NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proyek Lembur dan Radar Cemburu yang Overheat

Pagi hari setelah insiden Cumi Terbang di pesta firma, Nara bangun dengan perasaan seperti juara dunia kelas berat. Ia berhasil mempermalukan sang mantan perfeksionis di depan umum (meskipun tidak sengaja) dan mendapatkan pernyataan cinta...eh, maksudnya pernyataan investasi perasaan dari Arga.

Namun, kemenangan Nara hanya bertahan seumur jagung. Saat sedang asyik sarapan roti bakar dengan selai stroberi yang belepotan, Arga menerima sebuah panggilan telepon. Wajah kaku Arga yang tadinya mulai sedikit melunak, mendadak kembali ke setelan pabrik yang dingin, kaku, dan penuh perhitungan.

"Saya mengerti. Saya akan segera ke kantor," jawab Arga singkat lalu menutup telepon.

"Ada apa, Ga? Ada audit mendadak soal stok bebek kuning di dunia?" tanya Nara sambil mengunyah rotinya.

Arga menghela napas, menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Dinda... Dia baru saja ditunjuk sebagai Lead Consultant untuk proyek restrukturisasi Bank Mega-Global, dan dia secara spesifik meminta saya sebagai auditor utamanya. Ini proyek raksasa, Nara. Dan secara prosedural, saya tidak bisa menolak karena ini perintah langsung dari dewan direksi."

Nara tersedak roti bakar.

"Apa?! Mbak London itu minta kamu? Itu bukan proyek, Ga! Itu namanya Operasi CLBK Berkedok Laporan Keuangan!"

Begitu Arga berangkat, otak Nara mulai bekerja di luar batas kewajaran. Ia duduk di sofa, memeluk bantal paha ayamnya, dan mulai melakukan simulasi drama di kepalanya.

Skenario Imajinasi Nara,

Arga dan Sandra duduk berduaan di ruang rapat yang dingin. Dinda sengaja mematikan AC supaya mereka kedinginan. Dinda bilang, "Arga, aku nggak ngerti angka di spreadsheet ini, coba jelasin sambil pegangan tangan." Terus Arga, karena dia robot yang taat prosedur, bakal bilang,

"Tentu, Dinda. Secara statistik, tanganmu lebih hangat daripada laporan ini."

"TIDAK BISA DIBIARKAN!" teriak Nara pada dinding apartemen.

"Aku harus bertindak! Aku nggak boleh membiarkan aset negaraku diaudit oleh konsultan eksternal yang belum move on!"

Nara segera bersiap.

Ia memakai detektif set pilihannya yaitu kacamata hitam besar, topi bucket, dan membawa tas berisi amunisi berupa camilan berbau tajam untuk mengacaukan konsentrasi Sandra.

Nara sampai di kantor Arga dengan mengendap-endap. Ia menghindari meja Clarissa dan langsung menuju lantai 15. Benar saja, ruang rapat utama tertutup rapat dengan gorden kaca yang setengah tertutup.

Nara menempelkan telinganya di pintu.

"Arga, kalau kita pakai rasio ini, efisiensinya tidak akan tercapai," suara Dinda terdengar sangat profesional namun lembut.

"Coba kamu lihat lebih dekat... di sini."

Nara mendidih.

Lihat lebih dekat? Pasti mereka lagi mepet-mepet!

Nara mencoba mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana, Dinda sedang berdiri di samping Arga, menunjuk layar laptop. Jarak mereka memang profesional, tapi bagi mata Nara yang sedang terbakar cemburu, jarak itu sudah termasuk pelanggaran hak asasi istri sah.

Tiba-tiba, perut Nara berbunyi sangat nyaring. Kruuuk!

"Siapa di sana?" suara Arga terdengar waspada.

Pintu terbuka, Nara terjatuh ke depan karena tadi terlalu menempel pada pintu.

"Halo... Mas Arga... hehehe," Nara nyengir sambil membetulkan kacamatanya yang miring.

"Aku... aku tadi lewat daerah sini, terus inget kalau dispenser kantor kamu mungkin butuh dikasih vitamin. Eh, maksudku, aku bawain cemilan!"

Dinda berdiri tegak, melipat tangannya di dada.

"Nara? Bukankah ini jam kerja? Arga dan aku sedang melakukan analisis mendalam. Interupsi semacam ini sangat tidak efisien bagi jadwal kami."

Nara berdiri, menepuk-nepuk bajunya.

"Mbak London, denger ya. Efisiensi itu penting, tapi asupan gizi suami itu lebih penting. Aku bawain kerupuk jengkol spesial. Biar ruang rapat ini baunya lebih... membumi. Nggak cuma bau parfum mahal Mbak aja."

Arga memijat keningnya.

"Nara... kenapa kamu bawa kerupuk jengkol ke ruang audit perbankan?"

Dinda tersenyum meremehkan.

"Arga, biarkan saja. Mungkin istrimu belum mengerti skala proyek ini. Nara, proyek ini mengharuskan Arga untuk lembur setiap hari selama dua minggu ke depan bersamaku. Di ruangan ini. Hanya berdua, karena data ini bersifat sangat rahasia."

Nara merasa jantungnya seperti dipukul palu hakim.

Dua minggu? Berdua? Lembur?!

"Oh, gitu ya?" Nara mencoba tetap tenang (padahal kakinya sudah gemetar).

"Nggak apa-apa! Kebetulan aku juga baru daftar jadi Cleaning Service sukarela di ruangan ini. Aku bakal stand by di pojokan sambil bawa sapu, biar kalau ada debu-debu masa lalu yang mencoba menempel, bisa langsung aku sapu bersih!"

"Nara, cukup," ujar Arga tegas namun nadanya tidak marah.

Ia berdiri, menghampiri Nara, dan mengambil bungkusan kerupuk jengkol itu.

"Dinda, kita istirahat lima belas menit. Saya harus memastikan istri saya tidak membuat kekacauan lebih lanjut di departemen lain."

Arga menarik Nara keluar menuju ruangannya yang lebih pribadi. Begitu pintu tertutup, Arga memojokkan Nara di dinding.

"Kamu cemburu?" tanya Arga singkat.

"Enggak! Siapa yang cemburu? Aku cuma khawatir sama kesehatan paru-paru kamu kalau kelamaan hirup aroma Dinda!" sahut Nara sambil buang muka.

Arga memegang dagu Nara, memaksanya menatap mata tajam itu.

"Nara, dengar. Secara logika, Dinda adalah rekan kerja yang kompeten. Tapi secara perasaan... dia tidak memiliki pengaruh apa pun pada sistem operasi hati saya. Proyek ini memang berat, tapi saya tidak akan membiarkan lembur ini menjadi sesuatu yang kamu takuti."

"Tapi dia pinter banget, Ga. Dia ngomongin rasio, efisiensi, restrukturisasi... aku cuma tahu rasio bumbu seblak," bisik Nara minder.

Arga mengecup kening Nara.

"Saya tidak butuh rekan kerja di rumah, saya butuh kamu. Tetaplah menjadi ubur-ubur konyol saya. Dan soal lembur... saya akan meminta izin untuk mengerjakan sebagian datanya di apartemen, di bawah pengawasanmu. Bagaimana?"

Mata Nara berbinar.

"Beneran? Boleh?"

"Akan saya audit kemungkinannya. Sekarang, bawa pulang jengkol ini. Baunya mulai mengganggu konsentrasi seluruh lantai."

Keesokan malamnya, serangan balik Dinda berlanjut. Ia terus mengirimkan pesan singkat pada Arga tentang pekerjaan setiap sepuluh menit.

Nara yang duduk di samping Arga saat Arga sedang bekerja di meja ruang tamu, mulai beraksi. Setiap kali ponsel Arga bergetar, Nara akan langsung bernyanyi keras-keras atau pura-pura tersedak.

Bzzzt!

Pesan dari Sandra

"Arga, lihat lampiran bab 4."

"KEMERDEKAANNNN! ATAS SEGALA PERASAANNNN!" Nara menyanyi dengan suara sumbang.

Arga menoleh.

"Nara, saya sedang mencoba menghitung kerugian aset."

"Aku juga lagi menghitung kerugian perhatian aku, Ga!" balas Nara sambil cemberut.

Tiba-tiba, panggilan video masuk ke laptop Arga, itu Dinda. Arga terpaksa mengangkatnya.

"Arga, kenapa kamu tidak membalas..."

Dinda terdiam saat melihat pemandangan di layar.

Di belakang Arga, Nara sedang sibuk memakai masker wajah berwarna hijau lumut yang sangat tebal, sambil memakai bando telinga kelinci, dan sedang asyik menyetrika baju kerja Arga dengan gerakan yang sangat lebay.

"Oh, halo Mbak Dinda!" sapa Nara ke arah kamera laptop.

"Maaf ya, Mas Arga lagi sibuk. Aku lagi bantuin dia biar kerjanya makin semangat dengan cara... memberikan pemandangan yang menyegarkan mata!"

Dinda menarik napas panjang.

"Arga, ini sangat tidak profesional. Bagaimana kamu bisa fokus dengan... penampakan seperti itu di belakangmu?"

Arga melirik Nara lewat pantulan layar, lalu kembali menatap Dinda.

"Dinda, menurut riset psikologi industri, lingkungan yang familiar dan penuh kasih sayang justru meningkatkan produktivitas. Dan sejauh ini, 'penampakan' ini adalah motivasi utama saya menyelesaikan laporan ini lebih cepat agar saya bisa segera... beristirahat dengannya."

Dinda langsung mematikan panggilan video tanpa pamit.

Nara meloncat kegirangan.

"YES! Skor 2-0 buat Istri Sah!"

Arga menutup laptopnya, berdiri, dan berjalan mendekati Nara yang wajahnya masih hijau penuh masker. Ia menarik Nara ke dalam pelukannya tanpa peduli bajunya akan terkena noda masker.

"Nara, kamu benar-benar definisi dari kekacauan yang terorganisir," bisik Arga.

"Tapi kamu sayang kan sama kekacauan ini?" goda Nara.

Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mencium pipi Nara yang tidak terkena masker.

"Dendanya adalah... bantu saya mencuci masker ini, karena setelah ini saya ingin melakukan 'audit' pelukan tanpa interupsi dari Dinda, Clarissa, atau siapa pun."

Nara tertawa bahagia. Serangan balik Dinda mungkin canggih, tapi bagi Arga, tidak ada strategi yang lebih kuat daripada cinta konyol dari seorang Nara Amelinda.

1
Stroberi 🍓
Ampun dah, mulut nyeblak nara 😂
Stroberi 🍓
Wkwk lucukk 🤣
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!