NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Aliansi Tak Terduga

Aroma teh panas dari daun teh kampung yang baru diseduh mengisi ruangan, uapnya naik pelan seperti hembusan doa yang tak terucap. Di tengah lingkaran itu, Daeng Tasi duduk bersila, tangannya memegang cangkir tanah liat yang masih mengepul. Di sebelahnya Kang Mamat, iparnya. Bang Jaim—pemuda Betawi yang setia mengikuti Daeng Tasi dari kapal—baru saja menyusul, napasnya tersengal setelah berjalan kaki cepat dari desa tetangga.

Tak ada rokok yang dinyalakan malam itu. Semua tahu hukumnya makruh menurut sebagian ulama, dan haram menurut pendapat yang lebih tegas—rokok adalah racun lambat yang membunuh perlahan, merusak tubuh yang sudah Allah titipkan. Cangkir teh panas menjadi satu-satunya “penenang” yang mereka bagi, uapnya membawa kehangatan sederhana di tengah udara malam yang dingin dan masih membawa bau kemenyan samar dari hutan.

Daeng Tasi menyeruput teh pelan, lalu meletakkan cangkirnya di atas tatakan kayu. Matanya menatap Bang Jaim dengan serius. “Bang Jaim, ceritakan lagi apa yang kau bilang tadi di dermaga. Tentang monster cumi itu.”

Bang Jaim mengangguk, tangannya memegang cangkir teh tanpa minum dulu. Ia menarik napas dalam, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. “Daeng, Kang Mamat... monster cumi raksasa di Selat Sunda itu bukan makhluk alam biasa. Profesor Belanda bilang itu mutasi genetik—ledakan Krakatau tahun 1883 lepaskan radiasi vulkanik ke lautan, ubah DNA cumi biasa jadi raksasa ganas.

Tubuhnya membesar, tentakelnya tumbuh lebih kuat, matanya menyala seperti api karena perubahan kimia di dalam sel. Itu bukti nyata: alam bisa ‘mutasi’ kalau dikasih energi besar dan waktu lama. Aku pikir... Nenek Gerandong juga begitu. Bukan setan murni, tapi ‘mutasi gaib’ dari dendam.”

Kang Mamat mengerutkan kening, cangkir teh di tangannya sedikit bergoyang. “Maksudmu... dendam Mbah Saroh yang terbakar hidup-hidup jadi seperti itu?”

“Ya,” jawab Bang Jaim tegas. “Dendamnya dapat energi dari kesedihan yang terakumulasi—dari suami yang mati, dari anak yang hilang, dari pengkhianatan warga yang ingkar janji dan bakar gubuknya hidup-hidup. Seperti radiasi Krakatau kasih energi ke cumi, pengkhianatan warga kasih energi ke jiwa Mbah Saroh. Hasilnya: ilusi darah di sungai, bayang anak tenggelam, tawa serak yang bikin orang takut. Itu semua ‘mutasi gaib’—kekuatan yang lahir dari rasa sakit yang terpendam puluhan tahun.”

Daeng Tasi diam sejenak, menatap uap teh yang naik tipis. Pikirannya kembali ke malam di laut: bagaimana monster cumi itu hampir menenggelamkan kapal, tapi akhirnya jatuh setelah peluru meriam menghantam titik lemahnya—mata dan mulut yang menyala. “Jadi... kalau monster laut punya titik lemah yang bisa kita serang, Nenek Gerandong juga punya titik lemah?”

Bang Jaim tersenyum tipis, pertama kalinya malam itu. “Bukan fisik, Kak. Titik lemahnya adalah ‘energi dendam’-nya. Kalau kita potong atau lemahkan energi itu, ilusi-ilusinya akan runtuh. Kita perlu ‘senjata’ yang bisa netralkan dendam gaib itu.”

Kang Mamat mencondongkan tubuh. “Senjata apa? Golok ciomas, Bedog,Badik, Congkrang? Kujang, Keris leluhur?”

“Bukan,” kata Bang Jaim. “Mantra dan air suci. Air dari sumur masjid yang sudah dibacakan doa kyai—air biasa tapi diberkati. Dan mantra pengusir roh pendendam dari leluhur Bugis-Makassar yang aku hafal dari Guruku Haji Andi Hasan, Saudara seperguruan Haji Daeng Ambo sekaligus Kak Ipar Daeng Ambo,karena Daeng Ambo menikah dengan Adiknya, Andi Fatimah ibu dari Daeng Tasi . Gabungkan keduanya, jadi seperti ‘peluru gaib’. Semprotkan ke ilusi—ke kabut, ke bayang, ke suara tawa serak—bisa melemahkan ‘mutasi’-nya. Bukan untuk bunuh, tapi untuk buka jalan bicara. Biar dia dengar kita tulus minta maaf.”

Daeng Tasi mengangguk pelan, matanya berbinar tekad baru. “Aku percaya hipotesis ini. Di laut, kita tak bisa lawan monster dengan amarah buta. Kita harus paham titik lemahnya. Di hutan juga sama. Dendam Mbah Saroh lahir dari penderitaan—suami mati, anak hilang, warga khianati. Kalau kita tunjukkan pengertian, bukan permusuhan... mungkin dia lunak.”

Kang Mamat mengangguk setuju. “Lalu kita mulai kapan?”

“Besok pagi,” jawab Daeng Tasi. “Kita gabung dengan rombongan Pak Kades. Bawa air suci dari sumur masjid, hafalkan mantra. Kalau Nenek muncul lagi—di sungai, di gubuk tua, di mana pun—kita semprotkan. Kita bicara. Kita akhiri ini dengan damai, bukan darah.”

Bang Jaim mengangkat cangkir tehnya, meski tak minum. “Aliansi tak terduga, Daeng. Dari laut ke hutan. Monster laut ajar kita cara lawan monster gaib.”

Mereka bertiga saling pandang, lalu menyeruput teh panas bersama. Uap teh naik pelan, membawa kehangatan di antara mereka. Tak ada rokok, tak ada kata-kata kosong—hanya tekad yang mulai membara pelan seperti bara di bawah abu. Di luar, angin malam membawa bisik samar dari hutan, tapi malam itu bisik itu terasa lebih lemah, seolah dendam sedang mendengar.

Daeng Tasi menatap kegelapan di luar jendela. “Besok kita masuk lagi. Dan kita pulangkan kedamaian untuk semua.”

\*\*\*

Sementara uap teh panas masih naik pelan dari cangkir-cangkir mereka, Bang Jaim menatap ke kegelapan di luar jendela rumah Pak Kades, matanya jauh seperti menembus waktu. Daeng Tasi dan Kang Mamat diam menunggu, tahu bahwa pemuda Betawi itu tak sering bicara tentang masa lalu. Tapi malam itu, di tengah diskusi tentang mutasi gaib dan senjata mantra, Bang Jaim merasa saatnya berbagi—seperti teh panas yang harus diminum sebelum dingin, cerita lama harus diceritakan agar hati tak beku.

“Kak Daeng... Kang Mamat... mantra Bugis-Makassar yang aku hafal ini bukan dari buku atau kyai biasa,” kata Bang Jaim pelan, suaranya serak seperti angin malam yang membawa hujan jauh. “Ini dari masa kecilku... masa yang gelap seperti hutan ini sendiri.”

Ia menyeruput teh panas pelan, rasa pahit manisnya seperti ingatan yang bercampur. “Aku lahir di kampung Rambutan, Batavia—Jakarta sekarang.Saat kota masih penuh kekacauan. Babe Ji—bapakku—adalah pedagang kecil, mitra dagang Haji Daeng Ambo, ayah Daeng Tasi. Mereka kenal dari pelabuhan, dagang rempah dan kain dari Sulawesi ke Jawa. Babe Ji suka cerita tentang kapal-kapal Daeng Ambo yang berlayar ke mana-mana, termasuk ke Balikpapan , Balikpapan termasuk wilayah Kesultanan Paser dekat Kesultanan Kutai Kertanegara, kota minyak baru yang lagi ramai setelah ditemukan sumber minyak bumi besar-besaran.”

Daeng Tasi berkata, “Aku pernah ke sana, Kota baru yang sangat Indah, Kota yang nyaman dihuni, kota yang dulunya hanya laut, hutan, Bukit tapi mulai ramai setelah ditemukan ladang minyak,” Daeng Tasi menyeruput tehnya.

Bang Jaim melanjutkan ceritanya, Bang Jaim diam sejenak, matanya basah tapi tak menetes. “Malam itu... aku masih kecil, baru enam tahun. Kampung kami diserang perampok—kelompok bandit liar yang haus harta setelah krisis ekonomi. Mereka datang seperti hantu malam, bersenjata parang dan senapan curian. Babe Ji dan Ibu lagi di rumah kecil kami, aku bersembunyi di bawah meja. Mereka membantai warga—parang menebas leher, darah mengalir seperti sungai kecil di jalan tanah. Wanita-wanita diperkosa di depan suami mereka yang sekarat, harta benda dirampok, rumah-rumah dibakar sampai asap hitam menutupi bintang. Babe Ji lawan mati-matian, tapi mereka berjumlah 45 orang, seperti kawanan serigala lapar. Aku lihat sendiri: parang menusuk dada Babe Ji, Ibu berteriak sebelum lehernya digorok. Darah mereka basahi lantai, baunya amis seperti ikan busuk bercampur asap api.”

Kang Mamat memegang bahu Bang Jaim. “Jaim... kau tak perlu cerita kalau berat.”

Tapi Bang Jaim menggeleng pelan. “Harus, Kang. Karena malam itu... Haji Daeng Ambo dan Haji Andi Hasan datang terlambat. Mereka saudara seperguruan, mitra dagang, dan kakak ipar—karena Haji Daeng Ambo menikah dengan adiknya, Andi Fatimah, ibu  Daeng Tasi. Mereka lagi di pelabuhan, tapi mendengar kabar serangan, langsung mereka bergegas. Saat tiba, kampung sudah menjadi neraka: api membara, jeritan wanita, tawa perampok yang mabuk darah. Mereka berdua mengamuk seperti singa Bugis-Makassar yang terluka. Badik leluhur mereka—keris lurus sakti dari tanah Sulawesi—berkilau di bawah api. Haji Daeng Ambo tebas leher perampok pertama, darah menyembur seperti air mancur. Haji Andi Hasan tusuk dada yang lain, badiknya berputar lincah seperti angin ribut. Mereka bantai 45 perampok itu sendirian, suara benturan besi dan jeritan bergema seperti perang di zaman Sultan Hasanuddin. Tak ada ampun—mereka potong tangan, gorok leher, tusuk mata, sampai yang tersisa lari ketakutan seperti anjing kehilangan tuan.”

Daeng Tasi mengangguk pelan, ingat cerita ayahnya. “Ayah pernah cerita. Malam itu dia dan Paman Andi Hasan selamatkan sisa warga. Termasuk kau.”

“Ya,” sahut Bang Jaim. “Aku selamat karena bersembunyi di bawah meja, tapi Babe Ji dan Ibu sudah pergi. Haji Daeng Ambo temukan aku menangis di antara mayat. Dia angkat aku, bawa pulang ke Tanjung Priok. Dia dan istri—Bunda Andi Fatimah—merawat ku seperti anak sendiri. Makan bareng, tidur bareng, ajar aku dagang di pelabuhan. Saat Kak Daeng lagi remaja, ikut armada dagang ayah ke Balikpapan—kota minyak baru yang lagi berkembang setelah penemuan sumur minyak besar—aku tinggal di rumah. Untuk sekolah, Haji Daeng Ambo ajar aku baca tulis, hitung dagang. Tapi untuk ilmu silat, kesaktian, dan mantra... aku berguru pada Haji Andi Hasan. beliau mengajariku rahasia Bugis-Makassar: gerak silat cepat tapi lembut seperti angin mamiri, badik yang bisa potong ilusi, dan mantra pengusir roh pendendam. Mantra yang bahkan Kak Daeng—yang asli Bugis-Makassar—mungkin tak tahu sepenuhnya, karena Kak Daeng lebih fokus berdagang dan betualang. Mantra itu dari leluhur, untuk lawan jin dan dendam gaib. Itu yang aku pakai untuk ‘senjata’ malam ini.”

Daeng Tasi tersenyum tipis, tangannya memegang bahu Bang Jaim. “Jaim... kau seperti adikku. Ayah selamatkan kau karena tahu kau kuat. Dan sekarang... kau selamatkan kita dari monster gaib ini.”

Bang Jaim mengangguk, menyeruput teh panas lagi. “Kita lanjut diskusi, Daeng. Air suci dari sumur masjid sudah siap. Mantra Bugis ini akan ku gabungkan dengan air itu—seperti racun lawan racun, dendam lawan pengampunan.”

Mereka bertiga melanjutkan rencana, cangkir teh panas menjadi saksi bisu aliansi yang lahir dari masa lalu gelap dan harapan baru. Di luar, angin malam masih membawa bisik samar, tapi malam itu bisik itu terasa lebih lemah, seolah dendam sedang mendengar.

\*\*\*

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!