"aku janji bakal menghilang dari kehidupan kamu untuk selama-lama nya" ucap Viona dengan nada bergetar
kehidupan Viona benar-benar sangat menyedihkan, selain miskin, gadis itu juga hanya mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta
tetapi ia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, hingga akhirnya Viona bertemu dengan laki-laki yang akan merubah seluruh hidup nya
bagaimana kelanjutan ceritanya???
mari kita simak........
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miftah_005, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 (pindah)
Sesampai nya di dalam rumah, Viona menata semua bahan-bahan dan makanan yang tadi ia beli di supermarket, tak lupa ia juga mencuci kembali beberapa sayuran dan juga buah-buahan sebelum di taruh di dalam kulkas
Setelah semua selesai, gadis itu mulai membereskan lantai dan juga wastafel yang ia gunakan untuk mencuci tadi, baru saja diri nya ingin menghidup kan keran, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik nya dengan kasar
"Viona! Kamu ini apa-apaan! Peluk-peluk Baskara di tempat umum! Kamu itu harus sadar diri, kamu sama Baskara itu beda jauh!" Sentak Mayang dengan jari menunjuk dada Viona
"M-aaf Nyonya, tad_
" Udah-udah, saya gak mau denger alesan apapun dari kamu, mending sekarang kamu ambil baju-baju, terus saya anter ke rumah nenek!" Titah nya
Viona mengangguk dan segera berlari ke arah tangga, ia sampai lupa jika masih memakai celemek untuk mencuci buah dan juga sayuran tadi
Untung saja beberapa hari yang lalu ia sudah menyusun semua baju dan juga seragam sekolah di dalam koper, jadi sekarang ia tinggal mengemasi beberapa bedak dan juga skincare murah yang berapa bulan lalu ia beli
Setelah di rasa semua nya sudah masuk ke dalam koper, Viona memandangi kamar itu dengan tatapan sendu, karena kamar ini menjadi saksi dimana diri nya pernah menangis dua hari dua malam akibat di bully oleh Aurel dan kedua teman nya
"Makasih udah mau nemenin aku selama ini" Gumam gadis itu sembari menarik koper nya
Mayang sudah menunggu di bawah dengan perasaan was-was, karena ia memang sengaja tidak memberitahu Baskara jika Viona akan di pindah kan malam ini
"Anak itu lama banget sih!" Kesal nya yang terus menatap ke arah pintu
Tak lama setelah itu, muncul lah sosok gadis yang ia tunggu-tunggu sedang menarik koper nya dengan wajah terus menunduk
Mayang yang tak sabaran pun akhirnya mendekati dan mengambil alih koper itu
"Cepetan! Jalan kayak keong! Lama!" Ketus nya
Wanita paruh baya itu menyuruh Viona untuk duduk di belakang, karena ia merasa sedikit risih dengan pakaian yang terlihat sangat norak dan sedikit kumuh
Viona sendiri merasa sangat lega mendengar hal itu, karena ia juga merasa sangat canggung jika harus duduk bersebelahan dengan Mayang
Perjalanan menuju rumah nenek membutuhkan waktu sekitar 20 menitan, dan selama perjalanan tidak ada pembicaraan antara kedua nya, mereka sibuk dengan fikiran masing-masing
"Aku belum ngabarin ibu lagi, Kira-kira jam segini ibu udah tidur belum ya?" Batin Viona yang terus menatap ke arah layar ponsel
"Udah sampai, cepat turun!" Titah Mayang tak sabaran
Viona turun dari mobil dan menurunkan koper nya dengan sangat hati-hati
Ketika ia mendongak kan kepala nya, hal pertama yang ia lihat adalah bangunan yang sangat tinggi dan juga megah
Beberapa tiang di hiasi pernak pernik seperti kristal dengan warna berbeda-beda, pintu utama nya memiliki tinggi sekitar 4 meter dan terdapat sebuah kolam kecil di halaman rumah
"Gede banget!!" Gumam Viona dengan mata yang enggan untuk berkedip
"Kamu ketuk pintu nya, udah ada nenek di dalem" Titah Mayang dengan dagu nya
"Tapi Nyonya, apa nenek tau kalo aku pindah nya malam ini?" Tanya Viona sedikit ragu
"Iya tau, tadi saya udah nelpon
nenek, udah sana masuk!"
Mayang mendorong pundak gadis itu agar segera masuk ke dalam rumah
Dengan langkah ragu-ragu, gadis itu mulai berjalan mendekati pintu utama, sesekali ia melirik Mayang yang masih menunggu nya di bawah
"Udah tinggal di ketuk pintu nya!! Lama amat sih!!" Teriak Mayang sembari memutar mata nya dengan malas
Melihat wajah Mayang seperti itu, membuat Viona memberanikan diri untuk mengetuk pintu
Tok... Tok... Tok...
"Permisi"
Tak ada respon dari dalam yang membuat gadis itu menoleh lagi ke belakang, tetapi sayang nya Mayang sudah masuk ke dalam mobil dan meninggal kan Viona sendirian
"Ketuk lagu gak ya?" Bimbang nya
Ketika ingin mengetuk pintu kembali, tiba-tiba pintu sudah di buka dari dalam
"Cari siapa?" Tanya wanita paruh baya dengan ramah
"Emm, saya Viona tante, pembantu nya Nyonya Mayang" Ucap gadis itu memperkenalkan diri
"Jangan panggil tante, saya di sini juga cuma sebagai pembantu, panggil bibik aja, ayok masuk ke dalem, nenek udah nunggu dari tadi" Ajak nya seraya mengambil alih koper yang di pegang Viona
"E-eeh, gak usah Tan, eh maksudnya bik, biar aku aja yang bawa" Tolak Viona yang merasa tidak enak
"Udah gak papa, kalo sama bibik mah santai aja"
Wanita paruh baya itu mengajak Viona ke ruang tamu untuk bertemu dengan majikan mereka, hati Viona sedikit gelisah dan juga tak tenang, karena hampir semua ruangan di hiasi oleh perhiasan-perhiasan mewah
"Kok agak ngeri ya, rata-rata semua nya ada berlian nya" Batin nya sembari mengamati berlian-berlian itu
Sesampai nya di ruang tamu, ia celingukan mencari di mana keberadaan nenek-nenek yang di maksud oleh bibik tadi, yang ia lihat hanya ada seorang wanita paruh baya yang di perkiraan umur nya tidak beda jauh dengan bibik yang menyambut diri nya di depan
"Bik, mana nenek nya?" Bisik Viona yang membuat wanita itu tersenyum
"Ya itu, yang lagi duduk itu nenek" Tunjuk nya yang membuat Viona tercengang
"M-aksud nya? I-tu nenek, ibu nya Nyonya Mayang?" Tanya nya tak percaya
"Iya, itu emang ib_
" Sudah Sari, mending sekarang kamu pergi ke dapur, buat kan saya dan Viona minuman enak" Titah wanita itu
"Siap nek!" Jawab nya dengan hormat
Viona hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar bibik memanggil wanita itu dengan sebutan nenek, ia mengira nenek yang di maksud oleh Mayang itu sudah berusia sekitar 80 tahunan, nyata nya yang ia lihat wanita itu sehat bugar, seperti sama sekali tak ada penyakit nya
"duduk Viona, ada berapa hal yang ingin nenek tanyakan sama kamu" titah wanita itu
Viona menduduki sofa yang jarak nya sedikit jauh dari nenek, diri nya benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat
"kenapa duduk nya di situ, duduk sini, gak usah takut sama nenek"
"i-ya nek" ucap Viona sembari bangkit dari duduk nya dan mendekati wanita paruh baya itu