Fitri terpaksa bersedia ikut tuan Tama sebagai jaminan hutang kedua orang tuanya yang tak mampu mwmbayar 100 juta. Dia rela meski bandit tua itu membawanya ke kota asalkan kedua orang tuanya terbebas dari jeratan hutang, dan bahkan pak Hasan di berikan uang lebih dari nominal hutang yang di pinjam, jika mereka bersedia menyerahkan Fitri kepada sang tuan tanah, si bandit tua yang beristri tiga. apakah Fitri di bawa ke kota untuk di jadikan istri yang ke 4 atau justru ada motif lain yang di inginkan oleh tuan Tama? yuk kepoin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arish_girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Bercerailah dari mas Wira!"
"mbak Rumi, apa mbak sudah tau bahwa mas Wira mau menikah lagi?" tanya Hera ketika ia mendatangi Arumi yang sedang menyirami tanaman hias di taman samping rumah.
"Hera?" Arumi menatap sejenak ke arah madu keduanya kemudian lanjut menyirami tanaman.
"kenapa mbak diam saja? apa mbak menyetujui keinginan mas Wira?" Hera semakin mendesak agar istri pertama dari suaminya itu bicara.
"Lalu? kenapa? apa bedanya jika aku mengijinkan ataupun tidak, itu tidak akan berpengaruh pada keadaan rumah tanggaku." sahut arumi dengan dingin.
Hera melengos sesaat, ia paham betul apa yang di maksud kakak madunya itu. "Ya setidaknya mbak jangan membiarkan mas Wira untuk menikah lagi, kita kan sudah bertiga, apa iya masih mau nambah satu lagi."
"bagiku itu tidak ada badanya. mau 2,3 atau 4 itu sama saja. Sama sama merusak pernikahanku dan mas Wira." sahut Arumi dingin.
"aku tau, mbak pasti sakit hati atas kehadiran aku dan Tasya. Tapi, apa boleh buat, mbak. Jika boleh memilih, aku juga tidak mau jadi istri kedua. Aku maunya hanya memiliki suami hanya untukku seorang. Aku tak ingin membagi pada siapapun." sahut Hera.
"Kalau begitu, kenapa kalian tidak pergi saja dari rumah ini? bukankah mas Wira menikahi kalian tujuannya ingin mendapatkan anak dari kalian? Sekarang kalian berdua tidak bisa memenuhi keinginan mas Wira, bercerailah dari mas Wira dan segera pergi dari sini." Arumi berkata serius, raut wajahnya benar-benar tak bercanda.
Hera tercekat di tempat, ia tak menyangka jika Arumi memiliki pemikiran agar Ia pergi dari rumah itu. "Saya sudah berusaha, mbak. Bahkan saya sudah mati matian ikut program kehamilan dengan inseminasi buatan. Tapi, mas Wira menolak. Dia tak percaya dengan hal itu. Mas Wira maunya secara alami tidak ada unsur bantuan dari dokter atau terapi manapun." Hera menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "mbak kan tau sendiri? mas Wira sudah usia berapa, seharusnya mas Wira paham, bahwa kualitas s*ermanya sudah tidak sebagus usia muda. Karena kata dokter kemungkinan itu adalah penyebab dari lamanya kami memiliki anak." Hera berkata dengan serius, berharap agar kakak madunya itu mengerti situasinya.
"aku tidak ikut campur urusan itu. Itu adalah urusan kamu dengan mas Wira."
"mas Wira ngasih kami waktu satu bulan, katanya kalau sampai aku dan Tasya tidak hamil, maka mas Wira akan menikah lagi." wajah Hera tampak lesu.
"aku tidak bisa menghentikan apapun yang sudah menjadi urusan pernikahan mas Wira. Lagipula sejak kehadiran kalian berdua, mas Wira tak pernah lagi menganggap pendapatku." kata Arumi sembari menyudahi kegiatannya.
Arumi melangkah, ia akan meletakkan selang yang di gunakannya untuk menyirami tanaman. Hera terus saja mengikuti Arumi berjalan, hingga Arumi duduk di gazebo taman.
"mbak, maafkan aku. Aku tau mbak Rumi pasti sakit hati padaku dan Tasya. Tapi....!"
"sudah terlambat. Kalian minta maaf pun tak akan merubah keadaan. Hubungan ku dan mas Wira sudah hambar sejak adanya kalian. Aku hanya mau fokus pada kesembuhan Devan saja. Karena hanya Devan yang kuharapkan menjadi penerus mas Wira. Aku tidak mengharap dari orang lain." Arumi berkata dengan tatapan lurus ke depan, tak sedikitpun ia menoleh ke arah Hera yang ada di sampingnya.
kata kata orang lain yang keluar dari mulut Arumi seakan menjadi tamparan keras bagi Hera, seakan Arumi tak pernah menganggap Hera ada dan merupakan bagian dari keluarga besar Wira Tama.
"kak, maafin aku jika selama ini kehadiranku membuatmu tidak bisa tenang." Kata Hera, raut wajah kesedihan terlukis di wajahnya yang sayu. entah itu suatu benar-benar penyesalan atau hanya pura-pura belaka, hanya Hera yang tau.
"Aku harus pergi. Aku mau melihat Devan dulu." Arumi bangkit, ia memutuskan pembicaraannya dengan adik madunya.
"Pura-pura lugu, pura-pura bersalah, airmata buaya." batin Arumi sembari terus melangkah meninggalkan Hera yang masih duduk di gazebo.
Di kamarnya, Devan saat itu sedang berlatih untuk memijakkan kakinya ke lantai. Meski tanpa ada bantuan dari siapapun, namun Devan kali ini bertekad, ia harus sembuh.
"aku pasti bisa!" semangatnya membara, Devan tak akan menyerah hanya karena cacat ini. Dia akan terus maju dan mengalahkan si penghianat di keluarganya yang berniat akan menyingkirkan hidupnya di keluarga itu.
"Devan, kau bisa berdiri, nak?" Arumi terperanjat kaget begitu melihat Devan sedang berdiri berpegangan di daun pintu.
"nenek!!" Devan tak kalah terkejut hingga kedua kakinya spontan menekuk dan....
"bughh....!!"
"aaaahhhh...!!!" Devan memekik kesakitan.
"Devan, cucuku!!" Arumi berteriak panik, ia lekas menghampiri cucunya dan segera membantu Devan mengangkatnya ke kursi roda.
"nenek mengagetkan aku, makanya aku terjatuh." sahut Devan.
"kamu sudah bisa berdiri, nak?" Mata Arumi berbinar, ia meraba kedua betis Devan bergantian. Memeriksa di setiap urat urat betis dan kaki, dimana sang dokter pernah memvonis bahwa hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan kaki cucunya.
"belum, nek. Devan masih belum bisa. Devan masih belajar. Dan ini gara gara nenek telah mengacaukan latihan Devan. Padahal Devan susah payah buat berdiri, eh ujung-ujungnya jatuh juga." sungut Devan.
"iya, sayang. Nenek minta maaf. Tapi, kamu gak apa apa kan sayang? Gak ada yang terluka kan sayang? atau jika di perlukan, nenek akan menelpon dokter kamu." Arumi panik, dia tak tenang sebelum memastikan sang cucu benar-benar baik baik saja.
"tidak, nek. Tidak perlu memanggilkan aku dokter. Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan berusaha sendiri, aku tidak percaya sama dokter. Aku akan berusaha sendiri untuk menyembuhkan kakiku. sudah dia tahun terakhir aku di bawah pengawasan dokter, tapi mana hasilnya? Aku tidak bisa apa apa. Aku tetap lumpuh. Perawatan dokter dan obat obatan yang di berikan seakan tidak ada gunanya. Benar kata Fitri. daripada gak ada gunanya, mending di hentikan saja." Sahut Devan.
"Fitri? jadi ini atas saran dia? Dia yang memintamu untuk berhenti di rawat dokter?" dahi Arumi tampak mengerut, jelas sekali wanita tua itu tampak keheranan.
"ya bukan begitu maksud nya, nek. Kata Fitri, jika pengobatan yang selama ini sudah aku lakukan tidak ada gunanya, mending pindah cara perawatan saja, contohnya dengan terapi dan belajar berdiri, gitu." Devan tak ingin agar neneknya salah menanggapi ucapannya.
Arumi tersenyum lebar. Sepertinya wanita tua itu itu telah menangkap sinyal sesuatu di sana. "oh, jadi Fitri yang memberi kamu semangat?" Arumi tersenyum penuh arti menatap Devan.
"nek, nenek jangan berprasangka gitu, deh. Kayaknya, nenek curiga sama aku."
"nggak kok. Kenapa nenek harus curiga? Dari awal datang, nenek sudah sangat cocok dengan gadis berhijab itu, gerak kerjanya cepet dan lincah. Dia juga sangat ceria dan cepat sekali berbaur dan menyesuaikan diri di keluarga ini." Arumi memuji di setiap kebaikan yang Fitri tebarkan di rumah itu. Sedangkan Devan tersenyum menanggapi.