"Oke, aku mau menikah dengan Kiara," putus pria.
"Alhamdulilah, aku sangat bahagia Bang mendengar keputusan kamu. Kak Ara pasti sangat bahagia karena bisa menjadi istri Abang," balas gadis itu dengan senyum sumringah, ia bahagia karena Kakak sepupu kesayangannya bisa menikah dengan pria yang dicintainya.
"Tapi aku ada syarat yang harus kamu lakukan."
"Katakan apa syaratnya Bang, aku bakal ngelakuin apapun agar Abang mau menikah dengan Kak Ara."
"Aku mau kamu jadi istriku, aku mau kamu menjadi istri pertamaku. Kiara tetap akan aku nikahi, tetapi dia akan menjadi istri keduaku." Mendengar ucapan dari pria yang ia panggil Abang barusan, jelas gadis itu kaget sekali. Bagaimana bisa punya ide gila seperti itu.
"Aku mau, Bang," putus gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donacute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Malamnya, Digo mengajak Manda Dinner di restoran yang romantis sekali. Banyak lilin dan bunga-bunga bertaburan.
"Bunga cantik, buat istri Mas yang paling cantik," kata Digo sambil memberikan bunga mawar putih untuk Manda. Manda menerimanya dengan senang hati, karena bunga mawar putih adalah bunga kesukaannya.
Digo mengajak Manda duduk di sebuah kursi kosong, lalu Digo berlutut dihadapan Manda.
"Manda, Mas sayang mencintai kamu. Maukah kamu menjadi istri Mas, pendamping hidup Mas," kata Digo langsung membuat Manda speecless. Manda tidak menyangka, Digo akan melamarnya secara romantis seperti ini. Manda suka, bahkan sangat suka. Namun, harusnya tidak perlu ada acara seperti ini. Toh memang Manda sudah menjadi istri Digo.
"Mas kan aku udah jadi istri Mas loh, kenapa harus ada lamaran lagi kayak gini?" tanya Manda bingung.
"Enggak papa sayang, Mas kan memang belum melamar kamu secara romantis. Mas ingin membuat kamu bahagia sayang, setiap perempuam pasti mengizinkan dilamar secara romantis. Sekaranglah Mas baru bisa melakukannya, besok barulah kita akan kembali ke Jakarta. Kita akan mulai mengurus surat-surat nikah kita, agar pernikahan kita tercacat secara negara. Kita juga bisa mulai menyiapkan beberapa persiapan pernikahan, tetapi Mas minta maaf Mas tidak bisa terus-terusan menemani kamu mempersiapkan pernikahan kita. Soalnya Mas harus bolak-balik Jakarta-Singapure, kamu bebas kok sayang membuat pesta pernikahan bagaimanapun. Mas akan menyetujui, tetapi kalau bisa pesta pernikahannya sesuai dengan impian kamu. Karena pernikahan ini hanya sekali, Mas mau acara pernikaham kita tidak akan bisa terlupakan." Manda mengangguk paham, makanan pesanan Digo untuknya dan Manda sudah datang.
Digo memotong steaknya, lalu menyuapkannya pada Manda.
"Enakkan sayang? Mas yang pilihin loh, semoga kamu suka ya."
"Manda suka kok " Manda langsung gantian menyuapi suaminya. Mereka berdua benar-benar Dinner romantis, tentu saja mereka sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berdua.
"Sayang," panggil Digo manja. Kalau bersama dengan Manda, memang Digolah yang terlihat manja. Namun, terkadang Digo juga berusaha memanjakkan sang istri. Jika bersama Kiara, Digolah yang memanjakkan Kiara apalagi dengan keadaan Kiara sekarang, bagaimana bisa memanjakkan Digo Kiara saja sampai sekarang belum bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Digo mendapatkan pelayan dari istri hanya dengan Manda, untuk saat ini.
"Iya, Mas kenapa?"
"Kamu nanti di jakarta maunya tinggal di mana ya? Maksudnya kita berdua akan tinggal di mana?" tanya Digo sengaja, jika Kiara ia kan sudah tahu jawabannya. Kini gantian Digo bertanya pada Manda.
"Aku ikut kata Mas aja deh, aku akan tinggal di mana suamiku tinggal. Tapi tetap ya, jangan satukan aku sama Kak Ara dalam satu atap, kalau untuk itu aku menolaknya, Mas."
Digo tersenyum mendengar jawaban Manda. "Tenang sayang, Mas enggak akan segila itu kok. Dari awal mas memang sudah memikirkannya kok, untuk tidak membiarkan kalian satu atap. Rencananya Mas akan membuatkan kalian rumah sayang, tapi sebelum rumahnya selesai dibangun. Mas minta kamu tinggal di masion Revano aja ya, Mas bisa untuk sewakan bahkan belikan kamu apartemen. Tapi Mas enggak mau kamu tinggal sendirian di sana, Mas jadi kepikiran nanti. Apalagi kan Mas enggak bisa tiap hari sama kamu, paling enggak sampai kamu punya anak deh baru pindah ke rumah kita. Kamu setuju kan sama kemauan Mas?"
"Aku setuju aja kok, enggak masalah sama sekali. Toh aku sering juga nginep di masion sebelumnya, tetapi sekarang bukan lagi sebagai cucu saja tetapi menantu dan cucu menantu di sana." Dalam hati inginya tinggal berdua saja dengan Digo, karena ini hidup mandiri. Namun, Manda paham dengan kekhawatiran suaminya. Jadi Manda hanya menurut saja, toh ia percaya Mommy Trissyanya tidak akan menjadi Mommy mertua yang jahat.
"Kamu enggak usah khawatir sayang, kamu tetap boleh menginap di rumah Daddy Rezka sesekali. Tetap harus izin Mas dulu ya."
"Siap, Bos."
"Udah selesai makan kan? Pulang yuk sayang," ajak Digo. Manda mengangguk, Digo langsung mengambil tangan Manda untuk ia gandeng. Digo sama sekali tidak mau melepaskan tangan istrinya bahkan sampai mobil.
Tidak perlu waktu lama, mereka sampai di kamar hotel. Memang restoran tempat mereka dinner tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap.
"Tunggu sayang," cegah Digo saat Manda ingin membuka pintu kamar hotelnya.
"Kenapa?" tanya Manda bingung. Digo mengeluarkan sebuah penutup mata, lalu pasangkannya pada Manda. Manda hanya pasrah diapakan saja oleh suaminya.
Digo menuntun Manda masuk kamar hotelnya, dalam hitungan ketiga Digo membuka penutup mata Manda. Manda membuka perlahan matanya, ia terkejut kamar hotelnya jadi gelap. Namun, tidak terlalu gelap karena banyak lilin. Banyak bunga bertaburan berbentuk love.
"Mas kamu kasih aku surprise lagi?" tanya Manda dengan tersenyum senang.
"Iya, sayang. Enggak salah kan Mas kasih kamu surprise terus, agar bisa buat kamu bahagia. Tapi kamu bahagia kan sayang?" Manda mengangguk sebagai jawaban, ingin sekali Manda berteriak agar semua orang tahu bahwa Manda sangat bahagia hari ini. Namun, itu tidak akan Manda lakukan.
"Manda kita dansa yuk," ajak Digo yang tidak bisa Manda tolak. Sebelum itu, Digo menyalahkan musik terlebih dahulu. Lalu mengajak istrinya berdansa.
Musik yang berbunyi ternyata adalah musik India, Manda tersenyum ia mengetahui lagu yang apa yang Digo putar.
Dua Bhi Lage Na Mujhe
Dawa Bhi Lage Na Mujhe
Jab Se Dil Ko Mere Tu Laga Hain
Neend Raaton Ki Meri
Chahat Baaton Ki Meri
Chain Ko Bhi Mere Tumne
Yun Thaga Hain
Jab Saanse Bharu Main
Band Aankhein Karun Main
Nazar Tu Yaar Aaya
Entah nyambung atau tidak, musik lagu India dibuat dansa. Namun, Digo dan Manda tetap melakukannya.
"Dil Ko Karaar Aaya
Tujhpe Hai Pyaar Aaya
Pehli Pehli Baar Aaya Oh Yaara," nyanyi Digo. Manda terkejut, tetapi ia senang mendengar Digo bernyayi lagu India. Manda jadi teringat acara perpisahan sekolah dulu, Manda dan Digo berduet untuk bernyanyi lagu India.
"Dil Ko Karaar Aaya
Tujhpe Hai Pyaar Aaya
Pehli Pehli Baar Aaya Oh Yaara." Manda melanjutkan lirik lagunya, Digo tersenyum ia juga sama mengingat saat duet bareng Manda.
Har Roj Puchein Yeh Hawayein
Hum Toh Bata Ke Haare
Kyun Jikar Tera Karte Hai Humse Taare
Har Roj Puchein Yeh Hawayein
Hum Toh Bata Ke Haare
Kyu Jikar Tera Karte Hain Humse Taare
Ab Fir Se Hai Tere
Inn Hothon Pe Mere
Izhaar Aya Yaara
Dil Ko Karaar Aaya
Tujhpe Hai Pyaar Aaya
Pehli Pehli Baar Aaya Oh Yaara
Dil Ko Karaar Aaya
Tujhpe Hai Pyaar Aaya
Pehli Pehli Baar Aaya Oh Yaara
Mereka berdua bergantian nyanyi sampai lagunya habis, tentu saja sambil berdansa romantis
"I Love My Husband Arieldigo Arendra Revano," ujar Manda dengan senyuman. Digo sedikit terkejut dengan pernyataan cinta Manda, karena tidak biasanya Manda yang menyatakan cinta duluan padanya. Namun, Digo bahagia. Ia sangat suka jika Manda menyatakan cinta padanya.
"I Love You More than anything My Wife Amanda Stevani Ferlando," balas Digo lalu semakin mendekat dan mencium bibir Manda, Manda tentu saja membalasnya. Lalu mereka berebahkan diri bersama di kasur.