DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JATUH YANG TIDAK DITANGKAP SIAPA-SIAPA
JATUH YANG TIDAK DITANGKAP SIAPA-SIAPA
Ada luka yang tidak langsung terasa perih.
Ia baru menyakitkan ketika seseorang berhenti menyangkalnya.
Pagi itu, Aira bangun dengan tubuh yang ringan, tetapi dada yang berat. Hujan tidak turun, langit cerah seperti mengejek isi kepalanya.
Ia menatap cermin cukup lama, memastikan wajahnya tampak baik-baik saja, sebuah kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar ia sadari sebagai bentuk bertahan.
...####...
Di meja makan, Ayah sudah duduk. Kemeja rapi. Jam tangan mengilap. Segalanya seperti biasa.
“Aira,” kata Ayah tanpa menoleh. “Kita berangkat jam delapan. Ayah sudah jadwalkan pertemuan dengan HR cabang Jakarta lewat video call.”
Aira berhenti mengaduk tehnya.
“Aira tidak ikut,” katanya pelan.
Sendok Ayah berhenti bergerak.
“Apa?”
“Aira tidak ikut pertemuan itu.”
Ayah menoleh perlahan. Tatapannya tidak langsung marah. Justru tenang yang berbahaya.
“Kamu bercanda?”
“Aira serius, Yah.”
“Kita sudah membicarakan ini.”
“Tidak,” Aira mengangkat wajahnya. “Ayah yang memutuskan. Aira hanya diberi tahu.”
Ayah berdiri. Kursinya bergeser sedikit, menimbulkan suara nyaring.
“Kamu pikir hidup ini diskusi?” katanya dingin. “Ini tentang masa depanmu.”
“Ini tentang hidup Aira,” balas Aira, suaranya bergetar tapi tidak mundur. “Dan untuk pertama kalinya, Aira ingin memilih sendiri.”
Sunyi menyela mereka.
Ibu berdiri di ambang dapur, tidak masuk, tidak pergi.
“Kalau kamu menolak,” kata Ayah pelan, “kamu menolak perlindungan yang sudah Ayah bangun bertahun-tahun.”
“Atau mungkin,” Aira menelan ludah, “Aira sedang keluar dari penjara yang Ayah sebut perlindungan.” Kalimat itu jatuh keras.
Ayah tertawa kecil. “Kamu pikir dunia akan selembut itu? Kamu pikir orang-orang akan peduli pada perasaanmu?”
“Aira tidak butuh dunia,” jawab Aira. “Aira hanya butuh ruang bernapas.”
Ayah menatapnya lama. Lalu berkata satu hal yang membuat jantung Aira runtuh:
“Kalau kamu tetap keras kepala, jangan libatkan nama keluarga.”
Ibu melangkah maju. “Mas”
“Tidak,” potong Ayah. “Biarkan dia belajar.”
Aira berdiri. Tangannya dingin.
“Terima kasih,” katanya pelan. “Itu satu-satunya kejujuran yang Ayah berikan hari ini.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan meja makan, meninggalkan rumah yang sejak lama tidak pernah benar-benar menahannya.
...####...
Di kampus, suasana tidak lebih ramah.
Naya tidak menyapa.
Bima hanya mengangguk singkat.
Raka datang terakhir, matanya langsung mencari Aira.
“Kamu kenapa?” bisiknya saat mereka berjalan berdampingan.
“Aku menolak magang,” jawab Aira.
Raka berhenti. “Kamu yakin?”
“Tidak,” jawab Aira jujur. “Tapi aku yakin aku tidak bisa terus diam.”
Raka menatapnya lama. Ada bangga. Ada takut. Ada sesuatu yang tidak terucap.
“Kamu sadar ini bisa berdampak ke kita?” tanya Raka pelan.
“Aku tahu,” kata Aira. “Dan aku minta maaf.”
Raka menghela napas. “Aku tidak marah. Aku cuma… takut kehilangan semuanya sekaligus.”
“Kita tidak kehilangan apa pun,” ujar Aira.
Raka tidak menjawab.
Karena ia tahu, beberapa hal memang tidak perlu di jawab.
mereka hanya untuk di dengar.
...####...
Sore itu, Aira duduk di halte bus lama lagi.
Ia tidak tahu kenapa kakinya membawanya ke sana. Mungkin karena tempat itu tidak bertanya. Tidak menuntut. Tidak mengingatkannya untuk menjadi apa pun.
Langit datang tanpa suara. Tidak ada payung kali ini. Tidak ada hujan.
“Kamu kembali,” katanya sederhana.
“Aku tidak tahu kenapa,” jawab Aira.
“Biasanya orang kembali ke tempat yang membuat mereka jujur.”
Aira tersenyum tipis. “Aku baru bertengkar dengan Ayah.”
Langit tidak kaget. “Kamu menang?”
Aira menggeleng. “Tidak.”
“Kamu kalah?”
Aira terdiam sejenak. “Aku jatuh.”
Langit duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
“Jatuh itu bukan kegagalan,” katanya. “Itu tanda kamu bergerak.”
“Aku kehilangan banyak hal hari ini,” suara Aira pecah.
“Kamu juga menemukan satu hal,” balas Langit. “Dirimu sendiri.”
Aira menoleh. “Kamu selalu bicara seolah kamu sudah kenal aku lama.”
Langit menatap lurus ke depan. “Karena aku tidak melihat siapa kamu sekarang. Aku hanya melihat siapa kamu saat lelah.”
Kalimat itu membuat mata Aira panas.
“Aku tidak ingin bergantung pada siapa pun,” katanya cepat.
Langit mengangguk. “Bagus. Aku juga tidak ingin kamu bergantung.”
“Lalu kenapa kamu ada?”
Langit tersenyum tipis.
“Karena kadang manusia tidak butuh sandaran. Mereka hanya butuh seseorang yang tidak pergi.” Sunyi jatuh di antara mereka. Sunyi yang tidak canggung.
...####...
Malam itu, Aira menulis lagi.
Bukan tentang rumah.
Bukan tentang Ayah.
Bukan tentang Raka.
Ia menulis tentang seseorang yang duduk di sampingnya tanpa bertanya, tanpa menjanjikan apa pun, tapi tetap tinggal.
Dan untuk pertama kalinya, Aira tidak menulis untuk bertahan.
Ia menulis untuk hidup.
...####...
Sejak sore itu, Aira tidak sering mencari Langit.
Namun entah bagaimana, ia selalu menemukannya.
Atau mungkin, Langit selalu berada di jarak yang tepat untuk ditemukan.
Dua hari setelah pertemuan di halte, Aira duduk di perpustakaan kampus hingga hampir tutup. Lampu-lampu mulai diredupkan satu per satu, dan suasana menjadi terlalu hening untuk pikirannya yang belum juga tenang.
“Kamu masih di sini?”
Aira mendongak.
Langit berdiri di antara rak buku, membawa dua gelas kopi instan dari mesin pojok. Tidak tersenyum, tapi juga tidak dingin.
“Kamu ngikutin aku?” tanya Aira refleks.
“Tidak,” jawab Langit jujur. “Aku biasa belajar di sini malam.”
Aira mengangguk. “Oh.”
Langit meletakkan satu gelas kopi di mejanya. “Ini pahit. Tapi hangat.”
“Seperti hidup?” Aira berusaha bercanda.
Langit menatapnya sesaat. “Seperti hari-hari kamu belakangan ini.”
Aira tertawa kecil, lalu terdiam.
“Kamu kelihatan capek,” kata Langit.
“Aku selalu capek,” jawab Aira. “Aku cuma baru sadar.”
Langit duduk di kursi seberangnya. Tidak bertanya. Tidak memaksa cerita keluar.
Dan anehnya, justru karena itu, Aira mulai bicara.
“Ayahku berhenti bicara denganku,” katanya pelan. “Bukan marah. Lebih ke… menghapus.”
Langit mengangguk kecil. “Penghapusan lebih menyakitkan daripada kemarahan.”
“Aku kehilangan arah,” lanjut Aira. “Aku takut aku egois.”
“Egois itu memilih tanpa peduli orang lain,” jawab Langit tenang. “Kamu memilih setelah terlalu lama peduli.”
Aira menatap meja. “Aku juga mulai menjauh dari teman-temanku.”
“Bukan menjauh,” koreksi Langit. “Kamu sedang berubah. Tidak semua orang siap ikut.”
Kalimat itu membuat dada Aira sesak, tapi bukan karena sedih. Karena lega.
“Apa kamu tidak pernah takut sendirian?” tanya Aira.
Langit terdiam sejenak. “Takut. Tapi lebih takut kehilangan diri sendiri hanya supaya tidak sendirian.”
Aira tersenyum tipis. “Kamu selalu punya jawaban yang tenang.”
“Karena aku tidak sedang melawan hidupmu,” kata Langit. “Aku hanya berdiri di sampingnya.”
...####...
Hari-hari berikutnya, kebersamaan mereka tumbuh tanpa disadari.
Kadang hanya duduk bersebelahan di taman kampus, tanpa percakapan berarti.
Kadang berjalan pulang satu arah, lalu berpisah tanpa pamit panjang.
Kadang bertukar pesan singkat, tidak intens, tapi tepat.
Langit tidak pernah menanyakan masa lalu Aira.
Tidak pernah menyinggung Raka.
Tidak pernah meminta posisi.
Dan itu yang paling berbahaya.
Karena Aira merasa aman tanpa diminta berjanji.
Suatu sore, hujan turun lagi. Mereka berteduh di selasar fakultas yang hampir kosong.
“Aku sering berpikir,” kata Aira tiba-tiba, “kenapa kamu muncul sekarang.”
“Kenapa?” tanya Langit.
“Karena hidupku lagi berantakan.”
Langit mengangguk. “Aku juga muncul di hidupku sendiri saat sedang berantakan.”
“Kita sama-sama rusak?”
“Kita sama-sama jujur,” balas Langit.
Aira tersenyum. “Kamu tidak ingin memperbaiki keadaan nya ?”
“Aku tidak percaya manusia atau keadaan perlu diperbaiki,” jawab Langit. “Mereka hanya perlu diterima di versi yang sedang mereka jalani.” Hujan turun semakin deras.
Aira memeluk tasnya erat. “Kalau suatu hari aku kembali ke rumah itu… dan aku kembali mengecil?”
Langit menoleh padanya. “Aku tidak akan menarik mu keluar.”
“Kenapa?”
“Karena itu harus keputusanmu.”
Aira menatapnya lama. “Kamu tidak takut kehilangan?”
Langit menghela napas pelan. “Takut. Tapi aku lebih takut menjadi alasan seseorang berhenti bertumbuh.”
Kalimat itu membuat Aira diam lama.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang menggetarkan sekaligus menenangkan,
Langit tidak datang untuk mengisi kekosongan.
Ia datang untuk menemani proses.
Dan itu jauh lebih baik dari cinta yang terburu-buru.
Malam itu, Aira menulis lagi.
Bukan tentang rumah yang dingin.
Bukan tentang persahabatan yang retak.
Ia menulis tentang seseorang yang hadir tanpa mengetuk pintu terlalu keras—
seseorang yang tidak meminta tinggal,
tapi juga tidak pergi.
Dan untuk pertama kalinya, Aira menulis dengan tangan yang tidak gemetar.
Bersambung