NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mandiri Tapi Sepi

Udara di klinik dr. Oka terasa berbeda. Tidak lagi berbau disinfektan yang menusuk, tetapi campuran lembut aroma kayu baru, cat ramah lingkungan, dan bunga segar di vas di reception desk yang baru.

Cahaya matahari pagi menembus jendela besar yang kini tanpa tirai berat, menyinari ruang tunggu yang transformasinya nyaris seperti sulap. Kursi-kursi berbentuk organik dengan bantal sage green, panel dinding akustik dengan pola akar pohon yang memantulkan bayangan lembut, area bermain kecil dengan puzzle magnetik—semuanya berpadu menciptakan suasana yang menenangkan, bukan menakutkan.

Amara berdiri di samping Ibu Dewi, memandangi hasil karyanya. Dia mengenakan jumpsuit linen berwarna khaki dan blazer matching, rambutnya diikat rendah. Dia terlihat profesional, tapi di dalam, ada getaran gugup dan bangga yang kuat.

“Saya tidak bisa berterima kasih cukup, Bu Amara,” bisik Ibu Dewi, matanya berkaca-kaca.

“Lihat ekspresi pasien yang masuk tadi. Mereka tersenyum, tidak lagi cemas.”

Dr. Oka mendekat, menjabat tangan Amara erat-erat.

“Ini luar biasa. Bukan hanya estetika. Ini psikologi. Jumlah pasien yang membatalkan janji minggu ini turun drastis. Itu pencapaian nyata.”

Launching sederhana itu dihadiri beberapa pasien tetap, tetangga praktik, dan tentu saja, Sari yang dengan bangga memotret setiap sudut.

Saat Ibu Dewi secara simbolis memotong pita, lalu menyerahkan sebuah amplop yang agak tebal pada Amara, rasanya seperti sebuah mahkota. Ini bukan hanya pembayaran. Ini adalah pengakuan.

“Semoga ini yang pertama dari banyak proyek,” ucap Ibu Dewi, memeluknya.

Di dalam mobil, Amara membuka amplop itu. Jumlahnya lebih besar dari yang tercantum di kontrak, ditambah bonus. Tangannya gemetar.

Uang ini, yang diperoleh dari keringat, keahlian, dan visinya sendiri, terasa lebih bernilai daripada angka di rekening bersama yang selama ini dia gunakan. Ini adalah modal kebebasannya.

Tanpa pikir panjang, dia pergi menuju sebuah kawasan di Jakarta Selatan yang dipadati galeri kecil dan studio kreatif. Dia sudah menyurvei tempat ini secara online.

Sebuah ruko tua dua lantai, lantai bawahnya adalah kedai kopi indie. Lantai atasnya—sebuah ruang kosong berukuran 6x8 meter dengan dinding bata ekspos, lantai beton, dan jendela besar menghadap ke jalan—baru saja kosong. Dia menelpon nomor yang tertera.

Dua jam kemudian, setelah negosiasi singkat dan membayar deposit dengan uang tunai dari amplop itu, kunci berada di tangannya. Studio-nya. Miliknya.

Beberapa hari berikutnya dihabiskan dalam euphoria kreatif dan fisik. Dia membersihkan ruangan sendiri, mengecat satu dinding dengan warna putih kapur, membeli meja kerja bekas yang kokoh dari pasar loak, rak-rak pipa besi, dan sebuah papan moodboard besar.

Dia membawa sketchbook, material sampel, laptop, dan mesin jahit portabelnya dari rumah. Saat dia menggantung papan tulis kecil di dekat pintu dan menulis 'Studio A.M.R.A' dengan spidol tebal, sebuah gelombang kepemilikan yang dalam menyergapnya. Ini bukan lagi ruang kerja di sudut rumah orang lain. Ini adalah wilayahnya.

Namun, seperti pasang surut, euforia itu diikuti oleh perasaan lain yang lebih gelap: kesepian.

Di rumah besar yang sekarang hanya dihuni dirinya (Luna sedang di rumah Rafa untuk akhir pekan pertama mereka), sunyi itu terasa begitu nyata, begitu fisik.

Bukan lagi sunyi yang tegang karena konflik, tapi sunyi yang hampa, bergema. Dia berjalan dari kamar ke dapur, suara langkah kakinya sendiri terdengar keras.

Dia memasak untuk satu orang, dan suara desis minyak di wajan terdengar seperti teriakan di keheningan.

Suatu malam, duduk sendirian di ruang keluarga yang megah, dikelilingi benda-benda mahal yang tidak lagi memiliki arti, pertanyaan besar menghantamnya: Apa sekarang? Selama berbulan-bulan, tujuannya jelas: bertahan, mengumpulkan bukti, menjadi kuat, melarikan diri.

Sekarang dia sudah “lolos”. Dia mandiri secara finansial, memiliki studio, hubungan co-parenting dengan Rafa berjalan lancar.

Tapi… apakah ini kebahagiaan?

Kebahagiaan ternyata bukan hanya lawan dari ketidakbahagiaan. Ada sebuah dataran luas di antaranya, bernama “keadaan biasa”, dan di sanalah dia sekarang tersesat.

Dia merindukan tawa Luna yang memecah kesunyian, tapi juga takut kembali pada dinamika lama. Dia merasa seperti kapal yang telah berhasil melewati badai, namun kini terombang-ambing di laut lepas tanpa tujuan yang jelas.

“Gue datang, bawa pizza dan anggur!” teriak Sari dari depan rumah, menyelamatkannya dari pusaran pikiran itu.

Mereka makan di lantai ruang keluarga, seperti masa remaja. Amara bercerita tentang kesepiannya.

“Wajar banget, Mara,” kata Sari. “Lo baru aja keluar dari hubungan intens selama 12 tahun lebih, baik itu cinta atau perang. Otak lo lagi withdrawal. Lo butuh koneksi baru, yang sehat.”

“Aku merasa seperti alien, Sar. Di tengah orang-orang.”

“Maka lo harus nyemplung. Minggu depan, gue ada acara ngumpul kecil-kecilan sama teman-teman seniman dan kurator. Lo harus datang. Bawa beberapa karya lo. Cuma buat diliatin, nggak usah jualan.”

Acara itu diadain di sebuah apartemen rooftop milik seorang fotografer. Suasana berbeda dari galeri resmi—lebih santai, ramai, penuh tawa, debat tentang seni, dan asap dupa.

Amara memakai jumpsuit hitam sederhana, membawa portofolio digital di tablet dan sebuah tas berisi beberapa tekstil eksperimentalnya.

Awalnya, dia merasa seperti dinding. Orang-orang membicarakan pameran di Berlin, residensi di Yogyakarta, seniman yang belum pernah didengarnya. Rasanya dunia telah bergerak begitu cepat tanpa dirinya.

Tapi Sari dengan setia memperkenalkannya.

“Ini Amara, desainer tekstil. Baru buka studio. Karyanya nggak main-main, nih.”

Seorang wanita dengan tato lengan penuh tertarik pada tekstur kain yang dibawanya.

Seorang musisi bertanya tentang prosesnya. Perlahan, Amara mulai bicara. Tentang konsep “Fragments & Wholeness”, tentang penggunaan material daur ulang, tentang bagaimana tekstur bisa bercerita. Kata-katanya, yang lama terpendam, mulai mengalir lagi.

Lalu, seorang pria mendekat. Dia mungkin pertengahan 40-an, berkacamata, berjanggut rapi, mengenakan kemeja linen yang santai.

“Sari bilang kamu punya pendekatan yang menarik tentang memori dan material,” ujarnya, suaranya tenang.

“Saya coba bereksplorasi,” jawab Amara, sedikit gugup.

“Saya Anton, kurator di ARTSPACE Jakarta. Kami sedang merencanakan pameran kelompok bertema ‘Renewal’ awal tahun depan. Karya tentang transformasi, perbaikan… baik personal maupun material.

Konsep ‘fragmen’ kamu terdengar cocok. Apa kamu punya karya yang lebih substantif, bukan sekadar sampel?”

Jantung Amara berdebar kencang. ARTSPACE adalah galeri ternama. “Saya… sedang mengerjakan sebuah seri. Masih dalam proses.”

“Bagus. Proses itu yang ingin kami lihat juga. Kalau kamu tertarik, kirim proposal dan dokumentasi progres ke email saya.” Anton mengulurkan kartu namanya. “Jangan ragu. Suaramu segar.”

Sepanjang sisa malam, Amara seperti berjalan di atas awan. Anton berbicara dengannya lebih lama, mendengarkan dengan saksama saat dia bercerita soal inspirasi dari instalasi cair dan pameran seni yang dilihatnya. Dia diperlakukan sebagai rekan, sebagai seniman, bukan sebagai istri siapa-siapa.

Dalam perjalanan pulang, Sari menyeringai.

“Nah, tuh! Anton itu selektif banget. Kalau dia tertarik, berarti karya lo memang punya gigi.”

“Aku… aku takut, Sar. Kalau karyaku tidak cukup bagus? Kalau aku tidak bisa memenuhi ekspektasi?”

“Berhenti mikir seperti istri yang harus memenuhi ekspektasi suami, dong!” sentil Sari.

“Ini seni, Mara. Ekspresi. Kamu yang pegang kendali. Kalau Anton nggak suka hasil akhirnya, ya sudah. Tapi kamu sudah buat sesuatu yang kamu percayai. Itu yang penting.”

Kembali ke rumah yang sunyi, rasa kesepian itu masih ada. Tapi rasanya berbeda sekarang. Tidak lagi seperti sebuah lubang kosong, melainkan seperti sebuah ruang hening sebelum sebuah kreasi dimulai. Dia meletakkan kartu nama Anton di meja kerjanya di studio, di samping sketchbook birunya.

Dia membuka laptop, menyiapkan file untuk dikirim ke Anton. Jari-jemarinya menari di atas keyboard, menulis pernyataan konsep. Setiap kata adalah klaim atas dirinya sendiri:

“Karya ini mengeksplorasi paradigma kecacatan dan perbaikan, melihat retakan bukan sebagai kegagalan, tetapi sebagai jejak sejarah dan potensi untuk bentuk baru…”

Saat fajar menyingsing, Amara masih terjaga, tapi tidak lagi karena gelisah. Dia terjaga karena ide-ide yang menari-nari di kepalanya, karena kemungkinan yang terbentang.

Kesepian itu belum hilang, tapi dia mulai melihatnya bukan sebagai musuh, melainkan sebagai tanah subur tempat benih karyanya bisa tumbuh.

Dia berjalan ke jendela, melihat langit Jakarta yang mulai berubah dari hitam menjadi kelabu kebiruan. Di suatu tempat di luar sana, ada studio kecil dengan namanya di pintu.

Ada sebuah galeri yang mungkin akan memajang karyanya. Ada seorang putri yang mencintainya. Dan ada dirinya sendiri—seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa perjalanannya untuk “lolos” ternyata adalah perjalanan panjang menuju “menemukan”.

Dan malam ini, di dalam kesunyian yang akhirnya terasa damai, dia merasa telah menemukan sebuah peta, dengan sebuah jalan yang baru saja diberi tanda: “Mulai Dari Sini.”

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!