NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Paus Menyapa Lagi

Tujuh Tahun Kemudian...

Stasiun Gambir di sore hari adalah sebuah simfoni kekacauan yang tertata. Deru lokomotif, gesekan roda baja di atas rel, dan langkah ribuan manusia yang berpacu dengan waktu berpadu dalam ritme yang nyaris seirama. Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah suara hadir tenang, jernih, dan berwibawa, menyusup ke setiap sudut peron melalui pengeras suara.

"Pelanggan terhormat, kereta api keberangkatan eksekutif Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya Pasarturi telah tersedia di jalur dua. Mohon periksa kembali barang bawaan dan tiket Anda..."

Di dalam sebuah ruangan kedap suara dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke arah rel, Rea meletakkan mikrofonnya. Ia menghela napas panjang, merapikan seragam kemeja putihnya yang licin dengan name tag REANI yang terpasang di dada kanannya. Rambutnya yang dulu sering digerai berantakan, kini disanggul rapi.

Rea yang sekarang bukan lagi gadis SMA yang hobi menangis di halte bus. Ia adalah salah satu announcer terbaik yang dimiliki stasiun pusat ini. Suaranya adalah navigasi bagi jutaan orang, meski hatinya sendiri masih sering kehilangan arah jika nama itu tidak sengaja terlintas.

Tujuh tahun.

Waktu ternyata adalah tabib yang payah. Luka itu memang tidak lagi berdarah, tapi bekasnya masih ada, terkunci rapat di dalam gudang rumah orangtuanya di Surabaya dan di sudut terdalam ingatannya.

"Re, jadwal berikutnya kereta kargo dari arah Cirebon masuk jalur empat, ya. Jangan lupa announce buat keselamatan penumpang di peron," ujar rekan kerjanya, Maya, sambil menyodorkan segelas cup kopi.

Rea tersenyum manis. "Siap, May. Aman."

Ia menyesap kopinya perlahan. Sejak memutuskan pindah ke Jakarta, Rea menepati semua janjinya pada diri sendiri. Ia kuliah dengan ambisi yang nyaris keras kepala, lulus tepat waktu, dan langsung terjun ke dunia komunikasi.

Bekerja di KAI adalah ironi yang sengaja ia pelihara. Setiap hari, ia mengumumkan keberangkatan orang-orang menuju Surabaya, kota yang paling ia hindari, namun tak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Selesai melakukan pengumuman berikutnya, Rea kembali ke kursinya. Ia membuka tablet jadwal, memastikan tidak ada perubahan mendadak. Tangannya baru saja meraih botol minum ketika Maya kembali muncul, kali ini bersama satu rekan lain dari divisi operasional.

“Re,” panggil Maya sambil bersandar di pintu ruang announcer. “Hari ini kamu siftnya sampai malam gak?"

Rea mengangkat wajah. “Nggak. Aku selesai jam lima. Kenapa?”

“Bagus,” sahut Dimas, petugas pengendali perjalanan yang berdiri di belakang Maya. “Malam ini kita main padel, yuk.”

Rea mengernyit kecil. “Padel?”

“Iya,” Maya langsung antusias. “Olahraga baru itu loh. Lagi hits banget sekarang. Campuran tenis sama squash. Seru, sumpah. Kantor sebelah juga pada main.”

“Aku nggak jago olahraga,” Rea mencoba menolak secara halus.

Males banget dia tuh olahraga-olahragaan. Mending pulang kerja langsung tidur. Bener gak?

“Tenang,” Dimas tertawa. “Ini buat senang-senang. Kita ramean. Ada anak Humas, Operasional, masinis juga bahkan beberapa relasi luar juga ikut. Anggap aja networking.”

Rea ragu sejenak. Seperti yang Rea katakan sebelumnya. Malam-malam biasanya ia habiskan sendiri, makan cepat, pulang, istirahat lalu membiarkan sunyi bekerja. Tapi... Melihat wajah dua rekannya yang tampak memohon membuat hati Rea luluh.

“Oke,” katanya akhirnya. “Tapi aku cuma nonton kalau capek.”

“Deal!” Maya mengepalkan tangan kecil. “Jam tujuh, ya. Di PadelHub Senayan.”

________________

Lapangan padel itu terang, modern, dikelilingi dinding kaca yang memantulkan cahaya lampu malam Jakarta. Musik pelan mengalun dari speaker sudut ruangan, bercampur tawa dan suara bola yang memantul cepat.

Rea datang dengan pakaian olahraga sederhana, kaus putih, celana legging hitam, rambutnya diikat rendah. Ia berdiri agak menyamping, memegang botol minum, memperhatikan rekan-rekannya yang sudah lebih dulu memukul bola dengan semangat berlebihan.

“Rea!” Maya melambai. “Masuk tim aku aja nanti.”

Rea tersenyum kecil dan mengangguk. Ia melangkah masuk, matanya menyapu sekitar, wajah-wajah asing, obrolan ringan, suasana yang hangat.

Rea akhirnya ikut masuk ke lapangan. Raket di tangannya terasa agak canggung, tapi ia mencoba mengikuti ritme permainan. Bola datang terlalu cepat, pantulannya sering mengecoh. Beberapa kali pukulannya meleset, membuat Maya tertawa sambil mengangkat tangan.

“Gapapa, Re! Santai aja, ini bukan final Wimbledon,” seru Dimas sambil tertawa.

Belum sempat Rea membalas, seorang pria yang berdiri di sisi lapangan melangkah mendekat. Seragam olahraganya rapi, gerakannya tenang, auranya khas orang yang terbiasa memegang kendali.

“Pegangannya agak dilonggarin dikit, Re,” katanya ramah. “Terus jangan nunggu bolanya, samperin.”

Rea menoleh. “Oh… gitu?”

“Iya. Nih,” ia mengambil posisi di samping Rea, menjaga jarak sopan. “Kalau pantulannya ke sini, langkah kaki dulu, baru ayun.”

Namanya Arga. Salah satu masinis KAI. Teman Dimas. Dan yang tidak Rea ketahui atau pura-pura tidak di sadari sudah lama menyimpan rasa padanya.

Rea mencoba lagi. Kali ini pukulannya tidak sempurna, tapi bola berhasil menyeberang net.

“Nah! Itu udah bener,” Arga tersenyum. Senyum yang begitu tulus.

Rea ikut tertawa kecil. “Ternyata dari tadi aku salah teknik ya, Mas.”

“Belajar pelan-pelan,” jawab Arga ringan. “Yang penting enjoy.”

Dan Rea memang menikmatinya. Untuk beberapa menit, ia lupa segalanya. Tidak ada stasiun. Tidak ada jadwal keberangkatan. Tidak ada nama yang pernah membuat dadanya sesak. Hanya tawa, napas terengah, dan rasa capek yang menyenangkan.

Sampai akhirnya ia mengangkat raket, menyerah.

“Oke, aku break dulu,” katanya sambil tertawa. “Paru-paruku protes.”

Rea keluar dari lapangan dan menuju bangku tribun kecil. Ia duduk, menyandarkan punggung, membuka tutup botol minum, lalu menenggak air panjang-panjang. Keringat di pelipisnya mengalir, pipinya memerah, tapi wajahnya ringan.

Dari sana, ia menonton teman-temannya yang masih bermain. Justru setelah ia keluar, permainan jadi semakin kacau. Dimas salah pukul dan hampir jatuh. Maya berteriak terlalu cepat, padahal bolanya masih melambung jauh.

“Ya ampun, itu bola masih di udara!” Rea tertawa sambil menutup mulutnya.

Tawanya lepas.

Di belakangnya ada tiga pria yang juga sedang istirahat. Mereka duduk santai di bangku yang sama, raket disandarkan, handuk kecil mengalung di leher, napas masih tersisa dari permainan barusan. Obrolan mereka terdengar samar, bercampur tawa rendah dan bunyi bola yang terus memantul di lapangan.

“Gila, udah lama nggak main, napas gue langsung ngibrit,” salah satu pria itu mengeluh sambil menyandarkan tubuhnya ke bangku tribun yang ada di belakangnya.

Tawa pelan terdengar dari salah satu pria yang duduk di tengah. Ia membuka pelindung pergelangan tangannya, lalu menyeka keringat di leher dengan handuk kecil. Seragam olahraganya sederhana, kaus gelap, celana training pendek, tapi posturnya lebih tegap dari yang lain. Bahunya lebar, tampak tenang, tatapannya menyapu lapangan.

“Kau itu kebanyakan gaya, Ran,” sahut pria satunya lagi, sambil meneguk minum. “Main padel bukan inspeksi kapal. Santai dikit napa.”

“Gue santai,” bantahnya. “Yang nggak santai itu lo, dari tadi teriak mulu.”

Pria yang di tengah hanya mendengarkan obrolan keduanya.

“Bang,” Temannya yang di sebelah kanan meliriknya. “Lo kok anteng banget. Biasanya paling banyak komentar.”

“Capek,” jawab pria di tengah singkat.

Pria di pinggir kiri menyeringai. “Wah, tanda-tanda usia jompo, nih.”

Pria di tengah hanya menggeleng kecil. Ia meraih botol minumnya, meneguk beberapa kali, lalu menyandarkan punggung. Pandangannya lepas, mengikuti bola yang memantul cepat di balik dinding kaca lapangan.

Dan di situlah...

Di sela cahaya lampu dan bayangan orang-orang yang bergerak, ada satu sosok yang tampak familiar di matanya.

Seorang perempuan duduk di bangku tribun tepat di depannya. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai lepas membingkai wajahnya. Ia tertawa, tawa yang ringan, tanpa beban, seolah dunia sedang baik-baik saja padanya.

Pria itu menegang.

Ia mencondongkan tubuh sedikit, mencoba memastikan. Jika ia tak salah mengenali orang.

Dan tanpa sadar, suaranya keluar lebih dulu daripada pikirannya.

“Rea?”

Satu panggilan. Pelan. Tapi cukup untuk membelah waktu.

Tawa perempuan di depannya kontan terhenti di tenggorokan saat itu juga.

Suara itu... Meski pelan dan tampak ragu, meski lebih dewasa dan lebih berat, tapi terlalu familiar untuk disangkal.

Jari-jari Rea mengencang di botol minum. Beberapa detik ia tidak bergerak, seolah otaknya membutuhkan waktu ekstra untuk memproses satu nama yang seharusnya sudah selesai sejak lama.

Tidak mungkin orang itu ada di sini.

Ya, walaupun begitu ia tetap menyangkalnya.

Rea pun menoleh perlahan untuk memastikan kalau itu bukan suara dari orang itu.

Dan seketika itu juga dunia yang barusan riuh, terang, dan hangat mendadak menyempit, seolah ditarik paksa menjadi satu titik.

Kadewa.

Ya, pria itu adalah Kadewa.

Duduk dua bangku di belakangnya, dengan dua pria lainnya.

Mengenakan kaos olahraga gelap yang tampak melekat di tubuhnya, rambutnya sedikit lebih panjang dari yang terakhir Rea ingat, rahangnya lebih tegas, bahunya lebih lebar. Tidak lagi ada seragam taruna cokelat. Tidak ada lagi remaja yang berdiri di depan AAL tanpa tahu malu sambil bercumbu mesra dengan perempuan lain.

Ia tampak… dewasa.

Dan entah kenapa, itu justru lebih menyakitkan.

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.

Rea masih duduk di tempatnya, dengan botol minum di tangan, napas yang belum sepenuhnya kembali normal karena olahraga atau karena jantungnya tiba-tiba lupa cara berdetak dengan wajar.

Jantungnya mengulah lagi.

“Oh,” ucap Rea akhirnya.

Hanya itu.

Satu suku kata datar. Tidak ada senyum. Tidak ada keterkejutan berlebihan. Tidak ada sapaan hangat seperti yang mungkin pernah ia latih dalam imajinasinya dan kemudian ia simpan rapat bersama boneka paus, boneka anak ayam dan buku harian.

Kadewa sendiri tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil, senyum yang sama seperti dulu. Ramah. Ringan. Seolah pertemuan ini hanyalah kebetulan menyenangkan, bukan sesuatu yang pernah menghancurkan seseorang secara diam-diam.

“Kamu… Rea, kan?” katanya memastikan, nada suaranya langsung berubah ringan. “Adiknya Pram?”

Rea mengangguk pelan. “Iya.”

Sunyi lagi.

Di lapangan, suara bola masih memantul. Tawa masih pecah. Musik masih mengalun. Tapi di antara mereka, waktu seolah berhenti di satu titik yang canggung dan rapuh.

Kadewa menyeka wajahnya sekali lagi, lalu berdiri dan berjalan mendekat, bermaksud duduk di bangku yang sama.

Tapi rekasi Rea langsung bergeser. Tidak banyak. Tapi cukup jelas. Sejauh yang ia bisa tanpa harus berdiri.

Jauh dari radar itu.

Jauh dari kesalahan yang dulu hampir menenggelamkannya.

Rea tidak ingin jadi korban paus darat itu lagi.

Dan reaksi itu membuat mulut Kadewa setengah terbuka, setengah heran, setengah tak percaya. Lalu mendengus dan mengatupkan bibirnya, ia

Berdecih kecil.

“Eh?” katanya ringan. “Tujuh tahun kita nggak ketemu, loh, Re.”

Ia menoleh penuh, nada suaranya tetap ceria, tanpa sadar bahwa bagi Rea, setiap katanya adalah pengingat.

“Apa gini caramu nyapa aku?”

Rea menatap ke depan. Ke lapangan. Ke pantulan cahaya di dinding kaca. Ke apa saja, asal bukan ke wajah itu.

Tangannya mengeratkan genggaman pada botol minum. Dingin plastiknya sedikit membantu menahan sesuatu yang hendak naik ke tenggorokan.

“Kita nggak pernah sedekat itu untuk saling nyapa."

Bibir yang tadi sudah mengatup kembali menganga.

Sebagai pria yang terbiasa diterima dengan baik oleh siapa pun karena sifatnya yang ramah, penolakan Rea barusan terasa seperti siraman air es tepat di wajahnya.

Dan tadi apa katanya?

Tidak sedekat itu?

“Wow,” ia terkekeh pendek, refleks. Bukan karena lucu, tapi karena canggung. Tangannya terangkat mengusap tengkuk yang basah oleh keringat, gestur kecil yang jarang ia lakukan.

“Oke, oke,” lanjutnya, masih dengan nada ceria yang ia paksakan, mencoba mengembalikan ritme yang terasa pincang. “Tujuh tahun itu lama, sih. Bisa jadi kamu pangling…”

Ia melirik Rea sekilas, lalu kembali menatap lapangan.

“Atau mungkin kamu lagi capek habis main,” tambahnya ringan, seolah itu penjelasan paling masuk akal. Seolah jarak di antara mereka hanyalah soal lelah dan waktu, bukan sesuatu yang pernah patah diam-diam.

Kadewa tidak tahu.

Dan justru ketidaktahuan itulah yang membuat Rea semakin mengeratkan batas yang ia pasang sejak awal.

Kadewa menghela napas kecil, lalu bertanya, nadanya santai seperti obrolan biasa, terlalu biasa untuk konteks yang salah.

“Kapan hari libur pertama kamu jadi mahasiswi?”

Pertanyaan itu sederhana.

Ia akhirnya menoleh. Bukan untuk menatap mata Kadewa, melainkan sekadar memastikan pria itu benar-benar sedang berbicara kepadanya. Lalu pandangannya kembali lurus ke depan.

“Gak tahu,” jawabnya singkat. “Gak ingat.”

Ada jeda tipis.

Kadewa tidak langsung menimpali. Ia mengangguk pelan, seperti sedang menyusun potongan yang tidak pernah pas sejak tadi. Lalu ia bicara lagi, masih dengan nada yang sama, ringan, logis, seolah semua ini bisa dijelaskan dengan satu alasan sederhana.

“Pas aku pelantikan jadi perwira pertama,” katanya, “kamu pasti lagi libur tahun baru. Itu kan awal tahun.”

Ia tersenyum kecil, senyum yang biasanya berhasil meluluhkan suasana.

“Aku sampai minta Pram buat ajak kamu. Tapi kamu nggak ikut,” lanjutnya, lalu menoleh ke arah Rea. “Kenapa?”

Rea menarik napas perlahan.

Tangannya yang sejak tadi memegang botol minum kini turun ke sisi tubuh. Bahunya tetap tegak. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diseret ke masa lalu yang ia kubur rapi.

“Aku memang nggak pulang ke Surabaya karena cuma libur sebentar," jawabnya akhirnya.

Kadewa mengangguk-anggukkan kepala, seperti menerima penjelasan itu. Namun detik berikutnya, ia mendecih kecil, lalu tersenyum miring, bukan mengejek, lebih seperti heran yang tertahan.

“Tujuh tahun, Re,” katanya pelan, tapi tekanannya terasa. “Tujuh tahun kamu nggak pernah nampakin batang hidung ke aku.”

Ia menoleh penuh kali ini, menatap Rea lebih lama dari sebelumnya.

“Padahal aku dinas juga masih di sekitar Surabaya waktu itu,” lanjutnya. “Bukan sekali dua kali.”

Nada suaranya tetap ringan, nyaris bercanda. Tapi ada sesuatu yang menyelip di sela-selanya, bingung yang jujur.

“Aku jadi mikir,” katanya lagi, terkekeh kecil seolah menertawakan dirinya sendiri, “apa aku punya salah sama kamu?”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang masih berusaha santai, meski pernyataannya jelas bukan hal sepele.

“Sampai nomor WhatsApp ku kamu blok,” ucapnya. “Padahal sama Jojo kamu masih sering komunikasi. Sampai sekarang.”

Ia mengangkat bahu kecil, gestur yang tampak ringan tapi menyimpan tanda tanya besar.

“Aku cuma pengin tahu, Re,” katanya akhirnya. “Aku pernah ngelakuin apa sampai kamu sejauh ini?”

Di balik keramahan yang ia pertahankan, ada sesuatu yang mulai retak, bukan marah, bukan menuntut. Hanya murni kebingungan seorang pria yang tidak pernah sadar bahwa ia pernah melukai seseorang tanpa sengaja.

Rea tetap diam. Ia tidak merasa perlu menjelaskan bahwa blokir itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa tetap bernapas tanpa harus melihat notifikasi dari Paus yang hobi berpindah pelabuhan. Ia tidak butuh Kadewa tahu bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk tidak lagi gemetar setiap kali mendengar namanya disebut.

Kadewa melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum menunjukkan sepuluh lewat sedikit. Ia kembali menatap Rea, mencoba mencairkan suasana beku itu dengan gaya friendly nya yang biasanya manjur pada siapa saja.

“Udah makin malam,” ucap Kadewa santai sambil bangkit berdiri, ia menyampirkan handuk ke bahunya yang tegap. “Ayo, aku antar kamu pulang.”

"Gak perlu!" Jawab Rea cepat. Terlalu cepat, hingga suaranya terdengar seperti benteng yang baru saja dihantam meriam.

Alis Kadewa mengerut. Ia terdiam sejenak, menatap Rea dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dulu, jika Pram sedang nyebelin atau terlalu malas menjemput, Kadewa adalah ojek dadakan yang paling Rea syukuri kehadirannya. Bahkan, dulu Rea sering sengaja beralasan agar bisa pulang di jempu olehnya. Tapi kali ini...

“Re?” Kadewa memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rea seolah sedang menghadapi teka-teki. “Kenapa? Aku nggak bakal culik kamu, kok. Tenang aja."

Ia terkekeh pelan, menganggap penolakan Rea sebagai rasa canggung karena sudah lama tidak bertemu. Bagi Kadewa, Rea masih adek kecil yang mungkin sedang dalam fase ingin terlihat dewasa atau sekadar jengkel karena jarang bertemu.

“Aku bawa mobil, Re. Aman,” tambah Kadewa lagi, kali ini nadanya lebih lembut, membujuk seperti biasanya ia membujuk saudara perempuannya. “Di luar udah sepi. Bahaya buat perempuan sendirian di Senayan jam segini.”

Rea berdiri, merapikan raketnya dengan gerakan kaku. Ia menatap ke arah lapangan, di mana Maya dan Dimas sedang tertawa sambil berjalan keluar lapangan.

“Aku pulang bareng teman-temanku. Aku bawa kendaraan sendiri,” bohong Rea. Padahal ia tadi datang naik taksi daring, tapi ia lebih baik menunggu berjam-jam di pinggir jalan daripada harus terjebak di dalam ruang sempit sebuah mobil bersama pria yang menjadi alasan ia kabur ke Jakarta.

Kadewa mendengus pelan, lalu menyugar rambutnya yang sedikit basah karena keringat. Ia tertawa kecil, suara tawa yang masih sama seperti dulu ringan, renyah, dan menyebalkannya... masih terdengar menyenangkan di telinga.

“Galak banget,” gumam Kadewa sambil terkekeh, seolah sikap dingin Rea hanyalah lelucon kecil yang menggelitik. “Ya ampun.”

Ia menyandarkan punggung sebentar ke bangku tribun, nada suaranya tetap ringan, nyaris santai.

“Oke, kalau nggak mau. Padahal tadi aku mau tanya-tanya soal Jakarta. Aku baru pindah tugas seminggu yang lalu di sini.”

Tubuh Rea yang sudah tampak gelisah sejak tadi, seakan ingin menghilang dari sana mendadak membeku.

Tunggu. Apa katanya tadi?

Pindah tugas?

Ke Jakarta?

Kadewa yang menyadari perubahan raut wajah Rea meski hanya sesaat kembali tersenyum miring. Ia merasa telah menemukan cela.

“Iya, aku bakal lama di sini. Jadi, kayaknya kita bakal sering ketemu, Re,” ucap Kadewa santai, tak menyadari bahwa kalimatnya baru saja menjatuhkan bom waktu di kepala Rea.

Hahaha...

Takdri macam apa ini?

Takdir macam apa ini, Gusti?!!!

Tujuh tahun Rea bersusah payah menjauh. Mengunci. Mengubur. Berpindah kota, membangun hidup baru, meyakinkan diri bahwa di kota metropolitan sebesar ini di antara jutaan manusia, ia tidak akan lagi satu lautan dengan paus darat itu.

Dan sekarang…

Paus itu bilang ia dipindah tugaskan.

Ke Jakarta.

“Aku pergi dulu. Teman-temanku udah nunggu,” pungkas Rea tanpa menanggapi informasi baru itu.

Ia melangkah pergi secepat yang ia bisa, meninggalkan Kadewa yang masih berdiri di pinggir tribun sambil memasukkan tangan ke saku celana. Kadewa memperhatikan punggung Rea yang menjauh, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri.

"Beneran udah bukan kayak anak ayam lagi, ya? Sekarang jadi Induk ayam."

Kadewa tersenyum tipis. Belum ada cinta, belum ada debar jantung yang aneh. Hanya rasa penasaran seorang pria yang baru sadar ada sesuatu yang pernah ia lewati tanpa benar-benar ia pahami.

“Siapa, Bang?” tanya pria di sebelah kanannya, namanya Randi.

Kadewa menoleh refleks, menangkap dua pasang mata yang sama-sama dipenuhi rasa ingin tahu.

“Kenalan,” jawabnya singkat.

Jawaban itu justru membuat Randi dan Dion saling pandang, lalu tersenyum serempak. Senyum khas lelaki yang mencium ada cerita, meski belum tahu isinya.

Dion menyeringai. "Cie... Cie... Baru seminggu di sini udah punya kenalan aja." godanya tanpa malu.

Kadewa mendecih kecil, mengibaskan tangan seolah malas menanggapi. “Bukan gitu.”

“Yakin?” Dion mengangkat alis melirik Randi sekali yang menganggukkan kepala dua kali. “Soalnya tadi liatnya beda.”

Hohoho...

Walaupun sejak tadi keduanya diam, tapi mereka memperhatikan ya...

Kadewa hendak membalas, tapi Randi keburu menimpali. Nadanya lebih rendah, tidak menggoda.

“Mantan, ya?”

Kadewa mengusap tengkuknya. “Adik temen.”

Dion mendengus pelan, jelas tak sepenuhnya percaya. “Biasanya kalau jawabnya gitu…”

“…ceritanya panjang,” sambung Randi.

Kadewa terkekeh pendek, kali ini lebih karena lelah daripada lucu. Ia menggeleng kecil.

“Apa sih kalian,” katanya ringan, tapi tegas. “Nggak ada cerita panjang. Serius.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih pasti, seolah ingin mengunci topik itu.

“Dia itu adiknya sahabat saya.”

1
Esti 523
bha ha ha ha ya ampun aq baca sambil guling2 ngakak bgt
Ghiffari Zaka
kok aq senyum2 sendiri ya bacanya??🤭🤭🤭 laaaah AQ jadi baper malahan,duh mas paus gombalnya buat AQ ikut cengar cengir padahal siapa. yg di gombali 🤭🤭🤭.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
mey
makasih thor untuk upnya🥰🥰 I❤️U sekebon mawar🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
falea sezi
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
falea sezi
murahan
falea sezi
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
falea sezi
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
falea sezi
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
falea sezi
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!