Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Rencana Busuk
.
Mbak Rini bergegas ke dapur untuk mulai mengerjakan tugasnya. Langkahnya gesit, senyum kecil tersungging di bibirnya. Bu Rosidah dan Riana kembali ke kamar mereka masing-masing.
Melihat semua pergi, Almira bergegas menyusul langkah Mbak Rini menuju dapur. “Mbak!" Panggilnya menepuk pundak Rini dari belakang.
Mbak Rini celingukan menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua. "Bagaimana aktingku tadi, Bu?" tanya Mbak Rini berbisik di dekat Almira.
"Mbak Rini memang top!" jawab Almira balas berbisik. Mereka melakukan high five lalu tertawa cekikikan. "Aku benar-benar kagum sama Mbak Rini," ucap Almira memberikan pujian.
"Rini, gitu loh,” ucap Rini menepuk dadanya bangga. Lalu kembali tertawa.
"Aku senang. Dan tolong percepat untuk membuat Gilang tergila-gila sama Mbak Rini," lanjut Almira lagi. "Karena aku harus secepatnya keluar dari rumah ini."
"Gimana caranya, Bu? Nanti kalau saya langsung iya, Pak Gilang curiga gak?”
"Laki-laki seperti dia tidak akan berpikir panjang kalau lihat yang mulus-mulus. Tapi ingat, Mbak Rini harus bisa jaga diri.”
“Ok, Bu.” Mbak Rini mengangguk sambil menggenggam tangan Almira, memberikan dukungan. "Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Yang penting mereka berantem dan bikin si sundel itu terluka, kan?" ucap Mbak Rini berjanji.
Almira merasa sedikit bersalah karena memanfaatkan Mbak Rini untuk mencapai tujuannya. Namun, ia yakin, Mbak Rini adalah orang yang tepat untuk membantunya.
Sementara itu, di kamar tamu, pertengkaran hebat terjadi. Suara teriakan dan bantingan terdengar hingga ke seluruh rumah.
"Kamu itu kenapa sih, Mas?!" teriak Lila histeris. "Kenapa kamu malah membela Rini? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?!"
"Ya ampun, Lila, aku kan sudah bilang, aku itu gak ada apa-apa sama dia!" balas Gilang frustasi. "Bisa-bisanya kamu curiga sama aku!"
"Aku curiga karena aku mencintaimu, Mas!" jawab Lila dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. "Aku tidak mau kamu direbut oleh wanita lain!"
"Ya Tuhan, Lila. Aku harus ngomong kaya gimana lagi?" Gilang mengacak-acak rambutnya, merasa pusing menghadapi sikap Lila yang begitu posesif. "Aku sudah bilang, aku cuma kasihan sama dia!"
"Buktinya apa?!" tantang Lila dengan tatapan sinis. "Sekarang mungkin cuma kasihan. Tapi gak tahu besok. Lebih baik kita pecat saja si Rini! Cari pembantu yang lebih kompeten. Yang tidak suka menggoda majikan!"
"Karena kamu keterlaluan, Lila!" bentak Gilang dengan nada marah. "Kamu sudah menuduhku tanpa bukti. Aku kecewa sama kamu. Kamu berubah. Kamu bukan Lila yang kemarin, yang selalu bersikap dewasa dan lemah lembut!”
"Tega kamu ngomong kaya gitu, Mas?” Lila tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Gilang.
“Sudah cukup. Aku tuh capek tau gak? Kita udah berantem dari semalam. Kamu tuh gak ada bedanya sama anak kecil! Aku cinta sama kamu! Tapi kalau kamu terus kayak gini, aku bisa muak!"
“Apa maksudnya kamu ngomong kaya gitu, Mas. Aku ini istrimu, loh. Dan aku sedang mengandung anakmu.” Air mata Lila mengalir perlahan.
"Terserah!” Gilang berbalik dan melangkah menuju kamar mandi, "Aku mau mandi! Aku harus kerja!” teriaknya seraya membanting pintu dengan keras.
Lila terduduk di tepi ranjang. Hatinya hancur. Gilang yang dulu selalu lembut tiba-tiba saja berubah dalam semalam.
Wanita itu menatap nanar ke arah pintu yang baru saja dibanting Gilang. Sikap Gilang membuat Lila semakin geram.
"Ini semua gara-gara pembantu sialan itu!" gumam Lila dalam hati, mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan. “Awas saja kamu, Rini!"
*
Beberapa menit kemudian, Gilang keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi. Wajahnya terlihat kusut dan tegang karena pertengkaran yang baru saja terjadi dengan Lila. Pria itu bergegas menuju ruang makan, berharap bisa menemukan sedikit ketenangan di sana.
Sampai di ruang makan, ia melihat Almira, yang ternyata sudah sarapan lebih dulu. Wanita itu duduk dengan tenang di meja makan, menikmati makanannya dengan khidmat, seolah tidak ada keributan yang baru saja terjadi di rumah ini.
"Kamu tidak nunggu Mas?" tanya Gilang dengan nada kecewa, menatap Almira dengan tatapan terluka. Padahal ia berharap Almira akan menyambutnya dengan senyuman dan menemaninya sarapan.
Almira mengangkat wajahnya. "Apa harus?" tanyanya lalu kembali menikmati sarapannya.
Dulu, Almira tidak akan pernah makan sebelum menyiapkan makanan untuknya dan melayaninya dengan baik. Namun, sekarang semuanya telah berubah. Di kala pengabdian tak lagi berguna, ia lebih memilih mementingkan dirinya sendiri.
Gilang merasakan hatinya mencelos. Ia menyadari, ia telah kehilangan Almira. Wanita yang dulu begitu mencintainya dan selalu ada untuknya, kini telah berubah menjadi sosok yang dingin dan acuh tak acuh.
Bu Rosidah dan Riana, yang datang bersama dengan Gilang, menatap Almira dengan tatapan tidak suka.
"Dasar istri tidak tahu sopan santun," gumam Bu Rosidah dengan nada sinis. "Seharusnya layani suami dulu baru layani perut sendiri."
"Iya, tuh! Gak ada tata krama!" timpal Riana dengan nada kesal. “Gak ada hormat sama sekali sama suami."
Almira mendengar, tapi tidak peduli. Baginya, ucapan mereka hanyalah angin lalu.
Gilang duduk di kursi dan mulai mengambil makanan. Semua terasa hambar. Ia tidak merasakan nikmatnya sarapan. Padahal semalam Almira sudah bersikap lunak. Ia pikir Almira sudah tak marah lagi padanya. Tapi ternyata…
Bu Rosidah dan Riana terus mencibir Almira, namun wanita itu tetap tenang dan tidak menghiraukan mereka. Ia menyelesaikan sarapannya dengan tenang, lalu bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamarnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Bu Rosidah sinis.
Almira berhenti sejenak, menoleh ke arah Bu Rosidah dengan tatapan datar. "Bukannya urusan Ibu." Almira benar-benar acuh tak acuh, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Bu Rosidah dan Riana saling berpandangan dengan tatapan kesal. Mereka merasa Almira semakin kurang ajar dan tidak menghormati mereka.
"Dasar menantu kurang ajar," gumam Bu Rosidah geram. "Lihat saja nanti, aku akan kasih pelajaran sama kamu.”
Setelah Almira pergi ke kamar, Bu Rosidah mendekatkan kursinya pada Gilang, menatap putranya dengan tatapan menyelidik. "Gilang," panggil Bu Rosidah serius. "Apa benar rumah ini milik Almira?"
Gilang menghentikan suapannya, menelan makanan yang ada dalam mulutnya dengan susah payah. Ia menatap ibunya dengan tatapan bingung. "Iya, Bu," jawab Gilang pelan. "Rumah ini memang milik Almira. Dibeli menggunakan uang Almira dan menggunakan nama Almira."
Bu Rosidah mengepalkan tangannya, geram mendengar jawaban Gilang. "Dasar bodoh. Kenapa dulu gak masukkan nama kamu saja?" tanya Bu Rosidah dengan nada kesal. "Kalau gitu, kamu rebut saja. Ambil hatinya, bujuk pelan-pelan. Setelah balik nama, kita buang saja wanita itu."
Mata Gilang melotot. Berpisah dengan Almira tidak pernah masuk dalam agenda hidupnya.
"Ibu tidak suka dengan menantu yang tidak berguna," lanjut Bu Rosidah dengan nada sinis. "Sudah tidak bisa kasih anak, suka melawan pula. Apa gunanya dia?”
Gilang terdiam, hatinya ragu dan tidak tega. Namun, Bu Rosidah semakin menebarkan racun.
"Kalau rumah ini sudah jadi atas nama kamu, dia tidak akan bersikap tidak sopan padamu. Dia akan patuh seperti dulu.”
*
Setelah sarapan, Gilang bergegas berangkat ke kantor dengan pikiran yang berkecamuk. Ia tidak ingin merebut rumah itu dari Almira. Tapi ucapan ibunya benar. Dan dia juga ingin Almira kembali bersikap manis. Ia rindu Almira yang dulu. Apalagi sekarang Almira semakin cantik.
semangat thor