NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Biaya Admin Seumur Hidup

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar utama yang mewah, menyinari wajah Viona yang masih setengah terpejam. Ia mengerjap, tangannya meraba sisi kasur yang biasanya kosong. Namun, kali ini jemarinya menyentuh sesuatu yang hangat dan padat.

Viona membuka mata sepenuhnya. Di sana, hanya berjarak beberapa senti, Noah masih tertidur lelap dengan napas yang teratur. Rambutnya yang biasa rapi saat di kampus, kini berantakan alami.

“Entah akan seberapa bosen gue lihat wajah ini lagi," gumam Viona pelan. Meski mulutnya berkata bosan, matanya sempat tertuju pada garis rahang Noah yang tegas sebelum ia buru-buru menyingkirkan selimut.

Menjadi Nyonya Noah Sebastian Willey ternyata tidak mengubah kebiasaannya. Viona tetaplah wanita karier yang harus mengurus hotelnya. Ia melangkah menuju kamar mandi, membiarkan gemericik air shower membasahi tubuhnya untuk mengusir sisa kantuk.

Suara air itu rupanya menjadi alarm alami bagi Noah. Pria itu menguap, duduk di tepi ranjang sambil mengacak rambutnya.

“Vio... lo lagi mandi kan? Gue siapin roti dulu deh buat sarapan," teriak Noah, berusaha mengalahkan suara air dari dalam kamar mandi.

“Oke! Gue seperti biasa, selai strawberry mix cokelat!" sahut Viona kencang. Ia tahu Noah sudah hafal mati seleranya sejak mereka masih pakai seragam sekolah.

“Kopi jangan lupa!" tambah Viona lagi.

Mendengar permintaan itu, dahi Noah langsung berkerut. Mode dosennya mendadak aktif. "Gak ya, Vio! Terlalu pagi buat minum kopi dengan perut kosong. Jus aja!" teriak Noah tegas sambil berjalan keluar kamar menuju dapur minimalis mereka yang super canggih.

“Dih! Pelit banget sih!" gerutu Viona dari balik pintu, meski sebenarnya ia tersenyum tipis.

Tak butuh waktu lama bagi Viona untuk bersiap. Ia keluar dengan pakaian kerja yang chic, rambut yang masih sedikit lembap, dan aroma sabun yang segar.

Di ruang makan, Noah sudah berdiri dengan apron abu-abu, menata piring dengan sangat rapi, terlalu rapi untuk ukuran seorang pria.

“Ini sarapan lo. Roti mix selai sesuai pesanan, dan ini jus jeruk. Habisin," perintah Noah tanpa menoleh, tangannya sibuk membereskan sisa remahan roti.

Viona duduk, menatap gelas jusnya dengan malas. "Noah, serious? Gue butuh kafein buat mimpin rapat jam sembilan."

Noah berbalik, melipat tangannya di dada. "Dan gue butuh istri gue nggak kena asam lambung di hari pertama kita tinggal bareng. Minum, Viona. Atau gue telpon Mama Rose bilang lo nggak mau makan sehat?"

Viona memutar bola matanya. "Fine! Lo beneran mirip Mama kalau lagi bawel begini."

———

Begitu kaki Viona yang terbalut heels bermerek itu menginjak lobi Skylar Hotel, suasana mendadak riuh. Buket bunga besar dari berbagai relasi bisnis sudah memenuhi meja resepsionis. Stafnya memberikan jalan, membungkuk hormat dengan senyum yang jauh lebih lebar dari biasanya.

“Selamat atas pernikahannya, Bu Viona! Ibu kelihatan lebih fresh banget hari ini. Pasti auranya beda ya kalau sudah sah," goda sekretaris pribadinya, Sarah, sambil membuntuti Viona masuk ke dalam ruangan kerjanya yang luas.

Viona meletakkan tasnya di atas meja, berusaha mengatur ekspresi wajahnya se-natural mungkin.

“Gimana malam pertamanya, Bu? Pak Noah romantis banget ya orangnya?" tanya Sarah dengan nada bicara ala akun gosip, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Detik itu juga, sebuah skenario liar seolah berputar di kepala Viona. Malam pertama? Tentu saja tidak ada adegan panas seperti di film-film. Kenyataannya, mereka cuma rebutan selimut dan Noah mengomelinya karena Viona tidur terlalu banyak gaya. Mana mungkin dia melakukan 'itu' dengan sahabat yang sudah dia kenal sejak zamannya masih ingusan?

Tapi, harga diri seorang Viona Skylar tidak boleh jatuh.

“Luar biasa!" jawab Viona mantap, memberikan senyum misterius yang sengaja dia buat-buat.

“Suamiku itu... dia sangat sempurna luar dan dalam. Sangat perhatian sampai aku sendiri kewalahan."

Sarah memekik tertahan, menutup mulutnya dengan tangan. "Aduh, Bu! Saya iri banget. Pak Noah emang kelihatan tipe-tipe gentleman yang hot gitu."

Viona terkekeh, tapi dalam hati dia mengakui satu hal. Apa yang dia katakan pada Sarah tidak sepenuhnya berbohong. Jujur saja, apapun pada diri Noah itu menarik. Siapapun yang punya mata waras akan mengakui kalau Noah itu tampan, tipe ketampanan yang klasik dan berkelas.

Viona mendadak teringat bayangan Noah tadi malam saat hanya mengenakan bathrobe. Dada bidangnya yang kokoh karena rutin olahraga, bahunya yang lebar, dan cara dia menatap dengan mata tajamnya.

'Oke, Viona. Stop. Jangan jadi aneh,' batinnya sambil menggelengkan kepala pelan.

“Udah, udah. Jangan bahas urusan ranjang terus. Sekarang kasih saya laporan hunian minggu ini. Saya ada rapat besar jam sepuluh," alih Viona dengan nada tegas, meski sebenarnya pipinya mulai terasa sedikit panas.

Sarah mengangguk patuh, "Baik, Bu. Tapi beneran ya Bu, Pak Noah itu paket lengkap. Ibu beruntung banget!"

Setelah Sarah keluar, Viona menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Dia mengambil ponselnya, menatap kolom chat-nya dengan Noah yang terakhir hanya membahas soal jus jeruk.

“Paket lengkap, ya?" gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. "Sayangnya paket lengkapnya sepaket sama sifat bawelnya yang nggak ketulungan."

Selesai dari kantor, Viona memacu mobilnya menuju kampus. Agenda siang ini: melunasi seluruh biaya perkuliahan S2-nya. Memang, Viona sedikit santai soal pendidikan dibanding Noah yang ambisiusnya nggak masuk akal, bayangkan saja, di usia mereka yang sebaya, Noah sudah memegang gelar S3 sementara Viona baru mau mulai S2.

Begitu turun dari mobil, Viona langsung disambut oleh Noah yang sudah menunggunya di depan gedung administrasi. Noah tampak maskulin dengan kemeja slim-fit yang lengannya digulung sampai siku, memegang beberapa map besar.

Saat mereka berjalan beriringan, suasana kampus yang biasanya berisik mendadak berubah jadi panggung bisik-bisik tetangga.

"Ternyata bener, itu istrinya Pak Noah loh..."

"Gila, serasi banget. Istrinya kayak model-model majalah high-end ya?"

Pantas aja Pak Noah nggak pernah ngelirik mahasiswi di sini, speknya aja begini!"

Gema suara itu terus mengikuti langkah mereka sepanjang koridor. Viona, dengan kepercayaan diri tingkat dewa, justru sengaja berjalan sedikit lebih dekat ke arah Noah. Ia bahkan tidak ragu untuk sesekali menyentuh lengan Noah hanya untuk melihat reaksi para mahasiswi yang patah hati.

Namun, Noah tetaplah Noah. Dia sama sekali tidak mengindahkan tatapan orang-orang. Fokusnya hanya satu: memastikan urusan administrasi "mahasiswi spesialnya" ini beres.

Udah lunas semua, kan?" tanya Noah setelah mereka keluar dari ruang tata usaha. Ia menyerahkan kembali kartu debit Viona.

“Udah, Pak Dosen. Puas?" sahut Viona sambil memasukkan kartunya ke dompet.

Noah berhenti melangkah, lalu berbalik menatap Viona dengan ekspresi yang mendadak sangat serius, ekspresi yang biasa dia pakai saat mau menguji mahasiswanya.

"Minggu depan lo udah mulai kuliah. Jangan pikir karena lo istri gue, lo bisa titip absen atau dapet nilai gratis," kata Noah tegas.

Viona mencibir. "Dih, siapa juga yang mau titip absen? Gue pinter ya, sori!"

"Bagus kalau gitu," Noah mendekat, sedikit merunduk agar wajahnya sejajar dengan Viona. "Satu lagi. Persiapkan topik tesis yang mau lo angkat dari sekarang. Jangan sampai di semester pertama lo cuma main-man ke kantin. Gue nggak mau punya istri yang lulusnya kelamaan."

Viona tertegun. "Istri gue" katanya? Kata-kata itu terdengar sangat berbeda saat diucapkan dalam mode serius di lingkungan kampus.

"Ih, bawel banget sih! Baru juga bayar spp udah ditagih tesis," gerutu Viona, menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Lagian, kalau gue bingung, kan ada lo yang bisa gue manfaatin buat bimbingan 24 jam di rumah."

Noah tersenyum miring, sebuah senyum yang jarang dia perlihatkan di depan umum. "Bimbingan di rumah harganya mahal, Viona. Lo sanggup bayarnya?"

Viona menelan ludah. "Bayar pakai apa?"

"Pikirin aja sendiri," jawab Noah santai sambil berjalan mendahului Viona, meninggalkan istrinya yang kini berdiri mematung di tengah lorong kampus dengan jantung yang mendadak berdisko.

Noah yang sudah berjalan beberapa langkah di depan, seketika menghentikan langkahnya saat mendengar gerutuan Viona. Ia menoleh ke belakang dengan sebelah alis terangkat.

"Wah, gila! Bayarannya pasti main PS lima jam non-stop!" gerutu Viona sambil menyusul

Noah dengan langkah cepat. Wajahnya ditekuk, membayangkan betapa membosankannya malam-malamnya nanti jika harus menemani Noah mabar (main bareng) sampai matanya perih.

Noah terkekeh rendah, suara tawa yang jarang didengar mahasiswanya namun selalu akrab di telinga Viona. "Main PS lima jam itu cuma bunga cicilannya, Vio. Pokoknya lebih dari itu."

“Heh! Jangan macem-macem ya. Gue ini sibuk, hotel gue nggak bisa ditinggal cuma buat nemenin lo nembakin zombie di layar TV!"

Viona berkacak pinggang saat mereka sampai di samping mobil.

Noah membukakan pintu mobil untuk Viona, kebiasaan gentleman yang tidak pernah hilang meski mereka sedang berdebat. "Makanya, jangan mancing gue buat bimbingan di rumah kalau lo nggak siap sama 'biaya' adminnya."

Viona masuk ke mobil sambil mengomel panjang pendek. "Tahu gitu mending gue minta bimbingan sama dosen lain aja. Yang kumisan, yang galak, sekalian! Daripada sama lo, ujung-ujungnya gue cuma jadi babu camilan pas lo mabar sama Zayn."

Noah menutup pintu mobil, lalu masuk ke kursi pengemudi. Ia memasang sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Viona yang masih sibuk merapikan tatanan rambutnya di spion.

"Dosen lain nggak akan ngurusin lo sampai detail terkecil kayak yang gue lakuin, Vio," ucap Noah pelan namun dalam. Ia menyalakan mesin mobil. "Dan dosen lain... nggak punya akses kunci rumah lo."

Viona terdiam sebentar. Kata-kata Noah selalu punya cara untuk membuatnya skakmat. Memang benar, hanya Noah yang tahu kapan Viona mulai malas baca buku, kapan Viona butuh kopi (meski tadi dilarang), dan kapan Viona cuma butuh ditemani diam.

"Ya ya ya... terserah Pak Dosen," gumam Viona, berusaha menyembunyikan senyumnya.

"Tapi kalau gue dapet nilai A, lo harus beliin gue tas yang kemarin gue tunjuk di majalah. Deal?"

"Deal," sahut Noah enteng. "Tapi kalau lo dapet B? Main PS-nya nambah jadi delapan jam."

"Dih! Eksploitasi istri itu namanya!" seru Viona, diiringi tawa renyah yang memecah keheningan kabin mobil saat mereka meninggalkan area kampus menuju rumah baru mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!