Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: JEJAK ENERGI YANG HILANG
Keesokan harinya, matahari mulai menerobos melalui celah-celah batang bambu yang rindang, menyinari tanah yang masih lembap akibat hujan malam sebelumnya. Udara di sekitar rumah Yin Chen terasa segar dengan campuran aroma bambu yang kering dan bunga liar yang baru mekar di sudut lembah. Namun suasana tenang tersebut tidak mampu menenangkan pikiran Yin Chen yang telah terjaga sepanjang malam, menghabiskan waktu untuk mencatat setiap detail tentang papan catur ajaib yang muncul di tengah hutan beserta gerakan pertama bidak putih yang bergerak dengan sendirinya.
Ia duduk di depan meja kerja, mata terus melirik buku catatan yang baru saja diisi hingga penuh. Setiap garis tulisnya mencerminkan kegigihan dan keingintahuan yang mendalam—mulai dari deskripsi bentuk setiap bidak, pola cahaya yang terpancar darinya, hingga catatan tentang getaran yang dirasakan saat bidak pion bergerak. Di samping buku itu, sebuah peta kasar yang digambar dengan tangan menunjukkan lokasi papan catur, rumahnya, dan desa terdekat bernama *Wanli* yang terletak lima mil jauhnya. Yin Chen telah menandai dengan garis putus-putus arah yang mungkin dilalui untuk mencapai desa tersebut dengan cepat jika diperlukan.
“Apa yang telah aku lakukan?” bisiknya sambil mengusap permukaan meja dengan jari telunjuknya. Pikirannya terus kembali pada getaran yang dirasakan kemarin malam—seolah-olah dunia di luar hutan telah bergeser sedikit, seperti batu yang dilempar ke dalam danau yang tenang yang menimbulkan riak yang merambat ke segala arah. Ia merasakan kebutuhan yang mendesak untuk mengetahui apa yang terjadi di desa Wanli, namun juga merasa ragu untuk meninggalkan hutan yang telah menjadi tempat perlindungan dan rumahnya selama bertahun-tahun.
Setelah memutuskan untuk melakukan perjalanan ke desa, Yin Chen segera menyiapkan segala kebutuhan. Ia mengemas beberapa bungkus beras kering, ikan asin, dan buah-buahan kering ke dalam kantong kulit yang terbuat dari kulit rusa. Ia juga mengambil beberapa ramuan obat yang telah dikumpulkannya dari hutan—ramuan untuk mengobati luka, demam, dan gangguan pencernaan—yang mungkin bisa berguna jika ada orang di desa yang membutuhkannya. Jubah hitamnya dilapisi dengan kain tambahan untuk melindungi dari sinar matahari yang mulai menyengat, dan tongkat kayu pendeknya dipegang erat di tangan kanannya saat ia membuka pintu rumah dan melangkah keluar.
Perjalanan ke desa Wanli tidak sesederhana yang dibayangkan. Jalur yang biasanya digunakan oleh pemburu dan petani lokal telah sebagian tertutup oleh reruntuhan batang bambu yang tumbang akibat hujan deras beberapa hari lalu. Yin Chen harus sering berhenti untuk membersihkan jalan dengan menggunakan tongkatnya, atau mencari jalan lain yang bisa dilewati. Selama perjalanan, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh dari lingkungan sekitarnya—tanaman yang biasanya tumbuh subur terlihat layu dan kekurangan energi, burung-burung yang biasanya bersuara riuh di pagi hari tidak terdengar sama sekali, dan bahkan hewan kecil seperti kelinci atau tupai tidak terlihat berkeliaran seperti biasa.
“Ada sesuatu yang tidak beres,” gumam Yin Chen saat ia berhenti di tengah jalan untuk mengamati sekelilingnya. Ia merasakan getaran energi yang lemah namun jelas—sama seperti getaran yang dirasakan saat bidak catur bergerak kemarin malam, namun jauh lebih lemah dan menyebar ke segala arah. Seolah-olah sebagian energi alam yang biasanya mengalir dengan lancar di sekitarnya telah hilang atau dialihkan ke tempat lain. Ia menutup mata sebentar, menggunakan kemampuan yang telah dikembangkannya selama bertahun-tahun untuk merasakan aliran energi alam. Apa yang ia rasakan membuatnya semakin khawatir—ada titik tertentu di arah desa Wanli di mana aliran energi tampak terhenti total, seperti sungai yang tiba-tiba kering di tengah jalan.
Setelah berjalan selama hampir dua jam, hamparan rumah-rumah kayu kecil yang merupakan desa Wanli akhirnya muncul di kejauhan. Namun pemandangan yang ada di depannya tidak seperti biasanya—desa yang biasanya ramai dengan aktivitas pagi hari terlihat sunyi dan sepi. Tidak ada suara anak-anak yang bermain, tidak ada asap yang keluar dari cerobong rumah, dan bahkan gerbang utama desa yang biasanya terbuka lebar kini tertutup rapat dengan tali kayu yang kusut. Yin Chen mempercepat langkahnya, hati mulai berdebar kencang karena perasaan tidak baik yang semakin kuat.
Ketika ia tiba di depan gerbang desa, ia menemukan beberapa orang dewasa yang sedang duduk di bawah pohon beringin besar di dekat pintu masuk. Mereka terlihat lemah dan lesu, wajahnya pucat dan mata mereka tampak kosong seperti kehilangan semangat hidup. Salah satu dari mereka, seorang pria tua dengan janggut putih yang panjang, melihat Yin Chen dengan mata yang lambat bergerak.
“Kamu… bukan dari desa ini,” ucap pria tua tersebut dengan suara yang lemah dan serak. “Jangan masuk… ada kutukan yang menyerang kita semua.”
Yin Chen mendekat dengan hati-hati, menyembuhkan jarak antara mereka dengan langkah yang perlahan. Ia melihat dengan cermat kondisi para penduduk desa—mereka tidak tampak sakit secara fisik, namun tubuh mereka terlihat tanpa kekuatan dan mata mereka kehilangan kilau yang biasanya ada pada manusia yang sehat. Ia mengambil salah satu ramuan obat yang dibawanya, mencampurkannya dengan sedikit air dari kendi yang ia bawa, lalu memberikannya kepada pria tua tersebut.
“Minumlah ini,” kata Yin Chen dengan suara yang tenang dan menenangkan. “Bisakah kamu memberitahu aku apa yang terjadi di sini?”
Setelah meminum ramuan tersebut, pria tua tersebut tampak sedikit lebih baik. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. “Kemarin malam… tepat ketika malam mulai tiba dan bulan muncul, ada cahaya kebiruan yang menerangi langit di atas desa ini. Kita semua merasa seperti ada sesuatu yang menarik energi dari dalam tubuh kita—semangat kita, kekuatan kita, bahkan hasrat untuk hidup pun perlahan hilang. Banyak dari kita tidak bisa bangun dari tempat tidur hari ini. Anak-anak kita menangis terus karena merasa sangat lelah meskipun mereka telah tidur sepanjang malam.”
Yin Chen mendengarkan dengan saksama setiap kata yang keluar dari mulut pria tua tersebut. Semua yang diceritakan sesuai dengan apa yang ia rasakan selama perjalanan—hilangnya energi alam dan kondisi lemah yang menyerang penduduk desa. Ia tahu bahwa ini tidak lebih dari efek samping dari gerakan bidak catur kemarin malam. Setiap langkah yang diambil pada papan ajaib tersebut memiliki konsekuensi yang nyata di dunia nyata, dan kini ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa besar dampaknya bisa menjadi.
Ia memutuskan untuk tinggal di desa selama beberapa waktu untuk membantu para penduduk yang terkena dampak. Dengan menggunakan pengetahuannya tentang ramuan obat dan energi alam, ia mulai merawat mereka satu per satu. Ia juga mengajarkan beberapa teknik pernapasan sederhana untuk membantu mereka menarik kembali energi alam ke dalam tubuh mereka. Selama bekerja, ia tidak bisa berhenti memikirkan papan catur yang ada di tengah hutan—siapa yang mengendalikan bidak hitam, dan apa tujuan mereka dengan menggerakkan bidak tersebut untuk menyebabkan kerusakan seperti ini?
Saat malam mulai tiba lagi, kondisi sebagian penduduk desa telah sedikit membaik. Namun Yin Chen tahu bahwa perbaikan tersebut hanya sementara. Hanya dengan mengembalikan keseimbangan pada papan catur ajaib yang bisa menyelesaikan masalah secara permanen. Ia mengucapkan terima kasih kepada para penduduk desa yang telah memberinya tempat tinggal dan makanan, lalu mempersiapkan diri untuk kembali ke hutan. Sebelum pergi, pria tua tersebut menyerahkan kepadanya sebuah kalung kecil yang terbuat dari biji kayu dengan ukiran simbol yang sama seperti yang ada pada papan catur.
“Ini adalah warisan dari leluhur kita,” kata pria tua tersebut dengan suara yang lebih kuat dari sebelumnya. “Mereka mengatakan bahwa kalung ini akan melindungi orang yang layak saat bermain permainan besar. Jaga dirimu dengan baik, anak muda. Kita merasa bahwa masa depan kita berada di tanganmu.”
Yin Chen menerima kalung tersebut dengan hati yang penuh rasa hormat, memasangkannya di lehernya. Ia mengangguk kepada para penduduk desa sebelum berbalik dan melangkah kembali ke arah hutan bambu Mengyou. Malam ini sangat gelap tanpa cahaya bulan yang disembunyikan oleh awan tebal, namun kalung yang baru saja diterimanya mulai memancarkan cahaya kebiruan yang lembut—seolah-olah sedang membimbingnya pulang ke tempat di mana permainan yang akan menentukan takdir banyak orang masih terus berlangsung.
Saat ia memasuki hutan kembali, ia merasakan bahwa aliran energi alam telah mulai berubah lagi. Kali ini, ada getaran yang lebih kuat dan lebih jelas yang datang dari arah papan catur ajaib—seolah-olah permainan telah memasuki babak baru, dan dia harus segera kembali untuk menghadapi tantangan selanjutnya yang mungkin jauh lebih besar dari yang telah dia hadapi sebelumnya.