Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tigabelas
Setelah pulang dari rumah Ummi Lailatul, Aku dan Bagas tidak jadi joging sore. Karena anak kecil itu mendapat telepon dari Mamanya agar segera pulang.
Aku sudah mendengar desas-desus tentang Bagas yang meminta Papanya agar melamarku untuknya, tapi mantan lurah itu menolak, dengan alasan Bagas masih kuliah. Padahal Aku tahu, istrinya atau mamanya Bagas tidak menyukaiku karena Aku pengangguran. Katanya saat itu, “*Jangan dekati Bagas lagi, saya hanya mau punya menantu seorang wanita karir*.”
Dan Aku hanya mampu menghembuskan napas, tidak mungkin Aku menyela bahwa Bagas-lah yang mendekatiku. Untuk itu Aku hanya memilih diam saja.
Dia pikir Kim Dinda mau sama anak manjanya itu?
Dinda hanya mau sama Kim Taehyung seorang!
Mengingat tentang Kim Taehyung, Aku juga jadi teringat lagi dengan Kim Taehyung kw. Masih teringat jelas dengan ucapannya saat di rumah sakit. “*Siapa yang tahu kamu mencampuri sesuatu ke dalamnya*.”
Hei! Dia pikir Aku ini psikopat? Memasukkan sesuatu ke makanan orang lain? Sesuatu apa maksud dia?
Lalu ibunya sendiri bilang, bahwa lelaki itu berkata; makanan hari ini lebih enak dari biasanya karena masih hangat?
Cih!
Benar-benar menyebalkan.
“Dinda, ini ada undangan dari temanmu.” kata ibu saat melihat wajahku.
Perasaan baru satu langkah Aku masuk ke halaman rumah, langsung Ibu todong dengan undangan.
“Dari siapa, Bu?”
“Itu si Hera temen kamu SMP, yang pernah kamu ajak main kemari.”
Aku mengambil tempat duduk disalah satu kursi di teras, dan mengambil undangan itu dari tangan Ibu.
“Undangan Aqiqah,” ujar ibu, “Dia tadi juga beli kambing untuk aqiqah anaknya. Awalnya dia sudah beli ditempat lain, tapi pas lihat kambing kita lebih murah, gendut, dan bersih. Jadi dia mau nambah beli kambing di tempat kita.”
Aku mengangguk-angguk sembari membaca undangan.
“Kamu kapan mau nyebar undangan juga, Dinda? Mau sampai kapan nunggu Kim Taehyung melamar? Teman kamu bahkan menyebar undangan aqiqah bukan pernikahan.” cerocos Ibu Elyana.
“Makanya cariin dong, Bu.” Aku bercanda, ketawa cengengesan.
Mata Ibu membulat, “Beneran? Kenapa nggak dari dulu Kim Dinda! Kemarin-kemarin kamu nolak kalau dijodohkan.”
Aku mengerjap, ibu serius sekali, “Ibu, Dinda cuma bercanda—”
“Kagak ada! Ibu anggap ucapan pertama kali yang benar.” potong ibu cepat. Lalu kanjeng ratuku langsung berjalan menuju kandang kambing, Aku yakin beliau mau laporan dengan Ayahku.
Dasar ibu!
“Kanjeng Ratu... Carikan yang mirip Kim Taehyung ya?!” teriakku karena ibu sudah cukup jauh.
Ah Hera, kenapa kamu harus mengundangku di acara anakmu? Aku bahkan di usia segini baru mau melamar pekerjaan untuk ongkos nonton konser BTS.
\*
Keesokan harinya, Aku sudah bersiap untuk mencari pekerjaan. Dengan setelan khas melamar kerja yang rapi dan wangi, Dinda Dahayu siap menggemparkan perusahaan-perusahaan.
Aku mencari ibu di segala penjuru rumah. Tapi kosong, rumah sepi.
“Telpon aja deh.”
Aku mendial nomor seseorang yang ku beri nama ‘Presiden’.
“Heh Dinda, Ibu lagi di kandang! Tinggal keluar rumah aja kan bisa, pake telpon-telpon segala—” omel suara dari ponselku.
Tut! Langsung Aku matikan.
Aku langsung menuju kandang sesuai arahan presiden. Namun sesampainya mata cantikku menangkap seseorang yang sangat Aku kenal berdiri dekat ibu.
“Dinda mau pergi ke mana? Cantik sekali.” pujinya.
Aku tersipu, dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. “Mau cari kerja, Ummi.”
Semua orang di sana tertegun.
“Dinda, kemarin kamu bilang mau dilamar ya! Kenapa hari ini tiba-tiba mau melamar kerja?” protes Ibuku.
Aku tertawa sumbang, “Sembari menunggu di lamar Kim Taehyung, Bu.” cicitku.
“Dinda kerja di rumah sakit mau?” Ummi Lailatul menawarkan. “Istri mang Supri kerja di rumah sakit dan cuti melahirkan, jadi sekarang sedang mencari pengganti sementara.” lanjutnya.
“Tapi Dinda nggak kuliah kesehatan, Ummi.” jawabku pelan.
“Tidak apa-apa, kebetulan istri mang Supri kerja sebagai admin.” katanya.
Aku mengangguk cepat, “Kalau gitu Dinda mau, Ummi.”
Meskipun Aku tidak tahu di mana tempatnya, yang penting Aku sudah dapat kerja. Memang rejeki anak yang solehah!
Ummi Lailatul pun tersenyum senang, “Nanti Ummi beritahu mang Supri-nya ya?” ujarnya, “Ummi kemari juga sedang memesan kambing aqiqah untuk anaknya mang Supri.”
Aku hanya mengangguk-ngangguk, “Terima kasih banyak, Ummi.”
“Iya, sama-sama.” jawabnya lembut. Lalu wanita itu melihat ke belakangku, “Aydan, kamu saja yang pilih kambingnya.”
Aku seketika menegang. Kenapa manusia kulkas itu tiba-tiba ada di sini? Atau Aku saja yang tidak menyadarinya?
“Dinda, nanti kamu pergi bareng Mas Aydan-mu saja ya?” kata Ummi Lailatul saat lelaki itu tengah memilih kambing bersama Ayah.
Apa? Kenapa?
“Dinda bisa pergi sendiri Ummi. Dinda hafal seluruh jalan di kota ini.” elakku cepat.
“Eh Dinda, nggak boleh nolak niat baik ustadzah.” sahut ibuku.
Ah ibu kenapa nggak berpihak kepada anaknya sih? Tapi, kalau dipikir-pikir lumayan juga untuk laporan ke Aira. Haha—Aku tertawa dalam hati.
Baiklah, akan Aku jalani asal itu jalan menuju nonton konser BTS gratis.
\*
Kini Aku berdiri di depan rumah sakit tempatku bekerja, yang ternyata rumah sakit yang sama tempat manusia masker bertugas. Itu berarti Aku akan bertemu dengannya—setiap hari?
Kenapa Ummi Lailatul tidak mengatakannya kepadaku?
Aku berjalan pelan menuju tempatku ditugaskan, sedangkan lelaki yang pergi bersamaku tadi entah di mana Aku tidak memikirkannya.
Kemarin setelah berbicara di telepon dengan istrinya mang Supri, Aku melamar kerja sekaligus interview secara online. Dan keesokan harinya, tepatnya hari ini Aku langsung bisa bekerja menggantikan mbak Dewi, istrinya mang Supri.
“Karena kamu belum memiliki pengalaman di bidang administrasi rumah sakit, untuk sementara kamu kita tempatkan di bagian penerimaan atau pendaftaran pasien.” kata kepala bagian administrasi.
“Siap mbak, terima kasih, Dinda akan bekerja dengan baik dan sebaik mungkin.” jawabku yakin.
Aku memang memulai hariku bekerja dengan semangat tapi tidak setelah beberapa jam bekerja, ternyata bekerja sangat melelahkan. Sebab pasien tidak berhenti mendaftar melalui online maupun offline. Kenapa banyak sekali orang sakit?
Saat jam istirahat, Aku menuju mushola rumah sakit terlebih dahulu sebelum ke kantin. Bertepatan dengan adzan dzuhur, jadi Aku masih bisa mengikuti shalat berjamaah.
Betapa terkejutnya Aku saat mendengar suara imam shalat itu, mas dokter Kim Taehyung yang memimpin shalat! Meski hanya kalimat takbir, Aku mengenal suaranya.
Setelah shalat, Aku sengaja berlama di dalam mushola agar tidak bertemu dengan lelaki itu. Merasa sudah cukup sepi, Aku berjalan pelan keluar sambil memastikan manusia kulkas itu tidak ada lagi.
“Eh, pacarnya dokter Aydan!” ucap seseorang yang baru Aku kenal beberapa hari ini.
Deg! Aku memejamkan mataku sekilas.
Dia berdiri di hadapanku, “Kamu benar pacarnya dokter Aydan ‘kan?” katanya lagi, suaranya cukup lantang dan membuat semua orang menatapku.
“H-hai Kak Jonie.” Aku membalas menyapanya.
Dia memindai penampilanku, “Kamu sedang apa di sini? Kamu—kerja?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan, “Iya Kak, mohon bantuannya.” ucapku pelan.
“Oh pantas saja dokter Aydan terlihat sangat bahagia hari ini, ternyata ada ayang beb-nya di rumah sakit.” ujar lelaki itu lalu tertawa.
Lebay!
Aku menghela. Hari pertama bekerja, ada saja ujiannya.
“Dokter Aydan pacarmu ada di sini!” lelaki itu berkata sedikit berteriak seolah yang diajak bicara sangat jauh.
Dia beralih kepadaku, “Tadi dia terlihat mencari-cari seseorang, Kakak yakin dia mencarimu.”
Aku melengkungkan kedua sudut bibirku, tidak percaya. tidak mungkin.
“Ke ruanganku sekarang!”
Aku menegang, karena itu adalah suara manusia kulkas.
“Dokter Aydan, yang manis dong ngomong sama pacarnya.” goda Kak Jonie.
Aku dengar lelaki itu menghembuskan napas, “Dinda, ke ruanganku sekarang.” dia mengulangi sedikit lembut.
“Iya Kakan—” Aku langsung membekap mulutku.
Untung. Untung saja. Kalau tidak, Kak Jonie akan mendapat bahan lagi untuk menggoda kami.
Aku mengekori mas dokter ketika dia mulai melangkahkan kaki.
“Dinda, semangat!” ucap Kak Jonie setelah tahu namaku, “Kalau kamu di apa-apakan teriak saja. Kakak akan siap menolongmu!”
Aku mendengus mendengar dia tidak berhenti menggoda kami. Pantas saja Kim Taehyung kw suka sebal dengan dia. Ternyata memang sangat menyebalkan.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan mas dokter, semua mata tertuju kepada kami. Sekarang Aku tahu alasan kenapa mas dokter selalu memakai masker. Mulai besok Aku juga akan memakai masker, terutama saat berjalan bersamanya seperti sekarang.
Bruk!
Aku menabrak punggung lelaki itu, Aku tidak menyadari kami sudah sampai di depan ruangannya.
“Di rumah sakit jangan banyak melamun, nanti kesambet.” katanya dan membuatku langsung merinding.
Ceklek!
Dia membuka pintu, dan Aku juga masuk setelah dia masuk.
“Duduk.” titahnya, dia menunjuk sofa dengan dagunya.
Aku hanya menurut, karena masih asing di tempat ini.
Dia meletakkan dua kotak makanan di hadapanku. “Makan!”
Aku berdecak karena mendengar ucapannya yang hanya sepotong-sepotong. “Ini tidak dicampurkan sesuatu ‘kan?”
Dia menatapku sekilas, mungkin terkejut Aku membalas ucapannya kemarin.
“Sudah.” jawabnya lagi.
Ish!
Aku mencicip seujung sendok makanan dalam kotak bekal yang Aku kenal, mataku langsung membola, pasalnya ini adalah masakan ibuku.
Ini catering ibu!
Aku makan dengan lahap dan tanpa ragu, karena selain enak sudah pasti bersih.
Ting!
Pesan balasan dari Aira. Tadi Aku sempat mengirimkannya foto saat Aku mengikuti mas dokter menuju ruangannya.
“Aku do'akan sampai ke pelaminan.” balasnya.
Ish!
Tapi Aku menambahkan.
Cekrek! Foto bekas makanku dan di depannya ada lelaki itu yang sedang makan.
Send! Kirim ke Aira.
Padahal Aku sudah ingin berhenti, tapi sepertinya ada saja jalan agar Aku tetap melanjutkan mengirim laporan ke Aira.
Aku memang akan berhenti mengejar lelaki itu karena memang harga diriku setinggi langit, tapi tidak dengan rencana mendapatkan tetek bengek konser BTS gratis. Jika ini tetap berjalan hingga Aira tetap membiayaiku untuk nonton konser, dan Aku tetap bisa mencari tambahan untuk ongkos dengan bekerja. Apa salahnya?
Mungkin inilah yang dinamakan, **sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui**.
Haha—Aku tertawa jahat.
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍