Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikeluarkan Dari Angkasa Grup
Di apartemennya Satya mendapatkan laporan dari anak buah Rio.
“Rumah keluarga Aariz sudah disita, berdasarkan rumor, istri Pak Aariz memiliki hutang sampai 1 miliar yang melibatkan nama Aariz. Karena tak mampu membayar hutang rumah itu disita. Saat ini rumah sudah disegel dan penghuninya sudah meninggalkan rumah itu.”
Satya mengerutkan dahi, dia merasa aneh dengan laporan anak buah Rio, sangat tidak masuk akal.
“Kau yakin rumah itu disita?” tanya Satya.
“Benar.”
“Rio, bukankah kau bilang Aariz itu CEO di perusahaan Angkasa grup?”
“Benar, kenapa?”
“Kau yakin dia tak mampu membayar hutang itu?”
“Kalau soal itu, jika dilihat dari latar belakang Pak Aariz ini tidak mungkin dia tak bisa membayar hutang. Masalahnya di sini yang berhutang itu istrinya, bukan Aariz, dan rumah itu dijadikan jaminan oleh istrinya.”
“Kalian tahu ke mana penghuninya pergi?”
“Saat itu kami tak melihat pria bernama Aariz itu di sana. Kami cuma melihat seorang gadis pergi naik mobil bersama seorang pria, kejadian itu sebelum rumah disegel. Lalu kami melihat perempuan yang dipanggil Hanin itu dibawa masuk mobil oleh seorang pria muda bernama Daniyal. Perempuan itu dalam keadaan seperti tidak sadarkan diri.”
“Maksudmu dia pingsan?”
“Sepertinya.”
“Pria muda itu Daniyal, kalian tahu dia siapa dan apa posisinya di keluarga itu?”
“Maaf, Pak, tapi kami belum sampai meneliti pria itu.” Jawaban anak buah Rio.
Satya memandang ke arah Rio, yang seketika tanggap dengan tatapan sahabatnya itu.
“Sorry, besok aku suruh mereka untuk mengeceknya,” kata Rio sambil garuk-garuk kepala.
“Tidak perlu, jika Hani sudah sedekat itu dengan Daniyal, mungkin saja mereka memiliki hubungan khusus.”
“Hani memiliki hubungan khusus dengan siapa?” Miranda tiba-tiba muncul dari balik pintu, langsung mempertanyakan Hanin.
Satya tidak ingat mamanya masih berada di apartemennya, lupa mengunci pintu saat membicarakan tentang Hanin.
“Mama jangan tanyakan itu padaku. Kalau mau bertanya Mama tanyakan sendiri pada orangnya.”
“Kalau begitu antar mama ketemu dengannya, kalian tahu kan di mana Hani?” Miranda memandang pada tiga laki-laki di ruangan itu satu persatu, mereka tak ada yang berani menjawab.
“Satya belum tahu, Mah, bertemu saja tidak sengaja di rumah sakit.”
“Jadi kau sudah bertemu dengannya dan kau diam saja?” Miranda kesal sampai menjewer telinga Satya di depan Rio dan anak buahnya. Hilang sudah harga dirinya. “Kalau sudah ketemu kenapa tidak dibawa kemari untuk bertemu dengan mama. Kau tahu kan sudah lima tahun mama menunggunya?”
“Maaf, Ma, tapi keadaannya waktu itu tidak memungkinkan. Sepertinya Hani juga masih marah dengan Satya.”
“Apa kau bertemu dengan Hani di rumah sakit tempat kau dirawat itu?”
Satya mengangguk.
“Kau tahu kenapa dia di sana, atau mungkin dia sedang sakit?” Miranda bertanya-tanya cemas.
“Satya tidak tahu. Sudahlah, Mah, sekarang Mama istirahat saja, ini sudah malam. Satya janji suatu saat akan bawa Hani menemui Mama.”
Setelah membuat Miranda meninggalkan ruangan itu, Satya merasa kasihan dengan mamanya. Sudah bertahun-tahun Miranda mengharap bertemu dengan Hanin. Namun, sampai hari itu masih belum terkabul juga. Sebenarnya kesempatan itu sudah ada, hanya saja Satya masih merahasiakannya. Jika mamanya tahu keadaan Hanin di keluarga barunya saat ini mamanya bisa langsung membawa pergi Hani pulang ke Indonesia.
“Kalau kau mau kau bisa menemui Hani sekarang dan membawanya menemui mamamu. Kenapa tidak kau lakukan?” tanya Rio.
“Hanin sudah memiliki kehidupannya sendiri, kami ini hanya keluarga masa lalunya. Rasanya tidak pantas jika mengganggu kehidupannya.”
“Tapi saat ini Hani pasti membutuhkanmu.”
“Dia ada ayahnya, pemilik perusahaan besar di sini. Dia tidak butuh kami lagi. Jika kami datang pasti membuat hatinya bertambah sedih.”
“Kau bisa saja memikirkan sampai sejauh itu. Apa yang kau katakan benar, Satya, walaupun rumah mereka disita seharusnya mereka bisa membeli rumah seperti itu dengan mudah.”
“Pak Rio, apa kami masih perlu melakukan penyelidikan?” tanya anak buahnya.
Rio meminta pendapat Satya.
“Tidak perlu, aku sudah tahu dia di rumah sakit mana. Jika ada waktu aku akan menemuinya.”
“Jangan terlalu banyak berpikir, ingat di sampingnya saat ini ada pria muda yang juga perhatian dengan Hani, kalau dia sampai mengatakan perasaannya baru kau akan menyesal.”
“Hanin tidak akan menerimanya, aku tahu dia hanya menyukaiku.”
“Hahaha!” Rio tertawa. “Sejak kapan kau begitu percaya diri, Satya?”
“Sejak insiden di lift.”
“Sepertinya aku kehilangan momen indah, apa yang terjadi di dalam lift bersama Hani, kau melakukan seperti saat di vila?”
“Tidak ada yang seperti itu, lagi pula apa yang aku lakukan dulu itu kekhilafanku.”
••
Pagi hari Hani membuka matanya. Dia Sendirian di sana. Tak lama seorang perawat dan dokter masuk ruangan untuk kembali mengecek keadaan Hanin.
“Dokter aku baik-baik saja kenapa dibawa kemari?” Hanin tak sadar dengan lukanya.
“Semalam kau pingsan, kau terluka dan butuh istirahat.”
“Aku tidak bisa, aku harus melihat keadaan ayahku di ruang ICU, dia sendirian di sana.” Hanin memaksa bangun, tapi perawat melarangnya. Hanin baru merasakan nyeri di pinggang saat bergerak.
“Nona, sehari saja bersabarlah. Kau juga tidak akan bisa menjaga ayahmu jika kondisimu tidak sehat.”
“Aku masih kuat, aku juga bisa berjalan. Karena aku harus segera mendapatkan uang untuk operasi ayahku.”
“Apakah Pak Aariz itu ayahmu?” tanya dokter.
“Benar, Dok.”
“Ya, aku tahu kondisinya.” Bahkan dokter itu pun berubah terdiam begitu mengetahui pasien Aariz. Dia sangat mengerti apa yang dirasakan gadis itu, tapi Aariz adalah CEO perusahaan besar, bagaimana putrinya bisa kesulitan mendapatkan uang untuk biaya operasi.
“Tetap saja kau harus istirahat dan jangan banyak pikiran. Setelah hari ini kau baru bisa menemui ayahmu.” Dokter mengambil sikap tegas demi pasiennya.
Meski berusaha memaksa, Hanin tetap kalah juga. Dia pun memilih nurut apa saran dokter untuk beristirahat.
Ketika dokter dan perawat meninggalkan ruangan, Daniyal datang masuk ruangan membawa kantung makanan.
“Nona bagaimana keadaan, Anda?” tanya Daniyal. Sikapnya masih begitu formal terhadap Hanin.
“Aku baik-baik saja, tapi dokter melarangku menemui ayah.”
“Anda memang harus istirahat.”
“Tidak bisa, aku harus mendapatkan uang untuk operasi ayah.”
“Tuan Aariz dioperasi?” tanya Daniyal dengan raut muka kaget.
“Kau belum tahu?”
Daniyal menggeleng. “Maaf, ada masalah di perusahaan. Saat saya mendengar kabar Anda pulang ke rumah dengan terburu-buru dari Amaan, saya langsung datang mencari Nona, sekaligus ingin menyampaikan satu kabar buruk.” Raut wajah Daniyal berubah muram, seperti enggan untuk menyampaikannya.
“Ada hubungannya dengan Ayahku dan perusahaan?” Hanin mencoba menebak. Daniyal mengangguk pelan. Dia tidak bisa menyembunyikan kabar itu dari Hanin.
“Berdasarkan rapat direksi, dan kondisi Tuan Aariz, dia tidak bisa untuk melanjutkan jabatannya sebagai CEO perusahaan.”
“Tapi dari mana perusahaan tahu kondisi ayahku? aku pikir hanya beberapa orang saja yang tahu kondisi ayah.”
“Saya tidak tahu, Nona, tapi mereka mengetahui penyakit Tuan Aariz dan mereka memutuskan untuk mencari penggantinya. Alex Hossam berkata, Tuan Aariz pernah berpesan padanya supaya menjual saham jika kondisi sakitnya bertambah parah.”
“Apakah menurutmu dia yang membocorkan penyakit ayahku?”
“Saya tidak tahu, Nona, saya rasa tidak mungkin. Dia sahabat dekat Tuan Aariz.”
“Menurutmu apakah keputusan itu benar? aku tak mengerti mengenai perusahaan.”
“Jika Anda mengatakan Tuan Aariz harus dioperasi, maka keputusan rapat memang sudah tepat. Perusahaan harus terus berjalan, Tuan Aariz sudah tidak mampu untuk menjadi bagiannya, maka pemilihan CEO baru dianggap benar.”
Setelah Daniyal menceritakan bagaimana keadaan perusahaan dan ayahnya sudah tak memiliki hak lagi di sana, Hanin juga harus mengambil keputusan berat. Setelah keadaannya membaik, Hanin mengumpulkan semua orang, dari Bibi Zaenab, Paman Umar, Daniyal dan Amaan, serta sopir yang selama ini mengantar Hanin di taman rumah sakit. Kelima orang itu saling bertanya untuk apa Hanin mengumpulkan mereka.