NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vivi

Dornus tersentak kecil ketika desir angin sore membawa sehelai daun kering membelai wajah penuh bekas lukanya. Seketika, aroma lembap hutan pohon oak dalam ingatannya memudar, berganti kembali dengan aroma rumput lapangan dan pepohonan hutan dari seberang Gerbang Timur.

Perlahan, jemarinya yang semula mengepal kuat mulai mengendur. Pandangannya yang sempat menerawang kini kembali tertuju pada tikungan koridor kosong, tempat keempat murid itu baru saja menghilang.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Legenda, ya...kurasa kau benar, Lukas....

Dornus mengembuskan napas panjang, seolah sedang melepaskan beban yang menghimpit dadanya selama lima belas tahun terakhir. Ia pun beranjak berdiri, menepuk-nepuk tanah dari seragam instrukturnya yang kaku.

Belum... belum saatnya....

Dornus berbalik. Ia melangkah meninggalkan lapangan pelatihan yang kini mulai diselimuti cahaya keemasan mentari sore, membiarkan pesan terakhir Lukas tetap terkunci rapat dalam dirinya, setidaknya untuk saat ini.

...****************...

"Jadi kesimpulannya, seperti yang telah kita ketahui, sihir terbagi ke dalam tiga cabang utama, mantra, pemanggilan, dan ramuan," ujar seorang wanita Elf yang tampak menawan dengan jubah birunya.

Rambut pirangnya yang panjang diikat rapi hingga mencapai punggung, sementara sepasang mata kuningnya yang tajam namun lembut mengawasi seisi ruangan. Ia berjalan mondar-mandir di antara meja-meja kayu. Ruang kelas itu sendiri lebih menyerupai perpustakaan pribadi, rak-rak buku tua yang menjulang tinggi mengelilingi dinding, menciptakan aroma kertas kuno yang memenuhi ruangan luas itu.

"Dan, setiap cabang memiliki sisi gelapnya sendiri, sihir terlarang," lanjutnya sembari menghentikan langkahnya.

"Sebagai contoh, mantra penghapus ingatan, ramuan keabadian, hingga pemanggilan beberapa jenis entitas berbahaya. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa membuka ensiklopedia sihir halaman 138. Di sana terdapat tabel klasifikasi yang lebih mendalam." Ia kemudian kembali ke mejanya dan duduk dengan tenang. "Ada yang ingin ditanyakan?"

Vivi mengangkat tangan dengan ragu namun penasaran. "Profesor Charlotte, apa konsekuensi bagi mereka yang nekat menggunakan sihir terlarang? Dan... apakah ada kondisi tertentu yang membuat penggunaannya dilegalkan?"

Profesor Charlotte menyunggingkan senyum tipis. "Siapa pun yang terbukti menggunakan sihir terlarang akan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di ruang bawah tanah Kristal Penetral milik kerajaan. Bersama dengan para penjahat besar lainnya, seperti pemberontak dan penyelundupan bahan terlarang. Tempat di mana seluruh energi sihir akan tersegel."

Ia menjeda sejenak, memberikan penekanan pada kalimat berikutnya. "Kecuali, jika orang tersebut memegang izin resmi yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan Paxvar dan telah mendapatkan persetujuan langsung dari Yang Mulia Raja. Namun, sudah pasti izin seperti itu sangat sulit untuk didapatkan, kecuali dalam keadaan yang sangat ekstrim seperti peperangan."

Vivi mengangguk paham, jemarinya kembali menari di atas kertas untuk mencatat poin terakhir. Profesor Charlotte melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, memastikan tidak ada lagi tangan yang terangkat.

"Baik, cukup untuk hari ini. Kita akan bertemu lagi di pelajaran mantra besok. Kita akan melakukan latihan mantra, jadi siapkan diri kalian. Paham?" pungkasnya tegas.

"Paham, Profesor..." sahut para murid serempak.

Suasana kelas seketika riuh oleh suara buku yang ditutup dan kursi yang digeser. Sebagian besar murid segera bergegas keluar, namun tidak dengan Vivi. Ursha'el bangkit berdiri dan menghampiri meja gadis itu yang masih tampak sibuk.

"Ayo pulang, apa lagi yang kau tunggu?" tanya Ursha'el.

"Sebentar, pelajaran hari ini harus tuntas hari ini juga," jawab Vivi tanpa menoleh. Ia beranjak menuju salah satu rak buku besar yang mengelilingi ruangan, jemarinya lincah menelusuri deretan punggung buku tua hingga ia menemukan yang dicarinya, sebuah ensiklopedia sihir yang tebal.

Ursha'el menghela napas panjang, namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Ia akhirnya duduk di bangku kosong sebelah Vivi. "Hah... ya sudahlah, kutunggu. Dasar murid teladan," celetuknya. "Sekali-kali coba sedikit nakal, kek... bolos, mungkin?"

Vivi membuka ensiklopedia itu di halaman 138 dan mulai merangkum detail jenis-jenis sihir terlarang ke dalam buku catatannya. Mendengar godaan Ursha'el, ia tertawa kecil.

"Gila, ya? Mana bisa begitu, Ursha," jawab Vivi di sela aktivitas menulisnya. "Jangan jadi setan yang menghasutku, deh. Bisa-bisa aku habis dimarahi ayahku nanti kalau ketahuan bolos."

"Wah... kelihatannya ayahmu menyeramkan sekali," ujar Ursha'el dengan nada bercanda, mencoba mencairkan suasana.

"Ya, memang seram sekali. Kau ingat saat tahun kesepuluh aku mendapat peringkat empat?" Vivi bercerita panjang lebar tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya. "Begitu sampai di rumah, aku langsung dipukuli pakai sabuk karena tidak masuk tiga besar. Setelah itu, aku dikurung selama dua minggu masa liburan. Tidak boleh keluar kamar sama sekali, hanya boleh belajar. Sumpah, itu mengerikan."

Ursha'el seketika terdiam. Senyum candanya hilang tak berbekas, digantikan oleh rasa terkejut yang nyata. "Serius? Sampai segitunya?"

"Iya. Makanya saat liburan tahun kesepuluh kau tidak bisa menemuiku, kan? Saat itu aku sedang menjalani masa hukuman," jawab Vivi dengan nada datar, seolah menceritakan kejadian sehari-hari yang biasa saja.

"Wah... bukankah itu sudah.... keterlaluan? Maksudku, peringkat empat itu sudah hebat, loh, Vi," tanya Ursha'el dengan raut wajah khawatir.

Vivi menghentikan gerakan penanya sejenak. Ia menoleh dan menangkap gurat kekhawatiran di wajah sahabatnya itu. Sebuah senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya.

"Yah... mau bagaimana lagi? Orang tuaku memang menaruh harapan yang sangat besar padaku," tutur Vivi pelan. "Dulu mereka berdua dari keluarga miskin, tidak punya biaya untuk masuk akademi. Mereka banting tulang setiap hari sampai akhirnya bertemu dan menikah. Mereka terus berjuang bersama sampai sekarang bisa memiliki dua puluh satu kapal dagang."

Vivi terkekeh kecil, namun ada binar haru sekaligus jengkel di wajahnya. "Mungkin memang terkadang kelewatan, tapi aku paham kenapa mereka bersikap begitu. Hidup mereka dulu tidak senyaman hidupku yang lahir sudah kaya. Bagaimanapun, mereka tetap orang tuaku yang sudah berjuang untukku." Vivi memberikan senyum hangat terakhir pada Ursha'el sebelum kembali menunduk, melanjutkan rangkumannya.

"Wah... kau hebat, Vi," puji Ursha'el tulus. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya ke lipatan tangan di atas meja, merasa minder dengan kegigihan sahabatnya itu. Pujian itu sukses membuat telinga runcing Vivi bergetar pelan, reaksi alami kaum Elf saat merasa tersanjung.

"Ah... biasa saja, kok," sahut Vivi malu-malu. Semburat merah tipis muncul di pipinya. Ia terkekeh kecil, mencoba mengalihkan perhatian dengan membalik halaman 138 ensiklopedia di hadapannya. Namun, saat matanya menyapu baris-baris di halaman selanjutnya, pupil matanya mendadak melebar.

"Eh... Ursha'el, lihat ini!" seru Vivi, suaranya naik karena terkejut.

"Ada apa?" Ursha'el segera menegakkan duduknya dan ikut condong ke arah buku, menatap bagian yang ditunjuk telunjuk mungil Vivi. Seketika, ekspresi santainya lenyap, berganti dengan raut terkejut yang sama hebatnya.

"Kenny! L-Luce! Kemari!" panggil Vivi setengah berbisik namun mendesak.

Kenny dan Luce, yang sedari tadi masih asyik mengobrol ringan di bangku belakang menoleh serentak. Melihat gelagat aneh kedua temannya, mereka segera bangkit dan menghampiri meja Vivi.

"Ada apa, sih? Heboh benar," tanya Kenny penasaran.

"Lihat ini..." jawab Vivi pelan, suaranya sedikit bergetar. Ia menunjuk sebuah ilustrasi kuno dan deretan teks yang tercetak di halaman tersebut.

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!