Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merger Permanen
Gavin yang sedang mengangkat karung beras tiba-tiba menyela, "Mohon maaf Bu Tejo. Sesuai protokol pemulihan pasca perjalanan jauh, Mbak Aruna butuh waktu istirahat selama delapan jam untuk mengembalikan fungsi kognitifnya. Sesi "gosip" atau pelaporan oleh-oleh baru bisa dibuka besok pukul sembilan pagi."
Bu Tejo melongo, lalu tertawa keras."Iya, Iya, Bapak Auditor! Baru juga lamaran, proteksinya sudah kayak paspampres! Ya sudah, selamat istirahat, pengantin baru... eh calon pengantin."
Aruna menatap Gavin yang sedang sibuk menyusun oleh-oleh di teras berdasarkan kategori "kering" dan "basah". Ia merasa sangat beruntung. Meskipun hidupnya kini akan penuh dengan aturan, tabel dan audit,nia tahu bahwa di dalam hati pria kaku itu, namanya tersimpan dalam folder yang paling aman dan tidak akan pernah terhapus.
*****
Keesokan harinya, pagi-pagi jam 07.00, saat matahari baru saja mulai menghangatkan Perumahan harmoni, bunyi bel Aruna sudah berbunyi dengan semangat.
"Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong!
Aruna membuka pintu dengan mata yang masih setengang mengantuk, sementara Gavin sudah berdiri tegak di halaman yang kini tak berpagar, sambil memegang penyiram tanaman. Di depan mereka, Bu Tejo sudah berdiri lengkap dengan daster motif macan dan sebuah wadah plastik besar yang tampaknya sengaja di bawa untuk menampung oleh-oleh.
"Selamat pagi, Calon Pengantin!" seru Bu Tejo dengan suara yang sanggup membangunkan burung balam di pohon mangga. "Duh, Mbak Runa, mukanya berseri-seri ya, aura-aura sudah ada yang memiliki memang beda!"
Gavin menoleh, ia melihat kam tangannya. "Bu Teji, Anda datang dua jam lebih awal dari protokol yang saya sampaikan kemarin sore. Efisiensi istirahat Mbak Aruna berkurang sebanyak dua puluh lima persen akibat interupsi ini."
Bu Tejo hanya mengibarkan tangannya. "Aduh, Mas Gavin. Kalau urusan oleh-oleh dan gosip itu nggak ada protokolnya! Mana-mana rengginang desanya? Saya sudah bayangkan kriuknya dari semalam.
Aruna mengajak Bu Tejo ke teras. Di sana, Gavin sudah menyusun oleh-oleh dari desa di atas meja taman dengan kerapian yang mengerikan. Semuanya sudah diberi label kecil menggunakan stiker barcode hasil cetakannya semalam.
"Ini jatah untuk Ibu.," ujar Gavin sambil menyerahkan satu plastik besar berisi rengginang dan beras organik. "Saya sudah melakukan pengecekan kualitas. Tekstur rengginangnya memiliki tingkat kekeringan sembilan puluh delapan persen, sangat aman dari jamur."
Bu Tejo menerima plastik itu dengan mata berbinar. "Wah, banyak banget! Makasih ya, Mas. Tapi yang lebih penting dari rengginang... ayo Na, ceritain! Mas Gavin melamarnya gimana? pakai cara berlutut nggak? Atau jangan-jangan pakai presentasi Power point di depan Bapakmu?"
Aruna tertawa sambil melirik Gavin yang mendadak sibuk memeriksa daun pohon mangga. "Hampir, Bu Tejo. Dia bawa sertifikat keaslian cincin sama hasil uji laboratorium kadar emasnya ke depan Bapak. Bapak sampai bingung mau jawab apa."
"Ya ampun," Bu Tejo menepuk pahanya keras-keras. "Memang Mas Gavin ini "Garis Keras" sampai ke urusan lamaran. Tapi beneran lho, sekompleks ini sudah heboh. Pak RT tadi malam saja sampai nanya ke Saya, nanti kalau kalian nikah, cateringnya bakal ditimbang per gram nggak di piring tamu?"
Gavin yang sedari tadi diam tiba-tiba menyahut. "Itu saran yang bagus, Bu Tejo. Saya sedang mempertimbangkan penggunaan timbangan digital di pos pengambilan rendang untuk meminimalisir deviasi stok."
Bu Tejo melongo. "Mas, itu nikahan atau pembagian sembako bantuan sosial? Jangan kaku-kaku banget, nanti tamunya takut mau nambah nasi!"
Aruna segera menengahi. "Nggak, Bu Tejo. Tenang aja, urusan Catering, biar aku yang pegang kendali. Mas Gavin bagian... bagian bikin denah parkir aja yang presisi."
"Nah, itu baru benar!" Bu Tejo mulai membuka plastik rengginangnya dan mencicipi langsung di tempat. KRIUK! "Enak banget! Eh, dengar-dengar mantanmu si Rian itu sempat tanya-tanya ke Saya pas dia lewat depan kompleks kemarin."
Wajah Gavin langsung berubah mendatar. Matanya menyipit. "Variabel gangguan itu muncul lagi?"
"Iya, dia tanya, Mbak Runa beneran udah tunangan? Saya jawab saja, 'Bukan cuma tunangan, Mas, sudah di audit dan sudah sah secara kepemilikan!" Bu Tejo tertawa bangga.
Gavin mengangguk puas. "Terima kasih atas bantuan komunikasinya, Bu Tejo. Saya akan menambahkan satu poin dalam sistem keamanan pernikahan nanti: Daftar hitam pengunjung. Nama Rian akan berada di urutan pertama dengan status 'Akses di tolak permanen'."
Aruna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat calon suaminya yang sudah mulai merancang sistem pertahanan resepsi. Di balik kekakuan itu, Aruna tahu Gavin hanya ingin memastikan segalanya sempurna untuk mereka.
Bu Teji berdiri dari kursi terasnya sambil memeluk erat dua plastik besar berisi rengginang dan beras organik, seolah takut ada warga lain yang merampas harta karunnya.
"Ya sudah, Mbak Runa. Mas Gavin, Saya pamit dulu. Mau langsung saya goreng ini rengginangnya. Nanti kalau undangan sudah jadi, saya orang pertama yang harus dapat ya! Saya mau booking tukang rias yang paling cetar supaya nggak kalah cantik sama pengantinnya," ujar Bu Tejo sambil mengerling nakal.
Gavin berdiri dan mengangguk kaku. "Tentu, Bu Tejo. Nama Anda sudah berada di urutan 001 dalam basis data tamu kami. Pastikan Anda hadir sepuluh menit sebelum acara di mulai untuk menghindari antrean validasi kode QR."
Bu Tejo tertawa terpingkal-pingkal. "Validasi kode QR? Duh... Mas Gavin... bener-bener yah! Dadah calon manten!"
Setelah Bu Tejo hilang di balik tikungan, Aruna dan Gavin duduk kembali. Gavin langsung mengeluarkan laptopnya dan sebuah map tebal berisi brosur vendor pernikahan.
"Runa, Saya sudah membuat perbandingan harga antara sepuluh vendor catering," Gavin menunjukkan grafik batang di layar laptopnya. "Vendor A memiliki resiko keterlambatan lima persen, tapi rasa makanannya memiliki rating empat koma delapan. Sedangkan Vendor B..."
"Mas," Aruna memotong sambil memegang tangan Gavin. "Bisa kita bahas yang lebih... seru? Misalnya warna tema?"
Gavin terdiam, lalu mengetik sesuatu. "Warna tema, Saya mengusulkan 'Monokromatik Teratur'. Putih, abu-abu dan sedikit sentuhan biru navy. Ini akan memudahkan sensor kamera fotografer untuk mendapatkan white balance yang sempurna."
Aruna menghela napas panjang "Gavin sayang... Aku mau warna peach dan sage green. Biar kelihatan segar kayak halaman kita."
Gavin mengerutkan kening, menghitung sesuatu di kepalanya. "Warna pastel memiliki resiko terlihat pucat jika pencahayaan gedung tidak mencapai tiga ribu lumens. Tapi... jika itu membuat tingkat kebahagiaanmu berada di level seratus persen, Saya akan menyesuaikan spesifikasi lampunya."
Aruna tersenyum penuh kemenangan. "Nah, sekarang, soal undangan. Aku sudah buat desainnya."
Beberapa minggu kemudian, undangan pernikahan mereka siap dibagikan. Undangan itu tidak seperti undangan biasa yang penuh dengan bunga-bunga abstrak.
Bentuknya menyerupai sertifikat audit yang sangat formal. Di bagian depan tertulis "Pemberitahuan Merger Permanen: Aruna dan Gavin."
Di dalamnya selain nama orang tua dan lokasi, terdapat lampiran kecil yang membuat Aruna hampir pingsan saat melihatnya pertama kali. Ada denah lokasi dengan koordinat GPS presisi hingga empat angka di belakang koma. SOP Pakaian, dilarang menggunakan warna yang bertabrakan denga palet sage green (lampiran kode warna terlampir) serta protokol prasmanan, sebuah diagram alir, tentang cara mengambil makanan agar tidak terjadi penumpukan di antrean meja prasmanan.
Bersambung....