NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Di Bawah Dansa Aurora dan Rahasia yang Bersemi

Dua minggu berlalu setelah resepsi yang melelahkan itu. Zea benar-benar bertarung dengan waktu untuk menyelesaikan seluruh revisi maket dan tugas-tugas sebelum masa ujian akhir dimulai. Selama itu pula, Antares menahan diri. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Zea, meski setiap malam ia harus menahan gemas melihat istrinya tertidur di atas meja gambar dengan pensil masih di tangan.

Begitu tugas terakhir dikumpulkan, Antares memberikan kejutan. Bukan makan malam romantis di restoran mewah, melainkan sebuah akses masuk ke "dunianya" yang paling privat.

Laboratorium: Sisi Lain Sang Profesor

"Mas, serius kita ke sini malam-malam? Ini kan area terbatas," bisik Zea saat mereka melewati gerbang otomatis dengan pengamanan biometrik di pinggiran kota.

"Saya pemilik aksesnya, Zea. Dan saya ingin istri saya tahu kenapa suaminya sering pulang terlambat," jawab Antares tenang.

Begitu pintu laboratorium terbuka, Zea terpaku. Ruangan itu didominasi warna putih metalik dengan cahaya biru redup. Di tengah ruangan, sebuah benda logam raksasa berbentuk cakram dengan panel-panel surya yang melipat indah berdiri dengan gagah.

"Itu... satelit?" tanya Zea pelan, matanya berbinar.

"Itu Project Artemis-Bagaskara. Satelit pemetaan rasi bintang terbaru," Antares berjalan mendekati alat itu, jemarinya mengusap permukaannya dengan bangga. "Semua perhitungan algoritma dan orbitnya saya kerjakan di meja kerja apartemen kita, saat kamu sedang menangisi maket villa-mu itu."

Zea tertawa kecil, melangkah mendekat dan berdiri di samping Antares. "Jadi ini alasan Mas sering banget liatin layar laptop sampai mata merah?"

"Ya. Dan ini," Antares menarik Zea ke sebuah layar monitor raksasa yang menampilkan simulasi pergerakan benda langit. "Ini adalah rasi bintang yang saya dedikasikan untuk kamu. Di titik koordinat ini, saya mendaftarkan satu bintang kecil dengan nama Zea Anora. Hanya bisa dilihat dengan teleskop dari laboratorium ini."

Zea terdiam. Dadanya sesak oleh rasa haru. "Mas... itu romantis banget. Aku pikir Mas cuma tau cara hukum aku kalau aku nakal."

Antares menarik pinggang Zea, menatapnya dengan intens. "Saya punya banyak cara untuk menunjukkan cinta, Zea. Tidak semuanya melalui kata-kata manis. Sekarang, bersiaplah. Pesawat kita berangkat dalam empat jam."

Tromsø: Dingin yang Menghangatkan

Perjalanan ke Norwegia adalah pelarian yang sempurna. Mereka menginap di sebuah Glass Igloo—kabin berbentuk kubah kaca yang memungkinkan mereka melihat langit 360 derajat dari tempat tidur.

"Maaaaas! Dingin banget!" Zea merengek saat mereka baru turun dari mobil jemputan. Ia memakai jaket bulu yang sangat tebal sampai tubuhnya terlihat bulat seperti pinguin.

Antares terkekeh, ia langsung merangkul Zea dan memasukkan tangan istrinya ke dalam saku mantelnya yang hangat. "Tahan sedikit. Sebentar lagi kamu akan lupa dengan dinginnya."

Malam itu, mereka berbaring di bawah selimut tebal berbahan bulu domba. Tiba-tiba, langit yang tadinya hitam kelam mulai berubah. Semburat warna hijau neon menari-nari, meliuk-liuk di angkasa, terkadang berubah menjadi ungu pucat.

"Mas Antar! Liat! Itu Auroranya!" Zea berteriak girang, ia bangun dan menempelkan hidungnya ke kaca dingin. "Cantik banget... kayak lukisan cat air yang tumpah!"

Antares ikut bangun, ia duduk di belakang Zea, memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. "Suka?"

"Suka banget! Makasih ya, Mas. Ini beneran honeymoon paling keren!" Zea berbalik, merangkul leher Antares. "Tapi Mas... aku kok ngerasa aneh ya dari tadi?"

"Aneh kenapa?" tanya Antares, tangannya mulai merapikan rambut Zea yang berantakan.

"Aku... aku mendadak laper banget. Tadi kan udah makan salmon di bandara, tapi sekarang aku pengen banget makan ramen yang pedas. Terus... bau parfum Mas kok tiba-tiba menyengat banget ya? Padahal biasanya aku suka."

Antares mengernyit. Sebagai pria dengan logika tajam, alarm di kepalanya mulai berbunyi. "Menyengat? Ini parfum yang sama yang saya pakai sejak kita menikah, Zea."

"Iya, tapi rasanya kayak bikin enek," Zea menutup hidungnya dengan bantal. "Mas jauh-jauh dulu deh, jangan nempel-nempel banget."

Antares tertegun. Diusir oleh istrinya sendiri karena bau parfum adalah hal baru baginya. Ia teringat kejadian di rumah utama malam itu—ketika ia mengambil kotak pengaman yang disiapkan ibunya.

"Zea," Antares memegang bahu Zea dengan lembut tapi serius. "Kapan terakhir kali kamu datang bulan?"

Zea terdiam, matanya berputar mencoba mengingat-ingat jadwalnya yang berantakan gara-gara deadline maket. "Hmm... harusnya minggu lalu. Eh, atau dua minggu lalu ya? Aku lupa, Mas! Kan aku stres banget kemarin."

Antares menarik napas panjang. Ia menatap langit di mana Aurora masih menari, namun pikirannya sudah kembali ke bumi. Ia teringat senyum licik ibunya saat mereka meninggalkan rumah utama.

"Mas? Kok bengong?" Zea menyentuh pipi Antares.

"Tidak apa-apa," Antares mencium telapak tangan Zea. "Besok kita cari restoran yang sedia mi pedas. Tapi malam ini, kamu harus istirahat. Wajahmu pucat sekali."

"Aku mau es krim cokelat juga ya besok?" rengek Zea manja.

Antares tersenyum gemas, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. "Apapun yang kamu mau, Ny. Bagaskara. Tidurlah."

Zea tertidur dengan cepat, kepalanya bersandar di dada Antares. Sementara itu, Antares tetap terjaga. Ia menatap perut Zea yang tertutup selimut, bertanya-tanya dalam hati apakah ada "bintang baru" yang sedang tumbuh di sana, yang lebih bersinar daripada proyek satelitnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!