“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Tragedi Masa Lalu
Elena sudah tahu apa yang akan adiknya katakan. Itu terlihat jelas dari cara bahunya menegang. Setelah mendengar kalimat yang Ivory ucapakan, dimana pembicaraan tersebut pasti akan tertuju pada topik yang selama ini ia hindari.
“Mereka menyebutku ratu,” lanjutnya. “Reinkarnasi ratu vampir.”
Dan terlontar sudah apa yang Elena takutkan, topik tentang reinkarnasi Ratu vampir. Bukan bermaksud Elena untuk memisahkan Ivory dan Ragnar kembali seperti di kehidupan yang sebelumnya. Akan tetapi, Elena hanya berharap bahwa takdir tidak kembali memilih adiknya sebagai Ratu dari bangsa vampire… tidak di kehidupan yang kali ini.
Melihat sang kakak yang hanya terdiam dengan raut wajah tegangnya. Tangan Ivory terangkat perlahan, menyibakkan rambut ke samping, memperlihatkan bagian belakang telinganya. Tanda kecil itu samar, hampir tak terlihat namun cukup untuk membuat mata kakaknya bergetar.
“Ini,” katanya lirih. “Tanda ini… apakah ada hubungannya dengan mereka? Dengan reinkarnasi Ratu Vampir yang mereka katakan?”
Ivory menelan ludah. “Apakah itu sebabnya mereka menyerangku? Dan itulah sebabnya Bos gila itu terus membuatku berada dekat dengannya? Karena aku memang benar reinkarnasi dari Ratunya di kehidupan sebelumnya.”
Keheningan kembali jatuh. Kali ini lebih berat, lebih kejam. Elena bahkan tidak bisa lagi beralasan untuk menyanggah fakta tersebut. Akan tetapi, bibirnya juga sulit untuk membenarkannya. Sungguh, Elena tidak ingin kembali terjebak dalam pertarungan antara bangsa vampire dan penyihir hitam. Apalagi sekarang kaum werewolf sepertinya berpihak pada penyihir hitam.
“Kak,” panggilnya, suaranya hampir memohon.
“Apa benar… aku adalah seseorang yang mereka tunggu-tunggu itu? Ratu yang bos gila itu cari selama ini? Dan seseorang yang ingin dilenyapkan oleh para penyihir dan manusia serigala itu?”
Elena tampak menutup mata dengan berat. Tidak ada jawaban. Tidak ada penyangkalan. Tidak ada tawa yang mengatakan semuanya hanya khayalan.
Hanya diam. Diam yang terlalu jujur untuk disebut kebetulan. Saat kakaknya membuka mata kembali, di sana ada sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya… penyesalan yang dalam, dan ketakutan yang telah lama disembunyikan. Dan pada saat itulah, Ivory mengerti. Diam itu adalah jawabannya. Jawaban yang tak bisa terucap, tapi cukup untuk membuat Ivory mengetahui segalanya.
“Jadi, semua itu memang benar? Aku adalah reinkarnasi dari seorang ratu vampir. Lalu kenapa kau malah menyuruhkan untuk menghindarinya? Kenapa, kak?” cecar Ivory dengan emosi yang sudah meluap.
“Karena aku tidak ingin kita terlibat lagi dengan bangsa mereka, Ivory!” jawab Elena setengah berteriak. “Belum apa-apa saja, kau sudah menjadi incaran mereka untuk di bunuh. Karena itulah kakak tidak ingin kita terlibat lagi dengan mereka. Dengan bangsa vampire, werewolf, sihir hitam atau yang lainnya… Kakak sungguh tidak ingin kita mengulang kembali takdir yang dulu.”
Air mata Ivory jatuh bahkan sebelum ia menyadarinya. Di hadapannya, Elena masih berdiri membelakangi jendela, cahaya bulan menyapu wajah kakaknya yang selama ini selalu tampak tenang.
“Apa aku begitu tak layak dipercaya?” suara Ivory pecah. “Sampai kau tega menyembunyikan ini dariku selama ini? Bahkan untuk sekadar menjawab alasan aku harus menyembunyikan tanda ini.”
Elena tersentak. Tatapannya jatuh ke belakang telinga Ivory, lebih tepatnya ke tanda gelap berbentuk bulan sabit dan bunga red ryder lily berdenyut samar. Untuk pertama kalinya, Elena melihat tanda itu bersinar seolah menghidupkan sesuatu yang telah lama mati.
“Apa kau sudah menunjukkan padanya…,” bisik Elena, suaranya gemetar ketakutan.
“Apakah aku masih harus menyembunyikannya! Setelah mengetahui fakta yang ada.” Ivory terisak. Dadanya sesak, tangannya mencengkeram baju sendiri seolah takut hatinya akan runtuh. “Jadi, inilah alasannya setiap malam aku bermimpi tentang darah, singgasana, dan kematian… tentang seseorang yang selalu merasakan sebuah kerinduan yang mendalam setiap kali aku terbangun.”
“Rupanya aku selalu merindukannya tanpa sadar,” ucapnya lirih.
Elena melangkah mendekat, wajahnya pucat. “Ivory, dengarkan aku—”
“Tidak!” Ivory menepis kasar tangan Elena yang berniat menyentuhnya. Air matanya mengalir semakin deras sekarang. “Bukankah sekarang kau yang harus mendengarkanku.”
Ivory menunjuk tanda di belakang terlinganya dengan tangan gemetar. “Ini bukan tato atau tanda biasa, kan? Ini bukan tato ataupun tanda lahir biasa. Ini… ini kunci hidupku yang lain. Aku adalah reinkarnasi Ratu Vampir. Selain fakta ini, apakah masih ada yang kau sembunyikan dariku, Kakak?”
Kata-kata itu jatuh berat, seperti vonis. Elena menutup mulutnya semakin rapat, matanya berkaca-kaca. Tubuhnya bergetar, seolah menahan tangis yang sudah lama terkunci.
“Katakan padaku,” pinta Ivory lirih. “Katakan yang sebenarnya. Jangan biarkan aku mengetahui tentang kebenaran yang berusaha au sembunyikan dari orang lain lagi. Setidaknya aku mendengarnya langsung darimu… bukan dari mulut orang lain... lagi.”
Keheningan berlangsung lama. Terlalu lama, seolah Elena tidak ingin mengungkapkan rahasia lainnya yang ia ketahui. Lebih tepatnya ia merasa takut.
“Aku menyuruhmu menyembunyikan tanda itu… bukan hanya karena aku takut kita kembali terlibat dengan mereka saja,” katanya terbata. Air mata jatuh dari matanya, membasahi pipinya. “Tapi aku takut suatu hari nanti kau akan mengingat segalanya… dan membenciku.”
Ivory tercekat. “Membencimu? Untuk alasan apa aku membencimu, Kak?”
“Ivory… aku adalah kakakmu, baik di kehidupan sebelumnya maupun di kehidupan yang sekarang.” Suaranya pecah menjadi isakan.
“Tugasku seharusnya melindungimu, baik dulu maupun saat ini. Tapi aku di kehidupan yang dulu tidak melakukan itu… bukannya melindungimu. Aku malah ingin membunuhmu dengan kejam.”
“A-apa?! Itu tidak mungkin ‘kan?” tanya Ivory tak percaya.
“Meski pada akhirnya bukan aku yang mengakhiri hidupnya. Tapi aku yang menjadi sebab kematianmu di kehidupan yang sebelumnya dan… memisahkanmu dengan Raja vampire Ragnar melalui malaikat maut yang aku bawa bersamaku.” Jelasnya.
Ivory spontan menutup mulutnya, tangisnya semakin keras. “Ba-bagaimana bisa…? Bukankah di kehidupan sebelumnya kau juga menjadi kakakku? Apakah kau sedang berbohong padaku sekarang?”
Elena menggeleng keras. “Tidak! Kau adalah adikku. Kau selalu adikku. Tapi di kehidupan kita yang dulu—”
Kata itu membuat Ivory tersentak.
“Dulu?” bisiknya, hampir tak bersuara.
“Kita juga kakak beradik saat itu,” lanjut Elena dengan suara hancur. “Tapi kita berdiri di sisi yang berlawanan. Sejak kecil kita sudah terpisah, karena kematian kedua orang kita. Kau menjadi seorang Ratu Vampir, sedangkan aku menjadi pemilik murni sihir hitam. Dan aku… aku menjadi musuh utamamu, bahkan musuh semua mahluk.”
Ivory jatuh berlutut. Tangisnya pecah tanpa kendali. Sungguh sampai kapanpun ia tidak ingin mempercayai apa yang baru saja sang kakak ucapkan. Ia menggeleng pelan. “Tapi bukankah kita saudara…”
“Dan itulah tragedinya dimulai,” Elena menangis.
“Kita kita memiliki darah yang sama, terlahir dari rahim yang sama dan orang tua yang sama… tapi takdir menuntut kita saling menghancurkan dan... membunuh.”
Bersambung….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔