Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.
Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.
Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.
Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.
Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Kamar yang digeledah
.
“Ini semua gara-gara Almira.” Gilang mengumpat kesal. Pria itu mengacak rambutnya frustasi. “Kalau saja dia mau membantuku mengerjakan proposal-proposal itu, ini pasti tidak akan terjadi."
Tiba-tiba, Gilang teringat dengan kata-kata ibunya, "Rebut rumah itu, Gilang. Jika rumah itu atas nama kamu, Almira akan kembali patuh dan manis padamu."
Kata-kata itu seolah menjadi mantra yang menghipnotisnya. Gilang merasa, inilah satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali kendali atas hidupnya dan membuat Almira kembali tunduk seperti dulu.
"Jangan salahkan aku, Almira," gumam Gilang penuh kemarahan.
Ketika ia sedang membereskan berkas-berkas dan memasukkan ke dalam kardus, tiba-tiba ponselnya berdering. Gilang melihat nama ibunya di layar ponsel. Gilang mengambil nafas dalam sebelum mengangkat telepon itu.
"Halo, Bu?" sapa Gilang lelah.
"Gilang, kamu di mana?" tanya Bu Rosidah dengan nada mendesak.
"Aku? Tentu saja di kantor, Bu," jawab Gilang. "Kenapa?"
"Kamu punya kunci serep kamar Almira, kan?" tanya Bu Rosidah tanpa basa-basi.
Gilang mengerutkan keningnya. "Kunci kamar Almira? Untuk apa, Bu?"
"Sudah, tidak usah banyak tanya," jawab Bu Rosidah dengan nada tidak sabar. "Ibu mau membuka kamar Almira sekarang. Mumpung dia sedang tidak ada di rumah. Ibu mau mencari sertifikat rumah ini."
Gilang terdiam sejenak. Sebelumnya ia masih ragu. Sekarang, tidak lagi! Akan lebih baik kalau sertifikat rumah itu segera diambil oleh ibunya. Dengan begitu ia bisa mengendalikan Almira.
Dengan senyum lebar dan mata berbinar, Gilang menjawab. "Iya, Bu. Aku punya kunci itu. Ibu ambil saja! Ada di laci nakas di kamar yang aku tempati sama Lila.”
Di seberang telepon Bu Rosidah tersenyum lebar. “Ya sudah. Ibu tutup telponnya. Ibu mau ambil kunci itu sekarang."
“Memangnya Mira ke mana, Bu?” tanya Gilang sebelum panggilan terputus. Pria itu jadi penasaran. Selama ini istrinya itu tak pernah pergi tanpa ijin. Sekarang, ijin darinya seperti tak lagi berlaku. Dan itu membuatnya semakin kesal.
“Ibu tidak tahu. Dan ibu juga tidak peduli. Sudah! Ibu mau ambil kuncinya. Ibu harus segera ambil sertifikat itu sebelum dia kembali." Bu Rosidah menutup panggilan tanpa menunggu balasan dari Gilang.
Setelah menutup telepon, Bu Rosidah, Lila, dan Riana bergegas menuju kamar Lila. Dengan langkah tergesa-gesa, mereka langsung menuju nakas.
"Di mana kuncinya?" tanya Bu Rosidah dengan nada tidak sabar.
Lila membuka laci nakas dan mencari di antara tumpukan map. "Sebentar, Bu," jawab Lila. "Sepertinya ada di sini."
Akhirnya, Lila menemukan sebuah kunci kecil yang tertindih di bawah tumpukan berkas. "Ini dia!" seru Lila sambil mengangkat kunci itu.
Bu Rosidah merebut kunci itu dari tangan Lila dan memeriksanya dengan seksama. "Benar, ini kuncinya?" tanya Bu Rosidah antusias.
"Tapi, bagaimana kita bisa membuka kamar itu?" tanya Riana dengan nada khawatir. "Pasti Rini akan mengadu pada wanita itu."
“Dia kan lagi nyetrika di atas?” sahut Lila.
“Kalau tiba-tiba turun?"
Bu Rosidah berpikir sejenak. Rini sangat setia pada Almira. Untuk itu mereka harus menyingkirkan Rini untuk sementara waktu agar rencana mereka berjalan lancar.
"Tenang saja," ucap Bu Rosidah dengan nada licik. "Ibu punya ide. Kita buat saja Rini keluar dari rumah ini."
Mereka bertiga kembali ke ruang tengah lalu duduk bermain ponsel seolah tak akan merencanakan sesuatu.
"Rini!" teriak Lila.
Rini yang sedang berada di ruang laundry dan mendengar panggilan itu, turun dengan tergopoh, lalu menghampiri mereka. "Ada apa, Mbak?" tanya Rini sopan.
"Saya ingin makan rujak buah," ucap Lila "Kamu belikan ya."
Rini mengerutkan keningnya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak ingin menuruti perintah Lila karena ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk.
"Maaf, Mbak," jawab Rini dengan nada ragu. "Tapi, saya sedang banyak pekerjaan. Saya buatkan saja, ya? Di kulkas ada banyak buah kok."
"Aku tidak mau!" tolak Lila cepat. "Aku maunya rujak yang dibeli di penjual rujak."
"Tapi, Mbak..."
“Kamu ini jadi pembantu kok banyak omong amat, sih?" sambar Riana tak sabar. "Kamu tidak paham, ya? Kakak iparku ini lagi ngidam!”
Rini terdiam. Pikirannya semakin tak tenang karena mereka terlihat memaksa.
"Sudah, Rini," timpal Bu Rosidah. "Turuti saja permintaan Lila. Kasihan dia sedang ngidam." Suaranya terdengar lembut, diluar kebiasaan, dan itu justru membuat Rini semakin curiga.
"Ini uangnya, cepetan! Aku tidak mau anakku ileran!" Lyla menyodorkan selembar uang berwarna merah pada Rini.
Dengan berat hati, Rini menuruti perintah Lila. Ia keluar dari rumah dengan menaiki sepeda motornya.
Namun, ketika sampai di pertigaan jalan tak jauh dari rumah itu, Rini menghentikan sepeda motornya. Ia merasa tidak tenang meninggalkan rumah itu. Ia merasa Bu Rosidah beserta anak dan menantunya itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk.
Rini mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya. Ia ingin melaporkan hal itu pada Almira. Dengan tangan gemetar, Rini mencari kontak Almira di ponselnya, menarik napas dalam-dalam lalu menekan tombol panggil.
"Halo?" suara Almira terdengar di seberang sana.
"Halo, Bu Almira," sapa Rini dengan nada gugup.
"Rini? Ada apa?" tanya Almira dengan nada heran. "Kok suara kamu kaya orang ketakutan gitu?"
"Maaf, Bu," jawab Rini. "Saya ingin memberitahu sesuatu."
"Ada apa?"
"Begini, Bu," Rini mulai bercerita, dan Almira mendengarkan dengan seksama.
“Saya merasa ada yang tidak beres dengan mereka. Mereka seperti sedang merencanakan sesuatu,” ucap Rini di akhir cerita.
Almira terdiam sejenak. Ia paham apa yang dikhawatirkan oleh Rini. Otak cerdasnya segera tahu apa yang direncanakan oleh mereka bertiga.
"Terima kasih karena kamu sudah memberitahuku, Mbak," ucap Almira kemudian. “Tapi Mbak Rini tidak usah khawatir. Mbak Rini lakukan saja apa yang mereka suruh."
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu," ucap Rini. "Saya harus segera membelikan rujak untuk Mbak Lila."
"Hati-hati di jalan, Mbak Rini," pesan Almira.
Setelah menutup telepon, Almira tersenyum sinis. Wanita itu kembali membuka ponselnya, kemudian mencari aplikasi CCTV yang terhubung langsung ke rumahnya. Benar saja, ia melihat ketiga wanita itu berusaha membuka pintu kamarnya.
Di dalam kamar Almira yang kini pintunya berhasil dibuka, Bu Rosidah, Lila, dan Riana menggeledah seluruh isi kamar.
"Cepat cari sertifika itu!" perintah Bu Rosidah geram.
Lila dan Riana mencari di setiap sudut kamar. Mereka memeriksa di bawah tempat tidur, di dalam lemari, bahkan semua laci dibuka. Namun, nihil. Mereka tidak menemukan apa pun.
"Tidak ada, Bu!" seru Lila frustrasi. "Aku sudah mencari di mana-mana, tapi tidak ada sertifikat rumah di sini."
"Aku juga tidak menemukan apa pun," timpal Riana kecewa.
Bu Rosidah semakin geram. Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. "Bagaimana bisa tidak ada?!" bentak Bu Rosidah. "Seharusnya ada. Bukan hanya sertifikat rumah, mobil juga!"
"Mungkin di brankas," usul Riana.
"Brankas?" Bu Rosidah mengerutkan keningnya. "Di mana brankasnya?"
"Aku tidak tahu," jawab Riana. "Tapi, biasanya orang kaya menyimpan barang berharganya di brankas."
Mereka bertiga kembali mencari di setiap sudut kamar, mencari keberadaan brankas. Namun, mereka tetap tidak menemukan apa pun.
"Sial!" umpat Bu Rosidah. "Di mana dia menyembunyikan semua barang berharganya?!"
Tiba-tiba, Lila menemukan sebuah kotak kecil di bawah tempat tidur. "Ini apa?" tanya Lila sambil mengangkat kotak itu.
"Coba buka!" perintah Bu Rosidah dengan nada penasaran.
Lila membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, terdapat beberapa foto dan surat-surat lama.
"Foto-foto ini..." gumam Lila sambil melihat foto-foto itu. "Ini kan foto-foto Almira waktu masih kecil."
Bu Rosidah merebut foto dan surat-surat itu dari tangan Lila dan melihatnya dengan kesal. "Hanya ini saja? Lalu di mana dia menyimpan semua surat berharga?
Bu Rosidah melempar foto dan surat-surat itu ke lantai dengan kasar. Ia merasa sedang dipermainkan. "Dasar menantu kurang ajar. Dia pasti menyembunyikan itu di suatu tempat.”
Di tokonya, Almira tertawa tergelak melihat ekspresi geram mereka karena tak mendapatkan apa pun yang dicari. Tentu saja, karena semua benda dan dokumen berharga telah diamankan oleh Almira jauh-jauh hari sebelumnya.
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐