Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
patbelas (14)
Malam baru saja turun saat Han Jia berdiri di batas ladang hitamnya. Di tangannya terdapat beberapa batang logam tipis berwarna biru perak hadiah dari sistem yang ia sebut sebagai 'Modul Pagar Listrik Qi'. Di mata Shura, benda itu hanyalah mainan logam yang tidak berguna untuk menahan serangan musuh.
"Han Jia, kau yakin tiang-tiang kecil ini bisa menahan orang?" tanya Shura sambil menancapkan tiang terakhir sesuai instruksi Han Jia. "Bahkan seekor kambing pun bisa melompatinya dengan mudah."
Han Jia menarik napas panjang, mencoba menekan keinginan untuk menjelaskan prinsip elektromagnetisme dan voltase tinggi.
"Shura, dengar ya. Tiang ini tidak menahan secara fisik, tapi dia akan memberikan... emmm... rasa pedas yang luar biasa jika disentuh," gerutu Han Jia. 'Rasa pedas? Ya Tuhan, Elena, kau baru saja menyebut arus listrik ribuan volt sebagai rasa pedas!'
"Sabar, Profesor. Analoginya cukup akurat untuk orang yang belum mengenal elektron," sahut Hera yang kini melayang di samping tiang, memeriksa sinkronisasi energi tentunya dengan menahan tawanya, Hera khawatir jika dia tertawa maka amarah Han Jia akan meledak.
"Rasa pedas?" Shura mengernyitkan dahi. "Maksudmu tiang ini sudah kau lumuri bubuk cabai tingkat dewa?"
"Bukan cabai, Otot Besar! Ini adalah... emmm... aliran energi yang bergerak sangat cepat di permukaan logam!" Han Jia membentak karena frustasi. "Hera, aktifkan modulnya sekarang! Hubungkan dengan inti energi Sawi Roh!"
[Ding! Modul Pagar Listrik Qi diaktifkan!]
[Status: Stabil pada tegangan 2000V (Hanya melumpuhkan saraf, tidak mematikan).]
Seketika, tiang-tiang itu mengeluarkan suara bzzzt halus yang hampir tidak terdengar.
Cahaya biru tipis mengalir di antara tiang-tiang tersebut sebelum akhirnya menghilang, menjadi pagar yang benar-benar tak terlihat oleh mata telanjang.
"Sudah selesai," ucap Han Jia puas. "Sekarang, ladang ini aman dari gangguan hama... baik yang berkaki empat maupun yang berkaki dua dan suka bergosip."
Shura mendekat dengan penasaran. "Hanya begini saja? Tidak ada tembok? Tidak ada kayu?" Ia mengulurkan tangannya, berniat menyentuh salah satu tiang biru itu.
"SHURA, JANGAN—!"
CETARRR!
Sebuah percikan cahaya biru melompat dari tiang dan mengenai ujung jari Shura. Jenderal besar itu seketika terpental tiga meter ke belakang, rambutnya yang tadi sudah rapi karena minyak rambut Han Jia kini berdiri tegak seolah-olah dia baru saja melihat hantu paling menyeramkan di dunia.
"APA-APAAN ITU?!" teriak Shura dengan suara yang sedikit melengking. Tangannya gemetar, dan ia merasa ada ribuan semut api yang menari di dalam saraf lengannya. "Tiang itu... tiang itu menggigitku! Dia mengeluarkan petir kecil!"
Han Jia menutup mulutnya, berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Shura yang berantakan.
"Itu... itu adalah reaksi pertahanan!" Han Jia berteriak, suaranya sedikit pecah karena menahan tawa. "Aku sudah bilang kan, itu memberikan rasa pedas yang luar biasa! Itu adalah aliran... emmm... aliran tenaga dalam yang sangat padat!"
'Tenaga dalam? Bagus, Han Jia. Kau baru saja menyebut listrik statis sebagai tenaga dalam. Othor pasti bangga padamu,' gerutu Han Jia dalam hati.
"Profesor, lihatlah sisi positifnya. Efek kejutnya berhasil menata ulang gaya rambut Tuan Shura menjadi model 'Punk Rock'," Hera tertawa geli di kepala Han Jia.
Shura berdiri dengan goyah, menatap tiang-tiang itu dengan ketakutan yang murni.
"Kau benar-benar gila, Han Jia. Kau memasang petir di sekeliling rumahmu! Bagaimana jika kau sendiri yang menyentuhnya?"
"Aku punya... emmm... mantra pelindung!" Han Jia menunjukkan sebuah gelang karet kecil di pergelangan tangannya (yang sebenarnya adalah isolator). "Hanya aku yang bisa melewatinya tanpa 'digigit'."
Baru saja Shura ingin protes lagi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah semak-semak. Rupanya, beberapa pemuda desa yang penasaran suruhan Bibi Liu mencoba menyelinap masuk untuk mencuri Sawi Roh yang kabarnya bisa membuat orang jadi tampan.
"Lihat! Han Jia sedang lengah!" bisik salah satu pemuda. "Ayo cepat ambil tanaman itu!"
Dua pemuda berlari kencang menuju ladang. Mereka tidak melihat pagar apa pun di depan mereka.
CETARRRR! ZAPPPP!
"AAAKKKHHHH!!"
Kedua pemuda itu terpental ke belakang sambil berteriak histeris. Tubuh mereka gemetar hebat di tanah, dan asap tipis keluar dari ujung baju mereka. Mereka tidak terluka parah, tapi saraf motorik mereka lumpuh seketika, membuat mereka hanya bisa berguling-guling seperti ulat nangka.
Warga desa lainnya yang mengintip dari jauh langsung lari terbirit-birit sambil berteriak.
"IBLIS! HAN JIA BENAR-BENAR MEMELIHARA PETIR!"
Han Jia berdiri dengan tenang di tengah ladangnya, menatap para penyusup yang lari tunggang langgang.
"Hera, catat koordinatnya. Tingkatkan... emmm... tingkatkan rasa pedasnya 10% lagi jika mereka berani kembali."
Shura menelan ludah, menatap Han Jia dengan pandangan baru. Jika sebelumnya ia takut karena Han Jia bicara sendiri, sekarang ia benar-benar ngeri karena gadis ini bisa menjinakkan petir dan memasangnya di pagar rumah seperti jemuran baju.
"Han Jia..." bisik Shura pelan. "Lain kali... kalau kau ingin membuat sesuatu yang 'pedas', tolong beri tahu aku dulu agar aku tidak kehilangan nyawaku secara tidak terhormat karena menyentuh tiang besi."
Han Jia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman profesor yang baru saja berhasil melakukan uji coba laboratorium dengan sukses. "Baiklah, Asisten Kuli. Sekarang, mari kita tanam Padi Baja. Aku butuh seseorang untuk mencangkul dengan tenaga 'petir' yang baru saja kau rasakan!"
Shura hanya bisa menghela napas pasrah, menyadari bahwa hidupnya sebagai jenderal besar telah berakhir dan kini ia hanyalah kuli di laboratorium gila milik seorang gadis penyihir kimia.