NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpisah

Di bandara.

Saat itu pukul setengah delapan pagi. Hanin dan Awan masih duduk menunggu keberangkatan pesawat mereka. Lima belas menit lagi mereka siap menuju pintu keberangkatan.

“Kenapa tak ada satu pun keluargamu yang mengantar, Hani? Di mana mereka?” tanya Karlina.

“Hani sengaja tidak memberi tahu mereka. Mereka tidak akan mengizinkan Hani pergi.”

“Ya ampun, Hani. Kau tidak boleh bersikap seperti itu. Boleh atau tidaknya kau tidak boleh pergi tanpa memberitahu mereka.”

“Hani sudah meninggalkan pesan. Aku rasa saat ini mereka pasti sudah tahu.”

“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan mereka, semoga bukan sesuatu yang serius.”

“Papa Elvan, melarangku pergi dengan Kak Awan. Mereka hanya akan mengizinkan jika aku pergi dengan Kak Satya.”

“Bukankah Satya sedang di luar negeri?” tanya Karlina.

Hanin mengangguk tanpa memberikan banyak penjelasan panjang lebar. Apa lagi memberitahu mereka seperti apa hubungannya dengan Satya saat ini.

“Mereka pasti mengkhawatirkanmu, tapi sudah sampai di sini mana bisa dibatalkan.”

“Dia bersama Awan akan baik-baik saja, toh hanya untuk mencari pria itu, setelah bertemu mereka pasti kembali, kan?”

“Iya, Mah. Aku yakin kami akan segera menemukannya dan kembali ke tanah air.”

Lima belas menit kemudian Awan dan Hanin menuju ruang tunggu keberangkatan. Setelah melalui beberapa proses pemeriksaan mereka memasuki pintu masuk menuju pesawat. Sebelum melangkah masuk, Hanin menoleh ke belakang. Terbesit di dalam hatinya tiba-tiba ia ingin melihat keluarganya. Di dalam hatinya dia merasa bersalah telah mengabaikan Elvan yang telah melarangnya pergi. Pergi tanpa berpamitan dengan Miranda, dan keinginan untuk bertemu dengan Satya, meskipun itu hanya dalam angan-angannya saja.

Ini kepergiannya yang pertama kali, jauh dari keluarga yang selama ini tak pernah lepas darinya. Dia merasa kepergiannya kali ini bukan sehari atau dua hari. Walaupun dirinya dan Awan sudah mengantongi nama dan alamat ayahnya, tapi entah mengapa dia merasa tidak akan pernah kembali ke rumah dalam waktu yang lama.

‘Maafkan, Hani, Mah, Pah,’ bisiknya lirih.

“Hani!”

Baru saja memutar tubuhnya, Hanin merasa ada yang memanggil dirinya. Hanin kembali menoleh, tapi suara yang dicarinya tak terlihat di mana pun.

‘Mungkin halusinasiku saja,’ pikir Hanin.

Hanin melanjutkan langkahnya. Kali ini panggilan itu kembali terdengar, jelas, tapi jauh. Hanin kembali menghentikan langkahnya dan menoleh.

Di luar pintu di antara orang-orang yang hilir mudik Hanin melihat sosok seperti Satya. Satya melambaikan tangan ke arahnya. Keberadaannya tak begitu jelas karena terhalang pergerakan orang-orang. Namun, Hanin sangat yakin itu Satya.

“Kakak,” lirihnya. Tiba-tiba hatinya merasa sedih. Satya terus melambai ke arah dirinya. Satya tak bisa masuk karena area itu sudah terlarang untuk selain penumpang. Dia terlihat berusaha meminta izin pada penjaga pintu, tapi tak mendapatkannya.

Saat itu Hanin ingin sekali berlari menghampirinya. Mendadak bayangan kejadian di vila kembali terlintas. Hanin memejamkan matanya. Dia sangat membenci perbuatan kakaknya itu, tapi di sisi lain dia masih menyayanginya.

Dulu Satya menciumnya, Hanin tak pernah tahu apa artinya, dan di vila Satya tidak hanya menciumnya dengan kasar, tapi lebih dari itu. Lalu dia menanyakan perasaan padanya.

‘Meski tak aku jawab pun seharusnya dia mengerti kalau aku sangat menyayanginya, tapi dia bertanya ketika aku telah menerima lamaran orang lain. Apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya. Apakah dia sengaja mempermainkanku?’

“Hani ayo jalan, kita bisa ketinggalan pesawat,” kata Awan mengingatkan. Dia tahu kedatangan Satya di luar sana, entah apa tujuannya, tapi sudah tidak ada waktu untuk kembali.

“Kak, bolehkah aku menemuinya sebentar?” Ujar Hanin. Dia tidak tega melihat Satya terus menunggunya di luar sana.

“Tidak ada waktu lagi. Kalau kau pergi, kau bisa terlambat, dan aku tidak bisa menemanimu di lain hari.” Ucapan Awan pelan. Namun, mengandung peringatan dan ancaman, membuat Hanin tak bisa memaksakan diri.

Awan meraih bahu Hanin, menggiringnya berjalan meninggalkan tempat itu. Dalam langkahnya yang semakin menjauh Hanin masih memandang ke arah Satya berada hingga tak lagi dia bisa melihat sosoknya. Kedua mata Hanin berkaca-kaca.

Satya jatuh terduduk di luar pagar. Pandangannya sudah tak mendapati Hani di sana. ‘Kau benar-benar tega, Hani, kau tinggalkan kakak begitu saja sebelum kau menjawab pertanyaanku,’ batin Satya. Ia mengepalkan tangannya, perlahan bangkit dan berdiri lalu memutar tubuh meninggalkan tempat itu.

Di pintu masuk dia berpapasan dengan Miranda dan Elvan. Namun Satya mengabaikan pertanyaan mereka tentang Hanin. Melihat ekspresi Satya yang dingin, Miranda sudah bisa menangkap artinya. Dia kembali jatuh pingsan, kali ini sampai dibawa ke rumah sakit.

•••

Perjalanan menuju bandara internasional Kairo hampir dua hari, dengan satu kali transit. Perjalanan yang cukup melelahkan, tapi demi bertemu dengan ayahnya, Hanin mampu melewatinya. Meskipun perjalanan itu hampir membuat Hanin mabuk kendaraan.

Tiba di bandara internasional Kairo sekitar pukul delapan pagi. Keluar dari area pemeriksaan Awan menarik dua koper miliknya dan juga Hanin.

“Dari sini apa kita akan langsung menuju alamatnya?” tanya Hanin.

“Tunggu sebentar, kita akan bertemu dengan seseorang yang akan menjemput kita.”

“Kakak sudah memesan kendaraan?” tanya Hanin kaget.

“Bukan, tapi kita lihat saja nanti.” Ucapan Awan tidak jelas, membuat Hanin merasa Awan sedang menyembunyikan sesuatu.

Begitu tiba di pintu keluar, Awan mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang membawa papan bertulisan nama dan asal negara. Setelah menyusuri mereka satu persatu akhirnya dia mendapatkannya.

“Itu dia orang yang menjemput kita, Hani.” Awan lekas mengajak Hanin menemui laki-laki itu. Saat bertemu laki-laki itu seketika mengulurkan tangannya dengan ramah.

“I’m Awan, and this is Hanin, we’re from Indonesia,” kata Awan memperkenalkan diri sembari bersalaman dengan laki-laki itu.

“Namaku Amaan, asisten sekaligus sopir yang diminta Pak Aariz untuk menjemput kalian,” sambut laki-laki dengan logat arab, tapi berbahasa Indonesia.

Awan dan Hanin saling berpandangan kaget, ternyata laki-laki itu bisa berbahasa Indonesia juga.

“Dia gadis bernama Hanin itu?” tanya Amaan. Laki-laki itu sempat mengamati Hanin lama, kemudian geleng-geleng kepala, “Dia cantik dan mirip papanya,” ucap laki-laki itu.

Hanin kaget laki-laki itu menyebut dirinya mirip papa, tapi papa siapa? Sementara dia melihat Awan, kakaknya terlihat biasa saja mendengar perkataan laki-laki itu seolah sudah tahu sebelumnya.

Mereka kemudian dibawa menuju mobil yang sudah menunggu di area parkir. Mobil pribadi. Sebelum masuk, Hanin menarik lengan Awan agak menjauh.

“Kakak mengenal laki-laki ini?” tanya Hanin.

“Iya, aku bahkan sudah berkomunikasi dengan pria bernama Aariz itu, lalu dia mengatakan ingin bertemu denganmu. Dia mengatakan akan menyuruh orang bernama Amaan untuk menjemputnya, jadi ya laki-laki ini orangnya,” jelas Awan.

“Kakak sudah menemukan ayah?” Hanin kembali dibuat kaget.

Awan hanya tersenyum, lalu berjalan ke arah mobil dan membuka pintu untuk Hanin. Dengan perasaan masih dipenuhi tanda tanya Hanin masuk dan duduk di jok belakang sementara Awan di samping sopir. Dengan duduk di depan dia bisa bebas melihat jalanan dan pemandangan kota seribu menara itu, juga bisa mengobrol lebih banyak dengan sopir.

“Aku akan langsung membawa kalian ke penginapan jika kalian tidak punya tujuan lain,” kata sopir.

“Ke penginapan?” tanya Awan.

“Pak Aariz ingin kalian beristirahat terlebih dahulu baru sorenya dia akan menemui kalian di restoran dekat penginapan. Walau bagaimanapun dia juga punya keluarga sekarang, perlu mengenal kalian sebelum dipertemukan dengan keluarganya.”

Mendengar cerita Amaan tentang keluarga baru Aariz, mendadak Hanin merasa sakit. Jika benar ayahnya sudah menikah lagi dan punya anak mungkin memang benar dirinya dan ibunya adalah keluarga yang ditinggalkan. Saat Anissa melahirkan pun Aariz tidak pernah datang. Sampai Anissa tiada pria itu tak pernah mencarinya.

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!