Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
“Buka pintunya, Damian. Kau tidak bisa terus mengunci masa lalumu sementara anakmu mulai mengendus baunya.”
Paviliun itu berdiri terisolasi, dikelilingi oleh tanaman merambat yang tumbuh liar seolah sengaja menyembunyikan bangunan itu dari peta mansion. Udara di sekitar sini terasa beberapa derajat lebih dingin.
Damian memegang kunci perak di tangannya dengan cengkeraman yang sangat kuat hingga buku jarinya memutih.
“Ada alasan mengapa tempat ini tidak pernah dibersihkan selama dua puluh tahun,” sahut Damian tanpa menoleh.
“Alasan itu bernama ketakutan, bukan?” Alisha melangkah maju hingga berdiri di samping Damian.
“Han memberitahuku apa yang terjadi di sini. Tentang hukuman tiga harimu.”
Damian tertawa getir. Suaranya terdengar kering dan hancur. “Han terlalu banyak bicara untuk orang yang dibayar untuk bungkam.”
Damian memasukkan kunci ke dalam lubang yang sudah berkarat. Suara gesekan logam yang kasar memecah kesunyian pagi yang berkabut. Pintu itu terbuka dengan derit panjang yang memilukan, seolah-olah bangunan itu sendiri sedang mengeluh karena tidurnya diganggu. Bau debu, kertas tua, dan kelembaban langsung menyeruak keluar, menusuk indra penciuman mereka.
Alisha melangkah masuk terlebih dahulu. Ruangan itu luas namun terasa menyesakkan. Di tengah ruangan, hanya ada sebuah meja kecil dan satu kursi kayu yang keras. Tidak ada jendela di lantai bawah ini. Hanya ada ventilasi kecil di langit-langit yang sangat tinggi. Di dinding, tergantung beberapa lukisan potret keluarga Sagara yang tampak menyeramkan dalam kegelapan.
“Di sinilah ibumu membentukmu menjadi baja?” tanya Alisha sambil menyentuh permukaan meja yang berdebu tebal.
“Dia menyebutnya pelatihan ketahanan mental.” Damian berjalan menuju sudut ruangan dan menyalakan sebuah lampu minyak tua. “Dia meninggalkanku disini dengan setumpuk soal kalkulus dan buku-buku kepemimpinan. Jika aku gagal menyelesaikan satu pun, lampu ini tidak akan dinyalakan.”
“Kau baru berusia sepuluh tahun saat itu, Damian.” Alisha merasakan dadanya perih membayangkan bocah sekecil Arka dikurung di kegelapan ini.
“Sepuluh tahun adalah usia yang cukup dewasa bagi seorang pewaris Sagara, menurut Raina.” Damian menatap lurus ke arah dinding kosong.
“Dia ingin aku tidak takut pada kegelapan. Dia ingin aku menjadi kegelapan itu sendiri agar tidak ada yang bisa menyakitiku.”
Damian mendekati sebuah lemari tua di pojok ruangan. Ia menarik laci paling bawah yang terkunci dengan kode digital yang masih berfungsi. Di dalamnya, terdapat sebuah buku sketsa kecil yang sampulnya sudah mengelupas. Damian menyerahkannya kepada Alisha dengan tangan yang sedikit gemetar.
Alisha membuka buku itu. Isinya bukan soal matematika. Isinya adalah gambar-gambar arsitektur yang sangat detail. Gambar rumah-rumah pohon, taman bermain, dan sebuah villa kecil di tepi pantai yang sangat mirip dengan rumah Alisha di pesisir.
“Ini adalah mimpiku sebelum Raina membakarnya,” ujar Damian pelan.
“Aku ingin menjadi arsitek. Aku ingin membangun sesuatu yang membuat orang merasa aman, bukan membangun dinding yang membuat orang merasa terkurung.”
“Kau menggambar ini semua di sini? Dalam kegelapan?” Alisha menatap Damian dengan pandangan baru.
“Menggambar adalah satu-satunya caraku agar tidak menjadi gila.” Damian menyandarkan tubuhnya pada meja. “Tapi setiap kali dia masuk dan menemukan gambar ini, dia akan merobeknya di depanku. Dia bilang, seorang Sagara tidak membangun rumah untuk orang lain. Sagara membangun kerajaan untuk dirinya sendiri.”
Alisha menutup buku sketsa itu dan mendekati Damian. Ia memberanikan diri menyentuh lengan pria itu. Kali ini, Damian tidak menepisnya. Otot-otot lengannya yang tegang perlahan mulai mengendur di bawah sentuhan lembut Alisha.
“Itu sebabnya kau sangat terobsesi pada Arka,” bisik Alisha. “Kau takut Raina akan melakukan hal yang sama padanya.”
“Dia sudah mulai melakukannya, Alisha.” Damian menatap mata Alisha dengan tatapan yang sangat jujur.
“Kamera itu, sekolah asrama di Swiss, semuanya adalah tahap awal. Jika aku tidak bertindak, Arka akan berakhir di ruangan ini, memegang buku sketsa yang akan dirobek oleh neneknya sendiri.”
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari di atas dedaunan kering di luar paviliun. Arka muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah. Di tangannya, ia memegang tablet yang layarnya berkedip-kedip merah.
“Ayah! Ibu! Nenek baru saja pulang dari butik!” teriak Arka dengan wajah pucat. “Dia menuju kesini sekarang!”
Damian langsung berdiri tegak. Aura tiran yang dingin seketika kembali menyelimuti dirinya. Ia mengambil buku sketsa itu dari tangan Alisha dan menyembunyikannya kembali ke dalam laci.
“Arka, kembali ke kamarmu lewat pintu belakang taman. Sekarang!” perintah Damian tegas.
“Tapi Ayah….”
“Lakukan, Arka!” bentak Damian, namun kali ini ada nada perlindungan di dalamnya.
Arka mengangguk dan segera menghilang di balik pepohonan. Damian menatap Alisha. Ia mencengkram bahu Alisha dengan kuat.
“Dengarkan aku. Apapun yang Raina katakan nanti, jangan tunjukkan kelemahanmu,” bisik Damian cepat.
“Dia mengincar rasa takutmu. Jika kau takut, dia menang.”
“Aku tidak takut padanya, Damian,” sahut Alisha sambil merapikan gaunnya. “Aku sudah menghadapi badai di laut setiap hari selama enam tahun. Ibumu hanya badai di dalam rumah kaca.”
Damian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa bangga yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Kalau begitu, mari kita sambut ratu kita di singgasananya yang palsu.”
Mereka berjalan keluar dari paviliun tepat saat iring-iringan mobil hitam mewah berhenti di depan lobi utama mansion. Seorang wanita lanjut usia keluar dari mobil dengan keanggunan yang mematikan. Raina Sagara mengenakan setelan sutra berwarna abu-abu mutiara dengan kalung berlian yang melingkar di lehernya seperti jerat.
Raina melepas kacamata hitamnya dan menatap ke arah paviliun tua tempat Damian dan Alisha berdiri. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Alisha.
“Damian.” Suara Raina terdengar merdu namun menusuk. “Aku tidak tahu kau punya kebiasaan membawa sampah ke tempat suci keluargamu.”
Damian melangkah maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Alisha. “Wanita di sampingku ini bukan sampah. Dia adalah ibu dari putraku.”
Raina berjalan mendekat dengan langkah yang sangat teratur. Ia berhenti tepat di depan Alisha. Baunya adalah kombinasi parfum mawar yang mahal dan aroma kekuasaan yang menyesakkan.
Raina menyipitkan matanya. “Hati adalah kelemahan, Gadis Kecil. Dan kelemahan tidak diizinkan berada di bawah atap Sagara.”
“Kalau begitu, mungkin ini saatnya Anda menyadari bahwa Anda tidak lagi memiliki kendali atas segalanya di rumah ini,” balas Alisha.
Raina tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pisau di atas piring porselen. Ia menoleh ke arah Damian. “Kau membiarkannya bicara seperti itu padaku, Damian? Setelah semua yang kulakukan untuk membangunmu?”
“Dia bicara benar, Ibu,” balas Damian dingin. “Kamera di kamar Arka sudah dicopot. Dan dokumen sekolah di Swiss sudah kubakar. Jangan coba-coba melangkahi otoritas duniaku lagi.”
Wajah Raina memerah karena amarah yang tertahan. Ia memukul lantai marmer dengan tongkatnya.
“Kau akan menyesal, Damian! Tanpa bimbinganku, kau dan anak harammu itu akan hancur oleh musuh-musuhmu!”
“Anakku bukan anak haram.” Damian melangkah satu langkah lebih dekat, mengintimidasi ibunya sendiri.
“Dia adalah pewaris tunggal. Dan mulai hari ini, Alisha adalah penguasa sah di sayap kanan rumah ini. Siapapun yang mencoba memata-matainya akan langsung berhadapan denganku.”
Raina menatap mereka berdua dengan kebencian yang murni. Ia menyadari bahwa aliansi antara Damian dan Alisha jauh lebih kuat dari yang ia perkirakan. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan langkah yang terburu-buru.
Alisha menghembuskan nafas yang sedari tadi ia tahan. Ia merasa tangannya gemetar. Damian merangkul bahunya, memberikan kehangatan yang nyata di tengah udara yang masih terasa tegang.
“Kau melakukannya dengan sangat baik,” bisik Damian di rambut Alisha.
“Ini baru permulaan, bukan?” tanya Alisha.
“Ya,” jawab Damian sambil menatap pintu rumahnya sendiri. “Tapi kali ini, kita tidak akan bertarung di kegelapan paviliun itu lagi. Kita akan bertarung di tempat yang terang.”
Di lantai atas, dari balik jendela kamarnya, Arka memperhatikan segalanya. Ia memegang buku sketsa lama ayahnya yang sempat ia ambil diam-diam saat orang tuanya sedang berdebat di dalam paviliun tadi.
“Ternyata beruang kutub itu pintar menggambar, dan ya… aku sedikit terkesan.”