Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Genta Kembali Pada Bu Ratna
Kabar tidak pernah datang sendirian, ia selalu membawa ekor panjang bernama konsekuensi..
Pagi ini Bu Ratna menerima surat resmi dari rekanan bisnis lama yang selama ini diam, isinya singkat, dingin, dan final: kerja sama dihentikan, tidak ada ruang klarifikasi dan tidak ada pertemuan lanjutan..
Bu Ratna duduk lama, menatap kop surat itu seolah berharap huruf-hurufnya berubah, tangannya gemetar, untuk pertama kalinya, pengaruhnya tidak mampu menahan orang pergi..
Telepon berdering, nama yang muncul membuat dadanya sesak.
("Ratna, aku sarankan kamu tenang dulu, jaga jarak dari urusan publik, namamu mulai disebut-sebut.”) suara di seberang terdengar datar
("Disebut-sebut bagaimana?”) tanya Bu Ratna, hampir berbisik.
("Sebagai contoh ibu mertua yang jahat dan terlalu terlalu ikut campur.”)
Telepon ditutup tanpa basa-basi.
Bu Ratna menjatuhkan ponsel ke sofa, dulu, satu telepon darinya bisa menghentikan banyak urusan, kini, satu kalimat saja sudah cukup membuat orang menjauh..
***
Di tempat lain, penasihat keuangan keluarga menelpon Genta, ia meminta bertemu untuk membicarakan hal yang dianggap sangat penting...
Tanpa banyak tanya, Genta menyetujui dan menyuruhnya datang ke sebuah kafe kecil tak jauh dari kontrakannya..
Sore nya, Genta duduk berhadapan dengan penasihat keuangan tersebut, wajahnya tampak pucat, matanya menatap kosong ke arah meja...
Beberapa berkas dan laporan keuangan terbuka di hadapan mereka, seolah menjadi saksi bisu dari kekacauan yang selama ini ia abaikan..
“Dengan kondisi sekarang, pembagian aset akan cukup signifikan, terlebih, kontribusi istri Anda tercatat sangat jelas dan kuat secara hukum.” ucap sang penasihat dengan nada sangat hati-hati
Rahang Genta mengeras, ia mengangguk kaku, ia tahu semua itu, selama ini, ia tidak pernah benar-benar menghapus nama Zahra dari banyak aset dan keputusan keuangan dan kini, semua kelalaiannya berubah menjadi bukti yang tak terbantahkan..
“Ada… opsi damai?” tanyanya lirih, hampir seperti berbisik, seakan berharap ada jalan keluar tanpa harus membuka luka yang lebih dalam.
"Ada, namun itu berarti Anda harus mengakui porsi yang selama ini tidak Anda lindungi, juga kesalahan-kesalahan yang tercatat di atas kertas ini.” jawab penasihat itu jujur
Genta terdiam lama, tangannya mengepal di bawah meja, ini bukan lagi sekadar soal uang atau aset yang harus dibagi..
Ini tentang pengakuan, tentang kegagalannya sebagai kepala keluarga, sebagai suami, dan sebagai pria yang terlalu lama menutup mata atas peran seorang istri yang kini justru berdiri lebih kuat darinya..!
"Bodoh sekali aku! Kenapa aku bisa lalai seperti ini dan tidak memikirkan ini semua" batinnya
"Apakah yang saya sampaikan sudah diterima dengan jelas pak Genta?" Tanya penasihat keuangan
"Ya sudah sangat jelas, Terima kasih" jawab Genta
"Kalau begitu saya pamit dulu ya pak Genta" ucapnya lagi
"Ya" jawab Genta singkat
Genta masih terdiam dan rahangnya mengeras mengingat hal yang dibicarakan oleh penasihat keuangan nya..!
"Kamu dan selingkuhan mu itu terlalu pintar untuk mengelabuhi ku selama ini dan aku terlalu bodoh, benar kata Mak Ratna kalau Rena lebih baik dari kamu" ucap Genta
***
Di kantor kecilnya, Zahra duduk bersama Mbak Rima, mereka membahas kemungkinan putusan akhir..
"Kamu siap dengan apa pun hasilnya?” tanya Rima.
Zahra mengangguk.
“Aku tidak datang sejauh ini untuk mundur.”
“Kalau hakim memutuskan hak-hak mu penuh, akan ada reaksi keras.” ucap Mba Rima
“Aku siap, aku tidak lagi hidup untuk menyenangkan semua orang.” jawab Zahra tenang
"Aku senang mendengar ucapan Anda" Mbak Rima tersenyum kearah Zahra
Lalu Mbak Rima pun pamit kepada Zahra karena ia masih ada urusan lain..!
Sore harinya Wulan datang membawa kopi, mereka duduk di balkon, memandang lalu lintas yang bergerak tanpa peduli drama manusia.
"Kamu tahu, banyak orang kuat runtuh bukan karena musuh, tapi karena tidak siap menerima akibat.” ucap Wulan pelan
Zahra tersenyum tipis.
“Aku juga hampir begitu.”
"Dan kamu bisa melewati itu semua, mudah-mudahan keputusan akhir sidang nantinya seperti yang kamu harapkan Ra" ucap Wulan
"Aamiin Lan... Terima kasih sudah selalu mendukung dan menolong aku!" Ucap Zahra
Mereka pun menikmati pemandangan sore itu dengan hati yang bahagia..!
Malam hari, Genta datang ke rumah ibunya. Bu Ratna duduk di ruang tamu, gelap, hanya lampu kecil menyala..
"Aset kita akan dibagi,” kata Genta tanpa basa-basi.
Bu Ratna menoleh tajam.
“Kamu gila?! Itu semua hasil jerih payah keluarga, kenapa harus dibagi kepada orang luar? Orang seperti Zahra"
"Disitu juga ada ada hasil kerja Zahra Mak, Zahra juga selama ini membantu perusahaan kita Mak,” jawab Genta lirih
Bu Ratna tertawa getir.
“Ingat Genta, ia hanya selalu dirumah tidak bekerja apa-apa, cuma terkadang ia membantu untuk menginput data keuangan saja, bagaimana bisa aset kita akan dibagi! Mak tidak terima hal itu!"
Genta menatap ibunya lama..
Tidak Mak, kita sudah kalau, kita harus berhenti menyangkal hal itu" ucap Genta
Bu Ratna terdiam. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada bentakan..!
"Genta janji sama Emak, Genta akan kembali ke kantor lagi dan Genta juga akan kembali kerumah ini lagi, Genta akan mengikuti semua apa yang Mak suruh" ucap Genta
Ucapan Genta membuat Bu Ratna tenang
"Baiklah kalau begitu Genta, Mak akan menyerahkan lagi perusahaan ke tangan mu dan Mak tidak akan keberatan soal pembagian aset" ucap Bu Ratna
Di kamarnya, Zahra mempersiapkan diri, ia menyusun berkas terakhir, merapikan dokumen, dan menutup laptop dengan perasaan selesai..
Lalu ia duduk di sajadah, menundukkan kepala.
“Bismillah,” ucapnya dengan napas teratur.
"Jika besok adalah akhir dari satu ikatan, jadikan ia awal dari hidup yang lebih jujur hamba titipkan semua hasilnya pada-Mu Ya Allah" bisik nya dalam doa