NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Pertanyaan Tanpa Jawaban

Vila Pribadi di Bukit. Pukul 19:00.

Suasana malam di pegunungan begitu hening, kontras dengan badai politik yang baru saja melanda ibu kota. Di balkon vila yang luas, Angeline berdiri memandangi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan.

Di tangannya ada segelas anggur putih, namun ia tidak meminumnya. Pikirannya melayang jauh, mencoba menyusun kepingan puzzle yang tidak masuk akal.

Pintu kaca bergeser. Jay keluar membawa selimut tebal, menyampirkannya ke bahu istrinya dengan lembut.

"Udara malam tidak baik untukmu, Angel," kata Jay pelan.

Angeline tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah suaminya wajah yang sudah ia lihat setiap hari selama tiga tahun. Wajah yang ia pikir ia kenal sepenuhnya.

"Jay," Angeline memulai, suaranya terdengar ragu namun menuntut kebenaran. "Bisa kau jelaskan padaku... apa yang sebenarnya terjadi dua hari ini?"

"Sudah kujelaskan, kan?" jawab Jay santai, bersandar di pagar balkon. "Sepupuku, Akbar, dia punya koneksi di lembaga audit internasional. Dia membantu kita mendapatkan data Senator Arkady."

Angeline menggeleng pelan. Ia berbalik, menatap mata Jay tajam.

"Itu tidak masuk akal, Jay. Aku seorang pebisnis. Aku tahu cara dunia bekerja. Seorang pengacara atau auditor, sehebat apa pun dia, tidak bisa memobilisasi tim forensik dalam hitungan jam, meretas CCTV privat tiga tahun lalu, dan membuat kepolisian bergerak serentak."

Angeline melangkah mendekat.

"Dan kau... kau terlalu tenang. Saat sirene serangan udara berbunyi, saat kita dikejar di jembatan... kau tidak terlihat takut sedikit pun. Kau menyetir seperti pembalap profesional. Kau tahu cara menghindari tembakan."

"Aku sering main video game," elak Jay sambil tersenyum canggung. "Dan soal menyetir, jalanan macet lebih kejam daripada sirkuit balap."

"Jangan bercanda," potong Angeline tegas. "Siapa kau sebenarnya, Jay? Siapa 'sepupu' bernama Akbar itu? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Kenapa dia mau membantu sopir taksi sepertimu sampai sejauh ini?"

Jay terdiam. Senyum di wajahnya memudar. Ia melihat keraguan di mata wanita yang dicintainya. Angeline bukan wanita bodoh yang bisa terus-menerus dibohongi dengan alasan klise.

Namun, Jay belum bisa jujur. Belum sekarang. Mengatakan "Aku adalah mantan Panglima Perang dan sepupuku adalah pengendali ekonomi global" hanya akan membuat Angeline dalam bahaya lebih besar.

Jay menghela napas panjang, lalu memegang kedua bahu Angeline.

"Dia hanya teman lama, Angel. Teman yang berhutang budi padaku di masa lalu," kata Jay, nada suaranya berubah serius, menutup celah untuk debat. "Dan soal siapa aku... aku adalah suamimu. Pria yang bersumpah di depan altar untuk melindungimu. Apakah itu belum cukup?"

Angeline menatap mata itu. Mata yang teduh, tulus, dan penuh kasih sayang. Logikanya berteriak ada yang salah, tapi hatinya memilih untuk percaya.

"Hanya teman?" tanya Angeline pelan.

"Hanya teman," tegas Jay.

Jay segera melepaskan tangannya, lalu menunjuk ke arah meja makan di dalam.

"Sudahlah, jangan bahas politik atau masa lalu malam ini. Kepala kita bisa meledak. Aku sudah memasakkan pasta kesukaanmu. Kalau dingin nanti tidak enak."

Angeline menghela napas pasrah. Ia tahu Jay sedang mengalihkan pembicaraan, tembok pertahanan suaminya terlalu tinggi untuk ditembus malam ini.

"Baiklah," gumam Angeline. "Ayo makan."

Jay tersenyum lega, membimbing istrinya masuk. Namun dalam hati, ia tahu: Waktu untuk berbohong semakin menipis.

Pusat Kota. Toko Roti "Sugar & Flour". Pukul 20:30.

Sementara itu, di sebuah toko roti kecil yang hampir tutup, drama lain sedang terjadi.

Mia Severe sedang menutup mesin kasir ketika lonceng pintu berdenting.

"Maaf, kami sud—"

Mia berhenti bicara saat melihat siapa yang masuk. Pria dengan kemeja putih mahal yang digulung sembarangan dan sepatu sneakers putih bersih.

Akbar Ares.

"Kau lagi," desis Mia dingin. "Mau apa lagi tuan tanah? Mau membeli toko ini lagi?"

"Tidak," jawab Akbar tenang. Ia berjalan mendekat dan meletakkan sebuah amplop di atas meja. "Aku mengembalikan sertifikat gedung ini. Bos lamamu akan kembali besok."

Mia tertegun, menatap amplop itu curiga. "Kenapa? Kau bosan main monopoli?"

"Seseorang memberiku nasihat," kata Akbar. Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang kantong kertas berminyak. "Dia bilang, wanita yang marah butuh karbohidrat, bukan aset properti."

Akbar meletakkan kantong itu. Aroma daging panggang dan keju meleleh menguar.

"Burger Keju," kata Akbar datar. "Dan kentang goreng ekstra besar."

Sudut bibir Mia berkedut menahan tawa. Pemandangan miliarder aristokrat membawakan makanan cepat saji sungguh tidak masuk akal.

"Kau mencoba menyogokku dengan burger lima dolar?" tanya Mia sinis.

"Aku mengantre sendiri selama dua puluh menit," bela Akbar dengan wajah polos. "Dan ternyata memesan makanan di sana lebih rumit daripada negosiasi saham."

Mia akhirnya tertawa lepas. Ia menggelengkan kepala, lalu menunjuk kursi kosong.

"Duduklah. Lima menit. Sebelum aku mengusirmu."

Mereka duduk berhadapan, memakan burger itu dalam keheningan yang canggung namun tidak bermusuhan.

"Siapa penasihat cintamu itu?" tanya Mia tiba-tiba sambil mencelupkan kentang ke saus. "Ide burgernya jenius, tapi gayamu memberikannya masih kaku seperti robot."

Akbar tersenyum tipis. "Sepupuku. Dia pria yang unik. Dia menyamar jadi orang biasa sepertimu, padahal dia sangat berbakat."

"Menyamar?" Mia tertarik. "Siapa namanya?"

"Jay," jawab Akbar.

Mia tersedak minumannya.

"Jay? Maksudmu... Jay Ares?"

Akbar mengangguk. "Kau mengenalnya?"

"Tentu saja aku kenal!" seru Mia tak percaya. "Dia suami kakakku, Angeline! Si sopir taksi itu?!"

Kini giliran Akbar yang pura-pura terkejut. "Dunia yang sempit."

Mia tertawa keras, sampai memukul meja. "Astaga! Jadi miliarder kaku sepertimu adalah sepupu dari suami kakakku yang pengangguran itu? Pantas saja nama belakang kalian sama. Aku pikir itu cuma kebetulan!"

Mia menatap Akbar dengan tatapan geli.

"Keluarga kalian aneh sekali. Yang satu jadi sopir taksi, yang satu jadi penguntit toko roti."

"Kami... punya cara sendiri menikmati hidup," jawab Akbar diplomatis.

Mia menghabiskan burgernya, lalu menatap Akbar dengan tatapan yang sedikit lebih hangat.

"Terima kasih burgernya, Akbar. Dan terima kasih sudah mengembalikan toko ini. Tapi ingat, ini tidak berarti aku memaafkan sikap aroganmu sebelumnya."

"Aku mengerti. Semuanya butuh proses," Akbar berdiri, merapikan kemejanya. "Jadi... besok? Kopi?"

"Boleh," jawab Mia sambil tersenyum miring. "Tapi bawa kopi dari minimarket sebelah. Jangan kopi mahal."

Akbar mengangguk, lalu berjalan keluar toko dengan perasaan menang.

Di dalam mobil mewahnya, Akbar mengirim pesan singkat kepada Jay.

[To: Jay] [Pesan: Misi Burger sukses. Tapi dia tahu kita bersaudara. Siapkan alasan yang bagus jika istrimu mulai curiga kenapa 'sopir taksi' punya sepupu yang bisa membeli gedung.]

Kembali ke Vila.

Ponsel Jay bergetar di saku celananya. Ia membaca pesan Akbar sekilas di bawah meja makan, lalu menyimpannya kembali.

Angeline sedang menyantap pastanya dalam diam, sesekali melirik Jay dengan tatapan menyelidik.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Angeline curiga.

"Tidak ada. Temanku mengirim lelucon," jawab Jay cepat. "Oh ya, bagaimana kalau besok kita liburan sebentar? Ke pantai?"

"Jangan mengalihkan topik lagi, Jay," Angeline meletakkan garpunya. "Aku lelah. Aku mau tidur."

Angeline berdiri dan berjalan menuju kamar tidur tanpa menunggu Jay. Pintu kamar ditutup sedikit lebih keras dari biasanya.

Jay duduk sendirian di meja makan yang penuh makanan. Ia menghela napas berat.

Kemenangan melawan Arkady terasa hambar. Musuh di luar bisa ia hancurkan dengan peluru, tapi keraguan di hati istrinya adalah musuh yang tidak bisa ia lawan dengan senjata.

"Maafkan aku, Angel," bisik Jay pada ruangan yang kosong. "Semakin sedikit kau tahu, semakin lama kita hidup tenang."

1
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
Mamat Stone
🔥☯️🔥
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
😈💥
Mamat Stone
/Cleaver/💥
Mamat Stone
👊💥
Hendra Saja
s makin menarik Thor 🔥🔥🔥🔥🔥🌹🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!