Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa Datang
Tasya baru saja selesai mandi ketika Dicky terbangun. Anak laki-laki itu masih nampak lemah meski sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Satu permintaannya sejak kemarin yang tidak berubah, ia ingin bertemu dengan sang Papa.
"Ma, Papa mana? Mengapa Papa tidak datang? Papa masih sakit?" Hal yang pertama ditanyakan oleh Dicky pagi ini. Jika kemarin Tasya bisa beralasan kalau Setyo sakit namun ia tidak bisa terus-menerus memberikan alasan yang sama.
"Kalau Papa sudah sehat, Papa nanti datang menjenguk Dicky ya!" Tasya tersenyum. Ia berjalan mendekati Dicky lalu mengusap lembut kepalanya.
"Mama mau kemana?" Dicky sadar kalau Tasya akan pergi.
"Mama harus bekerja, Sayang," jawab Tasya dengan lembut.
"Mama mau tinggalin aku sendiri? Aku tak mau sendirian, Ma. Aku mau ditemani Mama." Air mata Dicky mulai menetes.
Dengan penuh kasih, Tasya menghapus air mata Dicky. "Sayang, Mama juga mau menemani Dicky terus, tapi... siapa yang akan membayar biaya rumah sakit jika Mama tidak bekerja?"
Dicky adalah anak yang pengertian. Meski sedih ditinggal Tasya bekerja namun ia mencoba mengerti. "Mama nanti pulang kerja ke sini lagi, bukan?"
"Tentu, Sayang. Mama akan menginap di kamar ini, menemani Dicky sampai Dicky sehat lagi. Dicky ditemani perawat ya. Jangan nakal." Tasya lalu mengajari Dicky cara memanggil perawat. Setelah memandikan dan menyalakan TV untuk menemani Dicky, Tasya pamit bekerja.
.
.
.
"Pagi, Pak!" sapa Tasya saat Radit tiba di kantor.
"Pagi," jawab Radit singkat.
Tasya mengikuti Radit masuk ke dalam ruangannya. Ia membantu Radit membuka jas mahal miliknya lalu menyampirkannya di kursi kerja. Radit hanya diam saja. Ia menyibukkan dirinya di depan komputer.
Tasya melakukan tugasnya, membacakan jadwal Radit hari ini. Selesai membacakan jadwal, Tasya masih berdiri mematung di tempatnya tidak kembali ke ruangannya.
"Ada apa lagi?" tanya Radit tanpa menatap ke arah Tasya.
"Aku... mau berterima kasih untuk semua... untuk pengobatan Dicky. Ia sudah sadar sekarang dan-"
"Aku sudah baca pesanmu." Radit memotong ucapannya. "Ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?" tanya Radit dengan dingin.
Tasya sedih melihat Radit yang nampak dingin. Ia pikir Radit masih marah padanya karena tak mau menyertakan video perselingkuhan Setyo di pengadilan. "Maaf... aku minta maaf kalau apa yang kulakukan membuatmu marah."
Radit diam sejenak. Ia tak nyaman dengan keadaan ini. Ia ingin memeluknya dan bahkan bermesraan lagi dengan Tasya namun ia menahan diri. "It's oke. Aku menghargai keputusanmu. Kabari aku kalau kamu butuh sesuatu. Jangan lupa, tutup kembali pintunya!"
Dengan halus, Radit mengusir Tasya. Sadar Radit tak mau dirinya terus berada di ruangan, Tasya berjalan keluar dari ruangan Radit. Hatinya sedih. Radit yang biasanya selalu hangat dan mendekatinya kini bersikap amat dingin.
Setelah Tasya menutup pintu, Radit menghembuskan nafas dalam. Ia mengendurkan ikatan dasinya yang terasa sangat menyesakkan. Bukan salah dasi tersebut namun salah hatinya yang harus menahan diri demi kebaikan semua orang. Tatapan mata sang Mami semalam seolah menyadarkannya, ada banyak orang yang akan kecewa kalau ia terus melanjutkan hubungan terlarang ini.
Tak beda dengan Radit, Tasya juga merasakan kekosongan dalam hatinya. Ia terus menatap pintu yang membatasi mereka, berharap Radit akan membuka pintu dengan tersenyum lebar seperti biasa. "Maafkan aku, Dit. Maaf atas keegoisanku padamu," batin Tasya.
Tasya teringat dengan Dicky dan permintaan anak itu untuk bertemu dengan Setyo. Meski enggan, Tasya terpaksa menelepon Setyo. Tak bisa dipungkiri, hatinya sangat sakit melihat video percintaan Setyo dan Sisca, seolah dirinya sudah ditendang keluar dari hidup Setyo begitu saja.
"Sya?" Suara Setyo membuyarkan lamunan Tasya.
"Ah, iya, Mas." Tasya mengendalikan dirinya. "Maaf aku mengganggu."
"Tidak, Sya. Kamu sama sekali tidak terganggu. Keadaanmu... bagaimana? Kamu kembali ke rumah kontrakan kita dulu? Bagaimana kalau aku kembali juga ke sana, aku-"
Tasya memotong ucapan Setyo sebelum dirinya berharap terlalu jauh. "Aku menelepon untuk mengabarkan kalau Dicky sudah sadar. Ia... menanyaimu, Mas." Ucapan Tasya terakhir terdengar lebih pelan. Seakan tak rela kalau Dicky masih mengingat dan menanyai sang Papa yang tak mempedulikannya sama sekali.
"Dicky sudah sadar? Syukurlah, Sya. Aku... sangat senang mendengarnya. Aku selalu berharap Dicky akan segera sembuh dan bisa pulang ke rumah lagi. Aku akan menemuinya, Sya. Apakah ia masih berada di ruang NICU?" Suara Setyo terdengar sangat bersemangat.
Tasya tersenyum tipis. "Menemui Dicky? Saat Dicky koma, kamu tak pernah sekalipun menanyai keadaannya, Mas," batin Tasya.
Sayangnya, Tasya tak bisa menyuarakan isi hatinya. Tasya menyingkirkan amarah dan sisi egois dirinya. Bagi Tasya, kebahagiaan Dicky yang utama. Persetan dengan harga diri dan sakit hati yang ia rasakan.
"Sya?" Setyo kembali memanggil nama Tasya yang sejak tadi hanya diam saja.
"Ah... iya, Mas. Maaf, aku sambil mengerjakan pekerjaanku." Tasya tak mau mengatakan kalau saat ini ia sedang memaki Setyo di dalam hati. "Dicky sudah dipindahkan ke kamar rawat. Kapan Mas bisa datang?"
"Nanti sore aku datang," jawab Setyo.
"Oke. Akan kukirimkan nomor kamarnya padamu." Sebelum mengakhiri teleponnya, Tasya menyampaikan pesannya pada Setyo. "Tolong jangan mengatakan sesuatu yang akan membuat Dicky sedih, Mas. Dia baru sadar dan dalam proses pemulihan. Ia tak perlu tahu keadaan kita saat ini."
"Tapi, Sya-"
"Aku tutup ya, Mas. Terima kasih." Tasya mengakhiri panggilan teleponnya dengan hati yang sakit. Berpura-pura terlihat baik itu sulit, apalagi di depan orang yang membuat kita tidak baik-baik saja.
.
.
.
Sore ini sesuai janji Setyo datang untuk menemui Dicky dengan diantar oleh Sisca. Ia agak sedikit tak percaya saat melihat kamar rawat Dicky, kamar VIP yang nyaman dan pastinya mahal.
"Wah, hebat sekali Mbak Tasya bisa membiayai Dicky untuk dirawat di kamar VIP ya, Mas." Sisca sengaja memperkeruh suasana. "Bukankah semua dibiayai sendiri tanpa asuransi? Mbak Tasya dapat uang dari mana ya, Mas?"
Pertanyaan Sisca sama dengan isi pikiran Setyo namun ia memilih untuk menyimpannya dahulu dan akan bertanya pada Tasya nanti saat mereka bertemu. Sisca membuka pintu ruang rawat dan makin terkejut melihat betapa mewahnya kamar rawat Dicky. "Wow... pasti sangat mahal," bisik Sisca.
Setyo tetap diam. Ia menatap Dicky yang sedang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. "Bawa aku mendekatinya, Sis!"
Sisca menurut. Ia mendorong kursi roda Setyo sampai di dekat Dicky lalu membiarkan Setyo berbicara dengan anak angkatnya tersebut.
"Dicky, bangun, Nak. Papa datang," ucap Setyo dengan lembut.
Mendengar suara yang amat ia rindukan, Dicky membuka matanya perlahan. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya saat melihat Setyo. "Papa?"
"Iya, Sayang. Papa datang." Setyo mengusap lembut rambut Dicky. Tatapan Dicky selalu sama terhadapnya, tatapan tulus yang menandakan betapa ia amat menyayangi papa angkatnya tersebut.
Dicky menatap Setyo yang kini duduk di kursi roda. Dicky kini percaya dengan ucapan sang Mama kalau Papanya sedang sakit.
"Dicky sudah makan?" tanya Setyo. "Papa bawakan makanan kesukaan Dicky. Roti hangat dari toko roti langganan Dicky."
"Asyik!" Dicky berseru kegirangan. "Ada rasa cokelat, Pa?"
"Ada dong. Tentu saja khusus untuk Dicky." Setyo menaruh plastik roti di atas nakas. "Nanti Dicky makan bersama Mama ya!"
Dicky mengangguk. Ia seakan baru menyadari ada orang lain di ruangan ini selain dirinya. Seorang perempuan cantik yang berdiri dan menatapnya dengan datar. "Itu... siapa, Pa?"
****
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
ehhhh siapa tuh cewek ujug2 minta transferan
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
apakah itu Radit yg datang yaaa uhhhh.makin panas dong
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
dicky tentu kau sangat menyayangi papamu...
Sisca kesempatan terus ngompor2in Setyo
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️