Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"Farhan, apalah benar yang di katakan oleh pak Haris bahwa kau menolak beasiswa full yang di berikan pada mu?" Tanya sang bu Munah pada Farhan.
"Iya bu, itu memang benar!" Jawab Farhan sambil mengangguk kan kepala nya.
"Kenapa kau menolak nya Farhan? Dengan beasiswa itu kau bisa menggapai masa depan yg lebih baik nak!" Bu Munah menasihati anak nya.
"Bu, dengan menolak beasiswa itu bukan berarti aku tidak punya masa depan!" Farhan berkata pada ibu nya.
"Tapi nak, banyak orang di luaran sana yang ingin mendapat kan nya. Tapi mereka tidak mampu, sementara kau bisa mendapat kan nya dengan mudah. Ibu minta pada mu nak, lanjut kan pendidikan mu!" Bu Munah membujuk anak nya.
"Tidak bu, aku tidak menginginkan gelar sarjana itu. Aku ini adalah tulang punggung keluarga kita, aku mau bekerja saja!" Farhan menolak keinginan sang ibu.
"Nak, kita masih memiliki ladang, kita juga masih punya kebun. Hasil ladang dan kebun itu cukup untuk kebutuhan sehari - hati kita!" Bu Munah masih berusaha agar putra sulung nya mengambil beasiswa itu.
"Andai kan ibu memperlakukan Mawar seperti ibu memperlakukan Indah, mungkin saja aku akan ambil beasiswa itu. Aku sebenar nya sangat ingin mengambil beasiswa itu bu, tapi aku tidak bisa meninggal kan Mawar di sini. Aku tidak tahu apa yang akan ibu lakukan pada Mawar jika aku tidak ada di sini!" Farhan berkata di dalam hati nya dan dia tidak bisa mengatakan semua isi hati nya di hadapan sang ibu.
"Tidak bu, aku sudah memutuskan bahwa aku ingin bekerja saja setelah ini!" Jawab Farhan tegas.
"Nak, ini masa depan mu nak, tolong lanjut kan pendidikan mu hingga menjadi Sarjana nak!" Bujuk bu Munah lagi.
"Bu, hidup ini bukan tentang aku saja. Masih ada Mawar dan Indah, biar kan mereka saja yang kuliah nanti! Mereka anak perempuan bu, pendidikan mereka jauh lebih penting dari pada aku!" Farhan tetap kukuh menolak keinginan sang ibu.
"Farhan, Indah sekarang masih kelas 1 SMP. Masih lama dia akan tamat SMA, setelah kau lulus sarjana nanti dia baru akan lulus SMA!" Bu Indah berkata lagi.
"Bagai mana dengan Mawar bu? 2 tahun lagi Mawar akan lulus SMA, jadi biar kan Mawar saja yang kuliah bu!" Tolak Farhan dengan halus.
"Nak, Mawar pasti akan mengerti nak, ibu yakin. Ayo lah nak, ibu mohon ambil lah beasiswa mu nak!" Bu Munah memohon pada putra sulung nya.
"Kenapa ibu selalu menomor sekian kan Mawar dan mengutamakan Indah bu? Bukan kah mereka sama - sama anak ibu?" Farhan mempertanyakan alasan nya yang selalu mengesamping kan Mawar di banding kan dengan Indah.
Bu Munah terdiam dan dia tidak bisa menjelaskan apa - apa pada Farhan, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu alasan di balik sikap nya terhadap Mawar.
"Ibu, aku sudah memutuskan bahwa aku akan. bekerja saja setelah aku mendapat kan ijazah ku. Biar Mawar saja yang kuliah nanti, bukan aku!" Farhan berkata pada ibu nya.
Setelah itu Farhan pergi meninggal kan sang ibu yang masih terdiam di tempat nya. Ini bukan lah pertama kali nya Farhan mempertanyakan Kenapa dia membedakan antara Mawar dan Indah, bu Munah seketika menjadi sedih.
"Andai kan waktu bisa di putar, ibu tidak akan pernah mengucapkan kata - kata itu nak. Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, tapi ibu tidak bisa menarik sumpah ibu nak. Ibu tidak ingin jika Indah kembali seperti dulu nak!" Batin bu Munah di dalam hati.
Setiap kali melihat Indah, kembali bu Munah teringat kejadian di mana dulu Indah sakit parah dan sempat gagal nafas. Bu Munah tidak mau jika hal itu sampai terjadi lagi jika dia melanggar janji nya sendiri.
"Bu, enak saja Mawar yang kuliah nanti sementara kakak tidak!" Ucapan Indah seketika membuyar kan lamunan bu Munah.
"Tidak nak, siapa yang akan membayar biaya kuliah nya Mawar jika dia kuliah nanti, Mawar harus belajar setelah dia lulus SMA nanti!" Bu Munah untuk membesar kan hati putri bungsu nya.
Indah tersenyum mendengar ucapan ibu nya, hati nya bersorak kegirangan karena ucapan sang ibu.
"Bagus lah kalau gitu, enak saja si Mawar mau kuliah, cuma ngabisin uang aja. Mending uang nya buat aku aja!" Indah membatin di dalam hati.
Sementara itu di balik pintu kamar nya Mawar mendengar semua pembicaraan mereka tadi.
"Kakak pasti menolak beasiswa itu karena aku, kak Farhan pasti tidak mau meninggal kan aku sendiri di sini. Aku harus bicara sama kakak, dia harus ambil beasiswa itu. Aku tidak papa di sini, lagian kan aku juga mau bekerja setelah aku lulus SMA nanti. Aku tidak mau membebani kak Farhan lebih lama lagi!" Batin Mawar di dalam hati.
Setelah memastikan ibu dan adik nua masuk ke dalam kamar, Mawar bergegas keluar secara diam - diam. Dia ingin menemui kakak nya dan bicara langsung pada nya.
Mawar membuka pintu pelan - pelan, jangan sampai menimbulkan suara yang bisa di dengar oleh ibu nya dan juga Indah.
"Kak, ini sudah malam, kenapa kakak masih ada diluar?" Tanya Mawar pada Farhan ketika dia melihat Farhan sedang duduk termenung di teras rumah nya.
"Kakak belum ngantuk dek, kamu masuk saja ini sudah malam. Besok kamu harus sekolah!" Farhan mengingat kan Mawar.
Memang benar besok pagi Mawar harus seolah, sementara Farhan yang sudah melewati ujian akhir tidak lagi pergi ke sekolah. Hanya tinggal menunggu pengumuman dan juga pembagian ijazah saja.
"Kak, kenapa kakak menolak beasiswa itu kak?" Mawar memberanikan diri untuk bertanya.
"Kakak tidak mau melanjutkan dek, kakak mau bekerja saja setelah lulus nanti!" Jawab Farhan sambil mata nya lurus ke depan tanpa melihat pada Mawar yang sedang duduk di samping nya.
"Apakah kakak menolak beasiswa itu karena aku kak?" Tanya Mawar lagi.
"Bukan dek, bukan karena kamu. Kakak cuma mau bekerja saja dek setelah ini!" Jawab Farhan lagi untuk meyakin kan sang adik.
"Kaka pasti bohong, kakak sengaja kan menolak nya karena kakak tidak mau meninggal kan aku sendiri di sini. Aku gak papa kak, kakak ambil ya beasiswa itu!" Mawar membujuk kakak nya.
"Udah malam Mawar, cepat masuk ini. Kau harus bangun pagi dan kau harus sekolah besok!" Farhan memaksa adik nya untuk segera masuk.
Farhan tidak ingin menjawab pertanyaan dari Mawar, dia sudah mengubur keinginan nya itu dalam - dalam. Dia bertekad bahwa dia hanya ingin bekerja dan mendapat kan uang saja, masalah pendidikan biar lah itu menjadi milik adik - adik nya.