Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Puncak Kepalsuan
Setelah malam yang memalukan di hotel berbintang itu, tubuh Sinta akhirnya menyerah. Stres yang bertumpuk, tekanan di kantor, rasa malu yang tertahan, ditambah diet ketat demi bisa membayar hutang-hutang Rangga, membuat imun tubuhnya ambruk.
Pagi itu, Sinta tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Kepalanya terasa berputar hebat, dan suhu tubuhnya sangat tinggi. Dengan tangan gemetar, ia mencoba meraba sisi tempat tidurnya, berharap Rangga ada di sana untuk setidaknya memberinya segelas air.
Tapi, sisi tempat tidur itu dingin. Rangga tidak ada.
Sinta menyeret langkahnya ke lantai dua, menuju studio darurat. Ia berharap Rangga sedang tertidur di sana setelah latihan semalam. Tapi studio itu kosong. Alat-alat DJ yang disewa Sinta masih menyala, mengeluarkan suara dengung statis yang menyakitkan telinga Sinta.
Ia turun kembali ke bawah dan menemukan secarik kertas di meja makan.
"Sin, aku pergi ke Jakarta dulu. Ada teman yang bilang ada slot main di klub besar malam ini. Aku butuh uang buat ganti uang emasmu kemarin. Doakan aku sukses ya! Aku bawa uang di laci dapur sedikit buat ongkos bensin. Love, Rangga."
Sinta terduduk lemas di lantai dapur. Uang di laci dapur itu adalah uang terakhirnya untuk bertahan hidup sampai gajian minggu depan. Rangga membawanya tanpa sisa, meninggalkannya yang sedang menggigil sendirian di rumah.
...----------------...
Tiga hari berlalu, dan kondisi Sinta semakin memburuk. Ia didiagnosa terkena gejala tipus. Karena tidak ada yang mengurus, Sinta terpaksa menelepon Tantenya di desa untuk datang, tapi sang Tante sedang sakit sakitan. Akhirnya, dalam keputusasaannya, Sinta mengirim pesan ke grup kantor: "Teman-teman, maaf aku izin lagi. Aku masuk rumah sakit. Kalau ada berkas yang butuh tanda tangan, tolong dikabari ya."
Hanya Mbak Sari yang merespons dengan datang menjenguk.
Senja? Senja hanya membaca pesan itu di grup tanpa memberikan komentar apa pun. Ia tahu, jika ia datang, itu hanya akan memberi ruang bagi Sinta untuk kembali merasa "dikasihani" atau justru merasa "diserang".
Mbak Sari datang ke bangsal kelas dua tempat Sinta dirawat. Sari terperanjat melihat kondisi Sinta yang sangat kurus dan pucat.
"Sin... kamu kok sampai begini?" Sari meletakkan buah-buahan di meja samping tempat tidur. "Mana Rangga? Kenapa dia nggak nungguin kamu?"
"Harusnya di saat kaya gini, dia ada di sini nemenin kamu, Sin."
Sinta mencoba tersenyum, meski bibirnya pecah-pecah. "Mas Rangga lagi ada job di Jakarta, Mbak. Dia lagi berjuang buat masa depan kami. Dia sedih banget sebenarnya pas tahu aku sakit, tapi aku yang suruh dia tetap pergi. Kesempatan nggak datang dua kali, kan?"
Sari menatap Sinta dengan pandangan tak percaya. "Masih saja membela dia," batin Sari.
"Sin, denger ya. Tadi malam, salah satu teman kita yang lagi liburan di Jakarta ngelihat Rangga di mall mewah. Dia nggak kelihatan kayak orang lagi kerja, Sin. Dia lagi gandeng cewek, masuk ke toko tas bermerek. Apa itu yang kamu bilang lagi 'berjuang'?"
Sinta terdiam. Jantungnya berdegup kencang, tapi otaknya langsung bekerja keras mencari alasan.
"Mungkin itu kliennya, Mbak. Atau promotor acaranya. Jakarta kan keras, Mas Rangga harus pintar-pintar menjamu orang."
"Menjamu orang pakai uang siapa, Sinta?! Uangmu habis, emas ibumu habis, sekarang kamu sakit di sini sendirian pakai fasilitas BPJS karena tabunganmu nol, dan kamu masih bilang itu investasi?!" Sari berdiri, suaranya naik satu oktav karena gemas luar biasa.
"Sinta, sadar! Kamu itu bukan arsitek lagi sekarang, kamu itu cuma pelayan gratisan buat dia!"
"Mbak Sari nggak tahu apa-apa!" Sinta berteriak dengan sisa tenaganya. "Mbak cuma mau lihat aku gagal kan? Mbak mau aku kayak Senja yang nggak punya hati? Aku nggak akan menyerah sama Mas Rangga. Dia orang baik!"
Sari hanya bisa menghela napas panjang, ia mengambil tasnya.
"Oke, Sin. Aku nggak akan bicara lagi. Tapi inget ya, biaya rumah sakit ini... kalau kamu nggak bisa bayar, jangan telepon Senja. Senja sudah cukup muak namanya diseret-seret dalam drama bodoh ini."
Setelah Sari pergi, Sinta menangis sesenggukan. Ia mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Rangga. Berkali-kali ia menelepon, tapi panggilannya dialihkan.
Baru pada jam dua pagi, Rangga menelepon balik. Suaranya terdengar sangat ceria, ada suara musik kencang di latar belakang.
"Halo, Sin? Ada apa? Aku lagi sibuk banget nih, banyak produser yang mau kenalan," ucap Rangga tanpa menanyakan kabar Sinta sedikit pun.
"Mas... aku di rumah sakit. Mas kapan pulang?" tanya Sinta pelan.
"Hah? Rumah sakit? Kok bisa? Aduh, sayang banget ya. Aku nggak bisa pulang sekarang, Sin. Ini momen krusial banget buat karirku. Kamu kan kuat, ada perawat juga di sana kan? Pakai asuransi saja dulu ya. Aku tutup ya, suaranya berisik banget di sini. Bye!"
Klik.
Sinta menatap layar ponselnya yang gelap. Ia baru saja "dibuang" secara verbal di saat ia paling membutuhkan.
Tapi, tahukah kalian apa yang dilakukan Sinta?
Ia membuka akun Instagram-nya, lalu mengunggah foto tangannya yang sedang diinfus dengan caption:
"Terima kasih dukungannya dari jauh, Mas @Rangga_DJ. Meskipun kita terpisah jarak demi masa depan, doamu sampai ke sini. Semangat kerjanya di Jakarta, aku bangga sama kamu!"
Sinta sedang membangun monumen kepalsuan di atas luka-lukanya sendiri. Ia tidak peduli jika hatinya hancur, asalkan dunia (dan terutama Senja) melihat bahwa pilihannya tidak salah.
Pilihannya menolong Rangga adalah keputusan yang benar, yang suatu saat nanti ia yakini, Rangga akan berubah di bawah tangannya.
Sementara itu, Senja yang melihat postingan itu dari rumahnya hanya bisa mengusap dahi. Ia sedang mengerjakan revisi desain hotelnya yang bernilai miliaran.
"Kasihan sekali kamu, Sinta," gumam Senja.
"Kamu pikir dengan membohongi dunia, kamu bisa membohongi takdirmu sendiri? Sayangnya, kenyataan tidak butuh caption Instagram untuk menghancurkan kamu."
Senja menutup laptopnya, lalu beranjak tidur di kasurnya yang empuk dan luas. Sendirian, tapi tenang. Tanpa parasit, tanpa kebohongan.
awas jangan smpai nyesel iya
rangga udah keterlaluan
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses