Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekarang Mas Berubah!
Tasya mematung di tempatnya. Menginap selama beberapa hari? Ia bisa bayangkan reaksi mertua, suami dan Sisca saat mendengarnya. Ia pasti akan dicibir sang mertua, suaminya akan lebih marah lagi padanya dan Sisca, perempuan itu akan semakin gencar mendekati suaminya.
"Pak Radit, tunggu sebentar!" Tasya menyusul Radit masuk ke dalam ruangannya.
Radit sedang menyampirkan jas hitam miliknya di atas kursi kerja. "Ada apa?"
"Anu, Pak. Mengenai tugas ke luar kota. Bolehkah aku menyusul besok pagi saja? Mengapa harus menginap? Tidak bisa pulang pergi saja?" Tasya menatap Radit dengan tatapan memohon.
"Pulang pergi? Kalau kita hanya pergi ke Bogor sih aku rasa tak masalah. Namun kita pergi ke Semarang dan Jogja. Apa bisa kita lakukan tanpa menginap?" Radit menatap Tasya dengan lekat.
Tasya nampak cemas. Masalah rumah tangganya sudah pelik, jika ia pergi ke luar kota, ia yakin akan semakin besar permasalahan di antara dirinya dan sang suami.
"Sya, kita pergi untuk bekerja. Kita harus sampai tepat waktu karena klien kita agak rewel dan sangat disiplin." Radit berdiri lalu berjalan mendekati Tasya. "Pulanglah untuk berkemas. Sore ini, kita langsung ke bandara. Pesawat kita jam 7 malam, jika tidak bergegas, kita akan tertinggal. Kamu mau naik taksi atau mobil kantor?"
Tasya tahu dirinya tak bisa lagi menolak. Radit sudah terlalu baik padanya dan Dicky. Ia tak mau mengecewakan Radit dengan kerewelannya. "Aku naik mobil kantor saja. Aku pamit dulu, Pak. Permisi."
.
.
.
Tasya melangkah masuk ke dalam rumah. Terdengar suara Ibu Welas, Sisca dan Setyo dari ruang keluarga. Sisca nampak sedang memijat bahu Ibu Welas.
"Enak sekali pijatanmu, Sis. Tante senang kamu tinggal di rumah ini. Tante selalu dimanjakan sama kamu. Masakanmu enak, kamu pintar membantu Setyo mendapatkan pekerjaan dan pijatanmu enak sekali. Lebih berguna ada kamu di rumah ini daripada menantuku yang kurang ajar dan sok sibuk itu." Ibu Welas begitu menikmati pijatan Sisca.
"Jangan begitu ah, Tan. Mbak Tasya kan sibuk bekerja mencari uang, wajar kalau Mbak Tasya tak punya banyak waktu di rumah." Sisca memuji Tasya namun Tasya yakin seribu persen kalau pujian yang ia dengar tidak tulus.
"Cih, sibuk bekerja apa? Cuma karyawan biasa saja, apa hebatnya? Lebih keren kamu, Sis. Lulusan luar negeri, mau kerja apa saja gampang," puji Ibu Welas.
Setyo tak berkomentar atau membela istrinya. Ia sibuk dengan layar laptopnya. Nampak bersemangat mencari uang dengan kerja remote yang baru digelutinya.
"Mas mau aku buatkan es teh manis?" tawar Sisca. Sejujurnya, ia pegal memijat Ibu Welas terus, ia ingin kabur ke dapur.
"Boleh saja, Sis. Maaf ya kalau merepotkanmu," jawab Setyo.
"Tak apa, Mas." Sisca berdiri lalu berjalan meninggalkan ibu dan anak tersebut. Ia terkejut mendapati Tasya berdiri mematung. "Loh, Mbak Tasya? Kok Mbak Tasya tidak kerja? Mbak sejak kapan berdiri di sana?"
Ibu Welas dan Setyo kompak menoleh, mereka menatap wajah Tasya yang nampak keruh. Ibu Welas menduga kalau Tasya mendengar semua percakapan mereka namun ia tak peduli. Ia malah senang kalau Tasya tersinggung lalu pergi dari hidup Setyo.
Tasya mengacuhkan Sisca. Ia menghampiri Setyo dengan wajahnya yang menyembunyikan kesedihan. "Mas, aku mau pamit. Malam ini aku harus pergi ke luar kota, ada pekerjaan kantor."
"Ke luar kota? Dengan siapa?" Setyo menatap Tasya penuh curiga.
"Dengan atasanku, kami akan menemui klien besok pagi," jawab Tasya.
"Mengapa begitu dadakan?" Setyo seperti sedang menginterogasi Tasya.
Tasya menghirup nafas dalam. Ia menguasai dirinya. "Tidak dadakan. Aku saja yang tidak membaca pesan yang dikirimkan kemarin, karena itu aku pulang untuk mengambil pakaian ganti. Aku tak bisa lama-lama, Mas, aku harus packing dan kembali ke kantor."
Tasya pergi ke kamarnya diikuti Setyo yang mendorong kursi roda dengan tangannya sendiri. "Kamu bukan meminta ijin Mas namanya, Sya. Kamu hanya memberitahu!"
Tasya mengambil koper kecil dan memasukkan beberapa pakaian ke dalamnya. "Apa bedanya, Mas? Sama saja menurutku. Yang pasti, sebelum aku pergi, aku memberitahu Mas terlebih dahulu."
"Kalau aku tak mengijinkan bagaimana? Apa kamu akan tetap pergi?" balas Setyo.
Tasya memejamkan matanya sejenak. Ia lelah dengan pertengkaran mereka. Setitik air mata berhasil jatuh, tak bisa ia tahan. Cepat-cepat Tasya menghapus air matanya.
"Lantas, aku harus mengabaikan pekerjaanku?" balas Tasya. Ia berbalik badan dan menatap Setyo dengan lekat.
"Tentu saja, suamimu lebih penting, Sya!" balas Setyo.
"Pekerjaanku juga tidak kalah penting, Mas. Aku butuh uang, hutangku menumpuk dan aku harus membayarnya. Jika aku tidak bekerja, bagaimana aku bisa membayar semuanya?" balas Tasya tak mau kalah.
Setyo mendengus sebal. "Lagi-lagi kamu meremehkanku karena aku kini cacat, Sya-"
"Aku tidak meremehkanmu, Mas. Aku menghargaimu. Aku hanya berusaha mandiri, membayar semua hutang dengan kerja kerasku, apa itu salah?" Tasya bahkan berani memotong ucapan Setyo.
"Mas yang akan bayar semua!" Harga diri Setyo kembali terusik.
"Oh ya? Termasuk pengobatan Dicky sampai ia sembuh?" Tantang Tasya.
Setyo terdiam sejenak. "Itu... nanti kalau aku punya pekerjaan yang lebih mapan lagi, baru aku akan biayai."
"Lalu pengobatan Dicky akan dihentikan sampai Mas punya pekerjaan yang mapan, gitu? Memangnya bisa, bagaimana kalau Dicky akhirnya tidak tertolong karena tak bisa menunggu lebih lama?" balas Tasya.
"Ya, sabar, Sya. Mas itu sedang berusaha. Kamu selalu memikirkan Dicky, tak pedulikan perasaanku, Sya!" Setyo membalas Tasya.
"Jelas aku memikirkan Dicky, Mas. Ia tak punya siapapun di dunia ini selain aku! Berbeda dengan Mas Setyo. Ada ibu dan Sisca yang selalu ada untuk Mas. Kalau Dicky-"
"Dicky bukan anak kita, Sya! Kita tak punya kewajiban untuk terus mengurusnya. Taruh saja di panti asuhan-"
"Tidak akan, Mas!" potong Tasya. "Aku tak akan melakukan hal itu. Mbak Ratih tak pernah meninggalkanku sekalipun sejak Papa dan Mama meninggal. Dia yang membiayai dan menyekolahkanku selama ini. Aku akan sangat malu jika anaknya tak bisa aku urus!"
"Kamu terlalu memaksakan diri, Sya. Kita tidak tahu bagaimana keadaan Dicky setelah sembuh nanti. Bisa saja dia lebih parah dariku?" Ucapan Setyo semakin menusuk hari Tasya.
"Tak akan, Mas. Aku akan lakukan apapun demi kesembuhan Dicky, apapun. Kalau pun Mas tidak merestuiku, aku tak peduli. Mas tadi bilang aku tak peduli pada Mas, bukan? Mas salah! Aku peduli pada Mas. Namun sekarang Mas berubah. Mas Setyo yang tidak peduli dengan Dicky. Kenapa? Karena Dicky bukan anak kandung Mas, gitu?" Tasya menutup koper. "Kalau Mas berubah, aku juga bisa berubah. Ingat ya, Mas, apapun akan kulakukan demi Dicky, karena aku tak akan bisa seperti saat ini jika bukan karena jasa Mbak Ratih. Aku pergi, Mas. Silahkan Mas belajar banyak dari Sisca yang menurut Ibu lebih hebat dariku itu!"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣