Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 2 bagian 5
Bima masuk ke dalam ruangannya dengan malas pagi itu, menyalakan laptopnya dan membuka beberapa laporan yang ia terima. Beberapa email masuk dari Stevani yang isinya permintaan untuk tidak melibatkannya dalam kasus yang ditangani secara ilegal. Sebenarnya kasus yang ia tangani bukanlah kasus ilegal, itu memang kasus yang belum terpecahkan hanya saja bukan dia yang ditugaskan untuk menangani kasus itu. Terkadang ia berfikir semakin banyak aturan akan semakin mempersulit penyelidikan. Bukankah yang penting kasusnya terpecahkan?
Apakah kata improvisasi pernah diperkenalkan pada pihak kepolisian? Bertindak sesuai keadaan yang terjadi di TKP tanpa harus menunggu instruksi atau melanggar aturan, itu mempermudah semua orang. Pihak kepolisian akan melakukan tugasnya dengan benar dan korban pun akan cepat ditanggapi. Menunggu instruksi atasan yang tidak ada di TKP, rasanya seperti menenggelamkan diri dalam kolam yang tidak diketahui kedalammnya.
Ia bersandar pada kursinya dan menghela nafas panjang. Tidak menyangka hidupnya akan serumit ini, dulu ia kira menjadi polisi hanya perlu tahu bagaimana mengunakan senjata dengan benar. Siapa yang akan menyangka perlu keahlian lainnya juga. Memecahkan kasus salah, tidak menyelesaikan kasus lebih salah lagi. Terkadang ia bingung dengan pilihan keputusan yang akan dia ambil.
Sepertinya ia harus berlatih keahlian menghilang agar tidak ada satu pun masalah yang mendekatinya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, menariknya menuju realita jika dia masih ada di tempat kerja. Bukan hal yang biasa dia menerima tamu, biasanya atasannya hanya akan menelepon jika ada kasus baru atau kasus yang perlu perhatian lebih.
“Masuk!” ucap Bima keras.
Suara kenop pintu diputar memenuhi ruangan, masuklah seorang polisi berseragam lengkap yang tampak seperti baru lulus akademi. Tubuhnya proporsional dan wajahnya masih fresh dan mencerminkan semangat yang membara. Ia tersenyum dengan tegang, mencoba untuk menyembunyikan ekspresi asli wajahnya.
“Begitu mudah terbaca” batin Bima.
“Siapa? Ada keperluan apa datang ke tempat ini?” tanya Bima setelah menilai sekilas.
“Perkenalkan nama saya Andi Hermawan, lulusan akademi kepolisian yang ditugaskan untuk menjadi bawahan Pak Bima” ucap polisi muda itu dengan penuh ketegasan.
Sejak awal Andi masuk Bima sudah merasakan deja vu. Dulu ia pernah melakukan hal yang sama berkata dengan tegas dan memperkenalkan diri dengan rasa bangga. Dulu ia juga punya semangat dan optimisme seperti ini, sebelum realita memukulnya hingga gegar otak. Akankah polisi muda ini merasakan apa yang telah ia rasakan?
“Indira yang menujukmu?” tanya Bima sambil menyeruput kopinya. Rasanya terlalu manis, tidak sesuai dengan keinginannya. Mungkin ia akan mengajukan proposal untuk punya dispenser di kantornya, itu akan mempermudah pekerjaannya.
“Iya benar, Ibu Indira yang memerintahkan aku untuk menjadi bawahan Pak Bima. Sebenarnya aku sudah akan bekerja setelah tugas terakhir Pak Bima, namun karena beberapa faktor Bu Indira memerintahkanku untuk datang hari ini” jawab Andi masih dengan posisinya.
“Apa kau akan menjadi mata-mata nenek lampir itu?” tanya Bima menatap Andi tajam.
“A Apa maksud Bapak? Ibu Indira tidak memberikan instruksi seperti itu, dia hanya tidak ingin Bapak bekerja sendirian. Di masa lalu Pak Bima adalah bawahan yang memiliki atasan, dan saat ini Pak Bima adalah atasan yang memiliki bawahan” jawab Andi dengan gagap.
Bima menyeringai kecil. Masa lalunya memang bukan hal yang menyenangkan, namun bukan berarti tidak menarik. Apakah Indira mencoba mengorek lukanya yang telah kering?
“Mengirim seorang pion untuk mengendalikan ku, aku hargai apa yang ia lakukan. Tidak perlu seformal itu ketika kau bekerja denganku, bersikap lah biasa, ikuti saja aturan yang ada ketika kamu berada di tempat formal selebihnya lupakan. Dan mulailah bekerja, jangan seperti orang tolol yang menunggu instruksi untuk bunuh diri” ucap Bima penuh dengan sarkasme. Ia mengalihkan perhatian terlalu malas mencerna spekulasi apa pun yang ada dalam kepalanya.
“Pak aku bukan pion Bu Indira. Kau tau pak aku sangat kagum denganmu, bapak hanya perlu bantuan seorang dokter forensik untuk memecahkan kasus pembunuhan terakhir, padahal kasus itu sudah sebulan mangkrak” ucap Andi penuh kekaguman.
Bima mengabaikannya dan mulai memeriksa satu persatu kasus yang masuk. Mengerjakan semuanya sendiri? Yang ia lakukan hanya lah menunggu, menyerahkan barang bukti, dan mengambil hasil uji lab. Anak-anak SMA itu telah mendongkrak kasusnya sendiri, mungkin ia perlu mentraktir mereka makan sebagai rasa terima kasih. Tapi apakah itu perlu? Orang tua mereka bahkan lebih kaya darinya.
“Itu hanya kebetulan, ada begitu banyak kasus yang belum terpecahkan akhir-akhir ini, cobalah untuk fokus bekerja” jawab Bima asal. Ya memang kebetulan sih, pada awalnya dia tidak ingin menyelidiki kasus itu.
“Kenapa laporan kasus kita dipenuhi orang hilang ya? Padahal mereka sudah dewasa, tidak gila dan tidak punya permasalahan keluarga” gumam Andi bingung.
“Kau masih baru, jadi awam akan kasus ini. Jika diteliti lebih dalam sebenarnya ada beberapa hal yang biasanya terlewat oleh penyidik, itu tugas kita sebagai unit kasus dingin” jawab Bima malas.
“Itu benar, lalu kenapa Bu Indira memerintahkan Pak Bima untuk menangani pemalakan dan tawuran siswa, bukankah itu tugas dari Satpol PP?” tanya Andi lebih berani.
“Tanyakan saja pada Indira, kenapa melimpahkan tugas padaku. Padahal tugasku sudah menumpuk” jawab Bima malas.
Divisi kriminal mencakup segala perbuatan kriminal kelas berat, dan unit kasus dingin sebagai pemecah kasus-kasus yang gagal terpecahkan. Kebetulan saja dalam tugas terakhir ia dapat menangkap seorang pelaku tindak pidana. Kalau tidak ia akan merangkap tugas lebih banyak dari yang ia duga.
Namun kejadian kemarin benar-benar miris, pelaku kejahatan kali ini dapat melakukan aksinya di depan umum, apa yang membuatnya begitu percaya diri tidak akan tertangkap? Taman kota dengan keamanan yang longgar, apakah ia perlu mengajukan usulan pemasangan kamera pengawas di beberapa titik sepi? Sepertinya itu bukan tugasnya.
Bima memperhatikan Andi yang tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya tidak ada satu kalimat pun yang keluar. Ia tahu menjadi pegawai baru, dengan orang baru, di tempat yang baru bukan lah hal yang mudah. Ia juga pernah berada di posisi itu 15 tahun yang lalu. Duduk di bangku itu dengan seorang polwan galak yang menjadi atasannya. Ia ingat betul di masa lalu wanita itu adalah panutannya, wanita yang tegas dan berpendirian tidak tergoyahkan. Dia lah yang membimbingnya hingga ke titik ini, Bima menggantikan posisinya setelah masa pensiunnya datang tahun lalu.
Keheningan terjadi selama hampir setengah jam, hanya goresan pulpen dan suara ketikan laptop milik Andi yang mengisi ruangan sampai suara ketukan pintu memecahkan keheningan
“Siapa orang yang mau berkunjung ke kantorku? Masuk!” teriak Bima.
Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan dengan angkuh. Ia menggunakan setelan baju formal yang sangat pas dengan tubuhnya, rambutnya disanggul rapi dan wajahnya dirias dengan make up ringan. Sungguh mencerminkan aura old money.
“Perkenalkan nama saya Sarah, seorang polisi wanita yang sudah purna tugas 6 bulan yang lalu” ucap wanita itu dengan senyum tenang.
Bima menegang mendengarnya. Atasan lamanya yang tidak ingin lagi berhubungan dengan kepolisian, untuk apa ia datang? Tidak mungkin ia datang hanya untuk keinginan iseng semata.
“Selamat pagi Bu, sudah lama aku tidak melihatmu” ucap Bima. Ia berdiri dan membungkuk dengan hormat.
Sarah tidak menjawab, ia memperhatikan ruangan yang dulu pernah ia tempati, ia tersenyum kecil pada Andi dan duduk di set sofa yang diletakan di sebelah kanan ruang kerja. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat padang rumput kecil yang ditanami beberapa bunga bougenville.
“Kenapa dulu aku tidak pernah berfikir untuk memindahkan sofa ke titik ini?”
“Mungkin karena anda terlalu terfokus untuk memecahkan masalah.”
Bima mengeluarkan satu set teko yang selama 6 bulan ini tidak pernah digunakan, menyeduh teh hijau dan menyajikannya di meja. Itu adalah teko yang dulu dibeli Sarah dengan uang pribadinya, Bima tidak pernah menggunakannya sejak Sarah pensiun. Ia lebih suka menyeduh kopi daripada teh.
“Apa yang membawa Anda kemari Bu? Aku yakin ini bukan kunjungan iseng” tanya Bima setelah menuangkan teh ke cangkir Sarah.
“Apa kau ingat dengan kasus Wijaya Kusuma yang dulu pernah kita tangani?" tanya Sarah sambil menyeruput teh di cangkirnya.
“Mana mungkin aku lupa, itu kasus yang hampir kita pecahkan sebelum Indira merebutnya dengan alasan ia tahu lebih banyak. Itu juga yang membuatnya naik jabatan hingga hari ini. Kasus itu sudah selesai dengan begitu mudah” jawab Bima berusaha menutupi kekesalannya.
Sarah tersenyum kecil, ia mengambil sebuah amplop surat berwarna putih dari saku blazernya dan meletakkannya di meja.
“Kau tahu, sejak aku menjabat sebagai kepala unti kasus dingin tidak ada satu pun surat personal yang pernah mampir ke kotak suratku. Kotak itu dipenuhi surat-surat dari kantor pos, namun selama masa pensiunku hampir setiap bulan surat seperti ini muncul diantara tumpukan surat lainnya” jelas Sarah.
Bima dengan ragu mengambil amplop itu, isinya hanya 6 lembar surat kaleng yang tidak teridentifikasi siapa pengirimnya. Tidak ada kalimat ancaman mau pun paksaan, isinya hanya sebuah permintaan untuk penyelidikan ulang kasus Wijaya Kusuma, dan surat terakhir memiliki tulisan yang lebih pendek dari 5 surat lainnya. Isi ya hanya sebuah kalimat yang berbunyi,
Wijaya Kusuma belum ditemukan
“Kotak suratku terletak di teras rumah, siapa pun orang yang keluar masuk pasti akan terekam CCTV, dan tidak ada aktivitas mencurigakan yang terjadi” ucap Sarah lagi.
“Apa Anda sudah mengirimnya ke tim identifikasi untuk mengecek tanda sidik jari yang tertinggal?” tanya Bima serius.
“Aku sudah melakukannya, dan tidak ada satu pun jejak yang tertinggal. Sepertinya pelaku menggunakan sarung tangan sehingga tidak meninggalkan jejak sidik jari” jawab Sarah tidak kalah serius.
“Tapi kasus Wijaya Kusuma telah selesai dan jasad yang ditemukan juga punya DNA yang sama dengan dokumen orang hilang yang diterima kepolisian, mana mungkin tim forensik memanipulasi data seseorang yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Lagipula jika ingin mengajukan keluhan, kenapa pengiriman surat tidak mengirim suratnya ke kantor polisi?” ucap Bima setelah berfikir cukup lama.
Andi yang sejak tadi menyimak pembicaraan 2 orang ini akhirnya menyela,
“Bu Indira tidak pernah membaca surat yang tidak ber-kop resmi, ia membuangnya sebelum surat itu dibuka. Ia bahkan tidak mengizinkan anak buahnya untuk memastikan apa isi surat itu.”
Bima dan Sarah melempar pandang mengerti. Tentu saja tidak ada keluhan yang mereka terima sejak Indira menjabat, ia tidak pernah peduli pada urusan orang lain. Mungkin saja orang itu telah mengirim surat ke kepolisian, namun surat itu tidak pernah dibaca oleh si penerima.
“Andi Hermawan, tolong cari data tentang kasus yang kita bahas, seharusnya ada dokumen yang tersimpan di file kasus terpecahkan” perintah Sarah pada bawahan Bima.
“Tapi Bu, bukankah itu tindakan ilegal?” tanya Andi ragu-ragu.
“Ilegal jika yang mengaksesnya adalah orang luar, kau seorang polisi bukan orang luar” ucap Sarah penuh ketegasan.
Bima tersenyum kecil mendengar perintah itu. Kalimat yang menjadi jawaban Andi, ia pernah mengatakan hal yang sama di masa lalu.
“Kasus Wijaya Kusuma mungkin bukan kasus yang besar untuk kita, tapi kasus itu penting untuk Indira. Dia perlu pijakan untuk naik jabatan dan menghasilkan lebih banyak uang, tidak seperti kau yang harus menunggu aku pensiun untuk naik jabatan. Lalu aku dengar dokter forensik yang menangani kasus ini secara mendadak mengajukan pengunduran diri dan pergi ke luar negeri setelah kasunya selesai, mungkinkah ini berhubungan?” tanya Sarah menganalisis.
Bima terdiam mendengar fakta itu. Ia memang tidak pernah menyukai Indira memimpin, tapi ia tidak pernah berpikir wanita itu akan melakukan hal sejauh ini. Jika memang benar ia melakukannya, itu sangat keterlaluan. Apalagi berkomplot dengan seorang dokter forensik untuk memalsukan dokumen, itu merupakan tindak kejahatan kelas berat.
“Minta lah sedikit informasi dari Stefani, dia adalah bawahan dokter forensik yang sebelumnya menjabat. Jika kasusnya memang tidak bisa terpecahkan, setidaknya kita sudah berusaha untuk membantu keluarga korban” ucap Sarah lagi. Ia menghabiskan teh di cangkirnya sebelum berjalan ke meja Andi untuk mengambil dokumen yang ia minta.
“Bagaimana jika surat itu hanya iseng?” tanya Bima tanpa tenaga. Ia tahu kepolisian memang bukan lembaga yang baik, namun ia menolak percaya jika seburuk itu.
“Sekarang kau tahu betapa buruknya itu kan? Aku mungkin sudah pensiun tapi otakku belum berhenti untuk berpikir, dan aku yakin kasusnya memang belum selesai”
Sarah keluar dari ruangan itu penuh dengan ketenangan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa dalam ruangan itu. Meninggalkan Bima yang masih terdiam dan Andi yang tidak tahu harus melakukan apa. Keheningan terjadi selama beberapa saat hingga dipecahkan oleh dering ponsel Bima. Stevani.
“Halo, kenapa?
“Pak Bima, aku tidak akan menyalahkan Anda jika aku ditegur oleh atasan kali ini, aku perlu memberimu informasi penting” ucap Stefani di ujung telepon.
“Kenapa?” tanya Bima tidak terlalu bersemangat.
“Sampel puntung rokok yang kau kirimkan terakhir kali adalah produk impor ilegal. Jika kau bisa menelusuri alur peredarannya maka kau bisa naik jabatan” ucap Dokter itu sedikit ragu.
“Baik aku akan selidiki nanti, tapi Dokter aku perlu lebih banyak informasi. Tolong temui aku di restoran Roses Sabtu sore” ucap Bima.
Baru kali ini ia tidak berharap dugaannya benar.