NovelToon NovelToon
AL - IHSANIYYAH

AL - IHSANIYYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duniahiburan / Murid Genius / Idola sekolah / Mengubah Takdir
Popularitas:11
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Mobil Penuh Tanya: Antara Canggung, Tawaran Tempat, dan Larangan Kopi

Setelah sampai lokasi, Ning Hana langsung belanja keperluan selama beberapa bulan kedepan dan juga mbak Cici juga membeli kebutuhan pribadi juga kebutuhan asrama. Setelah selesai membeli kebutuhan, Gus Rasel, Mbak Cici dan Ning Hana otw pulang ke pesantren tp sebelum itu Ning Hana bilang kalau ia akan mampir ke suatu tempat sebentar setelah ditunjukkan lokasinya mereka sampai.

(Setelah selesai berbelanja, mereka bersiap untuk kembali ke pesantren.)

- Ning Hana: "Gus, Mbak, sebelum pulang, Hana mau mampir ke suatu tempat sebentar ya."

- Gus Rasel: "Ke mana, Ning?"

- Ning Hana: "Itu, di dekat sini kok."

(Setelah Ning Hana menunjukkan lokasinya, mereka sampai di tempat yang dituju.)

Ning Hana mengajak Gus Rasel arah juga mbak Cici masuk dan Ning Hana bilang ke gus Rasel kalau ia mau beli seblak sebentar sama mbak cici. Gus, saya izin mau beli seblak sebentar njenengan kalau mau beli makanan ataupun minuman Monggo ucap Ning Hana tetep menundukkan pandangannya. nggeh Ning jawab Gus Rasel sambil melihat wajah istrinya yg masih menunduk itu.

(Ning Hana mengajak Gus Rasel dan Mbak Cici masuk ke dalam tempat tersebut.)

- Ning Hana: "Gus, Mbak, Hana izin mau beli seblak sebentar ya sama Mbak Cici. Njenengan kalau mau beli makanan atau minuman, monggo (Silakan)."

- (Ning Hana tetap menundukkan pandangannya saat berbicara dengan Gus Rasel.)

- Gus Rasel (sambil melihat wajah Ning Hana): "Nggih, Ning."

(Setelah itu, Gus Rasel menuju ke tempat menjual kopi, sementara Ning Hana dan Mbak Cici memesan seblak.)

Setelah itu Gus Rasel menuju ke tempat menjual kopi dan mbak Cici juga Ning Hana memesan seblak dibungkus, mbk Cici pesan level 4 sedangkan Ning Hana memesan level 8 sehingga merah sekali. setelah memesan seblak mbak Cici mengikuti Ning Hana ke jalan seberang dan di jalan seberang terlihat Gus Rasel yg minum kopi Americano sedangkan mbak Cici hanya menemani Ning Hana, sudah selesai Ning? tanya Gus Rasel. sebentar Gus, saya mau pesan kopi dulu jawab Ning Hana. loh Ning minum kopi juga? tanya Gus Rasel. nggeh Gus jawab Ning Hana. jangan terus terusan Ning nggak baik buat kesehatan, apalagi kamu cewek Ning nggk baik ucap Gus Rasel. nggeh Gus, nanti Kulo kurangi jawab Ning Hana.

(Di tempat menjual seblak, Ning Hana dan Mbak Cici memesan seblak dengan tingkat kepedasan yang berbeda.)

- Ning Hana: "Mbak, seblaknya satu ya. Level delapan."

- Mbak Cici: "Saya level empat aja, Mbak."

(Setelah memesan seblak, Mbak Cici mengikuti Ning Hana ke seberang jalan. Di sana, mereka melihat Gus Rasel sedang menikmati kopi Americano.)

- Gus Rasel: "Sudah selesai, Ning?"

- Ning Hana: "Sebentar, Gus. Saya mau pesan kopi dulu."

- Gus Rasel (terkejut): "Lho, Ning minum kopi juga?"

- Ning Hana: "Nggih, Gus."

- Gus Rasel: "Jangan terus-terusan, Ning. Nggak baik buat kesehatan. Apalagi kamu cewek, Ning, nggak baik."

- Ning Hana: "Nggih Gus, nanti Kulo kurangi (Nggih Gus, nanti saya kurangi)."

Setelah selesai, Gus Rasel, Mbak Cici, dan Ning Hana langsung pulang kembali ke pondok.

- (Gus Rasel mengemudikan mobil dengan hati-hati, sementara Ning Hana dan Mbak Cici duduk di belakang, menikmati seblak yang baru mereka beli.)

- Ning Hana: "Mbak Cici, ini seblaknya enak banget. Pedesnya nampol."

- Mbak Cici: "Iya, Ning. Mbak juga suka. Tapi Ning Hana kok berani sih pesen level delapan? Nggak takut sakit perut?"

- Ning Hana (tertawa): "Nggak kok, Mbak. Hana udah biasa makan pedes. Malah kalau nggak pedes, nggak enak."

(Sesampainya di pondok, Ning Hana langsung menuju ke ndalem.)

Sesampainya di pondok Ning Hana langsung menuju ke ndalem, Gus Rasel masih memarkirkan mobilnya dan mbak Cici yg sudah ke asrama putri tahfidz dan tidak lama Gus Rasel juga kembali ke ndalem.

- (Gus Rasel selesai memarkirkan mobil dan berjalan menuju ndalem. Ia melihat Mbak Cici sudah berjalan menuju asrama putri tahfidz.)

- Gus Rasel (berpikir): "Semoga Ning Hana nggak kenapa-kenapa ya makan seblak pedes gitu."

Gus Rasel duduk di ruang keluarga duduk santai, dihampiri Gus Rama lalu ditanya habis dari mana. setelah itu Gus Rasel tanya ke kakak iparnya apakah istrinya itu sering minum kopi dan Gus Rama menjawab juga bertanya balik apa Hana masih minum kopi.

(Gus Rasel duduk di ruang keluarga, bersantai sejenak.)

- (Gus Rama menghampiri Gus Rasel.)

- Gus Rama: "Rasel, habis dari mana kamu?"

- Gus Rasel: "Habis nganter Ning Hana sama Mbak Cici beli keperluan, Gus."

- Gus Rasel: "Gus, mau tanya dong. Sebenarnya Ning Hana itu sering minum kopi ya?"

- Gus Rama: "Lho, emang Hana masih minum kopi? Kan kemarin udah dibilangin sama dokter nggak boleh minum kopi dulu."

- Gus Rasel (menghela napas): "Iya, Gus. Tadi waktu nganter dia beli seblak, dia malah pesen kopi juga."

- Gus Rama (menggelengkan kepala): "Aduh, Hana ini emang susah dibilangin. Ya udah, nanti saya coba nasehatin dia lagi."

Setelah itu Gus Rasel naik ke lantai 2 dan menuju ke kamar tamu dan saat akan akan masuk kamar, Gus Rasel melihat makanan junk food (seblak) yg tadi dibeli sama Ning Hana dan terlihat merah sekali dan ia berpikir kalau itu bukan level 1 pastinya itu lebih dari level 1.

- (Gus Rasel naik ke lantai 2 dan berjalan menuju kamar tamu. Saat melewati kamar Ning Hana, ia melihat sebungkus seblak di atas meja.)

- Gus Rasel (berpikir): "Ya Allah, itu seblaknya merah banget. Pasti pedes banget itu. Level berapa ya itu?"

Tidak lama kemudian Gus Rama juga Gus Wildan naik ke lantai 2 karena kamar mereka juga dilantai 2 dan Gus Wildan juga Gus Rama kaget saat melihat adik mereka memakan seblak dengan warna yg sangat merah sekali juga minum kopi lagi. dan disitu terjadi perdebatan antara Gus Rama, Gus Wildan, Ning Hana dan Gus Rasel berusaha memisahkan perdebatan antara 2 kakak iparnya juga sang istrinya.

- (Gus Rama dan Gus Wildan naik ke lantai 2 dan melihat Ning Hana sedang menikmati seblak dan kopi di kamarnya.)

- Gus Rama (dengan nada tinggi): "Hana! Kamu ini dibilangin ngeyel banget sih! Kenapa masih makan seblak pedes sama minum kopi? Kamu mau sakit lagi?"

- Gus Wildan (dengan nada khawatir): "Iya, Dek. Kamu itu harus jaga kesehatan. Jangan makan sembarangan."

- Ning Hana (dengan nada membela diri): "Tapi kan Hana pengen, Gus. Lagian Hana nggak papa kok."

- Gus Rama: "Nggak papa gimana? Kemarin aja kamu sampe masuk rumah sakit gara-gara nggak jaga kesehatan. Sekarang mau diulangin lagi?"

- Gus Wildan: "Hana, dengerin Gus Rama. Jangan bandel."

- Ning Hana (dengan nada kesal): "Iya, iya. Hana ngerti. Tapi jangan marah-marah dong."

(Gus Rasel berusaha menenangkan suasana.)

- Gus Rasel: "Gus Rama, Gus Wildan, udah-udah. Jangan marah-marah gitu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!