Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32-41 ( BAB TERPENDEK )
Bab 32: Bayang-Bayang Sang Mentor
Jakarta tenggelam dalam kabut polusi saat Arini melangkah masuk ke sebuah rumah tua di kawasan Menteng yang dijaga ketat. Di sana, di sebuah ruangan yang pengap oleh bau obat-obatan dan buku lama, duduk seorang pria yang seharusnya sudah mati: Hendra Wijaya, ayah kandung Reihan. Ternyata, selama ini ia memalsukan kematiannya untuk memantau kehancuran keluarga Atmadja dari kejauhan.
"Kau melakukan tugasmu dengan baik, Arini," suara Hendra parau. "Kau menghancurkan anakku, Reihan, karena dia terlalu lemah oleh obsesi. Sekarang, kau memegang kunci kekuasaan yang sesungguhnya. Tapi ingat, di dunia ini, hanya ada satu penguasa sejati."
Arini menatap pria tua itu dengan dingin. "Aku tidak bekerja untukmu, Hendra. Aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Hendra tertawa kecil. "Kau memiliki api yang sama dengan ayahmu, Surya. Tapi kau lebih berbahaya karena kau memiliki kecantikan yang mematikan." Hendra memberinya sebuah berkas rahasia: daftar musuh-musuh ayahnya yang sekarang mulai bergerak karena menganggap Arini adalah target empuk.
Malam itu, Arini kembali ke pelukan Bima. Namun, gairah mereka kini terasa seperti transaksi. Di atas ranjang yang luas, Arini mencumbu Bima dengan dominasi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia bukan lagi wanita yang mencari perlindungan; ia adalah penguasa yang menuntut pengabdian. Bima merasakannya, dan ada rasa takut yang mulai tumbuh di sela-sela nafsu mereka.
Bab 33: Perjamuan Ular
Arini mengadakan pesta topeng di griya tawangnya. Ia mengundang seluruh musuh bisnisnya, termasuk para kartel yang dulu bekerja untuk ayahnya. Di bawah topeng emas, Arini bergerak seperti ular di antara mangsanya.
Tiba-tiba, seorang pria misterius dengan topeng tengkorak mendekatinya. "Kau tampak sangat anggun di atas takhta berdarah ini, Arini. Tapi apakah kau tahu bahwa Bima sedang berbicara dengan pihak kepolisian di belakang punggungmu?"
Hati Arini membeku. Ia menatap Bima dari kejauhan yang sedang berbincang serius dengan seorang pria yang ia kenali sebagai komisioner polisi. Kecurigaan yang dulu sempat padam kini berkobar kembali, lebih panas dari sebelumnya.
Malam itu, setelah tamu-tamu pulang, Arini menyudutkan Bima di kamar mandi. Ia merobek kemeja Bima, bukan karena gairah, tapi karena ingin mencari alat penyadap. "Katakan padaku, Bima! Apakah kau masih memihak padaku, atau kau hanya menunggu waktu untuk memborgolku?"
Bima menarik Arini ke bawah guyuran air shower yang dingin. Di sana, di tengah basahnya pakaian mereka, Bima mencium Arini dengan penuh keputusasaan. "Aku melakukan itu untuk melindungimu, Arini! Mereka ingin menjatuhkanmu karena kasus kematian Reihan! Aku mencoba menghapus jejakmu!"
Gairah di bawah guyuran air itu terasa menyakitkan. Arini tidak tahu apakah ia harus mempercayai pria ini atau membunuhnya.
Bab 34: Saudara yang Hilang
Arini menemukan fakta mengejutkan dari dokumen Hendra: Surya Atmadja memiliki anak lain dari wanita simpanan—seorang pria bernama Adrian. Adrian adalah seorang psikopat dingin yang jauh lebih kalkulatif daripada Reihan. Selama ini, Adrian tinggal di Rusia, mengelola bisnis tentara bayaran.
Kini, Adrian mendarat di Jakarta. Ia tidak datang untuk uang, tapi untuk membalaskan dendam ibunya yang dicampakkan Surya. Target pertamanya? Arini.
Adrian mengirimkan "hadiah" berupa kepala pengawal pribadi Arini yang diletakkan di meja kantornya. Arini menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang sepadan—seseorang yang memiliki darah yang sama dengannya.
Bab 35: Jebakan di Gudang Pelabuhan
Adrian memancing Arini ke sebuah gudang tua di pelabuhan. Arini datang bersama Bima, namun mereka segera dikepung oleh tentara bayaran Rusia yang sangat terlatih.
Adrian muncul dari kegelapan. Ia sangat mirip dengan Arini—memiliki mata yang tajam dan senyum yang dingin. "Halo, Kakak. Ayah kita pasti bangga melihat kita saling mengincar leher masing-masing."
Adrian menawan Bima dan memaksa Arini menonton saat Bima disiksa. "Dunia ini tidak butuh dua tiran Atmadja, Arini. Hanya satu yang boleh bertahan."
Arini dipaksa membuat pilihan: menyerahkan seluruh asetnya atau melihat Bima mati perlahan. Namun, di saat kritis, Arini menggunakan gairah gelapnya untuk menggoda salah satu penjaga Adrian, merebut senjatanya, dan melepaskan tembakan liar yang memicu ledakan tangki bahan bakar.
Bab 36: Gairah di Tengah Pelarian
Arini dan Bima berhasil melarikan diri ke sebuah hotel murah di pinggiran kota. Mereka terluka, lelah, dan dalam pelarian. Di ruangan sempit yang berbau asap rokok itu, ketegangan antara hidup dan mati memicu gairah yang primitif.
Mereka bercinta dengan penuh kegilaan di atas ranjang yang berderit. Arini mencengkeram bahu Bima yang terluka, rasa sakit dan kenikmatan bercampur menjadi satu. Ini bukan lagi tentang cinta; ini adalah tentang pembuktian bahwa mereka masih hidup.
"Jika kita mati besok, setidaknya aku ingin mati di dalam dirimu," bisik Bima. Arini membalasnya dengan ciuman yang haus darah.
Bab 37: Pengkhianatan Hendra Wijaya
Ternyata, Hendra Wijaya bekerja sama dengan Adrian. Hendra ingin menghancurkan Arini sebagai bentuk balas dendam terakhir atas kematian Reihan. Hendra memberitahukan lokasi persembunyian Arini kepada Adrian.
Saat fajar menyingsing, hotel tempat Arini menginap diserbu. Namun, Arini sudah menduganya. Ia telah memasang bom di seluruh lantai hotel tersebut.
"Selamat tinggal, Ayah Mertua," ucap Arini melalui telepon saat ia menekan tombol peledak dari kejauhan. Ledakan itu menghancurkan hotel dan menewaskan Hendra Wijaya. Namun, Adrian berhasil lolos.
Bab 38: Puncak Menara Atmadja
Adrian menyerbu gedung A.A. Holdings. Ia ingin mengakhiri ini semua di tempat kekuasaan Arini bermula. Terjadi pertarungan berdarah di lantai paling atas. Arini bertarung dengan Adrian menggunakan pisau lipat yang dulu milik Reihan.
"Kau hanyalah bayangan Reihan!" teriak Arini saat ia berhasil menikam perut Adrian.
Adrian tersenyum sambil memuntahkan darah. "Dan kau... kau adalah versi sempurna dari Ayah kita. Selamat, Arini. Kau menang... tapi kau akan selamanya sendirian."
Adrian melompat dari lantai 50, memilih mati daripada ditangkap. Arini berdiri di tepi balkon, menatap tubuh saudaranya yang jatuh, sementara Bima berdiri di belakangnya dengan tatapan penuh kengerian.
Bab 39: Retaknya Sang Pelindung
Bima tidak bisa lagi menahan kegelapan yang mengelilingi Arini. Ia melihat Arini membunuh dengan dingin, memanipulasi orang dengan kejam, dan menjadi tiran yang lebih buruk dari Reihan.
"Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Arini," ucap Bima dengan suara hancur. "Wanita yang kucintai dulu sudah mati. Sekarang yang tersisa hanyalah monster."
Bima mengemasi barang-barangnya. Arini menatapnya dengan mata es. "Jika kau pergi, kau tidak akan pernah bisa kembali, Bima. Kau tahu terlalu banyak."
Bima berhenti di depan pintu. "Lakukanlah jika kau harus membunuhku, Arini. Setidaknya itu akan mengakhiri penderitaanku melihatmu menjadi iblis."
Arini memegang pistolnya, namun ia tidak sanggup menarik pelatuknya. Bima pergi, meninggalkan Arini sendirian di menara gadingnya.
Bab 40: Ratu yang Terkutuk
Arini duduk di kursi kerjanya, menatap kota Jakarta yang berkilau di bawahnya. Ia memiliki segalanya—kekayaan yang tak habis, kekuasaan yang absolut, dan musuh yang telah sirna. Namun, ia tidak memiliki siapapun.
Ia meraba lehernya, di mana bekas luka dari Reihan masih ada. Ia melihat cermin dan menyadari bahwa ia telah menjadi apa yang paling ia benci.
Tiba-tiba, interkomnya berbunyi. "Nona Arini, ada seorang pria di bawah yang ingin bertemu. Dia mengaku memiliki pesan dari seseorang yang mengaku sebagai 'Putra Anda'."
Arini mematung. Putranya? Bukankah bayinya sudah mati? Atau adakah rahasia lain yang disimpan Reihan dan para dokternya selama ini?
Bab 41: Warisan Terlarang
Arini turun ke lobi dan menemukan seorang anak laki-laki berusia sekitar satu tahun yang digendong oleh seorang suster tua. Suster itu menyerahkan sepucuk surat dengan tulisan tangan Reihan yang sangat rapi.
"Janin itu tidak mati, Arini. Aku memindahkanmu ke fasilitas operasi rahasia saat kau pingsan malam itu dan mengambilnya melalui prosedur prematur ekstrem. Dia adalah masa depan kita. Dia adalah kiamat bagi dunia ini. Namanya adalah... Lucifer Atmadja Dirgantara."
Arini menatap anak itu. Mata anak itu sangat mirip dengan mata Reihan—dingin, cerdas, dan penuh benih kegilaan. Arini menggendong anak itu, merasakan detak jantungnya yang kuat.
"Selamat datang di neraka, Sayang," bisik Arini.
Ia menyadari bahwa perang belum berakhir. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, ia akan membesarkan monster yang akan memastikan bahwa dinasti Atmadja tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapapun.