Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Perpisahan di Ujung Waktu
Udara di Desa Bambu terasa bergetar, seolah realitas sedang merintih karena kehadiran dua jiwa yang sama di satu titik waktu. Jian Wuyou berdiri di ambang pintu aula, menatap Li Hua yang sedang menunggunya dengan wajah penuh harap dan kelegaan. Di kejauhan, ia bisa merasakan kehadiran "dirinya yang satu tangan" sudah mencapai batas desa—sosok yang seharusnya terluka fisik dan jiwa dan membutuhkan pertolongan Li Hua.
"Wuyou! Kau kembali!" Li Hua berlari kecil menuju ke arahnya, hendak memeluknya.
Namun, Jian Wuyou mengangkat tangannya, menghentikan langkah gadis itu. Wajahnya pucat, air mata mengalir dalam diam. "Li Hua... jangan mendekat."
Li Hua terpaku. "Kenapa? Apa yang terjadi? Kau terluka?"
"Dunia ini... bukan tempatku seharusnya berada," bisik Jian Wuyou. Suaranya pecah oleh duka. "Jika aku tinggal, aku akan menghancurkan takdirmu. Aku akan menghapus keberadaan pria yang seharusnya kau cintai—pria yang membutuhkanmu saat ini."
Jian Wuyou melangkah maju, meletakkan telapak tangannya di dahi Li Hua sebelum gadis itu sempat bertanya lebih jauh. Cahaya ungu yang lembut namun menyakitkan mulai memancar dari ujung jarinya.
"Wuyou... apa yang kau lakukan? Jangan... kumohon jangan..." Li Hua mulai menangis, ia merasakan kenangannya tentang bulan-bulan terakhir ini mulai memudar. Tawa mereka di bawah pohon persik, janji-janji di festival lampion, semuanya ditarik paksa dari jiwanya.
"Maafkan aku," isak Jian Wuyou. "Kau akan melupakan pemuda kaya bernama Wuyou yang datang ke desa ini. Kau akan melupakan kediaman mewah ini. Dan kau akan kembali ke gubukmu... di mana seorang pemuda cacat yang sedang mabuk akan segera pingsan di depan pintu kediamanmu. Cintailah dia, selamatkanlah dia... karena dialah masa depanku."
Li Hua mencoba meraih jubah Jian Wuyou, namun matanya mulai sayu. "Wuyou... siapa... kau..."
Suaranya menghilang saat Jian Wuyou melepaskan gelombang energi terakhir. Tubuh Li Hua terkulai lemas, dan dalam sekejap, Jian Wuyou memindahkannya kembali ke kedai kecilnya yang sederhana, menghapus seluruh jejak kediaman mewah itu seolah tak pernah ada dalam sejarah.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Jian Wuyou memanggil Jiwu, Mei Lian, dan Jian Han. "Kita pergi. Sekarang! Sebelum hukum langit menghancurkan kita!"
Token Naga terakhir meledak, menciptakan pusaran lubang hitam yang menelan mereka berempat. Jian Wuyou merasakan tubuhnya ditarik melewati ribuan tahun cahaya dalam sedetik. Rasa sakit karena berpindah dimensi membakar jiwanya, namun itu tak sebanding dengan rasa sakit kehilangan Li Hua untuk kedua kalinya.
BOOOOOOMM!
Jian Wuyou tersentak jatuh di atas salju yang dingin. Ia terengah-engah, batuk darah saat basis kultivasinya yang tadi sempat hilang kini kembali secara brutal—Ranah Domain Kehendak meledak keluar dari tubuhnya, menandakan ia telah kembali ke titik waktu di mana ia menyerbu langit.
Ia menoleh ke sekeliling dengan mata merah yang basah. Puncak gunung itu hancur, sisa pertempuran dengan Armada Mo Tian masih terlihat jelas. Ia jatuh berlutut, memukul salju dengan kepalan tangannya.
"Kenapa... kenapa takdir begitu kejam!" raungnya ke langit yang gelap.
Namun, Jiwu tiba-tiba memegang bahunya dengan tangan gemetar. "Kakak... lihat. Lihat ke depan."
Jian Wuyou mendongak perlahan. Di tengah puing-puing paviliun yang runtuh, di tempat di mana peti mati emas Li Hua seharusnya hancur berkeping-keping, kini berdiri seorang wanita.
Wanita itu mengenakan pakaian putih bersih. Ia berdiri dengan bingung, menatap tangannya sendiri, lalu menatap hamparan awan di bawah gunung. Tidak ada lagi peti mati. Tidak ada lagi jiwa yang memudar.
Li Hua hidup.
Jian Wuyou merangkak maju, hampir tidak percaya pada matanya. "Li... Hua?"
Wanita itu menoleh. Matanya jernih, namun tatapannya kosong—tatapan yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu di masa lalu yang baru saja ia tinggalkan. Li Hua tidak mengenalinya. Ia hidup kembali karena paradoks waktu yang diciptakan Jian Wuyou, namun harganya adalah seluruh memori tentang perjalanan panjang mereka telah terhapus sepenuhnya.
"Siapa kau?" tanya Li Hua dengan suara lembut yang sangat dirindukan Jian Wuyou. "Dan... di mana aku? Kenapa aku ada di tempat yang sangat tinggi ini?"
Jian Wuyou terdiam sejenak, air mata kebahagiaan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Ia telah menyelamatkannya dari kematian, namun ia kehilangan cinta wanita itu.
Ia berdiri, menyeka air matanya, dan memberikan senyum yang paling tulus yang pernah ia miliki. "Namaku Wuyou. Dan ini adalah rumahmu. Jangan takut... kali ini, aku akan memperkenalkan diriku dengan benar."