Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Udara Bebas
Engsel pintu keluar terakhir menjerit, suara logam berkarat yang dipaksa terbuka itu bergema di sepanjang dinding lembap sebelum akhirnya menyerah pada tekanan bahu Li Wei. Seketika, dinding udara dingin menghantam mereka. Itu bukan sekadar udara; itu adalah serangan suhu yang membekukan, sangat kontras dengan hawa panas sisa ledakan Garda Besi di dalam bunker.
"Keluar... kita benar-benar keluar," bisik Xiao Hu. Suaranya gemetar saat ia melangkah ke atas gundukan salju yang membeku.
Li Wei segera menyandarkan punggungnya pada dinding beton luar yang retak. Ia membiarkan paru-parunya menyesuaikan diri dengan oksigen murni yang terasa tajam seperti pisau di tenggorokannya. Di telapak tangannya, pendaran ungu sisa pertarungan memudar, meninggalkan tangan yang bergetar hebat akibat suhu sarafnya yang masih berada di ambang batas bahaya.
"Jangan hanya berdiri di sana," geram Chen Xi sambil menarik keluar jubah tipis berpendar perak dari tas Xiao Hu. "Li Wei, pasang ini. Sekarang."
"Aku masih bisa menahan suhu ini, Chen," sahut Li Wei parau, mencoba mengatur napasnya yang keluar dalam uap pendek tidak beraturan.
"Ini bukan tentang suhu tubuhmu!" Chen Xi menyentakkan jubah itu ke bahu Li Wei dengan kasar hingga pria itu sedikit terhuyung. "Jubah termal ini untuk mengaburkan tanda radiasi Qi-mu dari satelit. Kau baru saja melepaskan gelombang penghancur skala besar di dalam sana. Jika kau tidak menutupinya, dalam hitungan menit, drone pengintai akan mengubah lereng gunung ini menjadi kuburan kita."
Li Wei terdiam, membiarkan Chen Xi mengancingkan jubah perak itu di lehernya. Ia menatap jemari wanita itu yang juga gemetar, meski ia mencoba menyembunyikannya di balik efisiensi gerakannya.
"Navigasi," ucap Li Wei singkat. "Ke mana kita bergerak?"
Chen Xi mengaktifkan peta digital di pergelangan tangannya. Proyeksi hologram biru muncul, bergetar tertiup angin kencang. "Kita berada di lereng Utara. Jalur pendakian utama sudah pasti diblokade. Jika kita turun lewat sana, kita menyerahkan diri pada patroli Elang Langit."
"Lalu?" tanya Xiao Hu sambil menarik tudung jubahnya rendah-rendah.
"Kita menyusuri sungai beku di lembah Barat," jawab Chen Xi, jarinya menunjuk ke arah jurang gelap yang tertutup vegetasi pinus hitam. "Aliran air di bawah es akan membantu menyerap emisi panas tubuh kita. Itu strategi terbaik agar sensor mereka mengira kita hanya tumpukan batu membeku."
Li Wei menatap ke arah kejauhan. Di balik hamparan kabut dan salju yang turun perlahan, lampu-lampu neon raksasa dari Megacity Neo-Naga berpendar seperti tumpukan permata di tengah padang bangkai. Kota itu terlihat begitu megah dari sini, namun Li Wei tahu di sanalah pusat dari segala kebohongan yang menghancurkan keluarganya.
"Dunia yang luas," gumam Li Wei dingin, "namun terasa seperti penjara yang lebih besar."
"Setidaknya di penjara sebesar itu kita punya ruang untuk melawan, bukan hanya menunggu mati di lorong sempit," balas Chen Xi tajam. "Ayo bergerak. Li, kau bisa berjalan?"
Li Wei menegakkan punggungnya, memaksakan otot-ototnya yang terasa seperti ditarik paksa untuk kembali berfungsi. "Aku yang memimpin di depan. Xiao Hu di tengah, kau jaga belakang, Chen Xi."
"Dalam kondisi demam saraf seperti itu? Kau bahkan hampir tidak bisa menggenggam gagang pedangmu yang patah," Chen Xi menatap cemas pada tangan Li Wei.
"Aku masih punya mata untuk membaca jejak," sahut Li Wei dengan kilat otoriter yang kembali ke pupilnya. "Gerak sekarang, sebelum cahaya fajar benar-benar menyapu lereng ini."
Mereka mulai menuruni lereng curam. Sepatu bot mereka mengeluarkan suara derit yang memecah kesunyian gunung yang membeku. Setiap langkah adalah perjuangan melawan gravitasi dan rasa lelah yang menghancurkan mental. Salju tipis mulai turun lebih lebat, menutupi jejak kaki mereka hampir secepat mereka membuatnya.
"Kak Li," panggil Xiao Hu pelan saat mereka merayap di bawah dahan-dahan pohon yang tertutup es. "Apakah benar... kita tidak bisa kembali lagi? Maksudku, setelah semua yang terjadi di ruang arsip tadi?"
Li Wei berhenti sejenak, tangannya mencengkeram dahan pohon yang membeku hingga esnya retak. "Tidak ada jalan kembali, Xiao Hu. Bagi mereka, kita hanyalah residu yang gagal dibersihkan. Nama klan Li sudah dianggap mati."
"Tapi kita masih bernapas," potong Chen Xi dari belakang. "Itu adalah kesalahan terbesar dalam perhitungan mereka."
Li Wei tidak menjawab. Ia merasakan denyut di saraf tulang belakangnya kembali memanas. Pandangannya sempat mengabur, memperlihatkan bayangan hantu digital yang berdiri di antara pepohonan, menatapnya dengan mata kosong yang seolah menuntut sesuatu. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mengusir halusinasi itu.
"Fokus pada jalan," perintah Li Wei parau. "Kita hampir sampai di celah sungai. Jaga jarak dan pastikan jubah termal kalian tidak tersangkut dahan."
Mereka terus bergerak menembus kabut, meninggalkan bayangan Bunker X-19 yang semakin mengecil di belakang. Di depan mereka, hanya ada hamparan salju yang ganas dan ketidakpastian yang menunggu di gerbang kota.
Langkah kaki mereka semakin berat saat mencapai ceruk berbatu di balik tebing yang terlindung dari terpaan angin langsung. Li Wei jatuh terduduk, punggungnya menghantam dinding batu yang dingin, sementara napasnya tersengal. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, membeku hampir seketika saat menyentuh udara pegunungan.
"Berhenti di sini," perintah Li Wei dengan suara yang nyaris hilang. "Kita perlu menstabilkan detak jantung sebelum turun ke dataran rendah."
Chen Xi segera berlutut di sampingnya, meletakkan tangannya di dahi Li Wei. "Panasmu tidak turun, Li. Sarafmu sedang mencoba mengasimilasi sisa energi Void yang belum terpakai. Jika dipaksa terus, kau akan pingsan sebelum kita melihat aspal jalan raya."
"Aku tidak apa-apa," dusta Li Wei, meski tangannya gemetar saat mencoba merapatkan jubah termalnya.
Xiao Hu, yang tampak lebih bugar karena beban sarafnya paling ringan, mulai menggeledah isi tasnya. "Kak, lihat! Aku menemukan ini di kantong darurat meja laboratorium tadi. Sepertinya jagung liar yang sudah dikeringkan. Masih bisa dimakan."
Bocah itu mulai mengumpulkan ranting-ranting pinus kering yang tersembunyi di bawah celah batu. Dengan pemantik kecil, ia menyalakan api kecil yang sangat terjaga—hanya cukup untuk memberikan sedikit kehangatan tanpa menciptakan kolom asap yang bisa memancing perhatian udara.
"Makanlah," ucap Chen Xi sambil menyerahkan butiran jagung yang telah dihangatkan kepada Li Wei. "Ini bukan steak di griya tawang, tapi ini yang akan membuatmu tetap sadar."
Li Wei mengunyah perlahan, merasakan tekstur keras jagung itu di lidahnya. Rasa hambar itu justru menjadi jangkar yang menariknya kembali ke realitas. Ia menatap Xiao Hu yang sedang berusaha meniup api kecil itu agar tetap hidup.
"Kenapa kau masih mengikutiku, Xiao Hu?" tanya Li Wei tiba-tiba, matanya menatap dalam pada bocah mekanik itu. "Kau punya kemampuan mekanik yang hebat. Kau bisa saja menyerahkan diri dan bekerja di bengkel Kekaisaran. Kau tidak perlu menjadi hantu bersamaku."
Xiao Hu terhenti sejenak, menatap api di depannya. "Bengkel Kekaisaran tidak butuh mekanik, Kak. Mereka butuh budak yang bisa memperbaiki mesin pembunuh. Di sini, meski kedinginan, aku merasa... aku berguna untuk manusia, bukan untuk algoritma."
Chen Xi tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat wajahnya yang keras sedikit melembut. Ia menyandarkan bahunya pada bahu Li Wei, membiarkan kehangatan tubuh mereka saling berbagi di tengah suhu yang menusuk.
"Kau dengar itu, Komandan?" bisik Chen Xi. "Bahkan bocah ini lebih bijak darimu dalam memahami harga sebuah pilihan."
"Pilihan yang mahal," sahut Li Wei, matanya beralih menatap cakrawala di mana cahaya fajar mulai menyentuh puncak-puncak gedung di Neo-Naga. "Dunia masih sangat luas, Chen. Tapi menatap kota itu dari sini... aku merasa tidak ada satu jengkal pun tanah yang benar-benar menginginkan kita tetap hidup."
"Maka kita buat tanah kita sendiri," jawab Chen Xi tegas. "Kita tidak butuh pengakuan dari mereka yang ingin menghapus kita dari sejarah."
Hening sejenak menyelimuti mereka, hanya suara retakan kecil dari api pinus dan desau angin di luar celah batu. Momen refleksi itu terasa sangat singkat, namun cukup untuk mengikat kembali retakan-retakan mental yang sempat muncul selama pelarian di bawah tanah.
"Sudah waktunya," Li Wei bangkit dengan bertumpu pada dinding batu. Rasa pening di kepalanya masih ada, namun tekadnya telah membeku sekeras es di sekeliling mereka. "Matikan apinya, Xiao Hu. Kita bergerak menuju perbatasan zona industri."
Mereka menuruni sisa lereng dengan lebih cepat, menggunakan akar-akar pohon sebagai pegangan. Saat matahari mulai menampakkan dirinya sepenuhnya, mereka tiba di pinggiran sebuah jalan raya beton yang luas. Bau bensin dan karet terbakar mulai menggantikan aroma salju, tanda bahwa mereka telah kembali ke peradaban manusia yang busuk.
"Itu dia," tunjuk Chen Xi ke arah sebuah truk logistik besar berlogo "Celestial" yang bergerak lambat di kejauhan. "Jika kita bisa masuk ke sana, kita akan sampai di jantung kota sebelum malam tiba."
Li Wei menatap truk yang mendekat itu, tangannya secara instinktif menyentuh gagang pedang patahnya. "Persiapkan jammer sinyal, Xiao Hu. Masuk ke perut naga adalah satu-satunya cara untuk menghancurkannya dari dalam."
Truk itu semakin dekat, menderu di tengah sunyinya pagi pegunungan, membawa mereka menuju babak baru yang lebih gelap di dalam labirin kota.