Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_pid21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 15
***
“Halo,” ucap Adit,
“Halo, Danu..?” panggil Alisa.
“Maaf mbak, saya adiknya mas Danu, Adit mbak” balas Adit.
“Mas Danu mengalami kecelakaan seminggu yang lalu sepulang dari Yogya, dan sekarang mas Danu mengalami lupa ingatan mbak,” ucap Adit diseberang telepon.
Alisa mendengar ucapan Adit dengan tatapan kosong, seminggu yang lalu tepat Danu bertemu dengannya.
“Sekarang bagaimana keadaannya?” tanya Alisa khawatir.
“Mas Danu belum ada kemajuan mbak, kami harus pelan-pelan mengingatkan hal-hal yang sudah dilewatkan mas Danu selama ini,” terang Adit dengan nada sedih.
“Adit, boleh minta alamat rumahmu? Saya ingin menjenguk kakakmu” ucap Alisa.
“Oh tentu mbak, nanti saya kirim alamatnya di whatsapp saja ya mbak. Tapi mbak ini dimana sekarang?” tanya Adit penasaran.
“Saya di Yogya Dit,” jawab Alisa.
“Oh baiklah mbak, nanti kalo mbak mau kesini hubungi Adit lagi aja ya mbak. Biar Adit yang jemput mbak diterminal.” Ucap Adit senang.
“Iya Dit, yasudah mbak tunggu alamatnya Dit," ucap Alisa,
“iya mbak,” jawab Adit singkat.
Alisa menutup teleponnya, Ayah berdiri dibelakang Adit yang sedang duduk disebuah kursi,
“siapa le?” tanya Ayah,
“temen mas Danu pak, mbak Alisa namanya” jawab Adit.
“Mbak Alisa ingin datang kesini pak, ingin menjenguk mas Danu” tambah Adit.
“ Oh, Alisa itu apa pacarnya masmu ya le?” tanya Ayah.
“Ndak tahu juga pak, soalnya Adit juga tidak tanya tadi sama mbak Alisa.” Sahut Adit.
***
Siang yang terik, Anita berjalan menyusuri trotoar kota Yogya. Ia sampai dikota Yogya, ia berhenti pada sebuah halte, ia ambil ponsel yang ada pada tas kecilnya , ia menghubungi Alisa.
“Halo Alisa, aku sudah sampai di Yogya, kost mu dimana lis?” tanya Anita.
“Kamu dimana An? Kamu naik ojek saja ke Hotel XXX, nanti aku tunggu didepan Hotel An” ucap Alisa.
"Baiklah Alisa” sahut Anita.
Anita memberhentikan seorang tukang Ojek paruh baya, dibawanya Anita ketujuan seperti yang Alisa tunjukkan, sesampainya didepan Hotel Alisa sudah berdiri menunggu Anita.
“Berapa pak?” tanya Anita pada bapak Ojek.
“Dua puluh lima ribu mbak,” jawab pak ojek.
“Ini pak, terima kasih ya pak” ucap Anita sembari menyodorkan uang.
“Alisaa…” teriak Anita berlari kearah Alisa.
Dan mereka saling berpelukan sekedar melepas rindu karna memang sudah beberapa bulan tidak bertemu.
“Kamu jahat An, padahal Magelang tidak jauh-jauh sekali dari sini, tapi kamu tidak pernah menjengukku” ucap kesal Alisa.
“Maaf Alisa, aku sibuk” jawab Anita menatap sahabatnya itu.
“Kita ketaman hotel dulu ya,” ucap Alisa sembari mengajak Anita memasuki gerbang hotel menuju taman.
“An, aku kan masih jam kerja nanti kamu dijemput sama temenku Risa dia temen kamar sebelah, kebetuan dia sedang dikampus dan bentar lagi pulang. Nanti kamu ikut pulang bersama Risa dan ini kunci kamarku kamu bisa istirahat dulu nanti, tidak apa-apa kan?” ucap Alisa yang menyerahkan kunci kamarnya kepada Anita.
“Emm iya Alisa,” jawab Anita tersenyum.
“Kamu belum jam masuk kerja ini,” tanya Anita yang menyapu pandangan ke area hotel.
“Belum An, kita tunggu Risa, dia sedang kearah sini untuk menjemputmu” ucap Alisa.
Tiga puluh menit berlalu belum selesai pembicaraan mereka, ponsel Alisa bergetar.
“Halo Risa” ucap Alisa.
“Alisa, aku sudah sampai didepan mana temanmu?” suara Risa diseberang telepon.
“Iya sebentar Ris, kita keluar” jawab Alisa yang beranjak dari tempat duduknya.
“Ayo An, Risa sudah didepan” ajak Alisa, Mereka bergegas menuju ke depan hotel.
“Risa kenalin ini temenku, Anita. Dan Anita kenalin ini Risa” ucap Alisa pada kedua gadis yang berhadapan.
“Halo mbak, aku Risa temen Alisa dan akan menjadi temanmu juga” ucap Risa tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
“Halo Risa, senang bertemu denganmu. Oyaa jangan panggil embak ya, panggil nama saja” ucap Anita tersenyum dan menyambut tangan Risa.
“Ayo pulang, ini sudah panas. Alisa kita pulang duluan ya?” ucap Risa yang sudah menstarter motor scoopy merah miliknya.
“Iya iya, sudah sana jalan” jawab Alisa.
Risa dan Anita berlalu untuk pulang ke kost-an. Tiba pada sebuah warung bakso Risa memarkirkan motornya,
“Anita, kamu belum makan kan?” tanya Risa sembari melepaskan helm,
“belum Ris,” jawab Anita.
“okey, kita makan dulu ya” sahut Risa mengajak Anita masuk kewarung bakso tersebut.
“Mas, pesan bakso dua ya, “ ucap Risa pada seorang pelayan.
“Nggih, mbak” jawab santun pelayan yang masih muda itu.
Risa memilih meja diujung ruangan, itu memang tempat favorit Risa, diletakkanya buku dan tas pada kursi disebelahnya.
Begitupun dengan Anita, ia merasa lelah sekali hari ini.
“Anita, kamu teman Alisa dari tempat kursus kan? Kamu juga mengenal Jefan dongs ya?” tanya Risa menyodorkan sebotol es teh.
“Iya Ris, apa kamu juga mengenal sosok Jefan juga? Atau jangan-jangan kamu salah satu korbannya Jefan?” Anita merasa heran dengan pertanyaan Risa.
“Hahaha..bukan, Jefan itu kakak sepupuku” ucap Risa terkekeh.
“Iyakah?” Anita heran.
“Kenapa dunia begitu sempit yaa, sudah pindah kesini eh masih saja bisa bertemu dengan saudaranya Jefan” Anita menggelengkan kepala keheranan.
“Awalnya aku juga kaget, ketika akan mengenalkan mas Jefan pada Alisa ternyata mereka sudah saling mengenal bahkan An, mereka terlihat kaku. Alisa menatap Jefan dengan ekspresi keheranan” ucap Risa menceritakan pertemuan antara Jefan dan Alisa.
“Alisa sudah menceritakan semuanya padamu?” tanya Anita.
“Sudah, dan sekarang mas Jefan sudah memutuskan hubungan dengan kekasihnya, tempo hari kekasihnya datang kesini menemui Alisa” ucap Risa semangat menceritakan teman satu kost nya.
“Oh yaa?” jawab singkat Anita.
“Monggo mbak,” seorang pelayan meletakkan dua mangkuk bakso dihadapan kedua gadis yang sedang asik membicarakan Jefan dan Alisa.
“amas, saya mau es jeruk dua ya?” ucap Risa,
“baik mbak,” jawab pelayan.
“An, menurutmu Alisa akan menerima Jefan tidak suatu hari nanti?” tanya Risa sembari menuang kecap dan saos pada mangkok baksonya.
“Aku tidak tahu Ris, karena Alisa itu sulit ditebak. Dia dulu sudah kecewa sekali dengan Jefan, tapi perlahan ia memaafkan Jefan dan akhirnya bisa berteman seperti biasa lagi. aku tidak tahu apakah dia masih kecewa pada Jefan,” ucap Anita
mengambil sendok dan mengaduk makanan dihadapannya.
“Tapi sepertinya, ada lelaki lain An, seminggu yang lalu aku dengar dari penghuni kamar sebelahku ada seorang laki-laki sedikit kumal menemui Alisa.” Ujar Risa.
“Lelaki lain, siapa ya?” tanya Anita,
“Apa mungkin Danu?” tambah Anita bertanya pada diri sendiri.
“Ahk sudah makan dulu An, nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya” pungkas Risa menyantap makanan berkuah panas yang masih mengebul.
***
Dalam pikiran Alisa saat ini, yang ia pikirkan hanya Danu. Kenapa Danu bisa mengalami kecelakaan? Kenapa sampai bisa lupa ingatan? Apa ia bisa sembuh sedia kala. Alisa merasa sedih dengan musibah yang menimpa Danu, bagaimana tidak? Alisa yang ternyata perlahan-lahan telah luluh dengan sikap Danu selama ini.
Kali ini, ia merasa rindu dengan Danu. Ia ingin segera bisa pergi ke Solo untuk melihat keadaan Danu.
Bersambung….
👍👍👍👍👍
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU