Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Hutan Wanagama dan Meja Perjamuan
Perjalanan dari Kotagede menuju Hutan Wanagama di Gunung Kidul memakan waktu hampir satu jam, namun bagi Alya, rasanya seperti perjalanan menuju ujung dunia.
Motor tua Seno menderu mendaki jalanan berkelok Bukit Bintang. Langit di barat sudah berubah menjadi ungu pekat, memar oleh senja yang sekarat. Saat mereka berbelok masuk ke gerbang hutan Wanagama, matahari benar-benar tenggelam. Azan Maghrib berkumandang sayup-sayup dari kejauhan, tapi suaranya seolah tertelan oleh rimbunnya pepohonan jati yang menjulang tinggi.
Hutan Wanagama adalah hutan penelitian, hutan buatan yang sukses menghijaukan bukit tandus. Tapi malam ini, di Jumat Kliwon, hutan ini terasa... purba.
Alya memeluk pinggang Seno erat-erat. Udara di sini berbeda. Berat, lembap, dan berbau humus yang menyengat. Lampu motor Seno adalah satu-satunya sumber cahaya yang membelah kegelapan jalan setapak berbatu.
Krosak... krosak...
Suara ranting patah terdengar di kiri-kanan jalan. Mata-mata kuning kecil memantulkan cahaya lampu motor dari balik semak belukar. Musang? Burung hantu? Atau sesuatu yang lain?
Seno membelokkan motornya ke sebuah jalan tanah sempit yang tidak terlihat di peta Google Maps. Jalan ini tertutup ilalang tinggi. Motor berguncang hebat.
Tiba-tiba, mesin motor mati.
Hening.
Alya turun dengan kaki gemetar. "Mogok, Pak?"
Seno menggeleng. Dia menstandarkan motornya, lalu menunjuk ke depan.
SUDAH SAMPAI. DARI SINI KITA JALAN KAKI. MESIN TIDAK BOLEH MASUK AREA SAKRAL.
Mereka menurunkan keranjang anyaman berisi peralatan masak. Seno memanggul kompor anglo dan arang, sementara Alya membawa bahan-bahan masakan.
Mereka berjalan kaki menembus semak-semak selama lima menit. Alya terus meraba pisau Beras Wutah di pinggangnya, mencoba mencari rasa aman.
Kemudian, hutan itu terbuka.
Mereka sampai di sebuah clearing (tanah lapang) di tengah hutan. Di atas mereka, tajuk-tajuk pohon jati saling bertaut membentuk kanopi alami yang menutupi langit, membuat tempat itu gelap gulita.
Namun, anehnya, tempat itu tidak gelap.
Ada ratusan kunang-kunang yang terbang rendah, memancarkan cahaya hijau pucat yang eerie. Dan di tengah tanah lapang itu, diterangi cahaya obor yang apinya berwarna biru, berdiri sebuah meja panjang.
Meja itu terbuat dari kayu jati utuh yang sangat besar, digosok licin hingga mengkilap hitam. Di sekeliling meja itu, duduk lima sosok bayangan.
Seno meletakkan peralatannya. Dia berdiri tegak, membusungkan dada, tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Alya bersembunyi di balik punggung Seno, mengintip.
Salah satu sosok berdiri.
Itu dia. Pria berjas hitam dan berkacamata hitam yang datang ke rumah Joglo tempo hari. Si Utusan.
Pria itu merentangkan tangannya, seolah menyambut teman lama.
"Ah, Tuan Seno. Tepat waktu. Saya suka profesionalisme Anda," suaranya yang halus dan licin menggema di tanah lapang itu. "Dan Nona Asisten juga datang. Berani sekali."
Pria itu melepas kacamata hitamnya.
Alya menahan napas.
Matanya tidak ada. Rongga matanya kosong, tapi di dalamnya ada api kecil yang menyala.
"Perkenalkan, saya Jaka, manajer akun Anda di Ordo Penagih Janji," katanya sambil membungkuk teatrikal. "Dan ini adalah para Direksi."
Jaka menunjuk empat sosok lain yang masih duduk.
Mereka tidak berwujud manusia normal.
Sosok pertama adalah gumpalan asap hitam yang membentuk siluet pria gemuk berdasi (Tuyul Raja).
Sosok kedua adalah wanita cantik dengan punggung berlubang yang ditutupi selendang sutra (Ratu Sundel).
Sosok ketiga adalah raksasa berbulu lebat yang memakai jas kekecilan (Genderuwo Ningrat).
Dan sosok keempat... sosok itu hanya berupa kerangka manusia yang memakai jubah hakim (Jaksa Akhirat).
Mereka adalah petinggi dunia gaib lokal. Para penguasa wilayah.
"Tantangannya sederhana," kata Jaka, menjentikkan jarinya.
Sebuah piring kosong muncul di depan sosok kelima, sebuah kursi kosong di ujung meja yang paling besar dan megah. Kursi itu terbuat dari tulang belulang.
"Tamu Kehormatan kita belum datang," lanjut Jaka. "Dia adalah Banaspati Raja. Penguasa elemen api hutan ini. Dia sedang... bad mood. Dia lapar. Dan dia sangat, sangat pemilih."
Jaka berjalan mendekati Seno, wajahnya yang tanpa mata itu mendekat ke wajah Seno.
"Tugasmu adalah memasak hidangan yang bisa memadamkan amarah Banaspati Raja. Jika dia kenyang dan senang, kontrakmu diperpanjang satu tahun. Jika dia tidak suka... yah, dia akan memakanmu dan gadis kecil itu sebagai ganti dessert."
Seno tidak berkedip. Dia menatap api di rongga mata Jaka, lalu mengangguk sekali.
Seno berbalik badan, menatap Alya. Wajahnya serius.
Dia memberi isyarat tangan cepat: Pasang dapur. Sekarang.
Alya bergerak cepat. Adrenalin mengalahkan rasa takutnya. Dia menggelar tikar, menyusun bumbu-bumbu, mengeluarkan talenan, dan menyiapkan pisau.
Seno menyalakan arang di anglo tanah liatnya.
Krek... Fwoosh.
Api menyala.
"Apa yang akan dimasak, Koki Bisu?" ejek Genderuwo Ningrat dengan suara berat yang membuat tanah bergetar. "Daging manusia? Itu favoritku."
Seno mengabaikan provokasi itu. Dia mengeluarkan bungkusan daun pisang berlapis-lapis.
Dia membukanya.
Bau amis darah yang tajam langsung menyeruak, bercampur dengan bau rempah fermentasi.
Hati Sapi yang sudah dimarinasi dengan Terasi Udang Rebon Merah berusia 10 tahun.
Seno meletakkan hati itu di talenan.
Dia mengambil pisau utamanya.
Dia tidak langsung memotong. Dia memejamkan mata, memusatkan energi batinnya ke tangan kanannya. Pisau itu bergetar halus.
Tak! Tak! Tak!
Seno memotong hati itu dadu-dadu dengan presisi milimeter. Setiap potongan sama besar.
Alya di sebelahnya sibuk menggerus bumbu halus: Cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih, dan gula aren lanang. Alya mengulek dengan sekuat tenaga, menyalurkan rasa takutnya ke batu cobek.
Ulek terus, Al. Ulek kayak lu lagi ngancurin muka ayah tiri lu.
"Bumbu siap, Pak!" bisik Alya.
Seno memanaskan wajan besinya. Dia menuangkan sedikit minyak kelapa murni.
Minyak panas.
Seno memasukkan bumbu halus itu.
Cesssssssssss!
Asap pedas membubung tinggi ke udara. Aroma cabai dan terasi kuno itu meledak, memenuhi clearing hutan itu.
Para tamu hantu di meja perjamuan itu sontak menutup hidung (bagi yang punya).
"Uhuk! Bau apa ini?" protes Ratu Sundel. "Kampungan sekali. Terasi?"
Tapi Jaka tersenyum (atau setidaknya bibirnya melengkung). "Aroma yang berani."
Seno tidak peduli. Dia memasukkan potongan hati sapi. Dia mengaduknya cepat dengan teknik wok hei (api besar). Api dari anglo menyambar masuk ke wajan, membakar bumbu dan daging itu.
Seno menambahkan petai—bukan petai biasa, tapi Petai Hutan yang bijinya besar-besar dan pahit.
Lalu dia memasukkan santan kental.
Dia menurunkan panas api. Membiarkan masakan itu tanak (meresap dan berminyak).
Sambal Goreng Ati Maung.
Masakan ini bukan tentang rasa manis atau gurih biasa. Ini tentang menyeimbangkan rasa pedas yang membakar (amarah) dengan rasa gurih santan (ketenangan) dan pahit petai (kenyataan).
Lima belas menit berlalu. Masakan matang. Kuahnya kental kemerahan, berminyak indah.
Seno menuangkannya ke dalam piring saji dari kayu.
Tepat saat itu, suhu udara di hutan itu naik drastis. Daun-daun jati di atas mereka mulai layu dan menguning. Tanah menjadi panas.
Dari dalam hutan yang gelap, muncul bola api raksasa yang melayang.
Bola api itu berputar-putar, lalu memadat membentuk wajah raksasa yang terbuat dari api dan magma.
Banaspati Raja.
Panasnya luar biasa. Alis Alya terasa mau hangus.
"SIAPA YANG BERANI MEMANGGILKU?!" suara Banaspati itu seperti ledakan gunung berapi.
Jaka membungkuk hormat. "Makan malam Anda sudah siap, Yang Mulia. Persembahan dari Koki Seno."
Banaspati itu melayang mendekati meja. Lidah apinya menjilat-jilat udara.
Dia melihat piring kayu berisi Sambal Goreng Ati itu.
"MERAH..." geram Banaspati. "AKU SUKA MERAH."
Wajah api itu mendekat ke piring. Dia membuka mulutnya lebar-lebar. Dia tidak makan dengan sendok. Dia langsung menyambar isi piring itu dengan lidah apinya.
HAP!
Alya menahan napas, tangannya meremas ujung kaosnya.
Tolong enak... tolong enak...
Banaspati itu diam. Apinya berkedip-kedip. Dia mengunyah (melumat) esensi masakan itu.
Detik pertama: Api di tubuhnya membesar liar. Rasa pedas cabai rawit itu membakar amarahnya. Banaspati meraung.
"PANAS! INI MEMBAKAR!"
Jaka menyeringai. "Gagal sepertinya."
Genderuwo Ningrat sudah siap berdiri untuk menerkam Seno.
Tapi detik kedua...
Rasa gurih santan dan manis gula aren lanang mulai bekerja. Rasa itu memadamkan api amarah, menggantinya dengan kehangatan yang nyaman. Rasa pahit petai memberikan tekstur yang membuat Banaspati itu sadar akan eksistensinya.
Api liar di tubuh Banaspati perlahan mengecil. Warnanya berubah dari merah menyala menjadi oranye lembut, lalu menjadi biru tenang.
Wajah raksasa yang menyeramkan itu menyusut, berubah menjadi wujud seorang kakek tua berjubah api biru yang duduk tenang di kursi tulang itu.
Kakek api itu bersendawa. Keluar asap putih wangi terasi.
"Nikmat..." desah Banaspati. "Rasanya seperti... letusan gunung purba yang sudah tidur."
Banaspati menatap Seno.
"Kau mengerti sifat apiku, Manusia. Kau tidak memadamkannya dengan air. Kau memadamkannya dengan rasa yang lebih kuat."
Jaka terdiam. Senyumnya hilang.
Para direksi hantu lainnya tampak kecewa karena tidak jadi melihat pertunjukan pembantaian.
Banaspati menoleh ke Jaka.
"Perpanjang kontraknya. Dan jangan ganggu dia lagi sampai purnama tahun depan. Masakan ini membuatku mengantuk. Aku mau tidur."
Kakek api itu perlahan memudar, kembali menjadi bola api kecil yang terbang santai masuk kembali ke dalam hutan.
Seno menghela napas panjang, kakinya lemas. Dia menyeka keringat di dahinya.
Alya langsung terduduk di tanah saking leganya. "Kita hidup, Pak... kita hidup."
Jaka berjalan mendekati meja. Dia mengambil serbet, membersihkan sisa noda di meja yang sebenarnya bersih.
"Selamat, Tuan Seno," kata Jaka dingin. "Anda lolos ronde ini. Tapi ingat... tahun depan, seleranya akan berubah."
Jaka menatap Alya sekilas.
"Dan Nona Asisten... hati-hati. Bau Anda semakin 'lezat'. Semakin lama Anda bergaul dengan kami, semakin Anda menjadi bagian dari menu."
Jaka menjentikkan jarinya.
POOF!
Semua hantu, meja, dan obor itu lenyap dalam sekejap.
Seno dan Alya kembali berdiri sendirian di tengah hutan gelap, hanya ditemani sisa bara anglo dan suara jangkrik yang mulai berani berbunyi lagi.
Seno membereskan peralatannya dengan cepat. Dia ingin segera keluar dari hutan ini.
Dia menatap Alya, lalu mengacungkan jempol gemetar.
Alya membalasnya dengan senyum lebar meski wajahnya cemong kena arang.
Mereka berhasil.
Mereka pulang membawa kemenangan kecil. Tapi di dalam saku celana Alya, pisau Beras Wutah itu bergetar pelan, seolah memperingatkan bahwa ini baru permulaan.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
kukira ini semua akhir dari perjuangan seno.
kukira sang koki melepas nyawa😭.
damai setelah sekian purnama memendam pergolakan hidup dari ribuan kenangan dan janji yang ingin dia tepati.
satu janji sdh terbayar ..
di sisa kekuatan pada tubuh renta, bahagia di dapat , tak apa ,tak ada kata terlambat.
tetep semangat pak seno, ajari alya tentang hidup, kejam dunia bisa di lawan dengan kekuatan cinta dan keluarga.
damai...lanjutkan usaha warung nya.
semoga malam ini bukan malam terakhir buat hidangan
Bangun imajinasi ,hancurkan penhalang dan calon pencuri bubur abadi.
tanpa dendam ,haru biru menyendok makanan ajaib ,campuran dari langit dan samudera .
seperti mereka menyatu dalam kasih lembut.
cinta sekali seumur hidup.
happy valentine thor
Gulo si pemanis alami 🐵🐒
Pak Seno, chef dua dunia 👨🍳👨🍳
makin seru petualangan kalian 🥳🥳🥳
Dan jangan pernah bersinggungan lagi dengan yang ghoib, berat dan menyiksa.
pasrahkan semua ke hadapan yang Maha Kuasa.
menjalani hidup di jalur yang sudah di garis kan .
percaya lah kebahagiaan akan menemani sampai ujung usiamu.
di akhir hayat di tempat tidur yang hangat ,didampingi putri angkatmu dan keluarga ajaibmu : Gulo
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS