Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Yang Telah Dirancang
Lampu-lampu jalan mulai menyala dengan terang menerangi jalan Ciumbuleuit ketika Ridwan bersiap untuk pergi dari toko Wijaya Buku. Namun sebelum dia bisa melangkah keluar, Pak Joko menarik lengannya dengan lembut, wajahnya menunjukkan ekspresi yang lebih serius dari sebelumnya.
“Tunggu sebentar, nak,” ujar Pak Joko dengan suara yang penuh dengan makna. “Ada hal lain yang harus kamu ketahui—hal-hal yang terjadi setelah kematian Dewi dan bagaimana mereka berhasil mengambil alih seluruh kendali atas perusahaan dan keluarga kamu.”
Ridwan segera kembali duduk di kursi kayu yang telah mereka gunakan sebelumnya, matanya penuh dengan perhatian dan tekad untuk mengetahui semua kebenaran. Pak Joko mengambil gelas air lagi dan meminumnya dengan perlahan, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk memberitakan hal-hal yang menyakitkan.
“Setelah Dewi wafat, Budi tidak membutuhkan waktu lama untuk menikahi Ratna,” mulai Pak Joko dengan suara yang penuh dengan kemarahan tersembunyi. “Hanya dalam waktu tiga bulan setelah kematian Dewi, mereka mengadakan pernikahan kecil namun mewah di rumah mereka yang terletak di kawasan elit Bandung. Mereka menggunakan uang perusahaan untuk membiayai pernikahan tersebut—uang yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan perusahaan yang didirikan oleh Dewi dengan kerja keras.”
Ridwan merasa jantungnya berdebar kencang. Bagaimana bisa ayahnya melakukan hal seperti itu? Bagaimana bisa dia begitu cepat melupakan ibunya dan menikahi wanita yang telah membunuhnya?
“Setelah menikah, Ratna secara resmi menjadi istri kedua Budi dan langsung mengambil alih posisi sebagai Direktur Utama di PT. Dewi Santoso,” lanjut Pak Joko dengan suara yang jelas dan tegas. “Dia menggantikan posisi Dewi dan mulai melakukan perubahan besar-besaran di dalam perusahaan. Semua karyawan yang setia kepada Dewi atau yang mengetahui tentang kecurigaan kita terhadap dia dipecat atau dipindahkan ke posisi yang tidak penting.”
Dia kemudian mengambil selembar dokumen dari kotak kayu yang telah diberikan kepada Ridwan. “Yang lebih menyakitkan adalah tentang Rio,” katanya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Budi mengumumkan bahwa Rio—anak tirinya dari hubungan sebelumnya—akan menjadi penerus tunggal perusahaan dan seluruh hartanya. Mereka menyatakan bahwa kamu telah pergi hilang dan dianggap sudah tidak ada lagi, sehingga tidak memiliki hak apapun untuk menjadi ahli waris.”
Ridwan merasa darahnya mendidih dengan kemarahan yang luar biasa. Rio—saudara tirinya yang pernah membawa dia ke hutan dengan niat jahat—sekarang akan menjadi penerus perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya. Semua yang telah dibangun oleh ibunya dengan kerja keras selama bertahun-tahun akan jatuh ke tangan orang yang telah mencoba membunuhnya.
“Bagaimana mereka bisa melakukan hal seperti itu, Pak?” tanya Ridwan dengan suara yang sedikit gemetar namun penuh dengan tekad. “Mengapa tidak ada orang yang menentang keputusan mereka atau meminta pertanggungjawaban?”
Pak Joko menggeleng-geleng kepala dengan penuh kesedihan. “Pada saat itu, mereka sudah memiliki kendali penuh atas perusahaan dan telah membayar banyak orang untuk mendukung keputusan mereka,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Mereka juga menyebarkan berita bohong bahwa kamu telah lari dari rumah dan tidak ingin kembali, sehingga keluarga Wijaya tidak bisa menemukanmu meskipun mereka telah melakukan pencarian yang cukup ekstensif.”
Dia kemudian melihat langsung ke mata Ridwan dengan ekspresi yang sangat serius. “Mereka juga melakukan perubahan besar pada struktur perusahaan,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Mereka mengubah nama beberapa produk yang dibuat oleh Dewi, menghapus semua referensi tentang keluarga Wijaya dari materi promosi perusahaan, dan bahkan mencoba menghapus nama Dewi dari nama perusahaan—hanya karena adanya tekanan dari beberapa pihak yang masih mengenal kontribusi Dewi yang sebenarnya.”
Ridwan merasa tekad yang kuat membara di dalam dirinya. Ia tidak akan membiarkan mereka menghapus jejak ibunya dari perusahaan yang telah dibangun dengan darah dan keringatnya. Ia akan mengambil kembali haknya yang telah dirampas dan memastikan bahwa nama ibunya akan selalu dikenang sebagai pendiri perusahaan yang besar itu.
“Tetapi ada baiknya kamu tahu juga, nak,” lanjut Pak Joko dengan suara yang sedikit lebih ringan. “Banyak karyawan lama yang masih bekerja di perusahaan dan masih mengingat kontribusi Dewi yang sebenarnya. Mereka tidak bisa berbicara karena takut akan keselamatan diri mereka dan keluarganya, tapi mereka akan senang membantu kamu jika kamu bisa memberikan bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa kamu adalah ahli waris sah perusahaan tersebut.”
Dia kemudian mengambil sebuah kartu nama dari saku jasnya dan memberikannya kepada Ridwan. “Ini adalah nama dan nomor telepon salah satu karyawan lama yang masih bekerja di departemen riset dan pengembangan perusahaan,” katanya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Namanya Bu Sri Wahyuni—dia bekerja dengan Dewi selama bertahun-tahun dalam mengembangkan resep obat-obatan tradisional yang menjadi keunggulan perusahaan. Dia tahu segalanya tentang produk-produk tersebut dan akan bisa memberikan bukti tambahan tentang kontribusi Dewi yang sebenarnya.”
Ridwan menerima kartu nama tersebut dengan hati-hati, menyimpannya dengan aman di dalam amplop berisi alamat keluarga Wijaya. “Terima kasih banyak, Pak Joko,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Semua informasi yang Pak berikan akan sangat membantu saya dalam perjalanan untuk mendapatkan keadilan bagi ibunya.”
Pak Joko mengangguk perlahan, menepuk bahu Ridwan dengan lembut. “Saya sudah menghubungi Pak Wijaya melalui telepon rahasia,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Saya memberitahunya bahwa kamu telah ditemukan dan akan datang menemukannya besok pagi pukul sepuluh pagi tepat. Dia sangat senang mendengar kabar ini dan telah menyiapkan segala sesuatu untuk menerima kamu dengan hangat.”
Dia kemudian berdiri dari kursinya dan mengantar Ridwan ke pintu toko. “Saya akan mengikuti kamu ke rumah Pak Wijaya besok pagi,” lanjutnya dengan suara yang penuh dengan komitmen. “Saya akan membawa semua bukti yang saya miliki dan akan bersedia menjadi saksi untuk kamu di pengadilan jika diperlukan. Dewi telah melakukan begitu banyak hal untuk saya dan untuk perusahaan, sekarang saatnya saya membayarkannya dengan membantu kamu mendapatkan keadilan yang kamu pantaskan.”
Ridwan merasa hati-nya penuh dengan harapan dan tekad yang semakin kuat. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan dan kesendirian, akhirnya dia akan bisa bertemu dengan keluarga ibunya yang sebenarnya dan bekerja sama dengan mereka untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
“Semoga besok menjadi hari yang mengubah segalanya, Pak,” ujar Ridwan dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Semoga kita bisa memberikan keadilan bagi ibunya dan memastikan bahwa orang-orang yang bersalah akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.”
Pak Joko hanya tersenyum lembut, membuka pintu toko dengan hati-hati untuk Ridwan. “Semoga begitu, nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Dewi akan selalu mengawasimu dari surga, dan saya tahu bahwa kamu akan berhasil dalam apa yang kamu lakukan. Kita akan melihatnya besok pagi.”
Dengan langkah yang mantap dan penuh dengan tekad, Ridwan keluar dari toko Wijaya Buku dan menuju ke arah penginapan kecil yang telah disarankan oleh Pak Joko. Di jalan, dia melihat iklan-iklan PT. Dewi Santoso yang masih tampak di setiap sudut kota, tapi kali ini dia melihatnya dengan pandangan yang berbeda—pandangan yang penuh dengan tekad untuk mengembalikan kejayaan perusahaan tersebut ke tangan yang benar dan untuk memastikan bahwa nama ibunya akan selalu dikenang sebagai orang yang benar-benar membangunnya.
Malam semakin larut, dan kota Bandung mulai tenang dengan suara kendaraan yang semakin berkurang. Ridwan masuk ke dalam penginapan kecil tersebut, meletakkan tas kanvasnya dan kotak kayu berisi bukti-bukti penting di atas ranjang. Dia melihat ke arah cincin warisan keluarga yang dikenakan di jari kirinya, kemudian melihat ke arah jendela yang menghadap ke arah rumah keluarga Wijaya yang akan dia kunjungi besok pagi. Dia tahu bahwa perjalanan yang akan dia tempuh besok tidak akan mudah, tapi dengan dukungan Pak Joko, keluarga Wijaya, dan tekad yang kuat untuk menemukan kebenaran, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan dan keberanian yang dibutuhkan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.