Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Sebelum Lima Puluh
Keesokan harinya!
Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Xu Hao membuka matanya di kamar pondokannya yang sempit. Udara dingin pagi menyusup dari celah jendela, membawa aroma tanah basah dan jauh-jauh aroma masakan dari dapur pondokan. Dia duduk perlahan, merasakan setiap otot, setiap tulang, setiap luka di tubuhnya.
Kemudian, sebuah kelegaan yang dalam menyebar. Rasa sakit yang menusuk dari luka-luka di paha, rusuk, dan tangannya sudah mereda menjadi rasa pegal yang samar. Memar-memar besar di tubuhnya sudah memudar, hanya meninggalkan warna kekuningan. Energi di dalam meridiannya mengalir lancar, lebih lancar bahkan daripada sebelum pertarungan-pertarungan kemarin. Proses pemulihan alaminya, yang didorong oleh Hukum Asal dan fondasi Dao Awakening yang kokoh, telah bekerja sempurna di malam yang penuh meditasi intensif.
Dia berdiri, meregangkan badan. Suara sendi-sendinya berderak, tapi terasa lega. Tubuhnya kembali segar, siap menghadapi pertarungan penentu hari ini: kemenangan kelima puluh, dan setelah itu, janji pertarungan melawan Borong.
Dia sedang membersihkan diri dengan air dingin ketika ketukan terdengar di pintu. Bukan ketukan kasar penjaga arena atau Gor. Ini lebih ringan, tapi berirama.
"Masuk," panggil Xu Hao, sambil terus mengenakan jubah hitam lamanya yang sudah dicuci seadanya.
Pintu terbuka, dan Minlie menyelinap masuk. Wanita itu masih mengenakan pakaian yang minim dan menggoda, hari ini berwarna ungu tua, rambut pirangnya dikepang longgar di satu sisi. Matanya yang biru kehijauan langsung menyapu kondisi Xu Hao dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu alisnya naik.
"Wah. Pulih cepat juga. Aku kira akan menemukanmu terbaring seperti bangkai busuk," ucapnya, suara menggoda tapi ada nada genuine di baliknya. "Aku dengar kabar gila tentang tantangan lima puluh kemenangan. Kau benar-benar gila, Hei Feng."
Xu Hao mengikat ikat pinggangnya. "Aku butuh kristal."
"Kristal? Dengan sepuluh kristal tinggi dari gelanggang, kau sudah bisa hidup nyaman bertahun-tahun tanpa perlu bertarung lagi." Minlie mendekat, mengendus-endus udara di sekitar Xu Hao. "Ada yang berbeda. Setelah kita bertarung dulu, aura-mu... lebih terfokus. Seperti pedang yang baru diasah, sekarang lebih baik lagi."
Xu Hao tidak menjawab. Dia memeriksa sarung tangan Banteng Batu di tangannya, memastikannya masih kokoh.
"Kau akan bertarung hari ini? Yang kelima puluh?" tanya Minlie, duduk di tepi tempat tidur yang berantakan.
"Iya. Sekarang juga."
"Dan setelah itu, jika menang, kau akan lawan Borong." Minlie mendesis, bukan karena takut, tapi lebih seperti kagum. "Bodoh sekali. Borong... dia bukan lawan biasa. Aku pernah melihatnya bertarung. Dia tidak hanya kuat. Dia... seperti kekuatan alam. Tidak ada embel-embel, tidak ada trik. Hanya kekuatan mutlak yang menghancurkan segalanya. Rekor seribu kemenangan tanpa kekalahan itu bukan bualan."
"Aku tahu."
"Kau tahu?" Minlie menatapnya tajam. "Kau tahu dan tetap mau melakukannya? Apa tujuanmu sebenarnya, Hei Feng? Kematian yang cepat dan terhormat?"
Xu Hao akhirnya menoleh padanya. "Aku perlu mengukur diriku. Melawan yang terbaik di level ini. Dan Borong adalah yang terbaik, bukan?"
"Di wilayah Seribu Pulau ini, untuk tingkat Soul Transformation, mungkin iya. Tapi kau..." Minlie menggeleng. "Kau punya potensi untuk lebih. Kenapa memaksakan diri di sini? Kenapa tidak cari sekte, atau latihan yang lebih terstruktur?"
"Waktu," jawab Xu Hao singkat. Itu adalah kebenaran paling mendasar.
Minlie memandanginya lama, seolah mencoba memecahkan teka-teki. "Baiklah. Rahasiamu. Tapi sebagai... teman minum arak yang mahal," dia tersenyum sedikit, "aku akan menonton pertarunganmu hari ini. Memberi semangat. Atau menertawakan mayatmu nanti."
"Lakukan apa yang kau mau," kata Xu Hao, lalu berjalan menuju pintu.
Mereka berjalan bersama menuju Sarang Naga Patah. Jalanan pagi sudah ramai dengan pedagang dan kultivator yang bersiap-siap untuk hari yang sibuk. Banyak mata tertuju pada Xu Hao, berbisik-bisik. Nama "Hei Feng" dan tantangan lima puluh kemenangan sudah menjadi buah bibir.
"Lihat, dia si gila."
"Masih bisa berjalan tegak,hebat juga."
"Pertarungan kelima puluh,katanya lawannya spesial."
"Aku sudah pasang taruhan dia menang hari ini.Tapi untuk lawan Borong... tidak mungkin."
Minlie berjalan di samping Xu Hao, kadang melirik ke arahnya. "Kau tidak gugup?"
"Untuk apa?" balas Xu Hao.
Minlie terkekeh. "Kau aneh."
Mereka tiba di arena lebih awal. Suasana sudah berbeda dari hari-hari biasa. Tribun mulai terisi, dan ada semacam energi antisipasi di udara. Gor sudah menunggu di pintu masuk peserta, wajahnya lebih serius dari biasanya.
"Hei Feng. Kau datang." Gor memandanginya, lalu ke Minlie. "Dia tidak boleh masuk."
"Aku hanya penonton hari ini, Gor," kata Minlie dengan suara manis. "Janji, tidak akan mengganggu."
Gor menggerutu, tapi membiarkannya. "Baik. Hei Feng, ikut aku. Lawanmu untuk pertandingan kelima puluh sudah ditentukan. Bukan peserta biasa."
Xu Hao mengikuti Gor ke ruang tunggu dalam, sementara Minlie melambai dan berbalik menuju pintu penonton.
Di ruang tunggu yang sunyi, Gor berbicara dengan suara rendah. "Borong sendiri yang memilih lawanmu untuk yang kelima puluh. Namanya Ling. Dia bukan peserta arena biasa. Dia... pembunuh. Borong meminjamnya dari sebuah organisasi. Tingkat Soul Transformation akhir, sangat dekat dengan Void fusion. Gayanya... kejam dan efisien. Murni untuk membunuh, bukan untuk hiburan."
Xu Hao mengangguk. Itu masuk akal. Borong ingin mengujinya sampai batas terakhir sebelum pertarungan mereka.
"Kau masih punya waktu untuk mundur," kata Gor, dan untuk pertama kalini, ada nada seperti keprihatinan di suaranya. "Lima puluh kemenangan atau tidak, jika kau mati hari ini, semuanya sia-sia."
"Tidak akan mundur," jawab Xu Hao tegas.
Gor menghela napas. "Baik. Pertarungan akan dimulai dalam satu jam. Istirahatlah."
Xu Hao duduk di bangku, menutup mata. Dia tidak bermeditasi, hanya mengosongkan pikirannya, mempersiapkan jiwa untuk pertempuran yang akan datang. Gambaran pedang hitam yang sederhana, air mata pamannya, dan sosok raksasa Borong berkelebat di pikirannya. Semua mengarah ke sini. Ke pertarungan kelima puluh ini.
Satu jam berlalu dengan cepat. Saat dia dibawa ke lorong menuju arena, suara gemuruh penonton sudah menggema sangat keras. Tribun penuh sesak. Bahkan ada yang berdiri di belakang. Semua ingin menyaksikan apakah si pendatang baru yang gila ini bisa mencapai lima puluh kemenangan, atau jatuh di ambang pintu.
Wasit sudah berada di tengah arena, wajah tegang. Dan di seberang, lawannya sudah menunggu.
Ling. Pria itu bertubuh sedang, tidak terlalu tinggi atau besar. Dia mengenakan pakaian abu-abu biasa yang nyaris tak terlihat, wajahnya biasa saja, mudah dilupakan. Tapi matanya... matanya seperti dua batu es yang tak bernyawa, tanpa emosi, hanya fokus pada satu hal: titik vital di tubuh Xu Hao. Di tangannya, tidak ada senjata yang terlihat, tapi jari-jarinya panjang dan ramping, dengan kuku yang dipotong rapi namun terlihat keras seperti baja.
Tidak ada julukan, tidak ada sorak sorai untuknya. Hanya keheningan yang menegangkan.
Wasit mengangkat tangannya. "Pertarungan kelima puluh Hei Feng! Lawan Ling! Aturan arena biasa berlaku! Mulai!"
Tidak ada gerakan dramatis. Ling hanya melesat. Bukan dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan, tapi dengan gerakan yang efisien dan tak berisik, seperti ular yang menyergap.
Xu Hao sudah siap. Dia melangkah ke samping, menghindari serangan tangan tombak pertama yang menuju tenggorokannya. Udara berdesis di tempat tangannya lewat.
Ling tidak berhenti. Serangan kedua, ketiga, keempat menyusul, semuanya menuju titik mematikan: mata, pelipis, jantung, selangkangan. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Tidak ada emosi. Hanya mesin pembunuh yang bekerja.
Xu Hao bertahan, menghindar, merasakan tekanan yang berbeda dari lawan-lawannya sebelumnya. Ini bukan pertarungan olahraga. Ini adalah upaya pembunuhan yang disahkan. Setiap kesalahan akan berakibat fatal.
Dia mencoba serangan balik, pukulan cepat ke rusuk Ling. Tapi Ling dengan mudah menepisnya dengan lengan, lalu balas menendang ke lutut Xu Hao. Xu Hao melompat mundur, merasakan angin dari tendangan itu mengoyak celananya.
Mereka saling mengitari. Ling seperti hantu, selalu berada pada jarak yang tepat, selalu menyerang pada saat yang paling merepotkan. Xu Hao merasa seperti sedang berhadapan dengan cerminan yang lebih dingin dan efisien dari dirinya sendiri di masa lalu.
Tapi Xu Hao sekarang bukan hanya pembunuh. Dia adalah kultivator dengan pemahaman hukum. Dan dia mulai menggunakan itu.
Saat Ling menyerang lagi dengan jari-jari menuju mata, Xu Hao tidak menghindar sepenuhnya. Dia membiarkan serangan itu mendekat, lalu pada saat-saat terakhir, menggunakan distorsi ruang yang sangat halus, hampir tak terdeteksi, untuk membuat arah jari itu melenceng sedikit. Cukup untuk dia menangkis dengan lengan dan membalas dengan siku ke wajah Ling.
Tok!
Pukulan itu mendarat. Ling kepalanya terpental ke belakang, tapi dia segera memperbaiki keseimbangan, darah mengalir dari hidungnya. Untuk pertama kalinya, ada kilatan sesuatu di mata es itu: kejutan, lalu penghormatan yang dingin.
"Menarik." Katanya datar.
Lalu, Ling mengubah strategi. Dia mulai menggunakan lingkungan. Kakinya menendang debu ke arah mata Xu Hao, tangannya meraih pecahan batu kecil di tanah dan melemparkannya dengan kekuatan mematikan. Dia memaksa Xu Hao untuk terus bergerak, menguras tenaganya.
Xu Hao bernapas dalam. Dia harus mengakhiri ini cepat. Kelelahan menumpuk, dan dia masih harus memikirkan Borong nanti.
Dia memutuskan mengambil risiko. Saat Ling melemparkan lagi pecahan batu, Xu Hao sengaja bergerak agak lambat, membiarkan batu itu menggores bahunya. Pada saat yang sama, dia melesat maju, mengabaikan serangan lanjutan Ling yang sudah dia antisipasi.
Sarung tangan Banteng Batu di tangan kanannya bersinar samar saat dia memusatkan semua tenaga fisik dan sedikit energi ke dalam satu pukulan. Bukan ke arah tubuh, tapi ke tanah di depan Ling.
DUARR!
Lantai arena yang keras retak, pecahan batu beterbangan, dan gelombang kejut mengganggu keseimbangan Ling sepersekian detik. Itu yang dibutuhkan Xu Hao.
Dia sudah berada di sisi Ling, tangannya yang kiri menekan titik di punggung lawan, mengirim gelombang energi yang mengacaukan aliran energi Ling. Pada saat yang bersamaan, tangan kanannya yang masih bersarung tangan menghantam sisi leher Ling dengan tepian tangan.
Krek.
Suara tulang retak. Ling terhuyung, matanya mendadak kosong, lalu tubuhnya roboh ke tanah. Dia tidak mati, tapi tidak bisa bergerak, lumpuh untuk sementara.
Arena sunyi sejenak, lalu meledak dengan sorak-sorai yang menggila.
Wasit berlari mendekat, memeriksa Ling, lalu mengangkat tangan Xu Hao.
"Pemenang... HEI FENG! LIMA PULUH KEMENANGAN BERTURUT-TURUT!"
Suara itu menggema di seluruh koloseum. Xu Hao berdiri di tengah arena, napasnya berat, bahunya berdarah, tapi berdiri tegak. Dia memandang ke arah lorong tempat Borong biasanya berdiri. Di sana, sosok raksasa itu muncul, bertepuk tangan pelan, lalu memberi isyarat jempol.
Janji telah terpenuhi. Lima puluh kemenangan.
Dan sekarang, pintu menuju pertarungan yang sebenarnya telah terbuka. Melawan raksasa yang tak terkalahkan. Melawan Borong.
up up up