasien supaya kejadian hari ini tidak terulang. Karena jika suasana hati tidak kondusif, mungkin bisa saja berakibat fatal dimana kesehatan Regi bisa menurun dan tentu Zahrin sudah tahu apa yang akan terjadi.
Zahrin mengangguk pasrah. Tatapannya kosong.
Dokter berusaha menguatkan. Mengingatkan kalimat dimana setiap hidup dan mati seseorang sudah tertulis jauh-jauh hari sebelum kita lahir ke dunia. Perjanjian ruh kita dengan sang pencipta, tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Dan yang bisa kita lakukan hanyalah pasrah ketika segala upaya sudah kita lakukan.
Zahrin belum sepenuhnya menerima kenyataan pahit ini. Melihati wajah Regi pucat seperti tadi saja, Zahrin belum pernah. Apalagi jika tubuh suaminya terbalut kain kafan dan dimasukkan ke dalam tanah dimana dia tidak bisa bertemu seperti sedia kala, Zahrin enggan membayangkannya. Zahrin beranjak dari ruang dokter dan kembali ke ruangan Regi dimana suaminya tengah tertidur. Sholat malam dan membaca ayat suci Alquran di aplikasi ponselnya, Zahrin lakukan demi mengusir kegelisahannya. Tak lama setelahnya, dia pun tertidur juga.
Di kediaman Alma.
Alma tidak sepenuhnya tenang. Apa dikarenakan sebagian hati Regi menyatu dalam tubuhnya, dimana membuatnya ikut merasakan sakit yang diderita Regi.
"Dari tadi kamu melamun, tidak mau makan malam. Ada apa?" Tanya suaminya.
Alma hanya bisa menggeleng. Suaminya tidak banyak tahu terkait Regi. Apa yang terjadi dengan Regi dan dirinya. Dirinya dan Zahrin berikut perasaan cintanya yang besar untuk Regi. Armand sama sekali tidak diberitahu oleh Alma. Alma kemudian pergi ke wastafel bath room nya. Membasuh wajahnya dan berulang kali menatap wajahnya ke cermin di hadapannya. Namun lagi-lagi wajah Regi pun menyelinap dan mulai menghantui isi kepalanya. Rasanya Alma tidak sabar menunggu matahari terbit dan ingin pergi ke rumah sakit. Karena jika memaksa pergi ke rumah sakit malam ini, yang ada Zahrin berpikir aneh-aneh, padahal Alma hanya terlewat cemas karena siang tadi belum sempat bertemu Regi.
Pagi hari di kediaman Alma.
Alma terlihat tergesa dan menulis diatas secarik kertas diatas meja makan, menandakan pesan untuk Armand sebagai permintaan maaf kalau dia buru-buru dan tak sempat berpamitan.
Armand menangkap ada hal yang serius, karena tidak biasanya Alma bertindak seperti hari ini. Armand mencoba menghubungi ponsel Alma, namun sayang, panggilan sengaja dialihkan diluar jangkauan sehingga Armand tak mendengar suara istrinya.
Di rumah sakit.
Dimana Zahrin sedang keluar karena membeli beberapa kebutuhan di minimarket. Namun setelahnya kembali. Zahrin terkejut melihat keberadaan Alma yang membantu suaminya untuk minum.
"Mbak." Tatap Alma yang terkejut melihat Zahrin sudah kembali ke ruangan dan takut jika Zahrin salah paham.
Bersambung